KeislamanTafsir

Tafsir Sosial: Batasan Toleransi Beragama Menurut Surat Al-Kafirun

2 Mins read

Dalam menjalin hubungan sosial, seorang Muslim memiliki kebebasan untuk berinteraksi dengan siapa pun, tanpa memandang latar belakang atau golongan mereka. Mereka dapat terlibat dalam berbagai aktivitas seperti perdagangan, pembelajaran, dan lain sebagainya, baik dengan Muslim maupun non-Muslim. 

Namun, ketika datang ke ibadah dan keyakinan, tidak ada ruang untuk kompromi. Akhir-akhir ini banyak orang membuat konten-konten Tiktok, Reels, dan media sosial lainnya yang seakan membuat sebagai konten candaan atau jokes orang Kristen yang ikut serta shalat jum’at di masjid demi sesuap Jum’at berkah (istilah untuk menyebut nasi bungkus yang dibagikan setelah shalat jum’at), begitu juga sebaliknya. 

Padahal Al-Qur’an dengan jelas menggambarkan bagaimana Rasulullah dengan halus namun tegas menolak tawaran damai dari kaum Quraisy, yang ingin meminta kesepakatan dengan Rasulullah untuk menyembah dewa-dewa mereka.

Salah satu contohnya dapat ditemukan dalam Surat Al-Kafirun, di mana digambarkan bagaimana Rasulullah dengan tegas menolak ajakan-ajakan dari kaum Quraisy yang menginginkan agar beliau menyembah tuhan-tuhan mereka.

Surat Al-Kafirun: Konteks dan Latar Belakang Penurunannya

Dalam Alqur’an, surat Al-Kafirun menempati urutan ke-109 dan disampaikan setelah Surat Al-Ma’un. Surat ini termasuk dalam kategori surat Makkiyah karena turun ketika Rasulullah berada di Makkah. Meskipun Surat ini dikenal dengan nama Qul Yaa Ayyuhaa al-Kaafiiruun, namun sebutan yang paling populer adalah Surah al-Kafirun. Selain itu, Surah ini juga dikenal dengan nama Surah al-‘Ibadah dan Surah ad-Din. 

Tidak sedikit yang menyebutnya Surah al-Muqasqisyah (penyembuh) karena isi kandungannya mampu menyembuhkan dan menghilangkan penyakit kemusyrikan.

Menurut penjelasan A Mudjab Al-Mahali dalam bukunya Asbabun Nuzul: studi pendalaman al Qur’an, inti dari surat ini adalah penegasan bahwa tuhan yang disembah oleh orang-orang kafir sangat berbeda dengan apa yang disembah oleh Rasulullah SAW dan para pengikutnya. Orang-orang kafir menyembah berhala-berhala, sedangkan Rasulullah dan pengikutnya hanya menyembah Allah, Tuhan Semesta Alam.

Baca...  Ketika Psikoanalisis Melihat Nabi Musa

Dalam riwayat Abi Hatim dari Sa’id bin Mina, disebutkan bahwa Al Walid bin Almughirah, al ‘Ashi bin Wa’il, al Aswad bin al Muthalib, dan Umayyah bin Khalaf bertemu dengan Rasulullah SAW. Kemudian mereka berkata, “Hai Muhammad, mari kita menyembah bersama apa yang kami sembah, dan kami akan menyembah apa yang engkau sembah. Kita dapat bersekutu dalam segala hal dan engkaulah yang akan memimpin kami.” Sehubungan dengan peristiwa dan ajakan tersebut, Allah menurunkan ayat 1-6 dari Surat Al-Kafirun.

Antara Ibadah dan Interaksi Sosial

Surat Al-Kafirun menawarkan perspektif terkait sikap umat Muslim dalam menjalani kehidupan sosial. Surat ini mengajarkan pentingnya toleransi terhadap keyakinan agama orang lain, namun tidak memperbolehkan kompromi dalam hal keyakinan sendiri. 

Dalam ranah keimanan, umat Muslim diwajibkan teguh dalam meyakini bahwa hanya Allah SWT yang layak diibadahi. Oleh karena itu, ayat kedua dari Surat Al-Kafirun menyatakan dengan tegas, “Laa ‘a’budhu maa ta’budhuun” (Aku tidak akan menyembah apa yang kalian sembah), sebagai landasan yang kokoh dalam menjaga kepercayaan yang benar.

Menurut Quraish Shihab, kalimat ini menunjukkan bahwa Nabi Muhammad pada saat itu tidak akan pernah kompromi dengan Quraish Makkah dalam menyembah sesembahan yang mereka sembah, baik pada masa sekarang maupun di masa mendatang. 

Ibnu Katsir juga memperkuat penjelasan ini dengan mengutip pernyataan Ibnu Taimiyah yang menyatakan bahwa kalimat dalam ayat kedua ini menolak tindakan penyembahan pada keyakinan agama lain yang tidak pernah dilakukan oleh Nabi. Tidak ada toleransi dalam ibadah dengan umat lain. Negosiasi tidak dilakukan dalam menjalankan praktik keagamaan antara agama-agama.

Namun, di akhir Surat Al-Kafirun, Allah menunjukkan kasih sayang-Nya dengan membuka pintu “toleransi” terhadap perbedaan keyakinan yang ada di dunia ini. “Lakum dinukum wa liyadiin” (Bagimu agamamu, dan bagiku agamaku). 

Baca...  Gus Ulil: Keabsahan Iman Orang Yang Taklid dan Dalil-dalilnya

Ayat ini juga memiliki makna yang sama dengan ayat 4 dari Surat Yunus dan ayat 139 dari Surat Al-Baqarah. Jika saya boleh menambahkan, terdapat rasa saling pengertian dalam menghadapi perbedaan yang ada di sekitarnya, dan diyakini bahwa keberagaman/perbedaan ini merupakan “keniscayaan” yang Allah ciptakan untuk diterima dengan tetap mempertahankan “kepercayaan” kepada-Nya. Wallahu A’lam

Editor: Adis Setiawan

3 posts

About author
Mahasiswa Ilmu Alqur’an dan Tafsir Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Sunan Ampel Surabaya
Articles
Related posts
Keislaman

Persoalan Keadilan Tuhan (Al-'Adl Al-Ilahi) dan Realitas Kejahatan: Analisis Komparatif Aliran Ilmu Kalam

4 Mins read
​Pernahkah kita bertanya, jika Tuhan benar-benar Maha Adil, mengapa masih banyak kejahatan dan penderitaan di dunia? Mengapa orang yang tidak bersalah harus…
Keislaman

Membuka Ruang Kontekstualisasi Islam: Dialektika Teks dan Realitas dalam Teori Double Movement Fazlur Rahman

3 Mins read
Tulisan ini merupakan resensi dari artikel jurnal yang berjudul “Fazlur Rahman dan Teori Double Movement: Definisi dan Aplikasi”, yang disusun oleh Muhammad…
KeislamanPendidikan

Meneladani Akhlak Al-Amin untuk Membentuk Kejujuran Siswa SD

5 Mins read
​Pendidikan di Indonesia secara umum bertujuan untuk menghasilkan individu yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki keimanan, ketaatan, dan budi…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *