Keislaman

Tujuan Hidup Manusia Menurut Islam: Mengupas Makna Syahadatain

5 Mins read

Pendahuluan

​Sebagai makhluk yang dianugerahi akal untuk berpikir, manusia sering disebut oleh para pemikir dan ilmuwan sebagai makhluk yang bertanya. Pertanyaan mendasar yang selalu muncul dalam benak setiap manusia adalah: “Siapakah aku?” dan “Apa tujuan hidup manusia?”. Jika pertanyaan asasi ini tidak mendapatkan jawaban, maka hidup akan terasa hampa, tanpa arah, dan kehilangan makna.

​Kita memang sering mendengar jawaban atas pertanyaan tersebut dari para akademisi, ilmuwan, maupun filsuf. Namun, tidak jarang jawaban yang mereka berikan terlalu rumit, bertele-tele, bahkan sulit dipahami oleh orang awam, sehingga maknanya menjadi kabur.

​Di sinilah Islam hadir memberikan jawaban yang paling mendasar sekaligus komprehensif. Sebagai dīn yang memiliki ciri ulūhiyyah (bersifat ketuhanan), insāniyyah (sejalan dengan fitrah kemanusiaan), ‘ālamiyyah (universal dan mencakup seluruh aspek kehidupan), serta wuḍūḥ (jelas ajarannya), Islam menjawab dua pertanyaan fundamental tersebut melalui Rukun Islam yang pertama, yakni syahadat: mengucapkan dua kalimat kesaksian.

Syahādatain: Makna “Asyhadu an lā ilāha illallāh”

​Secara bahasa, syahādah berarti menetapkan, memberitahukan, menjelaskan, serta menyaksikan dengan mata kepala maupun mata hati. Disebut Dua Kalimat Syahadat (Syahādatain) karena di dalamnya terdapat pengakuan terhadap dua hal pokok: pertama, kesaksian atas keesaan Allah Swt. melalui kalimat lā ilāha illallāh; dan kedua, kesaksian atas kerasulan Muhammad putra Abdullah melalui kalimat Muhammad rasūlullāh.

​Maka, Dua Kalimat Syahadat (Syahādatain) itu berbunyi: Asyhadu an lā ilāha illallāh wa asyhadu anna muḥammadan ‘abduhu wa rasūluh.

​Para ulama yang menafsirkan makna Dua Kalimat Syahadat menjelaskan bahwa kalimat lā ilāha illallāh memiliki dua rukun utama, yaitu an-nafy (peniadaan) dan al-itsbāt (penetapan). Kata lā ilāha berarti menafikan atau menolak segala bentuk ilah (sesembahan) selain Allah Swt., sedangkan kata illallāh berarti menetapkan bahwa segala bentuk ibadah hanya boleh ditujukan kepada Allah Swt. semata.

​Dengan demikian, makna asyhadu an lā ilāha illallāh adalah mengetahui, meyakini, mengimani, dan membenarkan bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah di alam semesta ini kecuali Allah Swt.

​Pernyataan asyhadu an lā ilāha illallāh sekaligus mengandung dua hal: pertama, menafikan adanya tuhan-tuhan lain yang dianggap layak disembah atau berkuasa mencipta dan mengatur alam raya ini; dan kedua, menetapkan bahwa hanya Allah Swt. yang berhak disembah, serta hanya Dia-lah—tanpa bantuan siapa pun—yang mencipta dan mengatur seluruh alam semesta. Inilah inti makna dari kalimat lā ilāha illallāh.

Baca...  Keutamaan Batiniat dan Aqliyat Menurut Ibnu Sina

​Allah Swt. berfirman dalam Al-Qur’an Surah Al-Hajj ayat 62:

“Hal itu (kekuasaan Allah berlaku) karena Allah, Dialah (Tuhan) Yang Maha Benar dan apa saja yang mereka seru selain Dia itulah yang batil. Sesungguhnya Allah, Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar.”

​Berdasarkan uraian tentang kalimat syahadat lā ilāha illallāh, dapat dipahami bahwa tujuan utama penciptaan manusia adalah untuk menyembah (beribadah) hanya kepada Allah Swt. Hal ini sejalan dengan firman Allah dalam Al-Qur’an Surah Adz-Dzāriyāt ayat 56:

“Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzāriyāt [51]: 56).

​Dalam menafsirkan ayat ini, Sayyid Quthb menjelaskan bahwa ibadah tidak terbatas pada ritual semata, melainkan mencakup seluruh tujuan dan tugas utama manusia di dunia, termasuk perannya sebagai khalifah. Menurut beliau, ibadah memiliki dua makna penting: Pertama, ibadah adalah pengakuan akan keberadaan Allah sebagai Tuhan yang berhak disembah dan manusia sebagai hamba-Nya. Kedua, ibadah berarti mengarahkan seluruh aktivitas hidup—mulai dari tindakan, pikiran, hingga cita-cita—hanya kepada Allah Swt.

​Dengan demikian, ibadah berarti membebaskan diri dari segala bentuk penghambaan kepada selain Allah. Oleh karena itu, kalimat syahadat lā ilāha illallāh menjadi pondasi utama keyakinan seorang muslim, yang menegaskan bahwa seluruh hidupnya dipersembahkan hanya untuk beribadah kepada-Nya. Seseorang tidak dapat disebut muslim apabila ia tidak meyakini keesaan Allah, atau justru mengabdikan ibadahnya kepada selain-Nya.

​Sampai di sini, kita menemukan jawaban atas dua pertanyaan asasi manusia, yaitu “Siapakah aku?” dan “Apa tujuan hidupku?”. Jawabannya adalah bahwa manusia adalah hamba Allah Swt. yang diciptakan untuk beribadah hanya kepada-Nya. Dengan demikian, tujuan utama hidup manusia tidak lain adalah untuk menyembah Allah semata; beribadah.

​Hal ini ditegaskan dalam firman Allah Swt. pada Al-Qur’an Surah Al-An‘ām ayat 162–163:

“Katakanlah (Muhammad): ‘Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tidak ada sekutu bagi-Nya. Demikianlah yang diperintahkan kepadaku, dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah).’” (QS. Al-An‘ām [6]: 162–163).

Syahādatain: Makna “Muhammad rasūlullāh”

​Setelah kita mengetahui bahwa manusia adalah hamba Allah Swt. dengan tugas dan tujuan hidup untuk beribadah kepada-Nya, muncul pertanyaan berikutnya: “Bagaimana manusia beribadah kepada Allah?”. Jawaban pertanyaan ini terdapat pada penggalan kedua dari Dua Kalimat Syahadat, yaitu: wa asyhadu anna Muḥammadan ‘abduhu wa rasūluh.

Baca...  Analisis Makna Ketauhidan dalam QS. Al-Baqarah 163: Perspektif Tafsir Al-Mīzān dan Para Ulama

​Makna kalimat ini adalah mengetahui, meyakini, mengimani, dan membenarkan bahwa Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muththalib bin Hasyim bin Abdi Manaf—yang dilahirkan di Makkah dan wafat di Madinah—adalah hamba Allah dan utusan-Nya untuk seluruh alam semesta, baik jin maupun manusia. Beliau adalah penutup para nabi dan rasul Allah.

​Konsekuensi dari persaksian ini adalah pengakuan bahwa segala ajaran yang disampaikan Nabi Muhammad Saw., khususnya yang berkaitan dengan dīn al-Islām, adalah kebenaran mutlak. Beliau menerima wahyu dari Allah untuk menjelaskan bagaimana manusia seharusnya beribadah kepada-Nya.

​Dengan demikian, menjadikan Allah Swt. sebagai satu-satunya tujuan hidup tidak bisa dilepaskan dari meneladani Nabi Muhammad Saw. Tanpa bimbingan dan tuntunan beliau, mustahil ibadah sebagai tugas utama manusia dapat dilaksanakan dengan benar. Karena itu, kalimat wa asyhadu anna Muḥammadan rasūlullāh juga bermakna bahwa seorang muslim berikrar untuk menjadikan Nabi Muhammad Saw. sebagai teladan hidupnya.

“Sungguh, pada (diri) Rasulullah itu benar-benar ada teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan (kedatangan) hari Kiamat serta yang banyak mengingat Allah.” (QS. Al-Aḥzāb [33]: 21).

“Katakanlah (Muhammad): Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Katakanlah: Taatilah Allah dan Rasul(-Nya). Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir.” (QS. Āli ‘Imrān [3]: 31–32).

​Dalam menafsirkan ayat ini, Sayyid Quthb dalam Fī Ẓilāl al-Qur’ān menulis:

“Cinta kepada Allah bukanlah sekadar pengakuan lisan atau perasaan yang menggebu-gebu, melainkan harus disertai dengan mengikuti Rasulullah Saw., berjalan di atas petunjuknya, dan mewujudkan ajarannya dalam kehidupan. Demikian pula, iman bukanlah kata-kata yang diucapkan, bukan sekadar perasaan yang bergejolak, dan bukan pula ritual yang dijalankan. Akan tetapi, iman adalah ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya, serta mengamalkan ajaran Allah yang dibawa oleh Rasul-Nya.”

​Senada dengan itu, Imam Ibnu Katsir dalam Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm menegaskan:

“Ayat yang mulia ini adalah hakim (penentu) bagi setiap orang yang mengaku mencintai Allah, tetapi ia tidak berjalan di atas syariat Muhammad Saw. Sungguh, ia adalah pendusta dalam pengakuannya itu, hingga ia mengikuti syariat Muhammad dan agama Nabi Saw. dalam seluruh perkataan dan keadaannya. Sebagaimana telah sahih dari Rasulullah Saw., beliau bersabda: ‘Barangsiapa yang melakukan suatu amalan yang tidak ada perintah kami padanya, maka amalan itu tertolak.’”

Baca...  Mengungkap Keajaiban Angka dalam Al-Qur’an: Jumlah Ayat dan Surah

​Imam Ibnu Rajab al-Hanbali menambahkan:

“Sebagaimana setiap amal yang tidak diniatkan karena Allah Swt. tidak akan mendatangkan pahala bagi pelakunya, demikian pula setiap amal yang tidak sesuai dengan perintah Allah dan Rasul-Nya akan tertolak. Setiap orang yang mengada-ada dalam perkara agama yang tidak diizinkan Allah dan Rasul-Nya, maka amal itu sama sekali bukan bagian dari agama.”

​Apabila seseorang telah mengikrarkan tujuan hidupnya hanya untuk Allah Swt., maka konsekuensi logisnya adalah menjadikan Nabi Muhammad Saw. sebagai teladan hidup. Dalam konteks kehidupan sekarang, ketika beliau sudah tiada, seorang muslim tidaklah cukup menjadikan Al-Qur’an semata sebagai pedoman hidupnya, tetapi juga wajib menerima sunnah Nabi Saw.

“Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah; dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya.” (QS. Al-Ḥasyr [59]: 7).

​Rasulullah Saw. pun menegaskan dalam sabdanya:

“Aku tinggalkan pada kalian dua perkara, yang kalian tidak akan tersesat selamanya bila berpegang teguh kepada keduanya, yaitu Kitab Allah dan Sunnahku.” (HR. Al-Ḥākim).

​Dalam riwayat lain beliau bersabda:

“Wahai sekalian manusia, sesungguhnya aku telah tinggalkan di tengah-tengah kalian sesuatu. Jika kalian berpegang teguh kepadanya, kalian tidak akan tersesat selamanya: Kitab Allah dan keluargaku, (Ahlul Baitku).” (HR. At-Tirmiżī).

​Ibarat sebuah jalan, jalan yang ditempuh Rasulullah Saw. dalam kehidupannya adalah jalan lurus yang diridhai Allah Swt. Melalui beliau, Allah menunjukkan kepada umat manusia jalan yang lurus, lengkap dengan petunjuk dan rambu-rambunya. Siapa yang menaatinya akan selamat di dunia dan akhirat. Sebaliknya, siapa yang berpaling darinya akan tersesat di dunia dan akhirat.

Penutup

​Sebagai penutup, dapat disimpulkan bahwa pengakuan atas dua kalimat syahadat bukan hanya sekadar ucapan lisan, tetapi sebuah ikrar yang menentukan arah hidup seorang muslim. Syahadat menjawab pertanyaan mendasar manusia: siapa diri kita dan apa tujuan hidup kita. Kita adalah hamba Allah yang tugas utamanya beribadah kepada-Nya, dengan menjadikan Rasulullah Saw. sebagai teladan utama dalam menjalani kehidupan.

Wallāhu a’lam.

4 posts

About author
Seorang mahasiswa/sarjana dari UIN Sunan Kalijaga jurusan PAI yang menjadi penulis lepas di beberapa media massa dan peneliti seputar pendidikan Islam, ilmu-ilmu keislaman, dan sejarah Islam.
Articles
Related posts
Keislaman

Tuhan sebagai Sumber Pengetahuan Terpercaya: Perspektif Epistemologi Islam

4 Mins read
Sebagai makhluk theomorfis, manusia memiliki sesuatu yang agung di dalam dirinya, yaitu akal, kehendak bebas (free will), dan kemampuan berbicara. Akal membawa…
Keislaman

Di Balik Mukjizat Isra Mi'raj: Pesan Penghiburan Bagi Hati yang Luka

4 Mins read
Mari kita selami kisah agung Isra Mi’raj. Bukan sekadar perjalanan kilat, melainkan sebuah oase di tengah gurun kesedihan, sebuah pelukan Ilahi yang…
Keislaman

Berdirinya Dan Runtuhnya Kesultanan Riau

2 Mins read
Kuliahalislam.Kesultanan Riau merupakan Kesultanan yang terletak di Kepulauan Riau. Kesultanan ini adalah pecahan sekaligus lanjut dari Kesultanan Johor-Riau (Kesultanan Johor) yang berpusat…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

×
KeislamanTafsir

Adil Sudah Biasa, Ihsan Luar Biasa dalam Konteks Al-Qur'an Surat Ali Imran Ayat 134

Verified by MonsterInsights