![]() |
(Sumber Gambar: Redaksi Kuliah Al-Islam) |
KULIAHALISLAM.COM – Pandangan hidup pribadi muslim ialah sebagai makhluk yang mengabdikan diri dalam arti seluas-luasnya, baik sebagai hamba Allah (QS. [51]: 56) maupun sebagai khalifah-Nya (QS. [2]: 30); sebagai pewarispewaris di muka bumi
(QS. [27]: 62), yang menerima amanah (QS. [33]: 72). Dalam pengabdian itu ia mengikuti petunjuk dan suri tauladan Nabi Muhammmad SAW. (QS. Al-ahzab: 21) yang menjadi rahmat bagi segenap alam (QS.[21]: 107). Dengan pengabdian itu setiap pribadi berupaya mencapai
kebahagiaan di dunia dan di akhirat.
mengandung jalan hidup manusia yang paling sempurna dan memuat ajaran yang menuntun umat kepada kebahagiaan dan kesejahteraan. Konsep Islam tentang akhlak sungguh luas karena mencakup seluruh kepribadian dan kahidupan manusia.
(Ahmad bin Hambal: 1981). Jawaban ini hakikatnya juga akhlak, yakni agar orang jangan cepat emosi. Dalam menjawab tentang hakikat (inti) agama, Nabi saw., ada yang mengatakan bahwa agama itu adalah nasehat menasehati (al-dīnul
nashīhah), agama itu adalah muamalah (al-dīnul
mu’amalah), agama itu adalah iman (al-dīnul
īmān), akhlak itu tandan kesempurnaan iman (akmalul mukminīna
īmānan ahsanuhum khuluqan), akhlak itu wadah agama (akhlaqu wi’āuddīn), dan bahwa kebahagiaan seseorang itu terletak pada akhlaknya yang baik (min
sa’ādatil mar′′i husnul khuluq), (Muhammad Mawardi, Jawahir al Hadis, t.t.). Nabi sendiri menegaskan bahwa aku diutus menjadi Rasul adalah bertugas untuk menyempurnakan akhlak manusia (innamā bu’istu liutammima makārimal akhlāq) (Hambal, 1981). Disamping itu pribahasa (Syauqy) mengatakan pula bahwa “Tegaknya suatu umat itu karena akhlak baiknya dan apabila akhlaknya rebah maka rebah pulalah umat (bangsa) itu” (Asmaran, 1992). Dengan demikian, bahwa akhlak itu adalah ajaran dasar agama Islam yang wajib diketahui, dipahami, dihayati, dan diamalkan nilai-nilainya dalam kehidupan sehari-hari, serta dibiasakan sejak dini baik secara pribadi maupun secara sosial sebagai seorang Islam.
atau kelakuan. Kata akhlak, menurut Quraish
Shihab (2000), walaupun terambil dari
bahasa Arab (yang biasa berartikan tabi’at,
perangai, kebiasaan, bahkan agama), namun kata
seperti itu tidak ditemukan
dalam Alquran. Yang ditemukan hanyalah
bentuk tunggalnya yaitu khuluq yang tercantum dalam QS. Al-Qalam 68: 4, dan
al-Syu’ara’ 26:137. Artinya:
Dan Sesungguhnya kamu benar-benar
berbudi pekerti yang agung (QS.
Al-Qalam, [68]: 4).
dengan makna ini, Muhaimin (1994) mengemukakan bahwa pengertian akhlak secara etimologis berasal dari kata khuluq dan jama’nya akhlaq, yang berarti budi pekerti, etika, moral. Kata khuluq mempunyai kesesuaian dengan khilqun, hanya saja khuluq merupakan perangai manusia dari dalam diri (ruhaniyah) sedang khilqun merupakan perangai manusia
dari luar (jasmaniah). Term khuluq
juga berhubungan erat dengan Khaliq
(Pencipta), dan makhluq (yang diciptakan).
teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan)
hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah (QS. al-Ahzab [33]: 21).
(sikap, sifat) yang melekat pada jiwa yang darinya timbul af’al (perilaku) dengan mudah tanpa hajat kepada pemikiran dalam melakukannya, dalam arti sudah menjadikebiasaan. Oleh sebab itu
dikatakan bahwa akhlak itu adalah sifat yang tertanam dalam jiwa yang dari sifat itu timbul perbuatanperbuatan dengan mudah
tanpa memerlukan pertimbangan pikiran terlebih dahulu.
yang buruk dan itu dinamakan dengan akhlak yang jahat.
yang terpenting dalam hidup ini. Di dalam
Alquran terdapat 1504 (seribu lima ratus
empat) ayat yang berhubungan dengan akhlak,
baik segi teori maupun segi praktis (Al
Syaibany, 1979:313). Sebagian dari ayat-ayat
tersebut telah tertuang dalam lima nilai-nilai
akhlak di atas. Intisari dari hal ini tercantum
dalam surat al Qalam, 68:4, yang menyatakan
“Sesungguhnya engkau (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti (akhlak) yang agung” Oleh sebab itu ‘Aisyah
r.a. seketika ditanya tentang akhlak Rasulullah
SAW. (yang dalam sebuah riwayat,
jawaban istri Nabi itu diberikan setelah
melalui proses dari Amirul Mukminin,
kemudian Bilal, kemudian Aly, karena
hal itu sangat sulit bagi orang untuk menggambarkan
bagaimana akhlak Rasulullah
itu) beliau menjawab “Akhlaknya
adalah Alquran”. Kemudian beliau
berkata: “Tidakkah engkau membaca: “Innaka la’ala
khuluqin ‘azhim”?.
tahap masa sehubungan dengan peran dan
fungsi manusianya, yaitu tahap tuntutan panggilan
kewajiban yang dilakukan dalam hal
ini sebagai anak, orang tua, guru dan seterusnya,
tahap menyahuti/melaksanakan tuntutan tersebut, dan tahap
hisab/penilaian terhadap pelaksanaan tuntutan tersebut. Abbas Mahmud Al Akkad dalam Asy Syaibany (1979), mengemukakan bahwa manusia tidak bertanggung jawab terhadap masalah yang tidak diketahuinya, tetapi ia akan bertanggung jawab terhadap yang
kejelekan, yang semuanya kelak akan dipertangung jawabkan. akhlak Islam dalam ayat di atas, memerintahkan kebajikan yang di iringi dengan kesabaran.
sesuatu yang sangat urgen dalam kehidupan
ini, yaitu sebagai landasan dalam penentuan
keberhasilan seseorang dihadapan
Allah, dan makhluk-Nya, dan sebagai
landasan baginya untuk melaksanakan
geraknya, dan sangat menentukan
keberhasilannya dalam mencapai
tujuan.
itu bagaikan lautan tak bertepi,
ia tak dapat dipisahkan dari dimensi yang
satu dengan dimensi yang lainnya, dia harus
sejalan antara pikiran, perbuatan dan perkataan,
memerintahkan dengan meninggalkan,
antara hubungan vertikal dengan
horizontal, sederhana (antara berlebihan
dengan berkurangan), realisme, sesuai
kemampuan , istiqamah pada dasardasar dan prinsip-prinsip akhlak. Setiap
manusia muslim wajib
berakhlak Islami
sesuai tuntunan Alquran.
ini, diharapkan setiap manusia mampu menjadi
muslim sejati, mampu menjalankan hidupnya,
senantiasa bertakwa kepada Allah di
mana saja dan kapan saja serta dengan siapa
saja. Tentunya dimulai dengan cara membiasakan
dari diri sendiri dan keluarga dan
seterusnya. Semoga kita selalu dalam bimbingan
Allah dan mengikuti akhlak Rasul-Nya.
Ya Allah! Engkau telah membaikkan
kajadianku (Nabi saw.) maka baikkan
pula akhlakku. (Allahumma hassanta khalqii fahassin khuluqii !)