Kisah Nabi Isa dalam Al-Qur’an memiliki banyak mukjizat yang luar biasa, seperti menghidupkan orang mati dan menyembuhkan penyakit berat. Namun, apakah mukjizat tersebut selalu harus dipahami secara harfiah?
Dalam tradisi keilmuan Islam, terdapat pendekatan penafsiran yang melihat kisah-kisah kenabian tidak hanya pada lapisan lahiriahnya saja, tetapi juga pada makna batin yang tersembunyi di balik teks.
Salah satu pendekatan unik tersebut dapat ditemukan dalam tafsir kisah Nabi Isa pada kitab Asās al-Ta’wīl karya Nu‘man bin Ḥayyūn, seorang ulama besar dari kalangan Syiah Ismailiyyah. Artikel ini akan mengupas bagaimana Nu’man menakwilkan mukjizat-mukjizat tersebut melalui kacamata esoteris.
Mengenal Nu’man bin Ḥayyūn dan Kitab Asās al-Ta’wīl
Nu’man bin Ḥayyūn merupakan salah satu ulama besar dalam tradisi Syiah Ismailiyyah yang dikenal sangat produktif dalam menulis. Karya-karyanya mencakup berbagai bidang, mulai dari hukum fikih, ilmu haqaiq, ilmu akhbar, tafsir, akidah, hingga sejarah.
Adapun karya monumentalnya dalam bidang penafsiran adalah kitab Asās al-Ta’wīl. Ini adalah sebuah tafsir yang menggunakan pendekatan ta’wil atau pembacaan esoteris terhadap ayat-ayat Al-Qur’an. Penggunaan istilah “ta’wil” di sini menunjukkan kecenderungan Nu’man untuk menggali makna batin di balik teks.
Meskipun demikian, kalangan Syiah Ismailiyyah tetap mengakui adanya makna eksoteris (zahir). Nu’man berupaya menggali kedalaman makna yang lebih spiritual dan simbolis yang menurutnya mencerminkan hakikat pesan Tuhan.
Konsep Nātiq dan Samit dalam Teologi Ismailiyyah
Untuk memahami tafsir kisah Nabi Isa dalam Asās al-Ta’wīl secara tepat, diperlukan pengenalan terhadap sistem keyakinan Syiah Ismailiyyah yang menjadi dasar cara pandang Nu’man. Salah satu konsep penting dalam doktrin mereka adalah istilah nātiq.
Nātiq adalah para rasul yang diutus membawa syariat dan berfungsi sebagai pembawa risalah bagi umat pada setiap masa. Syiah Ismailiyyah meyakini bahwa terdapat tujuh nātiq, yaitu:
- Nabi Adam AS
- Nabi Nuh AS
- Nabi Ibrahim AS
- Nabi Musa AS
- Nabi Isa AS
- Nabi Muhammad SAW
- Qā’im al-Zamān
Selain nātiq, terdapat pula konsep samit, yaitu para penerus spiritual nabi yang memiliki otoritas penuh untuk men-ta’wil-kan ajaran syariat yang dibawa oleh masing-masing nātiq.
Hubungan antara nātiq dan samit dipahami seperti relasi guru dan murid, di mana samit mewarisi ilmu lahir dan batin dari pendahulunya. Jumlah samit juga diyakini berjumlah tujuh, yaitu Syis, Sam, Ishaq, Harun, Syam’un, Ali, dan al-Mahdi.
Pengaruh doktrin ini tampak jelas dalam model penafsiran Nu’man bin Ḥayyūn yang menggunakan metode tematik (maudhu‘i). Uniknya, tema tidak disusun berdasarkan topik hukum atau sosial, melainkan dikelompokkan berdasarkan kisah tujuh nātiq. Karena itu, kitab Asās al-Ta’wīl dibangun atas tujuh fasal yang masing-masing merepresentasikan satu nātiq.
Perbedaan Tafsir dan Ta’wil: Analogi Sebuah Pohon
Sebagaimana dijelaskan sebelumnya, dalam ideologi Ismailiyyah tugas nātiq adalah membawa dan menjelaskan syariat, hukum, serta fikih. Sedangkan samit bertugas menakwilkan atau mengungkap makna batin dari ajaran tersebut.
Dalam konteks Al-Qur’an yang dibawa Nabi Muhammad SAW, sosok samit dipahami sebagai Ali bin Abi Thalib yang diyakini memiliki otoritas tertinggi dalam melakukan ta’wil.
Nu’man menjelaskan perbedaan antara tafsir dan ta’wil melalui sebuah analogi pohon:
- Tafsir: Menjelaskan aspek lahiriah dari pohon tersebut, seperti buah, daun, ranting, dan akar.
- Ta’wil: Berada di luar konteks fisik tersebut, yaitu menghubungkan pohon dengan makna lain yang sesuai hakikat, masuk akal, tidak bertentangan dengan kebenaran, serta tidak bersandar pada anggapan yang keliru.
Dengan demikian, seorang pen-ta’wil dianggap memiliki otoritas penuh dalam menentukan makna terdalam suatu teks.
Tafsir Kisah Nabi Isa: Memaknai Mukjizat secara Batin
Dalam Asās al-Ta’wīl, penafsiran terhadap kisah Nabi Isa ditempatkan pada fasal kelima. Seluruh ayat yang berbicara tentang Nabi Isa dalam Al-Qur’an dikelompokkan dalam bagian ini.
Fasal ini tidak hanya membahas Nabi Isa, tetapi juga tokoh-tokoh sebelumnya seperti Nabi Yunus, Imran, Zakariya, dan Yahya sebagai rangkaian genealogis dan spiritual yang mengantarkan pada risalah Nabi Isa.
Dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa Nabi Isa memperoleh banyak mukjizat, sebagaimana tercantum dalam QS. Ali ‘Imran ayat 49:
“…Sesungguhnya aku telah datang kepadamu dengan tanda (mukjizat) dari Tuhanmu, sesungguhnya aku membuatkan bagimu (sesuatu) dari tanah yang berbentuk seperti burung. Lalu, aku meniupnya sehingga menjadi seekor burung dengan izin Allah. Aku menyembuhkan orang yang buta sejak dari lahir dan orang yang berpenyakit buras (belang) serta menghidupkan orang-orang mati dengan izin Allah…” (QS. Ali ‘Imran: 49)
Nu’man memberikan perspektif berbeda dalam tafsir kisah Nabi Isa pada ayat ini. Ia tidak memahaminya secara harfiah fisik, melainkan melalui simbolisme batin:
- Tanah (Al-Thin): Ditakwilkan sebagai ilmu yang bermanfaat.
- Menjadi Burung (Fayakūnu Ṭayran): Ditakwilkan sebagai seorang da’i (pendakwah) yang diutus. Artinya, dari ilmu yang bermanfaat dibentuklah kader dakwah yang mampu terbang menyebarkan kebenaran.
- Penyakit Kusta/Belang (Wa al-Abrasa): Ditakwilkan sebagai keraguan yang bercampur aduk dan kesesatan dalam hati.
- Orang Mati (Al-Mauta): Bukan dimaknai orang yang mati secara fisik, melainkan matinya hati dan keimanan (kafir). Menghidupkan orang mati berarti memberi hidayah kepada orang kafir.
- Apa yang Kamu Makan (Bi ma Ta’kuluna): Ditakwilkan bahwa makanan fisik adalah asupan badan, sedangkan asupan bagi ruh adalah ilmu dan hikmah (Asās al-Ta’wīl, Jilid 5, hal. 303-304).
Kesimpulan
Dari contoh penafsiran di atas, terlihat jelas bahwa Nu’man cenderung memberikan makna esoteris pada setiap lafadz Al-Qur’an. Cara baca yang menekankan dimensi batin dalam tafsir kisah Nabi Isa ini tidak dapat dilepaskan dari doktrin teologis Syiah Ismailiyyah.
Mereka menempatkan ta’wil sebagai metode utama untuk memahami wahyu. Dalam pandangan ini, proses penakwilan merupakan hak penuh seorang samit dan para imam penerusnya, guna menyingkap hakikat kebenaran yang tersembunyi di balik teks suci. Wallahu a’lam.

