Keislaman

Teologi Asy’ariyah Menurut Gus Ulil: Kehendak Bebas dan Tindakan Tuhan (3)

5 Mins read

Menurut pandangan Asy’ariyah, klaim ketiga menunjukkan bahwa Tuhan dapat memberi penyakit kepada hewan yang tidak bersalah. Ini adalah salah satu aspek penting dari teodisi dalam akidah mereka. Kita tahu bahwa teodisi adalah argumen filosofis untuk menjawab alasan mengapa Tuhan yang Maha Baik mengizinkan adanya kejahatan di dunia. Teodisi memungkinkan kita untuk mengurai masalah kejahatan (problem of evil).

​Jika diteliti lebih jauh, filsuf Jerman Gottfried Leibniz adalah orang pertama yang menggunakan istilah ini dalam karyanya yang berjudul Theodicee pada tahun 1710, meskipun solusi untuk masalah kejahatan telah diajukan jauh sebelumnya.

​Menurut filsuf Britania John Hick, terdapat tiga tradisi utama dalam teodisi: teodisi Plotinus, teodisi Agustinus, dan teodisi Irenaeus. Namun, sebagian filsuf lain berpendapat bahwa teodisi adalah disiplin modern, mengingat dalam kepercayaan dunia kuno, dewa-dewa biasanya dianggap tidak sempurna, sehingga kejahatan tidak menjadi paradoks teologis.

​Sifat Jaiz dan Kehendak Mutlak Tuhan

​Menurut Gus Ulil, berdasarkan akidah Teologi Asy’ariyah, Tuhan memiliki hak prerogatif untuk memberikan penderitaan kepada makhluk, termasuk hewan dan manusia yang tidak bersalah. Selain itu, Tuhan tidak memiliki kewajiban untuk memberikan pahala kepada hamba-Nya yang bertindak baik. Sekilas, apakah ini tidak menunjukkan sikap sadis dari Tuhan?

​Jika kita tidak mendalami pandangan Asy’ariyah, kita pasti tidak akan dapat memahami hal ini dengan benar. Dalam akidah Asy’ariyah, semua tindakan Tuhan memiliki sifat jaiz (boleh/mungkin). Dengan kata lain, Tuhan tidak melakukan sesuatu karena faktor deterministik (dikondisikan), proses mekanis, atau kewajiban, melainkan karena kehendak bebas-Nya (iradah).

​Sebagai contoh, ketika seorang hamba melakukan amal saleh dan kemudian dimasukkan ke dalam surga, itu bukan karena kewajiban Tuhan untuk membalasnya. Secara logika teologis ini, Tuhan mungkin saja memasukkan seorang hamba yang saleh ke dalam neraka, tetapi Dia tidak melakukannya karena kasih sayang-Nya, bukan karena Dia tidak mampu atau terikat kewajiban. Semua murni karena keinginan-Nya.

​Tuhan tidak seperti hewan percobaan Pavlov dalam teori behaviorisme yang dapat diprediksi: jika diberi stimulus A, maka akan melakukan tindakan B. Logika “Jika manusia berbuat begini, maka Tuhan harus menanggapi begitu,” ditolak dalam paham ini. Tuhan tidak bisa menjadi objek persyaratan atau kausalitas mekanis.

Baca...  Gus Ulil: Pentingnya Akhlak dan Etika Bagi Orang Berilmu

​Dalam eksperimennya, Ivan Pavlov menggunakan suara sebagai stimulus netral dan air liur anjing sebagai refleks alami terhadap makanan. Pavlov berulang kali menggabungkan stimulus netral (suara) dengan stimulus tak terkondisi (makanan). Hasilnya, anjing mengeluarkan air liur setiap kali mendengar suara karena mereka belajar mengaitkannya dengan makanan secara mekanis.

​Sekali lagi, perspektif Asy’ariyah menegaskan bahwa Tuhan tidak seperti hewan Pavlov. Implikasinya, Tuhan boleh menciptakan alam raya, tetapi tidak harus. Tidak ada tuntutan eksternal bagi-Nya.

​Setelah menciptakan alam raya, termasuk manusia, Tuhan dapat memberi manusia taklif (tanggung jawab moral) dengan mewajibkan atau melarang hal-hal tertentu. Menurut Gus Ulil, menurunkan syariat melalui nabi-nabi dan kitab suci adalah hal yang mungkin (jaiz), tetapi bukan keharusan (wajib) bagi Tuhan. Mengapa? Karena Tuhan bisa saja menciptakan manusia tanpa membebani tanggung jawab moral. Namun, jika Tuhan menghukum atau memberi pahala, itu karena kehendak dan keadilan-Nya, bukan karena Dia didikte oleh amal manusia.

​Perdebatan dengan Mazhab Muktazilah

​Pandangan ini jelas bertentangan dengan keyakinan Muktazilah. Kaum Muktazilah berpendapat bahwa menyiksa hewan tanpa alasan adalah perbuatan jahat (qabih), dan Tuhan tidak mungkin melakukan perbuatan buruk. Bagi mereka, Tuhan wajib berbuat yang terbaik (ash-shalah wa al-ashlah) bagi hamba-Nya. Artinya, Tuhan tidak boleh menimpakan penyakit kepada hewan atau manusia yang tidak bersalah tanpa kompensasi.

​Gus Ulil merefleksikan bahwa meskipun Muktazilah mengatakan hal itu tidak mungkin secara rasional, kenyataan di lapangan berkata lain. Tidak seperti Nabi Ayyub, banyak orang baik mendapatkan cobaan luar biasa. Bagaimana penjelasan Muktazilah mengenai realitas penderitaan ini?

​Anda tidak akan kesulitan menjelaskan penderitaan jika Anda seorang ateis. Bagi ateis atau penganut nihilisme, hidup di dunia ini tidak memiliki arti transenden. Penderitaan adalah fenomena alam acak yang tidak dapat dihindari.

​Namun, hal ini menjadi sulit dijelaskan jika Anda seorang yang beriman. Jika Tuhan itu ada dan Maha Baik, mengapa manusia menderita? Bukankah mereka yang mengalami kesulitan sering kali adalah orang-orang berbudi luhur dan ahli ibadah?

Baca...  Memahami Alqur'an: Peran Terjemah, Tafsir, dan Takwil dalam Ajaran Islam

​Muktazilah, yang memegang teguh penalaran rasional, terjebak pada argumen bahwa Tuhan tidak mungkin berbuat “jahat”. Namun, fakta bahwa banyak orang tidak bersalah justru menderita menjadi tantangan bagi teodisi mereka.

​Menanggapi hal ini, Gus Ulil menilai bahwa pendapat Asy’ariyah justru lebih realistis, meskipun terdengar “kejam” di permukaan dan tidak mudah dipahami secara sederhana. Bagaimana mungkin Tuhan yang Maha Pengasih menyiksa hamba-Nya?

​Bagi Asy’ariyah, ini tidak masalah secara teologis karena Tuhan adalah Pemilik Mutlak. Dia boleh melakukan apa saja terhadap milik-Nya, termasuk memberi ujian kepada orang saleh, tanpa wajib menggantinya (meskipun Tuhan berjanji akan menggantinya karena kemurahan-Nya, bukan karena kewajiban).

​Bahaya Rasionalisme Mekanis dan Mazhab Frankfurt

​Poin kuncinya adalah Tuhan tidak melakukan sesuatu karena proses mekanis-deterministik. Tuhan bukan mesin. Jika Dia bertindak seperti mesin (input A harus menghasilkan output B), maka Dia tidak memiliki kehendak bebas.

​Gus Ulil mengatakan bahwa setiap perspektif yang terlalu mendewakan rasionalitas pada akhirnya akan menjadi irasional. Mengapa? Karena rasionalisme ekstrem cenderung menghasilkan cara berpikir mekanis. Ketika kita melihat bahwa sesuatu terjadi semata-mata karena sebab-akibat yang kaku (jika A maka B, jika B maka C), kita terjebak dalam determinisme.

​Sistem mekanis itu seperti mesin yang berputar; jika dihidupkan, ia tidak punya pilihan lain selain bergerak sesuai setelan pabrik. Kehendak bebas hilang, dan determinisme mengambil alih. Jika ini diterapkan pada teologi, Tuhan kehilangan “ketuhanan-Nya”. Jika diterapkan pada manusia, manusia kehilangan kemanusiaannya.

​Hal ini sangat mirip dengan kritik Mazhab Frankfurt, sebuah teori kritis dari Institut Penelitian Sosial di Universitas Goethe Frankfurt, Jerman. Salah satu kritik utama Mazhab Frankfurt adalah bahwa masyarakat modern terjebak dalam tindakan yang irasional justru karena terlalu mendewakan rasionalitas instrumental.

​Masyarakat modern sering kali tidak diakui sebagai manusia yang memiliki otonomi, melainkan menjadi sekrup dalam mesin peradaban. Ujung dari rasionalitas ini adalah teknologi dan hukum sebab-akibat yang kaku. Manusia dianggap irasional jika tidak patuh pada logika mesin.

​Hukum kausalitas memang masuk akal untuk benda mati yang tidak memiliki roh. Namun, manusia memiliki aspek spiritual. Di sinilah letak kebebasan. Karena manusia memiliki percikan “ruh Tuhan” (nafakha fihi min ruhihi), penting untuk menegaskan bahwa manusia memiliki iradah (kehendak). Karena Tuhan memiliki sifat iradah, maka manusia sebagai khalifah-Nya juga memilikinya. Manusia tidak bisa sepenuhnya menjadi deterministik.

Baca...  Gus Ulil Ngaji Ihya’ Ulumuddin: Mengobati Sifat Rakus dan Tamak Kepada Dunia

​Alexis Carrel, peraih Nobel Fisiologi atau Kedokteran tahun 1912 asal Prancis, pernah menulis buku berjudul Man, the Unknown (diterjemahkan ke Arab menjadi Al-Insan Dzalika Al-Majhul). Buku ini menunjukkan bahwa manusia adalah makhluk yang tidak bisa dipahami secara lengkap hanya dengan pendekatan materialisme.

​Carrel menekankan bahwa manusia tidak dapat dijelaskan secara menyeluruh hanya melalui proses fisika-kimiawi; kita bukan sekadar makhluk biologis atau mesin. Ada roh dalam diri manusia yang penuh misteri, sebagaimana Tuhan adalah Al-Ghaib (Maha Misteri). Jika Anda menggambarkan Tuhan sebagai mesin yang wajib mengikuti hukum sebab-akibat, maka Anda menurunkan derajat Tuhan menjadi robot yang dapat diprediksi.

​Gus Ulil mengingatkan, di masyarakat yang sudah dikontrol oleh teknologi, banyak orang terkagum-kagum dengan mesin (AI, robot) tetapi lupa pada pembuatnya. Ini mirip dengan orang ateis yang mengagumi kehebatan alam semesta tetapi melupakan Penciptanya.

​Kritik Hassan Hanafi dan Humanisme Asy’ariyah

​Dalam kritiknya, pemikir Islam Hassan Hanafi mengatakan bahwa Teologi Asy’ariyah terlalu teosentrik (al-markaziyah al-ilahiyah) dan tidak berpihak kepada manusia (tidak antroposentrik). Namun, menurut Gus Ulil, pernyataan ini kurang tepat.

​Dikatakan kurang tepat karena akidah Asy’ariyah sebenarnya “menyelamatkan” manusia. Jika Anda menggambarkan Tuhan sebagai mesin (misalnya: Tuhan harus menghukum atau harus memberi pahala sesuai input manusia), maka secara tidak langsung Anda juga menggambarkan manusia secara mekanis—sebagai makhluk yang nasibnya ditentukan semata-mata oleh input-output perbuatannya tanpa ruang bagi misteri rahmat Tuhan.

​Sebaliknya, keyakinan bahwa Tuhan memiliki iradah mutlak dan tindakan-Nya tidak mekanis, serta pengakuan bahwa manusia memiliki unsur ketuhanan (kehendak), justru memungkinkan manusia untuk memiliki harapan dan kehendak bebas. Oleh karena itu, Asy’ariyah pada hakikatnya membela sisi kemanusiaan dan memasukkan aspek humanisme ke dalam teologi mereka, di mana hubungan Tuhan dan manusia didasarkan pada kehendak dan kasih sayang, bukan sekadar hukum mekanika alam semesta. Bersambung…

197 posts

About author
Alumni PP Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo dan PP Nurul Jadid Paiton Probolinggo. Penulis juga kontributor tetap di E-Harian Aula digital daily news Jatim.
Articles
Related posts
Keislaman

Hakikat Taqiyah Dalam Islam

3 Mins read
Kuliahalislam.Taqiyah artinya adalah menjaga diri, berlindung, menghindari atau menjauhkan diri dari setiap jenis bahaya. Taqiyah merupakan sebuah doktrin dalam lingkungan aliran Syiah…
Keislaman

Maulana Yusuf Sultan Kesultanan Banten II

2 Mins read
Kuliahalislam.Sultan Maulana Yusuf (Banten, 1553-1580). Ia merupakan Sultan Banten yang kedua (1570-1580), pengganti ayahnya yaitu Sultan Maulana Hasanuddin (1552-1570). Sultan Maulana Yusuf…
Keislaman

Gus Ulil: Teologi Asy’ariyah dan Perdebatan Tindakan Tuhan (Bag 2)

4 Mins read
Salah satu keyakinan dasar dalam perspektif teologi (akidah) Asy’ariyah adalah bahwa Tuhan tidak memiliki kewajiban untuk menciptakan makhluk. Tuhan memiliki kehendak mutlak;…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

×
BeritaSUMU

Ilham Taufiq Dorong Pengusaha Muhammadiyah Raih Rp1 Miliar Pertama Lewat Social Commerce

Verified by MonsterInsights