Esai

Sosok Sukidi PhD, Seorang Cendekiawan Publik

2 Mins read

KULIAHALISLAM.COM – Sukidi Mulyadi atau yang dikenal dengan sebutan Sukidi PhD, adalah seorang cendekiawan Kebangsaan dan Pemikir Kebinekaan. Beliau Tokoh intelektual Muslim, jabolan dari Harvard University USA. Satu-satunya universitas terbaik dan tertua di dunia, yang melahirkan tokoh cendekiawan, Intelektual dan scholar luar bisa berkualitas tinggi di bidang keahlian masing-masing. Sukidi PhD adalah seorang sosok cendekiawan kebangsaan dan pemikir Kebinekaan Indonesia yang lahir, tumbuh berkembang dalam tradisi kultural persyarikatan Muhammadiyah.

Karena itu, senantiasa diberikan kesehatan akal budi dan hati nurani, kenikmatan silaturahim intelektual bagi generasi kaum muda, juga sebagai contoh tauladan intelektual Muslim bagi kalangan aktivis muda Muhammadiyah dan kemuliaan Ilmu pengetahuan serta wawasan yang meluas lintas kalangan. Agar senantiasa berinteraksi sosial lintas iman, agama, budaya, dan warga, lebih-lebih memberikan kontribusi gagasan kritis, cerdas, bernas dan solutif mencerahkan dalam mengawal setiap problematika antar umat beragama, kelakukan pejabat’ publik berwatak diktator, despotik tiranik dan populis.

Saat ini, nampak sosok Sukidi PhD seorang cendekiawan kebangsaan yang tampil kokoh, merdeka, dan karakter independen ditengah lingkaran dinamika intelektual di Indonesia. Juga, hadir sebagai cendekiawan pendatang baru (rising star) di Indonesia, untuk berperan kontribusi partisipasi membangun tatanan agama bangsa melalui gagasan berkualitas tinggi, digadang gadang menjadi seorang cendekiawan intelektual Muslim Indonesia yang akan melanjutkan amanah perjuangan di bidang Intelektual. Meneruskan gagasan perjuangan dan cita-cita luhur para pendiri bangsa seperti KH. Ahmad Dahlan, Tjokroaminoto, M. Natsir, Ir. Soekarno dan Muhammad Hatta, pun generasi Intelektual selanjutnya seperti cendekiawan Ahmad Syafii Maarif, Kuntowijoyo dan Nurcholish Madjid.

Karena itu, ada beberapa konsep-konsep utama dan prinsip-prinsip gagasan yang selalu konsisten beliau sampaikan dan perjuangkan adalah tentang kebebasan umat manusia dan penganut umat beragama, kesetaraan akses sosial politik, kebinekaan manusia dan menjaga martabat kemanusiaan dan kemerdekaan antar negara kebangsaan.

Baca...  Refleksi Hari Santri dan Kepemudaan

Eksistensi kehadiran sosok Sukidi PhD (Cendekiawan Kebangsaan dan Pemikir Kebinekaan), mampu berperan menjadi apa yang diharapkan oleh seluruh warga Publik untuk senantiasa menjaga kesehatan akal fikiran sebagai sarana kebebasan berekspresi, berpendapat dan menyuarakan aspirasi ditengah gejolak problematika agama bangsa, lalu didukung dengan kejernihan hati nurani agar supaya gerakan aktivitas berpendapat atau menyuarakan gagasan kebenaran mampu diterima oleh khalayak dan politisi-politisi atau pejabat-pejabat publik. Lebih-lebih mampu menjawab setiap persoalan yang terjadi ditengah gejolak warga masyarakat melalui menawarkan gagasan kreatif inovatif, konstruktif holistik dan solutif mencerahkan.

Beliau senantiasa sadar akan peran Intelektual untuk selalu mengatakan sesuatu kebenaran, menyuarakan apa yang dianggap benar oleh ajaran agama dan falsafah negara. Bahkan dalam setiap aliran jiwaraga-nya dan gerak langkah perjuangan senantiasa berada dalam jalur kebenaran, kebajikan dan kemuliaan yang semata-mata untuk berkontribusi sumbangsih membangun, merawat dan menata keadaan menjadi lebih baik, harmonis, beradab dan berkemajuan dalam beragam aspek kehidupan beragama bermasyarakat dan bernegara.

Akhirnya, kehadiran sosok seperti (Sukidi PhD, Intelektual Publik berkarakter independen) dalam era kontemporer di belantara taman sari Indonesia mampu memberikan warna warni baru bagi penyegaran cahaya wawasan Intelektual warga, mampu menjadi oase kejernihan hati nurani (holy light, voice the heart) bagi warga yang mengalami kekeringan atau tersumbat kegelapan rohani jiwaraga, mampu menjadi mercusuar pencerahan, raksasa intelektual bagi kalangan kaum muda mudi yang kehilangan atau kebingungan menjalani gejolak problematika kehidupan.

85 posts

About author
Alumni Program Studi Ekonomi Syariah, Fakultas Agama Islam, Universitas Muhammadiyah Malang. Sekarang menempuh studi Magister Pengkajian Islam, Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Penulis adalah Redaktur Pelaksana Kuliah Al-Islam
Articles
Related posts
Esai

Tafsir Al-Qur’an Digital di Indonesia: Inovasi atau Masalah?

3 Mins read
Transformasi digital yang berlangsung secara masif dalam dua dekade terakhir telah mengubah hampir seluruh aspek kehidupan manusia, tidak terkecuali praktik keagamaan. Di…
Esai

Kuliah, Organisasi, atau Kerja? Cara Bijak Menentukan Prioritas

2 Mins read
Menjadi mahasiswa di era sekarang bukan hanya soal datang ke kelas dan mengerjakan tugas. Banyak mahasiswa dihadapkan pada pilihan yang cukup sulit:…
Esai

​Iqra' tapi Guru Tak Digaji: Refleksi Kesejahteraan Guru Hardiknas 2026

3 Mins read
Pada tanggal 2 Mei 2026, Indonesia memperingati Hari Pendidikan Nasional yang ke-118. Angka tersebut bukan sekadar hitungan tahun; ia adalah cermin seberapa…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *