KeislamanTokoh

Kiyai Syukron Makmun, Ulama Singa Podium Yang Melegenda

2 Mins read

KULIAHALISLAM.COM- K.H. Syukron Makmun, dikenal sebagai “Sing Podium,” adalah seorang ulama dan politikus Indonesia yang berpengaruh. Beliau lahir di Sampang, Madura, pada 21 Desember 1941. K.H. Syukron Makmun memiliki latar belakang pendidikan pesantren yang kuat, menempuh pendidikan di Pondok Pesantren Sidogiri Pasuruan dan Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo. Beliau juga meraih gelar Sarjana Muda dari Institut Pendidikan Darussalam (IPD) yang kini menjadi universitas darussalam Gontor.

 

Sebagai seorang ulama, K.H. Syukron Makmun dikenal karena keberaniannya dalam berdakwah dan kemampuannya menguraikan syariat Islam. Beliau juga aktif dalam dunia politik bersama PPP dan pernah menjadi Ketua Umum Partai Persatuan Nahdlatul Ummah Indonesia. Saat ini, beliau memimpin Pondok Pesantren Daarul Rahman di Jakarta.

 

K.H. Syukron Makmun menekankan pentingnya umat Islam, terutama santri, memahami strategi dan peta politik. Menurut beliau, hal ini merupakan keharusan bagi dai dalam berdakwah. Dalam salah satu ceramahnya, beliau menyatakan bahwa tugas ulama adalah amar makruf nahi mungkar, yaitu mengajak kebaikan dan mencegah kemungkaran, yang harus dilakukan di mana saja berada.

 

“Ulama pemerintah kalau dia amar makruf nahi mungkar sesuai dengan pesan Al-Qur’an dan Sunnah insyaallah itu termasuk ulama surga. Maupun ulama di luar struktural, tugasnya juga sama, amar makruf nahi mungkar,” jelasnya.

 

Beliau juga mengingatkan bahwa umat Islam tidak memiliki musuh sejati selain ketidakadilan dan kezaliman. Oleh karena itu, ulama harus bersikap terhadap siapa pun yang melakukan kezaliman.

 

Pandangan K.H. Syukron Makmun tentang pentingnya memahami strategi dan peta politik sejalan dengan konsep amar makruf nahi mungkar yang beliau tekankan. Dengan demikian, K.H. Syukron Makmun menjadi contoh ulama yang tidak hanya berdakwah tetapi juga terlibat dalam dunia politik untuk menjaga kepentingan umat Islam.

Baca...  Sengkarut Hedonisme, Akar dari Kriminalitas?

 

Dalam konteks ini, ulama dan cendekiawan lainnya juga menyampaikan pendapat yang serupa. Misalnya, Syaikh Abdurrahman al-Baghdadi dalam buku “Dakwah dan Masa Depan Umat” menekankan pentingnya dakwah yang efektif dan strategis dalam menghadapi tantangan zaman. Beliau menyatakan bahwa dakwah harus dilakukan dengan cara yang bijak dan adaptif, serta harus mampu menjangkau berbagai lapisan masyarakat.

 

Sementara itu, Said Hawwa juga mengingatkan bahwa dakwah dan politik memiliki hubungan yang sangat erat. Menurut beliau, politik dapat menjadi sarana untuk mencapai tujuan dakwah, yaitu menciptakan masyarakat yang lebih baik dan lebih adil. Oleh karena itu, umat Islam harus memahami strategi dan peta politik untuk dapat berperan aktif dalam politik dan dakwah.

 

Bagi kita sebagai pribadi muslim modern, Kiyai Syukron Makmun menjadi contoh ulama yang tidak hanya berdakwah tetapi juga terlibat dalam dunia politik untuk menjaga kepentingan umat Islam. Beliau menunjukkan bahwa ulama dapat berperan aktif dalam politik tanpa meninggalkan tugas dakwah dan amar makruf nahi mungkar. Dengan demikian, kiyai Syukron Makmun menjadi inspirasi bagi umat Islam untuk memahami strategi dan peta politik dalam berdakwah dan berpolitik.

56 posts

About author
Penggemar Buku, Teh, Kopi, Coklat dan senja. Bekerja paruh lepas menjadi Redaktur Kuliahalislam.com .Lekat dengan dunia aktivisme,
Articles
Related posts
KeislamanNgaji Ihya’ Ulumuddin

Gus Ulil Ngaji Ihya’ Ulumuddin: Kritik Haris Al-Muhasibi kepada Ulama Pencinta Dunia

2 Mins read
Suatu ketika, Imam Haris Al-Muhasibi berkata kepada ulama-ulama jahat pencinta dunia (ulama su’). Katanya, “Celakalah kamu, wahai orang yang tertipu! Apa alasanmu…
KeislamanNgaji Al-Iqtishad Fi Al-I’tiqad

Gus Ulil Ngaji Al-Iqtishad fi al-I’tiqad: Kriteria Menuduh Kafir Menurut Al-Ghazali

2 Mins read
Kaidah bolehnya menuduh kafir menurut Al-Ghazali adalah ketika seseorang tidak percaya kepada Nabi Muhammad SAW dan ajaran-ajarannya. Pertanyaannya, siapa sajakah mereka? Pertama,…
KeislamanNgaji Al-Iqtishad Fi Al-I’tiqad

Bahaya Mengkafirkan Kelompok: Ngaji Al-Iqtishad fi Al-I’tiqad Gus Ulil

2 Mins read
Sudah semestinya mengkafirkan seseorang atau kelompok tertentu tidak boleh dilakukan secara sembarangan. Jika muncul pernyataan, “Sesungguhnya golongan ini kafir,” tentu istilah ini…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Verified by MonsterInsights