Permulaan wahyu merupakan momen paling agung dalam sejarah Islam, karena di situlah risalah kenabian dimulai dan hubungan langsung antara langit dan bumi terbuka melalui perantaraan malaikat. Allah menegaskan hakikat wahyu sebagai proses ilahi yang bukan sekadar ilham biasa, melainkan komunikasi khusus kepada nabi yang dipilih-Nya.
Hal ini ditegaskan dalam firman Allah:
إِنَّا أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ كَمَا أَوْحَيْنَا إِلَى نُوحٍ وَالنَّبِيِّينَ مِنْ بَعْدِهِ﴾ (النساء: ١٦٣)
“Sesungguhnya Kami telah mewahyukan kepadamu sebagaimana Kami telah mewahyukan kepada Nuh dan para nabi setelahnya.”
Ayat ini menunjukkan bahwa wahyu kepada Nabi Muhammad ﷺ bukanlah fenomena baru dalam sejarah kenabian, melainkan bagian dari tradisi kenabian sejak Nabi Nuh dan para nabi setelahnya. Kata wahyu sendiri secara bahasa berarti penyampaian secara tersembunyi dan cepat, sedangkan secara istilah syariat berarti pemberitahuan Allah kepada nabi pilihan-Nya tentang risalah, biasanya melalui malaikat Jibril. Ini menegaskan bahwa wahyu memiliki sumber ilahi, metode khusus, dan tujuan risalah.
Penjelasan paling rinci tentang bagaimana wahyu datang terdapat dalam hadis sahih ketika Rasulullah ﷺ ditanya langsung tentang proses tersebut. Hadis itu berbunyi:
سَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، كَيْفَ يَأْتِيكَ الْوَحْيُ؟ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ:
(أَحْيَانًا يَأْتِينِي مِثْلَ صَلْصَلَةِ الْجَرَسِ، وَهُوَ أَشَدُّهُ عَلَيَّ، فَيَفْصِمُ عَنِّي وَقَدْ وَعَيْتُ عَنْهُ مَا قَالَ، وَأَحْيَانًا يَتَمَثَّلُ لِيَ الْمَلَكُ رَجُلًا، فَيُكَلِّمُنِي فَأَعِيَ مَا يَقُولُ).
قَالَتْ عَائِشَةُ ﵂: وَلَقَدْ رَأَيْتُهُ يَنْزِلُ عَلَيْهِ الْوَحْيُ فِي الْيَوْمِ الشَّدِيدِ الْبَرْدِ، فَيَفْصِمُ عَنْهُ وَإِنَّ جَبِينَهُ لَيَتَفَصَّدُ عَرَقًا.
Seseorang bertanya kepada Rasulullah ﷺ: “Wahai Rasulullah, bagaimana wahyu datang kepadamu?” Maka Rasulullah ﷺ bersabda:
“Terkadang ia datang kepadaku seperti suara gemerincing lonceng, dan itu adalah yang paling berat bagiku. Lalu ia terputus dariku, sementara aku telah memahami dan menghafal apa yang disampaikannya. Dan terkadang malaikat menjelma kepadaku dalam bentuk seorang laki-laki, lalu ia berbicara kepadaku dan aku memahami apa yang ia katakan.”
‘Aisyah ﵂ berkata:
“Sungguh aku pernah melihat wahyu turun kepadanya pada hari yang sangat dingin, lalu wahyu itu selesai darinya sementara dahinya benar-benar bercucuran keringat.”
Diriwayatkan juga oleh Muslim dalam Kitab al-Faḍā’il, bab: Harumnya keringat Nabi ﷺ saat cuaca dingin dan ketika wahyu datang kepadanya, nomor 2333.
Penjelasan kata:
-
(Ṣalṣalah): suara besi ketika digerakkan; digunakan untuk setiap suara yang berdengung. Yang diserupakan di sini adalah suara malaikat saat membawa wahyu.
-
(Fayafṣimu): terputus/berhenti; asal kata faṣm berarti memutus tanpa memisahkan sepenuhnya.
-
(Wa‘aytu): aku memahami dan menghafal.
-
(Layatafaṣṣadu): mengalir; dari kata faṣd yaitu memotong pembuluh darah agar darah mengalir; dahi diserupakan dengan pembuluh yang dipotong sebagai ungkapan betapa banyak keringatnya.
Hadis ini menjelaskan dua bentuk utama turunnya wahyu. Pertama, wahyu datang seperti suara gemerincing lonceng, yaitu suara kuat yang memenuhi pendengaran Nabi ﷺ. Bentuk ini disebut paling berat karena mengandung intensitas spiritual dan beban makna yang sangat besar. Setelah keadaan itu selesai, beliau langsung memahami dan menghafal isi wahyu tanpa kesalahan sedikit pun. Ini menunjukkan bahwa wahyu tidak sekadar didengar, tetapi langsung ditanamkan dalam kesadaran beliau secara sempurna.
Kedua, malaikat menjelma sebagai manusia lalu berbicara langsung kepada beliau. Cara ini lebih ringan dibanding bentuk pertama karena berlangsung seperti percakapan biasa, meskipun hakikatnya tetap wahyu ilahi. Para ulama menjelaskan bahwa bentuk ini sering terjadi ketika wahyu berisi penjelasan hukum atau jawaban atas pertanyaan tertentu.
Kesaksian ‘Aisyah dalam hadis tersebut menambah dimensi penting: turunnya wahyu memiliki dampak fisik nyata pada Nabi ﷺ. Bahkan pada hari yang sangat dingin, keringat beliau mengalir deras ketika wahyu turun. Hal ini menandakan beratnya proses penerimaan wahyu, sekaligus menjadi bukti bahwa wahyu bukan pengalaman psikologis biasa, melainkan peristiwa nyata yang memengaruhi jasad dan ruh sekaligus.
Dari dua dalil ini dapat disimpulkan bahwa wahyu memiliki tiga karakter utama: bersumber dari Allah, disampaikan melalui cara khusus, dan membawa beban makna yang agung. Permulaan wahyu bukan hanya awal kenabian, tetapi juga awal perubahan peradaban manusia, karena sejak saat itu petunjuk langit turun secara bertahap untuk membimbing kehidupan manusia menuju kebenaran.

