Esai

Mengupas Pendekatan William Montgomery Watt dalam Kajian Kenabian Muhammad

4 Mins read

William Montgomery Watt (1909–2006) adalah salah satu figur orientalis yang paling penting dan ilmuwan terkemuka dalam bidang Islamic Studies. Berasal dari Skotlandia, Watt merupakan seorang dosen filsafat di Universitas Edinburgh dan meraih pengakuan tertinggi di lingkungannya dengan gelar “Emiritus Professor”, sebuah kehormatan yang diberikan atas pencapaiannya sebagai ahli di bidang studi Islam. Sebagian besar karya monumentalnya didedikasikan untuk mengkaji kehidupan dan peran Nabi Muhammad.

Tujuan utama Watt dalam karyanya adalah memberikan pola sejarah Nabi Muhammad yang komprehensif dan menyoroti berbagai prestasi yang telah dilakukan oleh beliau. Untuk mencapai hal ini, Watt menggunakan serangkaian pendekatan interdisipliner, mulai dari teori asimilasi ideologi, historiografi, hingga sosiologi-antropologi. Pendekatan-pendekatan ini tidak hanya menjelaskan kondisi sosial masyarakat Mekah menjelang kedatangan Islam tetapi juga merekonstruksi ulang narasi sejarah Islam awal dari sudut pandang Barat yang kritis dan materialis.

Karya-karya Kunci William Montgomery Watt

Montgomery Watt dikenal sangat produktif. Karya-karyanya tidak hanya terbatas pada studi Islam, tetapi juga merambah perbandingan agama. Beberapa karya-karya utamanya yang menjadi rujukan penting di dunia akademik meliputi: Free Will and Predestination in Early Islam (thesis, 1947), Muhammad at Mecca, Muhammad at Medina, Muhammad Prophet and Statesmen, The Formative Period of Islam Thought, What is Islam, The Influences of Islam on Medical Europa, Islamic Revelation in The Modern World, Islamic Fondamentalism, Islam and Cristian Today.

Karya-karya ini menunjukkan kedalaman dan luasnya minat Watt, menjadikannya salah satu sarjana Barat yang paling berotoritas dalam studi Islam abad ke-20. Namun, fokus utamanya tetap pada dua biografi Nabi Muhammad, Muhammad at Mecca dan Muhammad at Medina, yang secara radikal mengubah cara pandang Barat terhadap pendiri Islam.

Historiografi Sekuler dan Logika Materialis

Salah satu pilar utama dalam metodologi Watt adalah penggunaan historiografi sekuler. Dalam konteks penelitian sejarah, Watt menerapkan metode studi sejarah yang berporos pada fakta dan data empiris. Data-data ini harus dapat dibuktikan dengan logika materialis.

Baca...  Setitik Nila Kebaikan, Fondasi Perubahan Besar Peradaban

Implikasi paling signifikan dari pendekatan ini adalah keharusan Watt untuk menghindari nilai, fakta, dan segala sesuatu yang berafiliasi dengan dimensi non-materi. Dimensi yang dihindari ini mencakup aspek-aspek seperti spiritualitas dan sikap religiusitas. Dalam pandangan sekuler ini, wahyu, mukjizat, atau peristiwa supranatural harus diinterpretasikan ulang melalui kacamata sosiologis, psikologis, atau historis murni.

Penolakan Terhadap Narasi Supranatural

Prinsip sekularisme materialis ini terlihat jelas ketika Watt mengomentari peristiwa keagamaan. Misalnya, dalam salah satu kasus, Watt mengulas kisah tentang seorang tokoh non-Islam yang melihat simbol kenabian di pundak Muhammad Muda, mengisyaratkan bahwa anak itu akan menjadi tokoh besar di masa depan.

Komentar Watt terhadap peristiwa ini sangat tegas: ia mengatakan bahwa kisah tersebut hanyalah sebuah narasi yang didasarkan pada ide-ide primitif seseorang. Menurutnya, ide tersebut muncul karena adanya keinginan untuk menemukan sosok yang “terlihat memiliki sinar magis”. Dalam pandangan Watt, kisah seperti ini lebih merupakan refleksi dari psikologi kolektif masyarakat yang mencari sosok penyelamat, bukan fakta sejarah yang dapat diterima secara rasional-empiris.

Pendekatan ini membuat Watt berhasil memanusiawikan Nabi Muhammad sebagai seorang negarawan (statesmen) yang brilian dan ahli strategi, namun pada saat yang sama, ia mengesampingkan identitas spiritual dan kenabiannya—sebuah titik yang sering dikritik oleh sarjana Muslim.

Teori Asimilasi Ideologi dan Pengaruh Eksternal

Pendekatan kedua yang digunakan Montgomery Watt adalah teori asimilasi ideologi. Pendekatan ini berfokus pada penelusuran sejauh mana pengaruh agama lain berperan dalam pembentukan Islam awal. Watt berpendapat bahwa Islam tidak muncul di ruang hampa, melainkan berinteraksi dan mengasimilasi ide-ide dari lingkungan keagamaan di sekitarnya.

Perjumpaan dengan Waraqah bin Naufal

Dalam teori asimilasi ini, Watt menekankan bahwa perjumpaan Nabi Muhammad dengan Waraqah bin Naufal menjadi poros utama yang memengaruhi Muhammad. Waraqah, yang merupakan sepupu Khadijah dan seorang penganut Nasrani Hanif yang berpengetahuan, dilihat oleh Watt sebagai salah satu saluran penting masuknya ide-ide teologis dan narasi kenabian dari tradisi Yahudi-Nasrani ke dalam kesadaran Muhammad. Meskipun narasi Islam tradisional melihat pertemuan ini sebagai penegasan kenabian, Watt cenderung menginterpretasikannya sebagai sumber pengaruh ideologis awal.

Baca...  Menjadi Kaum Muda Muslim Beradab Masa Kini

Peran Pengaruh Yahudi dan Nasrani dalam Hijrah

Pengaruh eksternal ini diperluas oleh Watt untuk menjelaskan peristiwa penting lainnya dalam sejarah Islam: hijrahnya Nabi Muhammad ke Madinah. Watt menuturkan bahwa salah satu faktor yang memengaruhi keputusan hijrah tersebut adalah keberadaan dan pengaruh signifikan dari orang-orang Yahudi dan Nasrani di Madinah (Yatsrib).

Kehadiran komunitas-komunitas agama yang terorganisasi dengan struktur sosial dan keyakinan monoteistik yang mapan dianggap Watt memberikan konteks yang lebih siap bagi penerimaan ajaran baru.

Namun, Watt juga secara adil mencatat adanya faktor lain yang bersifat politis dan sosiologis-antropologis. Ia menyebutkan adanya perwakilan enam orang yang datang dari Madinah dan menemui Nabi Muhammad. Kedatangan mereka adalah untuk meminta Nabi bersedia pindah ke Madinah karena kesulitan dan konflik internal yang melanda kota mereka. Dengan demikian, hijrah tidak hanya dilihat sebagai perintah ilahi (spiritual) atau pengaruh agama lain, tetapi juga sebagai respons cerdas dan strategis (sosiologis-politis) terhadap undangan mediasi dan kepemimpinan yang ditawarkan oleh masyarakat Madinah sendiri.

Pendekatan Sosiologi-Antropologi

Meskipun sumber yang diberikan lebih berfokus pada historiografi dan asimilasi ideologi, Watt secara implisit menggunakan pendekatan sosiologi-antropologi untuk menjelaskan kondisi sosial masyarakat Mekah.

Watt melihat masyarakat Mekah pada masa pra-Islam sebagai masyarakat yang sedang mengalami ketegangan akibat pergeseran dari struktur kesukuan (berbasis solidaritas ‘asabiyah) menjadi masyarakat berbasis ekonomi kapitalis dagang. Kehidupan yang didominasi oleh perdagangan dan kekayaan individu telah merusak solidaritas kesukuan dan menciptakan kesenjangan sosial yang ekstrem.

Dalam analisis sosiologisnya, Watt menginterpretasikan pesan-pesan awal Nabi Muhammad (terutama yang berkaitan dengan keadilan sosial, kepedulian terhadap fakir miskin, dan kritik terhadap ketamakan para pedagang kaya) sebagai respons langsung terhadap krisis sosial-ekonomi yang terjadi di Mekah. Dalam pandangan ini, Islam bukan sekadar fenomena spiritual, melainkan sebuah gerakan pembaruan sosial yang bertujuan untuk mengintegrasikan kembali masyarakat yang terpecah—sebuah tesis yang ia kembangkan secara rinci dalam bukunya Muhammad at Medina: Islam and Integration of Society.

Baca...  Inflasi Usia Pemuda di Indonesia

Montgomery Watt merupakan contoh klasik dari seorang sarjana Barat yang menerapkan metodologi ilmiah modern—dengan bias sekuler-materialis—ke dalam studi sejarah keagamaan. Karya-karyanya, yang memandang Nabi Muhammad sebagai “Prophet and Statesmen”, berhasil menyajikan sosok beliau sebagai tokoh sejarah yang revolusioner, ahli strategi politik yang ulung, dan reformator sosial yang cerdas.

Meskipun demikian, penggunaan sekularisme dalam historiografi dan penekanan pada teori asimilasi ideologi membuat Watt sering berada dalam posisi kontroversial di mata sarjana Muslim. Terlepas dari kritik tersebut, kontribusi William Montgomery Watt terhadap Islamic Studies adalah tak terbantahkan. Ia telah meletakkan dasar bagi banyak studi tentang Islam awal di Barat, dan pemikirannya tentang kenabian, politik, dan masyarakat dalam Islam terus menjadi subjek diskusi dan kajian mendalam hingga saat ini.

Bahan Bacaan:

  • Abdurrahim Muhammad, At-Tafsir an-Nabawi, Khasaisuhu wa Masadiruhu.
  • Abdullah Saed, Pengantar Studi Al-Qur`an (Terj. Sulkhah dan Sahiron).
  • Karl Stenbrink, “Berdialog dengan Karya-karya Kaum Orientalis”, dalalm Ulumul Qur`an, Vol. III, No. 2, Tahun 1992
  • Muhammad Prophet and Statesmen
24 posts

About author
Dosen STAI Syubbanul Wathon Magelang
Articles
Related posts
ArtikelEsaiFilsafatKeislaman

Hikmah dari Jule, Inara dan Ridwan Kamil

6 Mins read
KULIAHALISLAM.COM- Keluarga merupakan unit terkecil dalam masyarakat yang menjadi cermin kekuatan peradaban. Dalam perspektif Islam, keluarga bukan sekadar lembaga sosial, melainkan amanah…
Esai

Pacaran dan Zina: Kritik Fenomena Hamil di Luar Nikah

5 Mins read
Pendahuluan ​Artikel yang ditulis oleh Amelia Febrianti berjudul “Ketika Pacaran Berujung pada Hamil di Luar Nikah: Memahami Dampak dan Cara Mencegahnya” menarik…
Esai

Eksistensi dan Tantangan Penyuluh Agama di Era Perkembangan Kecerdasan Buatan

3 Mins read
Dalam satu dekade terakhir, kemajuan teknologi digital dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence atau AI) telah merombak hampir seluruh aspek kehidupan manusia. Perubahan…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

×
Esai

Implementasi Nilai Ta'awun dalam QS. Al-Maidah Ayat 2 melalui Perspektif Tafsir Local Wisdom

Verified by MonsterInsights