Sebagai makhluk theomorfis, manusia memiliki sesuatu yang agung di dalam dirinya, yaitu akal, kehendak bebas (free will), dan kemampuan berbicara. Akal membawa manusia pada kesadaran tentang kesatuan Dzat (tauhid). Hal ini juga memungkinkan mereka membedakan mana yang benar dan salah, serta antara kenyataan dan khayalan. Konsekuensinya, kehendak bebas berfungsi sebagai kemampuan untuk memilih antara kebaikan dan keburukan.
Dalam perspektif Islam, manusia tidak dianggap sebagai makhluk egois yang sekadar memiliki akal. Sebaliknya, mereka dipandang sebagai makhluk berakal yang mampu mendekatkan diri kepada Tuhan sekaligus memiliki kemampuan verbal. Melalui kemampuan berbicara inilah manusia dapat mengomunikasikan hubungannya dengan Tuhan.
Di sisi lain, gagasan bahwa manusia adalah makhluk theomorfis merupakan kritik terhadap ideologi-ideologi yang dihadapi manusia di dunia kontemporer. Ideologi modern kerap menjauhkan manusia dari esensi kemanusiaannya, sehingga kehidupan kehilangan “horizon spiritual”. Hal ini dapat memicu bencana, krisis kemanusiaan, serta kerusakan lingkungan.
Situasi semacam ini tentu membuat manusia lupa akan jati dirinya. Karena menjadi pusat kemajuan dan terlalu mengagungkan ilmu pengetahuan serta teknologi, masyarakat yang sukses secara materi akhirnya meninggalkan agama. Akibatnya, sains dan teknologi mengambil alih peran agama. Seolah-olah “Mbah teknologi-isme” mampu memenuhi seluruh kebutuhan spiritual manusia.
Tuhan adalah Sumber Pengetahuan
Yusuf Al-Qardhawi menyatakan bahwa Tuhan adalah “manhaj”, atau sumber dan landasan utama untuk membangun sistem pemikiran. Dalam tradisi intelektual Arab-Islam, terdapat tiga jenis nalar yang saling terkait: nalar ketuhanan, nalar kemanusiaan, dan nalar kealaman.
Oleh karena itu, pemahaman tentang bagaimana penalaran manusia dan alam bekerja melalui struktur nalar menjadi sangat penting dari perspektif epistemologis. Demikian pula, prinsip ketauhidan sangat krusial sebagai fondasi dari segala upaya penelitian dan pengembangan keilmuan.
Menurut ajaran Islam, Tuhan adalah sumber ilmu dan kekuasaan yang meliputi bumi dan langit, baik yang nyata maupun yang gaib. Dalam epistemologi Islam; wahyu Tuhan, hati (intuisi), akal, dan indra dianggap sebagai sumber ilmu secara aplikatif. Sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an Surah Ali ‘Imran ayat 29, Allah Swt. berfirman:
قُلْ اِنْ تُخْفُوْا مَا فِيْ صُدُوْرِكُمْ اَوْ تُبْدُوْهُ يَعْلَمْهُ اللّٰهُۗ وَيَعْلَمُ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَرْضِۗ وَاللّٰهُ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
Artinya: “Katakanlah (Muhammad), “Jika kamu sembunyikan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu nyatakan, Allah pasti mengetahuinya.” Dia mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (Q.S. Ali ‘Imran [3]: 29).
Namun, epistemologi di atas terkadang dipisahkan dalam praktiknya. Misalnya, ilmu agama (naqliyah) yang didasarkan pada otoritas sering kali dipertentangkan dengan akal. Padahal, Al-Qur’an dan Hadis merupakan tafsir otoritas tertinggi.
Alam semesta—yang terdiri dari atom-atom terkecil hingga diri kita sebagai manusia—adalah sumber ilmu umum, sedangkan kitab suci (Al-Qur’an) adalah sumber ilmu agama. Menurut Ahmad Tafsir, penulis buku Filsafat Umum, Tuhan memberi kita dua sumber pengetahuan: Al-Qur’an (nash) dan alam semesta (ahwal).
Kita menyadari bahwa dilema klasik pendidikan Islam yang masih tersisa hingga hari ini adalah dikotomi antara dua jenis keilmuan tersebut. Penuntut ilmu (thalib) seolah memiliki kepribadian ganda karena ilmu agama dianggap berbeda dan terpisah dari ilmu umum.
Pemisahan ilmu agama dan ilmu umum ini sangat bertentangan dengan ajaran Islam yang universal dan integral, karena semua cabang ilmu sejatinya berasal dari Satu Sumber, yaitu Tuhan. Meskipun ada hierarki ilmu dalam Islam, hierarki ini pada akhirnya bermuara pada pengetahuan tentang Yang Maha Tunggal sebagai inti dari segala ilmu.
Ilmuwan muslim membagi cabang ilmu menjadi dua bagian. Pertama adalah Al-Ulum Al-Naqliyah, yaitu ilmu yang disampaikan melalui wahyu tetapi tetap melibatkan akal, termasuk ilmu agama—yang oleh Al-Ghazali disebut sebagai ilmu “Fardhu Ain”. Kedua adalah Al-Ulum Al-Aqliyah, yaitu ilmu intelektual yang diperoleh sepenuhnya melalui akal (rasio) dan pengalaman empiris, yang kini dikenal sebagai sains.
Pembagian ini tidak dimaksudkan untuk mendikotomikan keduanya atau menempatkan satu di bawah yang lain. Sebaliknya, kategori ini hanya menunjukkan betapa kompleksnya ilmu yang berkembang dalam peradaban Islam.
Ketika kita memperhatikan firman Tuhan, alam semesta dan Al-Qur’an sama-sama disebut sebagai tanda-tanda (ayat) Tuhan. Alam adalah ciptaan Tuhan dan bukti kebesaran-Nya, sehingga alam merupakan “wahyu tak tertulis”, sebagaimana banyak disebutkan dalam Al-Qur’an. Allah Swt. berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 29:
هُوَ الَّذِيْ خَلَقَ لَكُمْ مَّا فِى الْاَرْضِ جَمِيْعًا ثُمَّ اسْتَوٰٓى اِلَى السَّمَاۤءِ فَسَوّٰىهُنَّ سَبْعَ سَمٰوٰتٍۗ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌࣖ
Artinya: “Dialah (Allah) yang menciptakan segala yang ada di bumi untukmu, kemudian Dia menuju ke (penciptaan) langit, lalu Dia menyempurnakannya menjadi tujuh langit. Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 29).
Karena alam adalah karya Ilahi, setiap manusia harus membaca ayat-Nya—baik yang tertulis (Al-Qur’an) maupun yang tidak tertulis (alam semesta)—untuk mendapatkan kebenaran yang sejati. Maka jelaslah bahwa meskipun sumber ilmu secara aplikatif itu banyak, semuanya adalah bagian dari pengetahuan Tuhan.
Empat Jenis Fondasi Epistemologi
Dalam menanggapi konflik di antara dua jenis keilmuan tersebut, Ismail Raji Al-Faruqi membangun fondasi epistemologi keilmuan Islam dengan empat jenis kesatuan:
- Keesaan Tuhan: Menunjukkan bahwa tidak ada Tuhan selain Dia yang menguasai dan menjaga alam semesta. Ini menegaskan bahwa sains bukan hanya tentang menerapkan dan memahami realitas yang terpisah dari Tuhan, tetapi juga merupakan bagian penting dari bukti eksistensi-Nya.
- Kesatuan Ciptaan: Bahwa semesta ini—baik aspek material, psikis, biologis, sosial, maupun estetis—adalah satu kesatuan penting untuk mencapai tujuan tertinggi Tuhan.
- Kesatuan Kebenaran dan Pengetahuan: Kebenaran berasal dari realitas, dan realitas berasal dari Yang Satu, yaitu Tuhan. Oleh karena itu, wahyu tidak mungkin bertentangan dengan realitas (sains) karena keduanya diciptakan oleh Tuhan yang sama.
- Kesatuan Manusia Universal: Prinsip yang berlaku untuk seluruh umat manusia tanpa terkecuali.
Akibatnya, menjadi jelas bahwa kerangka pengetahuan Islam berpusat dan berasal dari Tuhan. Baik ilmu agama maupun ilmu umum sebenarnya berasal dari satu sumber, yaitu Tuhan, dan tujuan mempelajari semua ayat-Nya adalah untuk ma’rifatullah (mengenal Tuhan).
Ilmu-ilmu ini tidak saling bertentangan, melainkan saling mendukung. Ilmu agama memberikan landasan etis bagi ilmu umum, dan ilmu umum (sains) memperkuat pembuktian kebenaran ilmu agama. Karena Islam adalah agama fitrah (alam), segala sesuatu yang menimbulkan konflik antara agama dan sains harus dihindari atau ditinjau ulang pemahamannya.
Alam adalah tanda atau pesan Ilahiyah yang menunjukkan kehadiran kesatuan dalam sistem global. Semakin jauh seseorang memahami alam dengan sains, maka seharusnya semakin dalam ia menangkap pesan Tuhan. Karena itu, landasan ilmu seharusnya adalah iman, yang kemudian diikuti oleh rasio dan observasi alam.
Dalam konteks keislaman, ilmu agama dan ilmu umum harus dianggap sebagai kesatuan yang terpadu (integrated), dan setiap muslim dianjurkan mempelajarinya untuk meningkatkan kualitas peradaban (izzul islam wal muslimin).
Oleh karena itu, institusi pendidikan Islam harus mengimbangi penguasaan sains dan teknologi dengan keimanan dan ketakwaan secara proporsional agar tidak tergerus atau tertinggal di era post-modernisme ini. Wallahu a’lam bisshawab.

