Keislaman

Doktrin Imamah Syiah: Sejarah, Konsep, dan Perbedaan Aliran

5 Mins read

Pendahuluan

​Dalam perjalanan sejarah Islam, pembahasan tentang negara berkembang melalui tiga dasar utama: konsep khilafah yang dipraktikkan setelah Nabi Muhammad wafat, konsep imamah yang dianut dalam tradisi Syiah, dan konsep pemerintahan atau imarah. Setelah Nabi meninggal, persoalan pertama yang muncul di tengah masyarakat Muslim adalah soal siapa yang harus memimpin, karena sejak awal ajaran Islam sudah menyatukan urusan agama dan politik.

​Perbedaan pandangan antara kelompok Anshar, Muhajirin, dan keluarga Nabi membuat perdebatan tentang kepemimpinan semakin tajam. Dari sinilah muncul keyakinan bahwa Ali lebih berhak memimpin umat. Pandangan ini kemudian berkembang menjadi doktrin imamah dalam Syiah, yang tidak hanya dianggap sebagai urusan politik, tetapi juga bagian dari ajaran agama. Seiring meluasnya wilayah Islam dan bertemunya bangsa Arab dengan berbagai kebudayaan lain, muncul pula pemikiran-pemikiran baru tentang kepemimpinan, termasuk dari aliran Mu’tazilah dan Asy‘ariyah. Berdasarkan latar belakang tersebut, artikel ini membahas bagaimana konsep imamah dalam Syiah, kedudukannya dalam ajaran mereka, serta pandangan berbagai aliran Islam klasik terhadap isu tersebut.

Konsep Imamah Sebagai Doktrin Syiah

​Istilah Syiah berasal dari kata Arab syaya‘a, yang berarti sekelompok orang yang bersatu dalam satu urusan. Dalam perkembangannya, istilah ini dipahami sebagai kelompok yang mengikuti dan mengutamakan Ali bin Abi Thalib dibanding sahabat Nabi lainnya. Akar munculnya kelompok ini adalah keyakinan bahwa setelah Nabi wafat, yang paling berhak memimpin umat adalah keluarga Nabi, khususnya Ali sebagai kerabat terdekat.

​Abu Zahrah menjelaskan bahwa Syiah merupakan mazhab politik paling awal dalam Islam, karena persoalan pertama yang muncul setelah wafatnya Nabi bukanlah masalah akidah, tetapi kepemimpinan politik. Syiah muncul secara jelas setelah perang antara Ali bin Abi Thalib dan Muawiyah yang berakhir dengan tahkim. Sejak saat itu, umat Islam terpecah menjadi tiga golongan: pengikut Ali (Syiah), Khawarij, dan pendukung Muawiyah.

​Bagi Syiah, jabatan pemimpin negara atau imam bukan hak semua Muslim atau seluruh Quraisy, melainkan hak khusus Ali dan keturunannya. Mereka meyakini bahwa Nabi telah mewasiatkan kepemimpinan kepada Ali. Namun, perjalanan Syiah tidak berjalan dalam satu jalur, melainkan berkembang menjadi berbagai sekte. Perpecahan ini terjadi karena sebagian kelompok terlalu mengagungkan imam, serta adanya perbedaan dalam menentukan imam berikutnya ketika seorang imam wafat.

Baca...  Nabi Sya'ya Dalam Riwayat Ibnu Katsir

​Dari perkembangan tersebut lahir tiga kelompok besar Syiah yang sering dibahas:

1. Konsep Imamah Syiah Zaidiyah

​Zaidiyah berpandangan bahwa pengangkatan imam adalah kewajiban masyarakat berdasarkan syariat. Mereka mengakui bahwa Ali, Hasan, dan Husain ditetapkan sebagai imam melalui nash Nabi, meski sifat penetapannya dianggap samar sehingga kesalahan umat dalam mengabaikannya dinilai dapat dimaklumi.

​Dalam pandangan Zaidiyah, setiap keturunan Fatimah punya hak menjadi imam jika memenuhi syarat yang ditentukan. Karena itu, dua imam dapat muncul pada waktu dan tempat berbeda, selama keduanya layak dan ditaati. Namun, jika salah satu kalah dalam konflik, kekalahannya dianggap sah sebagai bentuk turunnya dari jabatan imam. Gerakan Zaidiyah memiliki beberapa sub-sekte, yaitu:

  • Al-Jarudiyyah: Meyakini Nabi mewasiatkan imamah kepada Ali melalui sifat-sifatnya, dan mengafirkan sahabat yang tidak membaiat Ali.
  • Al-Sulaimaniyyah: Menekankan bahwa imamah ditentukan melalui musyawarah. Mereka mengakui imamah Abu Bakar dan Umar, meski menilai Ali lebih utama.
  • Al-Batriyyah: Mirip Sulaimaniyyah, namun bersikap tawaqquf (netral) terhadap Utsman.

​Secara umum, Zaidiyah menolak konsep taqiyyah, ‘ishmah (kemaksuman imam), dan ajaran-ajaran khas Syiah lainnya. Sikap mereka lebih politis dan realistis dibanding sekte-sekte Syiah lainnya.

2. Konsep Imamah Syiah Itsna ‘Asyariyah

​Syiah Imamiyah Itsna ‘Asyariyah percaya bahwa kepemimpinan hanya berada di tangan dua belas imam, mulai dari Ali bin Abi Thalib hingga imam terakhir, Muhammad bin Hasan al-Mahdi. Untuk menguatkan keyakinan ini, mereka mengembangkan beberapa doktrin pelengkap seperti ‘ishmah (kemaksuman imam), taqiyyah, al-Mahdi, dan raj‘ah (kembalinya imam di akhir zaman).

3. Konsep Imamah Syiah Ghulat

​Syiah Ghulat adalah kelompok ekstrem yang berlebihan dalam mengagungkan imam. Mereka memberi sifat-sifat ketuhanan kepada imam hingga melampaui batas sebagai makhluk. Ajaran mereka banyak dipengaruhi paham luar seperti Yahudi, Nasrani, Zoroaster, dan kepercayaan Arab kuno, terutama dalam konsep hulul (penjelmaan), tanasukh (reinkarnasi), dan tasybih (menyerupakan Tuhan dengan makhluk).

Baca...  Cara Malaikat Menyampaikan Wahyu Kepada Rasul

​Karena ajaran-ajaran tersebut, para ulama menilai Syiah Ghulat telah keluar dari Islam atau setidaknya sangat menyimpang. Mereka menganggap imam sebagai pewaris kerasulan yang memiliki cahaya ketuhanan, bahkan maksum secara mutlak. Bagi kelompok ini, imam bisa saja melakukan hal yang tampak bertentangan dengan syariat namun tetap benar menurut ilmu batin, sehingga pandangan mereka memperkuat sifat ekstrem kelompok ini.

Pandangan Aliran Islam Klasik tentang Imamah

​Dalam tradisi Islam klasik, konsep imamah (kepemimpinan) dipahami secara berbeda oleh berbagai aliran teologi. Kaum Mu’tazilah membahas imamah dari lima aspek: hakikat imam, kebutuhan akan pemimpin, syarat-syarat imam, cara pengangkatannya, dan penentuan siapa yang layak menjadi imam. Secara umum, imam dipandang sebagai pemegang otoritas tertinggi dalam urusan umat. Mayoritas kelompok—seperti Mu’tazilah, Asy’ariyah, Maturidiyah, hingga Syiah—sepakat bahwa masyarakat membutuhkan pemimpin untuk menegakkan hukum, menjaga ketertiban, dan menghadirkan keadilan, meski sebagian kecil menganggap pemimpin tidak diperlukan jika masyarakat sudah terbebas dari kezaliman.

​Perbedaan paling menonjol hadir pada syarat seorang pemimpin. Mu’tazilah menekankan keilmuan, ketakwaan, keberanian, serta moralitas. Asy’ariyah dan Maturidiyah menambah syarat nasab Quraisy, sementara Syiah lebih jauh meyakini bahwa kepemimpinan harus berada pada keturunan Ali bin Abi Thalib. Perbedaan ini berlanjut pada cara pengangkatan imam: sebagian menerima pemilihan melalui baiat, sebagian lain mengharuskan adanya nash (penunjukan ilahi). Karena itu, muncul variasi pandangan mengenai siapa pemimpin sah setelah wafatnya Nabi: mayoritas Ahlussunnah menegaskan Abu Bakar melalui ijmak Sahabat, sementara kelompok Syiah berpegang pada riwayat-riwayat yang menunjuk Ali.

​Dari ragam pandangan tersebut, terdapat titik temu bahwa pemimpin ideal adalah mereka yang berilmu, adil, bermoral, dan mampu menjaga kemaslahatan publik. Sementara perbedaan tentang nasab dan metode pengangkatan menunjukkan betapa persoalan kepemimpinan merupakan isu kompleks yang sejak dahulu menjadi ruang dialektika pemikiran Islam.

Kesimpulan

​Dari uraian yang telah dijelaskan di atas, dapat disimpulkan beberapa poin penting sebagai berikut:

Baca...  Kisah Ujian Terbesar Nabi Setelah Isra Mi'raj yang Mengguncang Masyarakat Mekkah

Pertama, Syiah sebagai satu aliran dalam Islam timbul karena permasalahan politik yang kemudian dibawa ke dalam ranah akidah. Imamah adalah persoalan terpenting dalam Syiah yang menyebabkan mereka terbagi ke dalam banyak sekte. Syiah Imamiyah Itsna ‘Asyariyah menganggap bahwa jabatan Imam ada di tangan dua belas imam, dimulai dari Ali bin Abi Thalib dan terakhir Imam kedua belas, yaitu Muhammad bin Hasan yang digelari sebagai al-Mahdi. Untuk mendukung akidah imamah ini, mereka menciptakan ajaran pelengkap antara lain: al-‘ishmah, al-Mahdi, al-raj’ah, serta al-taqiyyah.

Kedua, Syiah Ghulat disebut kelompok ekstrem karena sikap mereka yang berlebih-lebihan terhadap para imamnya. Mereka menganggap imam memiliki kedudukan di luar batas makhluk dan menetapkan sifat-sifat ketuhanan (menyerupai Tuhan atau menyerupakan Tuhan dengan makhluk). Ajaran Syiah Ghulat banyak disusupi ajaran luar Islam, baik dari Hindu, Zoroaster, Yahudi, Nasrani, maupun kepercayaan Arab kuno. Ajaran mereka berkisar pada tasybih, tanasukh, bada’, dan raj’ah.

​Karena keyakinan bahwa imam memiliki nur ilahi dan ruh ketuhanan, mereka menganggap imam maksum (tidak berbuat salah) meskipun melakukan sesuatu yang bertentangan dengan syariat. Mereka berdalih bahwa menurut ilmu batin, hal tersebut tidak batil, meskipun bagi orang awam itu melanggar syariat. Karena penyimpangan ini, para ulama sepakat bahwa Syiah Ghulat telah keluar dari ajaran Islam yang sebenarnya.

Ketiga, Konsep imamah yang dianut oleh Zaid bin Ali (Zaidiyah) memiliki corak yang lebih moderat dibandingkan aliran Syiah lainnya, meskipun masih membatasi hak imamah pada keturunan Ali dari istrinya, Fatimah. Zaidiyah umumnya mengakui sahnya kekhalifahan Abu Bakar, Umar, dan Utsman. Berbeda dengan Imamiyah dan Ismailiyah, mereka memandang imamah sebagai hak terbuka bagi semua keturunan Fatimah yang memenuhi syarat tanpa kecuali.

​Secara teologis, Zaidiyah banyak dipengaruhi paham Mu’tazilah, dan keduanya saling memengaruhi dalam perkembangannya. Pemikiran dinamis mereka terkadang sejalan dengan Asy’ariyah dalam masalah hakikat sifat Tuhan. Ditinjau dari sisi moderasinya, Zaidiyah adalah aliran Syiah yang paling dekat dengan Ahlussunnah wal Jamaah.

Related posts
KeislamanNgaji Ihya’ Ulumuddin

Gus Ulil Ngaji Ihya Ulumuddin: Cara Ampuh Mengobati Sifat Pelit

2 Mins read
Kita tahu bahwa penyebab utama manusia memiliki sifat pelit adalah cinta yang berlebihan terhadap harta dunia. Harta sering kali menjadi sumber penyakit,…
KeislamanNgaji Ihya’ Ulumuddin

Hakikat Sifat Dermawan: Ngaji Ihya Ulumuddin Bersama Gus Ulil

2 Mins read
Sudah maklum bahwa dalam hal kebutuhan hidup duniawi, manusia cenderung mementingkan diri sendiri. Banyak yang tidak menyadari bahwa pada hakikatnya manusia adalah…
Keislaman

Etika Muslim di Ruang Publik Media Sosial

2 Mins read
Ruang publik saat ini tidak lagi hanya terdiri dari mimbar podium dan ruang rapat, tetapi juga meluas ke media sosial—tempat setiap individu…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

×
KeislamanSejarah

Mengenal Tarekat Sanusiyah

Verified by MonsterInsights