BEKASI — Institut Agama Islam Nusantara (IAIN) Bekasi menggelar wisuda jenjang Strata 1 (S1) di Hotel Holiday Inn Cikarang, Selasa (22/9/2026). Sebanyak 83 wisudawan dan wisudawati mengikuti prosesi wisuda yang berlangsung secara terbuka dan dipimpin langsung oleh Rektor Institut Agama Islam Nusantara Bekasi, Dr. H. Edi Supriadi, M.Si., Ph.D. Momen tersebut menjadi catatan penting bagi perjalanan institusi karena merupakan wisuda perdana setelah sebelumnya kampus tersebut bernama Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Nusantara.
Prosesi wisuda berlangsung dalam suasana khidmat dan penuh kebahagiaan. Para wisudawan hadir bersama keluarga dan orang-orang terdekat yang selama perjalanan pendidikan turut memberikan dukungan. Bagi para lulusan, toga yang dikenakan bukan sekadar simbol berakhirnya masa studi, melainkan penanda dimulainya tanggung jawab baru untuk mengamalkan ilmu di tengah masyarakat.
Sejumlah tokoh turut hadir memberikan dukungan pada momentum akademik tersebut. Di antaranya Sekretaris Bidang Kelembagaan Kopertais Wilayah II Jawa Barat, Dr. H. Saca Suhendi, M.Ag., serta Kepala Pusat Studi Gender, Anak, dan Difabel LPPM UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Prof. Dr. Hj. Eneng Muslihah, M.M., Ph.D. Kehadiran para tokoh tersebut memberikan makna tersendiri bagi sivitas akademika sekaligus menunjukkan pentingnya sinergi dalam pengembangan pendidikan tinggi keagamaan.
Salah satu agenda utama dalam rangkaian wisuda adalah orasi ilmiah yang disampaikan Prof. Dr. Hj. Eneng Muslihah, M.M., Ph.D. Dalam orasinya, ia mengangkat tema tentang tantangan utama tenaga pendidik di era digital dan artificial intelligence (AI). Menurutnya, perkembangan teknologi telah membawa transformasi yang masif dalam dunia pendidikan, terutama dalam sistem pembelajaran yang kini dituntut semakin adaptif terhadap perubahan zaman.
Prof. Eneng menjelaskan bahwa kehadiran AI membuka peluang besar untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi pendidikan. Teknologi tersebut dapat dimanfaatkan untuk membantu personalisasi pembelajaran, penyusunan materi, hingga proses asesmen. Namun, di balik berbagai peluang tersebut terdapat sejumlah persoalan yang perlu mendapat perhatian serius, antara lain kesetaraan akses, perlindungan privasi, serta persoalan etika dalam pemanfaatan teknologi.
Perubahan teknologi juga membawa konsekuensi terhadap peran tenaga pendidik. Guru dan dosen tidak lagi hanya ditempatkan sebagai penyampai informasi, tetapi semakin dituntut menjadi fasilitator sekaligus pemandu yang membantu peserta didik memahami, memilah, dan mengkritisi berbagai informasi. Kemampuan berpikir kritis menjadi semakin penting karena derasnya arus informasi membuat peserta didik harus mampu membedakan informasi yang valid, relevan, dan dapat dipertanggungjawabkan.
Menurut Prof. Eneng, masa depan tenaga pendidik bukanlah tentang menggantikan peran manusia dengan teknologi, melainkan bagaimana memanfaatkan AI secara maksimal dan bertanggung jawab. Teknologi harus ditempatkan sebagai alat yang memperkuat proses pendidikan, sementara nilai-nilai humanistik tetap menjadi fondasi. Hubungan antarmanusia, keteladanan, empati, karakter, dan pembentukan kepribadian tidak dapat begitu saja digantikan oleh kecanggihan teknologi.
Sementara itu, dalam sambutannya, Rektor Institut Agama Islam Nusantara Bekasi, Dr. H. Edi Supriadi, M.Si., Ph.D., menegaskan bahwa wisuda tersebut memiliki arti khusus bagi perjalanan lembaga. “Ini adalah wisuda pertama Institut Agama Islam Nusantara, karena sebelumnya kampus kita bernama Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Nusantara,” ujarnya. Ia berharap momentum tersebut menjadi awal bagi lahirnya lulusan yang mampu membawa nama baik almamater sekaligus memberikan manfaat bagi masyarakat.
Di hadapan para wisudawan, Rektor juga mengingatkan pentingnya menghargai orang-orang yang telah menjadi bagian dari perjalanan pendidikan mereka. Ia berpesan agar para lulusan senantiasa menghormati orang tua, suami, maupun istri yang telah memberikan dukungan selama menempuh pendidikan. “Hormatilah orang tua, suami, dan istri kalian, karena kalian bisa kuliah karena jasa-jasa mereka,” pesannya. Bagi Rektor, keberhasilan seorang sarjana tidak lahir dari perjuangan pribadi semata, tetapi juga dari doa, dukungan, dan pengorbanan keluarga.
Menutup sambutannya, Rektor mengingatkan bahwa wisuda bukanlah akhir dari proses belajar. Gelar akademik justru menjadi pintu menuju perjalanan intelektual yang lebih luas. “Bagi orang yang berpikir dan berakal akan terus mengalami perkembangan ilmu,” pesannya. Dengan semangat tersebut, 83 wisudawan dan wisudawati Institut Agama Islam Nusantara Bekasi diharapkan mampu membawa ilmu yang diperoleh ke tengah kehidupan masyarakat, beradaptasi dengan perkembangan zaman, serta tetap menjunjung tinggi nilai kemanusiaan dan tanggung jawab moral sebagai insan akademik.
Pewarta: Damanhuri
Editor: Adis Setiawan

