KeislamanNgaji Ihya’ Ulumuddin

Gus Ulil Ngaji Ihya’ Ulumuddin: Kritik Terhadap Keduniawian

3 Mins read

Sebagai manusia biasa, kita menyadari bahwa hidup memerlukan sarana duniawi atau kekayaan untuk memenuhi kebutuhan. Tulisan ini tidak bermaksud menyarankan kita untuk berhenti mencari harta. Sebaliknya, konteks ini dimaksudkan sebagai sebuah “kritik dunia” atau peringatan akan “bahaya dunia”. Dengan kata lain, kita bukan anti-dunia, tetapi kita harus sadar bahwa dunia memiliki jebakannya sendiri.

​Di era modernisasi saat ini, tidak dapat dipungkiri hampir semua orang berlomba-lomba mengejar hal-hal keduniawian. Harta seolah dianggap sebagai “Tuhan” yang serba-bisa untuk memenuhi kebutuhan primer dan sekunder. Dunia telah memperbudak banyak orang, dan banyak lagi yang terjerumus ke dalamnya.

​Tentu saja, hal ini bukan berarti kita tidak membutuhkan materi (terutama Rupiah), tetapi kita harus memprioritaskan akhirat di atas dunia. Imam Al-Ghazali menggambarkan sifat dunia yang harus kita pahami dengan ungkapan masyhur: “Dunia itu penjara bagi orang mukmin dan surga bagi orang kafir.”

​Secara tidak langsung, Al-Ghazali menunjukkan bahwa dunia ini hanyalah ujian dan titipan Tuhan. Persoalan utamanya adalah: bagaimana kita menggunakan dan memanfaatkan dunia ini setelah dianugerahkan oleh Sang Pencipta?

​Apakah dunia digunakan untuk mencari jalan keridhaan Allah Swt., atau justru kita tertipu sehingga celaka di akhirat? Pertanyaan ini tampak sederhana, namun memerlukan perjuangan seumur hidup untuk menjawabnya melalui tindakan.

Keseimbangan Dunia dan Akhirat

​Dalam surah Al-Qasas ayat 77, Allah Swt. berfirman:

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.”

Baca...  Gus Ulil Ngaji Al-Iqtishad Fi Al-I'tiqad: Asy’ariyah Dalam Memahami Sifat Kalam

​Meskipun Al-Ghazali berfokus pada kebahagiaan akhirat sebagai tujuan utama hidup manusia, ia tidak menolak adanya kebahagiaan dunia. Menurut Al-Ghazali, kebahagiaan dunia terdiri dari kemuliaan, kehormatan, kedudukan, kekuasaan, serta terhindar dari duka dan memperoleh kesenangan yang halal.

​Kendati demikian, jelas bahwa tujuan hidup manusia ialah memperoleh kedua jenis kebahagiaan tersebut—dunia dan akhirat—karena keduanya adalah kebahagiaan yang sebenarnya jika ditempatkan pada porsinya.

Tahapan Bahaya Cinta Dunia

​Menurut Gus Ulil, dunia dapat menyeret seseorang secara bertahap: mulai dari hal-hal yang syubhat (samar), kemudian masuk ke wilayah makruh, dan akhirnya terjerumus ke dalam hal yang diharamkan. Lebih jauh lagi, cinta dunia dapat membawa seseorang kepada kekufuran. Jika kita menengok sejarah, hampir setiap kaum yang mendustakan Nabi mereka disebabkan oleh kecintaan berlebih terhadap dunia dan ketidakpercayaan terhadap dakwah para Nabi.

​Padahal, Al-Qur’an menegaskan bahwa dunia hanyalah tipuan. Allah Swt. berfirman dalam surah Al-Hadid ayat 20:

“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangguan tentang banyaknya harta dan anak…”

​Hasan bin Ali bin Abi Thalib pernah membuat perumpamaan tentang dunia dalam syairnya, “Wahai orang-orang yang ahli kelezatan dunia, tidak ada kekekalan baginya. Sesungguhnya tertipu dengan bayang-bayang yang hilang adalah kedunguan.”

​Dunia sangat halus dalam menipu; namun pada akhirnya, hasilnya buruk. Ia seolah-olah tampil seperti perempuan yang bersolek indah. Namun, jika pecinta dunia “menikahinya”, dunia akan menyembelihnya secara perlahan.

Filosofi Musafir dan Bayang-bayang

​Dalam kitab Ihya’ Ulumuddin, Al-Ghazali berkata, “Dunia menjanjikan kelanggengan, kemudian ia ingkar menepati.” Saat Anda melihatnya, ia tampak tenang. Padahal dunia bergerak dan berlalu sangat cepat, namun orang yang memandangnya terkadang tidak merasakan pergerakan tersebut.

Baca...  Masih Mau Menuntut di Akhirat, Begini Penjelasan Quraish Shihab

​“Dan sesungguhnya, ketika dunia dan perumpamaan dunia berlalu, ia merasa dunia itu seperti bayang-bayang. Karena sesungguhnya bayang-bayang itu bergerak dalam kenyataannya dan tenang dalam kelihatannya. Tidak mungkin melihat gerakannya secara langsung, tetapi dampaknya terasa kemudian.”

​Penulis teringat sabda Nabi Saw., “Jadilah engkau di dunia ini seperti orang asing atau bahkan seperti orang yang sekadar lewat (musafir).”

​Artinya, jika dunia bukan tempat tinggal abadi bagi orang mukmin, maka ia harus bersikap dengan salah satu dari dua cara:

  1. Seperti Orang Asing: Ia tinggal di negara asing namun obsesinya adalah mencari bekal untuk kembali ke tanah airnya. Ia tidak terpikat menetap di sana selamanya.
  2. Seperti Musafir: Ia tidak menetap sama sekali dan terus berjalan siang malam menuju negeri abadi (kematian).

​Oleh karena itu, Nabi Saw. berwasiat kepada Ibnu Umar untuk memilih mentalitas ini. Seorang mukmin sadar bahwa tujuannya adalah mencari bekal perjalanan, bukan memperkaya diri dengan perhiasan dunia yang memberatkan langkah.

Perumpamaan Penumpang Kapal

​Nabi Muhammad Saw. pernah bersabda, “Pemilik dunia bagaikan orang yang berjalan di atas air. Mampukah dia berjalan di atas air tanpa basah kakinya?”

​Ini menunjukkan betapa sulitnya bagi seseorang yang tenggelam dalam urusan dunia untuk menjaga hatinya tetap suci dan tidak terpengaruh. Dunia adalah perangkap iblis yang sering kali membuat pemiliknya lupa akan kehidupan akhirat.

​Kondisi orang yang lupa akhirat diumpamakan seperti penumpang kapal yang singgah di sebuah pulau. Nahkoda kapal mengizinkan penumpang turun sebentar untuk memenuhi kebutuhan mendesak, seraya mengingatkan agar waspada karena kapal akan segera berangkat.

​Para penumpang pun merespons dengan cara berbeda:

  1. Kelompok Bijak: Mereka segera memenuhi kebutuhan seperlunya, lalu kembali ke kapal dan mendapatkan tempat duduk yang nyaman.
  2. Kelompok Terlena: Mereka sibuk menikmati keindahan pulau dan mengumpulkan barang-barang (batu permata, buah-buahan) dari pulau itu. Saat kembali, kapal sudah penuh sesak. Mereka terpaksa duduk berdesakan dengan barang bawaan yang berat di pangkuan dan di atas kepala.
  3. Kelompok Celaka: Mereka masuk terlalu jauh ke dalam hutan karena terbuai keindahannya, hingga tidak mendengar panggilan nahkoda. Akhirnya, mereka tertinggal. Sebagian dimangsa binatang buas, sebagian lagi mati kelaparan di pulau tersebut.
Baca...  Kasyf Terbukanya Rahasia Ketuhanan

​Itulah gambaran umum manusia dalam menyikapi dunia. Mereka yang terlalu asyik sering kali lupa akan “panggilan nahkoda” (kematian) dan lalai terhadap konsekuensi yang ditimbulkan oleh kecintaan pada dunia.

Wallahu a’lam bisshawab.

190 posts

About author
Alumni PP Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo dan PP Nurul Jadid Paiton Probolinggo. Penulis juga kontributor tetap di E-Harian Aula digital daily news Jatim.
Articles
Related posts
Keislaman

Tuhan sebagai Sumber Pengetahuan Terpercaya: Perspektif Epistemologi Islam

4 Mins read
Sebagai makhluk theomorfis, manusia memiliki sesuatu yang agung di dalam dirinya, yaitu akal, kehendak bebas (free will), dan kemampuan berbicara. Akal membawa…
Keislaman

Di Balik Mukjizat Isra Mi'raj: Pesan Penghiburan Bagi Hati yang Luka

4 Mins read
Mari kita selami kisah agung Isra Mi’raj. Bukan sekadar perjalanan kilat, melainkan sebuah oase di tengah gurun kesedihan, sebuah pelukan Ilahi yang…
Keislaman

Berdirinya Dan Runtuhnya Kesultanan Riau

2 Mins read
Kuliahalislam.Kesultanan Riau merupakan Kesultanan yang terletak di Kepulauan Riau. Kesultanan ini adalah pecahan sekaligus lanjut dari Kesultanan Johor-Riau (Kesultanan Johor) yang berpusat…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Verified by MonsterInsights