Sekilas tentang Al-Kāsyānī dan Tafsir Al-Ṣāfī
Ketika menyebut nama seorang ulama besar Syiah, kita sering membayangkan sosok yang tegas dan kadang terdengar keras dalam menjelaskan ajaran agama. Namun, Al-Kāsyānī bukan tipe seperti itu. Ia justru tampil dengan nuansa yang tenang, bahasanya lembut, dan penjelasannya menenteramkan, seperti seorang guru bijak yang mengajak kita duduk santai sambil merenungkan makna ayat-ayat Allah. Inilah yang membuatnya begitu menonjol dalam tradisi tafsir Syiah.
Al-Kāsyānī hidup pada abad ke-17 dan dikenal sebagai ilmuwan serba bisa. Ia menulis karya dalam bidang akhlak, fikih, tasawuf, hingga tafsir. Dari semua karyanya, Tafsir Al-Ṣāfī adalah yang paling sering dibicarakan. Kitab ini termasuk tafsir riwayat (ma’tsur) karena banyak mengutip hadis Ahlulbait. Namun, yang membedakannya adalah cara Al-Kāsyānī menyampaikan materi; jauh lebih lembut dibandingkan mufasir lain yang cenderung berdebat secara ketat.
Tafsir Al-Ṣāfī tidak hanya memuat penjelasan ayat, tetapi juga menawarkan ruang refleksi untuk menyerap nilai moral dan spiritualnya. Saat membaca, pembaca bisa merasakan sentuhan sufistik yang memperhalus pembahasan doktrin-doktrin Syiah. Hal ini termasuk saat ia mengulas tema-tema sensitif seperti imamah, kemaksuman imam, dan terutama taqiyah. Meski topiknya berat, kedalaman penjelasannya terasa ringan untuk diikuti.
Gaya lembut inilah yang membuat Tafsir Al-Ṣāfī mudah diterima, bukan hanya oleh kalangan akademisi, melainkan juga oleh pembaca umum. Al-Kāsyānī tidak memakai nada menggurui atau memaksa pembaca menyetujui pendapatnya. Ia lebih memilih memandu pelan-pelan, membantu pembaca memahami konteks ajaran Syiah dengan suasana penuh ketenangan. Sikap inilah yang menjadi ciri khasnya dan membuat namanya terus disebut dalam kajian tafsir Syiah.
Lebih menarik lagi, Al-Kāsyānī tidak hanya terpaku pada penjelasan literal. Ia sering menyelipkan pesan-pesan etika dan renungan batin yang membuat tafsirnya lebih hidup. Seolah-olah ia ingin mengingatkan bahwa ayat-ayat Al-Qur’an bukan sekadar kumpulan hukum, tetapi juga ungkapan kasih Allah untuk manusia. Pendekatan yang lembut inilah yang menjadi fondasi ketika ia menguraikan doktrin taqiyah dengan cara yang hangat, manusiawi, dan sangat menyejukkan.
Penjelasan Lembut Al-Kāsyānī tentang Doktrin Taqiyah
Taqiyah adalah salah satu ajaran dalam Syiah yang sering dipersepsikan keliru. Banyak orang menganggapnya sebagai izin untuk menyembunyikan kebenaran secara sengaja. Anggapan seperti ini sudah lama beredar, padahal makna taqiyah sebenarnya jauh lebih sederhana dan manusiawi. Di titik inilah Al-Kāsyānī tampil dengan pendekatan yang penuh empati. Ia tidak melihat taqiyah sebagai tipu muslihat, melainkan sebagai bentuk perlindungan diri dalam kondisi genting.
Menurut Al-Kāsyānī, akar dari taqiyah adalah prinsip dasar Islam itu sendiri, yaitu menjaga keselamatan dan menjauhi bahaya. Ia menekankan bahwa seseorang tidak perlu memaksakan keberanian yang justru membahayakan. Di berbagai penjelasannya, Al-Kāsyānī mengaitkan taqiyah dengan kasih sayang Allah yang tidak ingin hamba-Nya terbebani di luar kemampuan mereka. Jadi, dalam pandangannya, taqiyah merupakan sikap yang sangat manusiawi.
Kehalusan pendekatan Al-Kāsyānī tampak dari cara ia menempatkan taqiyah sebagai hal yang bergantung pada situasi. Ia tidak pernah menyebut taqiyah sebagai kewajiban mutlak. Ketika situasi mengancam dan menempatkan seseorang pada risiko, saat itulah taqiyah menjadi pilihan paling bijak. Baginya, taqiyah adalah “jalan aman”, bukan strategi untuk mengelabui orang lain.
Bagi Al-Kāsyānī, inti dari taqiyah adalah menghindari bahaya yang tidak perlu. Menurutnya, agama tidak menuntut seseorang mengambil risiko besar dalam kondisi yang tidak mendukung. Oleh karena itu, ia sering menuliskan penjelasannya dengan nada menenangkan: bertaqiyah bukan tanda kurangnya iman, justru itu adalah ekspresi kecerdasan spiritual. Dengan menjaga diri, seseorang tetap bisa mempertahankan keyakinannya tanpa harus menghadapi ancaman yang tidak perlu.
Hal lain yang membuat penjelasan Al-Kāsyānī terasa menyejukkan adalah cara ia menyampaikan doktrin ini tanpa nada memaksa. Ia tidak menggambarkan taqiyah sebagai ajaran yang rumit untuk dipahami. Sebaliknya, ia membuatnya terasa sederhana dan dekat dengan keseharian manusia, yaitu sebuah langkah wajar bagi siapa pun yang hidup di tengah tekanan atau ancaman. Pendekatan lembut inilah yang membuat pemahaman tentang taqiyah menjadi lebih jernih.
Contoh Penafsiran Taqiyah ala Al-Kāsyānī dalam Tafsir Al-Ṣāfī
Untuk melihat bagaimana gaya lembut Al-Kāsyānī bekerja, kita bisa melihat contoh penafsirannya terhadap surah Ali ‘Imran ayat 28:
“Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka…” (QS. Ali ‘Imran: 28)
Ayat ini berbicara tentang larangan menjadikan pihak yang memusuhi sebagai pelindung, kecuali dalam keadaan tertentu ketika seseorang perlu menjaga keselamatannya. Banyak mufasir menafsirkan ayat ini dengan penuh peringatan keras. Namun, Al-Kāsyānī punya pendekatan berbeda. Ia melihat ayat ini sebagai bukti betapa sayangnya Allah kepada hamba-Nya. Menurutnya, ayat ini justru menunjukkan bahwa Allah memberikan ruang bagi manusia untuk tetap bertahan.
Al-Kāsyānī menekankan bahwa Allah sepenuhnya memahami kondisi manusia yang kadang berada dalam tekanan atau bahaya. Karena itu, baginya, taqiyah bukanlah siasat licik, melainkan keringanan (rukhsah) yang diberikan Allah sebagai bentuk belas kasih. Ia tidak menyoroti strateginya, melainkan lebih pada kenyataan bahwa seseorang tidak harus kehilangan nyawa demi sesuatu yang bisa dihindari. Gaya penjelasannya pun menenangkan, jauh dari nada yang membuat pembaca takut.
Dalam bagian lain tafsirnya, Al-Kāsyānī mengutip riwayat para Imam tentang kapan taqiyah perlu dilakukan. Namun, ia tidak menyampaikannya seperti aturan yang kaku. Ia lebih seperti memberi panduan praktis: jika situasi berbahaya, gunakan taqiyah; jika aman, tidak perlu. Nada penjelasannya yang kalem dan tidak menghakimi membuat doktrin taqiyah terasa lebih realistis dan relevan dalam kehidupan sehari-hari.

