Belakangan ini, Drama China atau sering disebut dengan istilah Dracin banyak digemari oleh anak muda, terutama dari kalangan Generasi Z. Berbagai platform digital seperti WeTV, Netflix, dan Viu menyediakan banyak pilihan tontonan yang menarik. Mulai dari alur cerita yang romantis hingga visual para aktor yang tampan dan cantik, semuanya memicu keinginan kita untuk menonton.
Kita bisa menemukan ratusan judul dengan genre romantis, sejarah, hingga aksi dengan mudah hanya melalui ponsel di genggaman tangan. Namun, di balik kepopulerannya, pengaruh drama China juga membawa dampak negatif yang cukup besar terhadap Generasi Z. Tontonan ini bukan hanya sekadar menghibur, tetapi juga berpotensi memengaruhi pola pikir dan gaya hidup penontonnya.
Siapa Itu Generasi Z dan Mengapa Rentan?
Apa itu Generasi Z? Mereka adalah kelompok yang lahir antara tahun 1997 hingga 2012. Gen Z adalah generasi pertama yang tumbuh besar dengan akses internet dan teknologi yang sudah mapan. Oleh karena itu, mereka rentan terpengaruh oleh budaya asing.
Drama China yang menyajikan visual indah dan kisah romantis sering kali membuat penonton terbawa perasaan (baper). Tanpa sadar, kita mulai berpikir tidak realistis, bahkan melupakan nilai-nilai budaya kita sendiri.
Dampak Negatif Drama China: Ilusi Kesempurnaan
Masalah yang sering muncul adalah banyak penonton yang mulai meniru cara bicara, gaya hidup, hingga karakter tokoh drama yang terkesan sempurna. Padahal, hal tersebut jauh dari kehidupan nyata.
Banyak juga yang rela menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk maraton episode (binge-watching) sampai lupa waktu. Akibatnya cukup fatal:
- Tubuh menjadi mudah lelah.
- Waktu belajar berkurang drastis.
- Konsentrasi menurun.
Hal ini tidak hanya berdampak pada bidang akademik, tetapi juga pada kesehatan fisik dan mental. Banyak Generasi Z mengaku susah fokus belajar karena pikirannya masih terbawa suasana oleh drama yang ditontonnya.
Kurangnya Literasi Media
Salah satu penyebab utamanya adalah masih minimnya kemampuan memahami literasi media di kalangan Generasi Z. Banyak yang menonton tanpa berpikir kritis. Mereka tidak menyadari bahwa drama dibuat untuk hiburan, bukan cerminan kehidupan nyata. Alur dibuat semenarik mungkin semata-mata agar banyak orang tertarik melihatnya. Hal ini berbahaya karena dapat memengaruhi kepribadian dan pola pikir secara tidak sadar.
Jebakan Algoritma dan Kecanduan
Platform seperti WeTV menggunakan sistem rekomendasi otomatis untuk menampilkan tontonan serupa dengan yang pernah ditonton sebelumnya. Akibatnya, penonton terus disuguhi drama sejenis agar semakin susah berhenti.
Tanpa disadari, kita mulai kecanduan Drama China. Semakin lama menonton, semakin susah untuk lepas. Bahkan, penonton bisa merasa gelisah jika dalam sehari tidak menonton drama. Ketergantungan seperti ini bisa dikategorikan sebagai bentuk kecanduan ringan yang berdampak pada kesehatan mental.
Pergeseran Sosial dan Ekspektasi Hubungan
Dampak negatif drama China juga terlihat dari sisi sosial. Banyak Generasi Z yang mulai membandingkan hubungan mereka di dunia nyata dengan kisah cinta di drama. Mereka berharap hubungan yang dijalani bisa semanis atau seindah di layar kaca.
Hal ini memunculkan rasa kecewa dan ketidakpuasan terhadap pasangan sendiri. Pada akhirnya, kondisi ini bisa menimbulkan konflik atau membuat hubungan menjadi renggang.
Gaya Hidup Boros dan Instan
Kebiasaan menonton drama China juga berdampak pada gaya hidup. Beberapa orang rela berlangganan platform streaming berbayar hanya untuk menonton episode lebih cepat (Fast Track) atau mendapatkan kualitas video yang lebih bagus.
Meskipun terlihat sepele, jika dilakukan terus-menerus tanpa kontrol, hal ini menimbulkan gaya hidup boros. Generasi Z yang terbiasa dengan kemudahan akses digital cenderung ingin semuanya serba instan. Uang yang terbuang sia-sia sebenarnya bisa digunakan untuk hal yang lebih bermanfaat atau ditabung untuk jangka panjang.
Tergerusnya Budaya Lokal dan Krisis Identitas
Pengaruh drama China juga terlihat dari bagaimana budaya lokal mulai tergeser. Drama Tiongkok menampilkan nilai-nilai khas yang terlihat modern dan keren. Banyak penonton mulai meniru gaya berpakaian, cara bicara, hingga kebiasaan sehari-hari karakter drama.
Misalnya, banyak Generasi Z meniru fashion dan make up aktor China yang belum tentu cocok dengan budaya Indonesia. Hal ini bisa menyebabkan hilangnya rasa bangga terhadap bangsa sendiri. Jika dibiarkan, identitas budaya Indonesia akan terkikis perlahan. Lebih parah lagi, hal ini bisa menciptakan sifat minder atau insecure karena membandingkan diri dengan karakter drama yang memiliki wajah rupawan, tubuh ideal, dan kehidupan mewah.
Solusi Mengatasi Dampak Negatif Dracin
Untuk mengatasi berbagai pengaruh negatif ini, perlu adanya kesadaran dari berbagai pihak, mulai dari individu, keluarga, lingkungan, hingga lembaga pendidikan.
- Manajemen Waktu: Generasi Z perlu belajar menonton dengan bijak. Kuncinya adalah mengatur waktu agar hiburan tidak mengganggu kegiatan lain. Misalnya, hanya menonton saat semua tugas selesai atau membatasi jumlah episode per hari.
- Peningkatan Literasi Digital: Lembaga pendidikan tinggi dapat mulai mengajarkan mahasiswa untuk menjadi penonton yang berpikir kritis. Penonton harus paham bahwa drama adalah karya fiksi yang tidak selalu mewakili realita sosial.
- Peran Keluarga: Orang tua sebaiknya tidak hanya melarang, tetapi berdiskusi dengan anak tentang tontonan mereka. Dengan diskusi, anak dapat membedakan antara fakta dan fiksi.
- Aktivitas Sosial Alternatif: Lingkungan sekitar perlu membentuk area sosial konstruktif seperti kelompok membaca atau kegiatan seni untuk mengalihkan perhatian dari layar gadget.
Peran Pemerintah dan Industri Kreatif
Pemerintah Indonesia dan sektor kreatif harus mengembangkan drama atau film berkualitas tinggi yang menonjolkan nilai budaya bangsa. Jika drama domestik mampu menyamai kualitas produksi dan cerita drama asing, Generasi Z tidak akan terlalu bergantung pada hiburan luar.
Kesimpulan: Menjadi Penonton Cerdas
Generasi Z seharusnya mampu menggunakan media secara cerdas karena mereka dibesarkan di era digital. Harus dipahami bahwa hiburan tidak bersifat netral; ia terinfusi dengan nilai dan filosofi.
Tidak ada yang salah dengan menonton drama, semua tergantung pada bagaimana kita menyikapinya. Generasi Z harus menyadari bahwa cinta dan kehidupan nyata melibatkan usaha keras, tanggung jawab, dan sikap realistis—bukan sekadar romantisme layar kaca.
Oleh karena itu, belajarlah untuk menonton dengan cerdas, bijaksana, dan sadar. Jadikan drama sebagai hiburan singkat untuk melepas penat, bukan pelarian dari kenyataan. Dengan keseimbangan yang tepat, drama China bisa menjadi inspirasi, bukan racun bagi masa depan.

