Kata sunnah dalam bahasa mempunyai banyak arti, diantaranya adalah kebiasaan-kebiasaan. Kata sunnatullah adalah kebiasaan-kebiasaan Allah SWT. yang ditetapkannya melalui hukum-hukum alam yang berlaku dalam masyarakat umat manusia.
Populer sekali sunnah Nabi. Tentu saja jika kita berkata sunnah Nabi maka memiliki makna yang berbeda-beda. Salah satu diantaranya adalah ucapan, perbuatan, dan pembenaran Nabi. Memang, Nabi SAW. memberi tuntunan dengan ucapan-Nya atau perbuatan-Nya, bahkan diam-Nya dalam konteks membernarkan sesuatu adalah bagian dari petunjuk agama.
Quraish Shihab mengatakan, terkadang Nabi SAW. mengucapkan sabda-Nya untuk meluruskan kesalahan umat-Nya. Bisa jadi juga Nabi SAW. mengucapkan satu ucapan untuk memberi contoh, bukan untuk memberikan pemaknaan menyeluruh terhadap suatu kata yang dibenarkan oleh Al-Qur’an.
Misalnya, Nabi SAW. menjelaskan arti perintah Allah SWT. untuk mempersiapkan kekuatan menghadapi musuh, dan Nabi mengartikannnya sebagai menyiapkan panah. Tentunya, panah yang ketika itu adalah senjata yang paling ampuh tidak dapat lagi kita artikan makna kekuatan panah dewasa ini.
Akan tetapi, lanjut Quraish Shihab, terjadi terjadi perkembangan dari segi ilmu dan tehnologi. Sehinga apa yan diucapkan Nabi benar pada masanya. Namun, untuk masa kita telah terjadi perkembangan-perkembangan baru.
Ada orang-orang berpendapat, karena agama telah sempurna berdasarkan firman Allah SWT. yang berbunyi:
اَلْيَوْمَ اَكْمَلْتُ لَكُمْ دِيْنَكُمْ وَاَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِيْ وَرَضِيْتُ لَكُمُ الْاِسْلَامَ دِيْنًاۗ
Artinya: “Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu.” (QS. Al-Maidah [5]: 3).
Bahwa Nabi SAW. dituguskan untuk menjelaskan ajaran agama, maka semua yang dibutuhkan dalam tuntunan agama, semua yang telah dikerjakan oleh Nabi SAW., maka itu adalah penjelasan dari kesempurnaan agama.
Sehingga jika Nabi SAW. tidak mengerjakannya, maka itu mereka namakan bid’ah (sesuatu yang baru). Sedangkan, kata mereka lebih jauh bahwa semua itu adalah kesesatan, dan semua kesesaatan adalah bid’ah.
Pandangan mereka ini bisa jadi dapat diterima kalau kita meninjau dari segi tujuan mereka untuk memurnikan ajaran agama. Akan tetapi, tidak jarang, bahwa apapun yang dilakukan Nabi SAW. pada lalu itu bisa jadi memberatkan kita sekarang.
Pun, bisa jadi apa yang diucapkan pada masa lalu itu sesuai dengan perkembangan masa beliau, dan dewasa ini telah ada perkembangan dalam bidang ilmu pengetahuan, tehnologi, dan perkembangan positif masyarakat.
Itu sebabnya, kata Quraish Shihab, sangat tidak tepat jika kita berkata bahwa apa yang tidak dijelaskan oleh Nabi SAW., maka itu di luar ketentuan agama. Demikian juga tidak tepat jika kita berkata bahwa apa yang tidak dikerjakan oleh Nabi SAW., maka itu otomatis terlarang.
Tidak. Apa yang dikerjakan oleh Nabi SAW. bisa jadi sebagai contoh yang Nabi SAW. angkat dari masyarakatnya, disesuaikan dengan perkembangan masyarakat saat itu. Dan, apa yang diucapkan oleh Nabi SAW. bisa jadi adalah tuntunan yang ditujukan kepada seseorang atau satu kelompok tertentu, bukan tuntunan untuk semua kelompok.
Karena itu, kita harus pandai-pandai memahami tentang apa yang dimaksud dengan sunnah Nabi. Kita harus pandai memilih mana yang harus dikerjakan, dan mana yang tidak boleh serta mana pula yang bukan merupakan pilihan buat kita untuk dikembangkan lebih jauh. Wallahu a’lam bisshawab.