OpiniPendidikanTokoh

Arief Rosyid Hassan, Mentor Produktif Para Pemuda Pejuang Zaman

2 Mins read

KULIAHALISLAM.COM-Rimba aktivisme dan politik Indonesia sering kali hanya menyisakan ruang bagi mereka yang bersuara paling keras. Ditengah itu semua, muncul sesosok figur yang memilih jalur berbeda: jalur literasi, jaringan, dan regenerasi. M. Arief Rosyid Hassan (atau yang akrab dipanggil ARH), mantan Ketua Umum PB HMI, kini menjelma menjadi personifikasi dari apa yang sering disebut sebagai “The Youth Hub”—titik temu bagi kegelisahan dan ambisi kaum muda dalam mencari arah baru kepemimpinan bangsa.

 

Kanda ARH—penulis menyebutnya demikian,karena ketika dirinya diamanahkan menjadi ketua umum PB HMI,penulis masih merintis menjadi ketua di Komisariat—bukan tipe aktivis yang berhenti bergerak setelah masa jabatan organisasinya usai. Justru, fenomena “pasca-HMI” adalah fase di mana ia menunjukkan produktivitas yang eksponensial. Dirinya memahami betul bahwa di era disrupsi, ide yang tidak dituliskan akan lenyap ditelan algoritma. Melalui deretan karya bukunya seperti Merebut Optimisme hingga Muda Menaja Masa Depan—ARH seolah sedang membangun sebuah perpustakaan pemikiran bagi para aktivis muda. Dalam salah satu tulisannya menyorot terkait dampak pemuda Islam terhadap dakwah kemajuan islam, ia menegaskan: “Perlu kita sadari keberadaan sekat-sekat keislaman yang kini semakin tebal telah menciptakan hal-hal yang tidak produktif bagi pemuda-pemuda. Muslim di Indonesia, yang membuat pemuda Muslim secara pikiran sulit untuk saling bertemu. Pada akhirnya, pemuda Muslim semakin tidak pekadengan perkembangan dan persoalan yang dihadapi oleh umat Islam saat ini. Pemuda Muslim tidak responsif dengan banyak hal yang terjadi, sehingga mendatangkan kerugian kita sebagai umat Islam.” — [Identitas Kita: Pemuda Pengabdi Umat dan Bangsa,2019].

 

Pada tulisan lainnya dirinya menulis, “Hanya orang muda yang paling mengerti tantangan dan kebutuhan mereka sendiri. Harapan besarnya kemudian adalah orang muda mendapatkan kesempatan mengisi posisi utama di dalam  pembangunan Indonesia ke depan” [Muda Menaja Indonesia, 2024]. Kutipan-kutipan tersebut bukan sekadar untaian dialektika narasi; melainkan manifestasi dari komitmen ARH untuk terus  berjuang, berjejaring dan berbagi ilmu. Ia adalah mentor yang percaya bahwa keberhasilan seorang pemimpin tidak diukur dari berapa banyak pengikutnya, melainkan berapa banyak pemimpin baru yang ia lahirkan.

Baca...  Banjir Jember dan Kerusakan Lingkungan: Analisis Penyebab Utama

 

Perjalanan ARH bukannya tanpa kerikil tajam. Dirinya pun pernah diterjang isu kontroversial terkait dugaan pemalsuan tanda tangan beberapa waktu lalu. Belum lagi cibiran dari para hatersnya saat ia teguh memilih garis jalan politik. Di titik inilah, kita melihat sisi kemanusiaan sekaligus ketangguhan seorang pejuang zaman. Sejatinya dunia politik adalah medan magnet bagi hantaman; semakin tinggi seseorang memanjat, semakin kencang angin menjatuhkan. Namun, ARH seolah sudah sadar sepenuhnya bahwa realitas dirinya sebagai pejuang akan terus mendapat ujian. Terlepas dari segala hiruk-pikuk tersebut, ia memilih untuk terus bergerak maju. Baginya, jawaban terbaik atas sebuah tuduhan adalah produktivitas yang tak terbendung. Ia belajar bahwa kesalahan—baik yang nyata maupun yang dipersepsikan—adalah bagian dari proses pendewasaan di kawah candradimuka politik.

 

Dari sosok ARH, sebagai pribadi muslim modern kita belajar satu pelajaran penting: Produktifitas adalah bentuk pertahanan diri yang paling elegan. Saat banyak orang terjebak dalam perdebatan kosong di media sosial, ARH sibuk menerbitkan tulisan serta buku, menginisiasi gerakan ekonomi umat, dan merajut koneksi antartokoh. Ia adalah simbol dari aktivis yang tidak mau “pensiun” dari kepedulian. Ia adalah mentor yang berdiri di persimpangan antara idealisme masa lalu dan pragmatisme masa depan, mencoba menarik garis lurus agar para pemuda muslim tetap memiliki izzah dalam kontestasi aktualisasi gagasan pemikiran.

 

Dampaknya terasa nyata; ribuan pemuda merasa memiliki “mentor” dalam dunia aktivisme yang sering kali dingin dan kejam. Ia mengajarkan bahwa hasil perjuangan mungkin tidak datang dalam semalam, namun konsistensi untuk terus memberi, menulis, dan berbagi, adalah kemenangan itu sendiri. Ketahanan (resilience) dan keyakinan ARH pada garis perjuangan adalah apa yang membuatnya tetap relevan. Ia membuktikan bahwa selama niat awal adalah untuk memberikan dampak bagi ummat dan bangsa, maka hasil yang akan diraih akan senantiasa linier dengan besarnya usaha yang dilakukan. Keyakinannya selaras dengan pesan dalam literatur Islam klasik: (Man Jadda Wajada/Barangsiapa yang bersungguh-sungguh maka ia akan sampai pada tujuannya).

 

Baca...  Telaah Kritis Gerakan Feminisme Era Kontemporer

*Achmad Puariesthaufani N

 

54 posts

About author
Penggemar Buku, Teh, Kopi, Coklat dan senja. Bekerja paruh lepas menjadi Redaktur Kuliahalislam.com .Lekat dengan dunia aktivisme,
Articles
Related posts
PendidikanTokoh

Dzulfikar Ahmad Tawalla, Pembelajar Santun nan Bersahaja di Tengah Pusaran Kuasa

2 Mins read
KULIAHALISLAM.COM- Dilingkungan birokrasi dan pejabat pemerintahan, situasi dimana saling sikut menyikut adalah hal ladzim kita pandang sebagai sebuah fenomena. Namun, ada sosok…
ArtikelOpiniPolitikTokoh

Gugum Ridho Putra, Wajah Baru Politik Muslim Modern di Persimpangan Zaman

2 Mins read
KULIAHALISLAM.COM-Kita mungkin lelah dan putus asa akan panggung politik nasional yang sering kali hanya memuja pragmatism. Banyaknya nilai-nilai idealisme kebutuhan masyarakat yang…
ArtikelPendidikanTokoh

Dahnil Anzar Simanjuntak: Model Pemikir & Pelopor Multidimensi

5 Mins read
KULIAHALISLAM.COM-Dalam panggung besar politik Indonesia, seringkali kita melihat pemisahan yang tajam antara aktivis yang berteriak di jalanan, akademisi yang berteori di ruang…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Verified by MonsterInsights