Kitab Asas al-Ta’wil merupakan karya tafsir monumental karangan Qadi Abu Hanifah al-Nu’man ibn Muhammad ibn Mansur ibn Ahmad ibn Hayyun al-Tamimi al-Maghribi, atau yang lebih dikenal dengan Nu’man ibn Hayyun.
Beliau adalah seorang penganut Syiah Ismailiyah sekaligus hakim agung pada masa Daulah Fatimiyah. Pendapat yang paling masyhur menyebutkan bahwa ia lahir pada 293 H (905 M) di Maroko dan wafat pada 363 H (973 M) di Mesir.
Sistematika Penulisan Kitab
Secara sistematis, kitab ini menggunakan metode al-tartib al-sab’i (urutan tujuh) yang diimplementasikan ke dalam enam fasal pembahasan para nabi, yaitu:
- Nabi Adam;
- Nabi Nuh;
- Nabi Ibrahim;
- Nabi Musa;
- Nabi Isa; dan
- Nabi Muhammad.
Dalam menakwilkan ayat Al-Qur’an, Nu’man banyak menggunakan pendekatan ra’yu ‘aqli (rasional). Meskipun demikian, sebagian penakwilannya tetap didasarkan pada khabar atau hadis. Salah satu keunikan kitab ini terletak pada setiap awal fasal. Nu’man selalu memulainya dengan menuliskan selawat khusus kepada Ali bin Abi Thalib sebagai berikut:
Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamin, wa shallallahu ‘ala Muhammadin khatamin nabiyyin, wa ‘ala washiyyihi ‘Ali ibni Abi Thalib khairil washiyyin, wa ‘alal aimmatith thahirina min dzurriyyatihil muta’aqibina min shulbihi ila yaumid din, wa ba’du.
(Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam, selawat Allah atas Muhammad penutup para nabi, dan atas wasiatnya Ali bin Abi Thalib sebaik-baik penerima wasiat, serta atas para Imam yang suci dari keturunannya yang silih berganti dari sulbinya hingga hari kiamat).
Karakteristik Kaum ‘Ad: Keangkuhan Lahiriah
Kisah Nabi Hud yang dibahas pada fasal kedua berfokus pada Kaum ‘Ad. Mereka dikenal sebagai bangsa yang perkasa, namun memiliki sifat sangat angkuh dan membanggakan diri secara lahiriah.
Mereka memandang segala sesuatu hanya dari tampak luarnya, baik dari segi fisik, kekuatan, maupun kemewahan dunia. Sayangnya, mereka abai terhadap makna batin atau kebenaran yang dibawa oleh para nabi. Akibatnya, mereka menilai Nabi Hud hanya dari sisi fisik semata dan meremehkannya karena dianggap tidak sesuai dengan standar kebesaran duniawi versi mereka.
Lebih jauh lagi, Kaum ‘Ad dikenal gemar menantang. Ketika diberi peringatan, mereka justru meminta agar azab dipercepat seolah-olah peringatan itu hanya gertakan belaka. Inilah akar kesesatan dan kehancuran mereka. Mereka menolak seruan Nabi Hud serta merasa tidak membutuhkan Allah.
Puncak Kehancuran: Awan Rahmat atau Azab?
Puncak dari kisah ini terjadi ketika mereka melihat awan hitam besar mendekat. Orang-orang yang durhaka menyangka awan itu membawa hujan dan keberkahan. Namun, sangkaan mereka berbanding terbalik dengan kenyataan. Awan itu justru membawa angin besar yang membinasakan sebagai bentuk azab Allah.
Peristiwa ini diabadikan dalam Q.S. Al-Ahqaf ayat 24–25:
“Maka, ketika melihat azab itu berupa awan yang menuju ke lembah-lembah mereka, mereka berkata, “Inilah awan yang akan menurunkan hujan kepada kita.” (Bukan,) tetapi itu azab yang kamu minta agar disegerakan kedatangannya, (yaitu) angin yang mengandung azab yang sangat pedih. (Azab itu) menghancurkan segala sesuatu dengan perintah Tuhannya sehingga mereka (kaum ‘Ad) menjadi tidak terlihat lagi, kecuali hanya (bekas-bekas) tempat tinggal mereka. Demikianlah Kami memberi balasan kepada kaum yang durhaka.”
Penakwilan Batin (Esoterik) Nu’man ibn Hayyun
Nu’man ibn Hayyun dalam Tafsir Asas al-Ta’wil menunjukkan bahwa kisah ini tidak hanya dimaknai secara lahiriah (eksoterik), tetapi juga memiliki dimensi makna batin (esoterik).
Dalam penafsirannya, ia mengungkapkan sebuah simbolisme yang menarik:
- Air melambangkan rahmat kehidupan. Dengan air, bumi menjadi subur dan makhluk hidup memperoleh keberkahan.
- Angin melambangkan sebaliknya, yakni azab dan ujian, sebab ia dapat menjadi asal mula dari kehancuran dan kebinasaan.
Padahal, kedua unsur tersebut sesungguhnya berasal dari kehendak Allah yang sama. Maknanya, suatu hal yang sama dapat menjadi rahmat bagi orang-orang yang beriman, tetapi dapat berubah menjadi azab pedih bagi orang yang durhaka.
Perbedaan hasil ini bergantung sepenuhnya pada sikap manusia dalam merespons nikmat dan ujian dari Allah. Dalam kasus Kaum ‘Ad, penolakan dan keangkuhan mereka telah mengubah fenomena alam yang diharapkan sebagai berkah (air) menjadi malapetaka (angin).
Makna Batin Ar-Rih Al-‘Aqim
Dalam Q.S. Az-Zariyat ayat 41, dijelaskan pula makna batin dari ar-rih al-‘aqim (angin yang membinasakan). Menurut Nu’man, maknanya adalah ilmu ilahiah.
Ilmu ini membawa bekal dari Allah untuk para wali-Nya berupa hujah (argumentasi) yang mematahkan musuh-Nya. Hal ini terjadi justru pada saat para musuh itu merasa unggul dengan hujah batil mereka atas kebenaran. Ilmu jenis ini bukanlah ilmu yang dapat digunakan untuk membina iman mereka, bukan pula yang melahirkan kaum beriman baru. Sebaliknya, ia merupakan pukulan telak bagi orang-orang kafir.
Mereka mendebat Nabi Hud dengan hujah lahiriah dan mengemukakan argumen untuk menjatuhkannya. Maka, Nu’man menafsirkan bahwa Nabi Hud memberi isyarat kepada mereka dengan hujah ilmu tersembunyi (batin) dan mengancam mereka dengan kemunculannya.
Bagi kaum pembangkang, ilmu tersebut menjadi azab, bukan pengetahuan yang bermanfaat. Hal itu terjadi ketika ajal kehancuran mereka telah dekat dan kemurkaan Allah menimpa mereka. Allah mengirimkan angin secara lahir untuk membinasakan jasad mereka karena mereka gagal memenuhi seruan dakwah sebagaimana mestinya.

