KeislamanPendidikan

Perjanjian Hudaibiyah & Nalar Kritis Pembelajaran SKI SD/MI

5 Mins read

​Pernahkah kita menganggap sebuah keputusan sebagai kekalahan hanya karena hasilnya tidak sesuai harapan? Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menilai sesuatu berdasarkan apa yang tampak di permukaan. Orang yang memilih mengalah dianggap lemah, sedangkan mereka yang mengambil jalan damai terkadang dinilai tidak berani melawan. Padahal, sebuah keputusan tidak selalu dapat dipahami hanya dari hasil yang terlihat pada awalnya.

​Cara pandang ini menarik jika kita melihat kembali salah satu peristiwa penting dalam sejarah Islam, yakni Perjanjian Hudaibiyah. Pada tahun ke-6 Hijriah, Nabi Muhammad saw. bersama para sahabat berangkat menuju Makkah dengan niat melaksanakan umrah. Namun, mereka tidak dapat memasuki kota tersebut dan akhirnya harus menerima kesepakatan dengan kaum Quraisy.

​Bagi sebagian sahabat, ketentuan perjanjian itu terasa berat. Mereka telah menempuh perjalanan jauh, tetapi harus kembali ke Madinah tanpa melaksanakan umrah pada tahun tersebut. Keadaan ini memunculkan pertanyaan: benarkah keputusan menerima perjanjian itu dapat disebut sebagai kekalahan?

​Pertanyaan tersebut bukan sekadar ajakan untuk mengenang sejarah. Dalam pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) di Sekolah Dasar (SD) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI), peristiwa Hudaibiyah dapat menjadi pintu masuk untuk mengembangkan nalar kritis siswa. Sejarah seharusnya tidak berhenti pada cerita yang dihafalkan demi menjawab soal ujian. Siswa juga perlu dibimbing untuk memahami latar belakang, alasan di balik keputusan, serta akibat yang muncul setelahnya.

​Ketika Belajar Sejarah Berhenti pada Hafalan

​Mengingat nama tokoh, tanggal, tempat, dan urutan peristiwa merupakan bagian penting dalam pembelajaran sejarah. Tanpa pengetahuan dasar tersebut, siswa akan kesulitan memahami suatu peristiwa secara utuh. Namun, hafalan saja belum cukup untuk menunjukkan bahwa mereka benar-benar memahami sejarah.

​Seorang siswa mungkin mampu menyebutkan isi Perjanjian Hudaibiyah dengan tepat, tetapi belum tentu memahami mengapa Nabi Muhammad saw. bersedia menerima kesepakatan yang saat itu terasa merugikan kaum Muslimin. Siswa mengetahui apa yang terjadi, tetapi belum tentu memahami alasan dan arti penting peristiwa tersebut.

​Tazkiyah (2024) menjelaskan potensi pendidikan sejarah dalam mengembangkan kemampuan berpikir kritis siswa sekolah dasar. Melalui pembelajaran sejarah, siswa dapat dilatih untuk menafsirkan informasi, menganalisis peristiwa, mempertimbangkan bukti, dan menyusun kesimpulan secara rasional.

​Artinya, persoalannya bukan terletak pada kegiatan menghafal, melainkan ketika hafalan menjadi tujuan akhir. Jika siswa hanya dituntut mengingat isi buku, kesempatan untuk bertanya, menghubungkan sebab dan akibat, serta menyampaikan pendapat dengan alasan yang jelas menjadi terbatas.

Baca...  Implementasi Pembelajaran Alquran Hadis Terhadap Minat Belajar Peserta Didik

​Di sinilah pembelajaran SKI memiliki peluang untuk menjadi ruang tumbuh nalar kritis. Kisah sejarah Islam tidak hanya menyajikan peristiwa masa lalu, tetapi juga memberikan konteks untuk memahami pilihan, pertimbangan, dan konsekuensi suatu tindakan.

​Perjanjian Hudaibiyah: Mengapa Keputusan Itu Terasa Berat?

​Untuk memahami Perjanjian Hudaibiyah, kita perlu melihat keadaan yang melatarbelakanginya. Pada tahun ke-6 Hijriah, Nabi Muhammad saw. bersama sekitar 1.400 sahabat berangkat menuju Makkah untuk melaksanakan umrah. Rombongan tersebut kemudian tertahan di Hudaibiyah karena kaum Quraisy menghalangi mereka memasuki kota.

​Perundingan pun berlangsung hingga menghasilkan kesepakatan antara kaum Muslimin dan Quraisy. Sebagaimana dijelaskan dalam ulasan Rochmat (2019), beberapa ketentuannya mencakup gencatan senjata selama 10 tahun, penundaan umrah hingga tahun berikutnya, dan aturan mengenai perpindahan orang di antara kedua pihak. Kabilah-kabilah Arab juga memperoleh kesempatan untuk menjalin persekutuan dengan salah satu pihak.

​Dari sudut pandang sebagian sahabat, ketentuan tersebut terasa berat. Mereka harus menunda tujuan awal perjalanan, sementara beberapa ketentuan lain tampak tidak menguntungkan kaum Muslimin. Meski demikian, Nabi Muhammad saw. menerima kesepakatan tersebut.

​Mengapa keputusan itu diambil? Difinubun (2018) mengkaji pentingnya Perjanjian Hudaibiyah dalam sejarah penyebaran Islam di Jazirah Arab. Peristiwa ini perlu dipahami bukan hanya berdasarkan ketentuan yang terasa merugikan pada awalnya, tetapi juga dengan memperhatikan perkembangan hubungan antarkelompok dan dakwah setelah perjanjian disepakati.

​Rido’i (2025) turut membahas pengambilan keputusan dalam Perjanjian Hudaibiyah melalui konsep bounded rationality, yakni pendekatan untuk memahami keputusan dalam situasi yang memiliki keterbatasan informasi dan pertimbangan. Konsep ini digunakan sebagai alat analisis modern untuk membaca proses pengambilan keputusan, bukan sebagai bukti bahwa Nabi Muhammad saw. secara langsung menggunakan teori tersebut.

​Dari sini, kita dapat memahami bahwa penilaian terhadap suatu keputusan membutuhkan konteks yang memadai. Sesuatu yang terlihat merugikan dalam jangka pendek belum tentu menggambarkan keseluruhan dampaknya. Namun, hal hal ini juga tidak berarti bahwa setiap keputusan yang tampak merugikan pasti akan berakhir menguntungkan. Kita tetap perlu melihat fakta, tujuan, dan perkembangan yang benar-benar terjadi.

​Dari Cerita Sejarah Menuju Pertanyaan Kritis

​Lalu, bagaimana Perjanjian Hudaibiyah dapat digunakan untuk mengembangkan nalar kritis siswa SD/MI? Guru tidak harus memulainya dengan teori yang rumit. Langkah sederhana dapat dilakukan melalui pertanyaan yang mendorong siswa berpikir lebih jauh.

​Setelah menceritakan peristiwa Hudaibiyah secara utuh, guru dapat mengajukan pertanyaan seperti:

  1. ​Mengapa rombongan Muslimin akhirnya kembali ke Madinah tanpa melaksanakan umrah pada tahun itu?
  2. ​Apa yang memungkinkan kaum Muslimin memperoleh manfaat dari kesepakatan damai tersebut?
  3. ​Mengapa kita perlu memahami alasan di balik sebuah keputusan sebelum menyebutnya salah atau kalah?
Baca...  Sikap Bijak Menghadapi Fenomena Ulama Masa Kini di Media Sosial

​Pertanyaan semacam ini mengajak siswa bergerak dari mengingat cerita menuju memahami alasan dan akibat. Siswa juga dapat bekerja dalam kelompok kecil untuk menyusun urutan peristiwa, menemukan masalah yang dihadapi kaum Muslimin, dan menjelaskan pentingnya perdamaian berdasarkan informasi yang telah dipelajari.

​Bariyah dkk. (2022) membahas penggunaan model Problem Based Learning (PBL) dalam kaitannya dengan kemampuan berpikir kritis pada mata pelajaran SKI. Sementara itu, Khoiriyah dan Rif’iyati (2025) mengkaji penerapan PBL dalam pembelajaran SKI kelas V MI untuk meningkatkan keaktifan siswa.

​Temuan tersebut dapat menjadi bahan pertimbangan bagi guru dalam merancang pembelajaran yang lebih partisipatif. Meski demikian, penerapannya tetap harus disesuaikan dengan usia siswa, tujuan pembelajaran, dan tingkat kesulitan materi. Guru dapat menggunakan gambar, garis waktu, atau kartu pertanyaan agar siswa lebih mudah memahami hubungan antara peristiwa dan akibatnya.

​Penilaian pun sebaiknya tidak hanya berfokus pada kesamaan jawaban siswa dengan kalimat dalam buku. Guru perlu memperhatikan apakah siswa mampu menyampaikan alasan yang masuk akal, menggunakan informasi yang benar, dan menarik kesimpulan berdasarkan materi yang dipelajari.

​Berpikir Kritis Bukan Berarti Bebas Menebak

​Mendorong siswa berpikir kritis bukan berarti membiarkan mereka menyimpulkan apa saja tanpa dasar. Sebaliknya, mereka perlu belajar membedakan fakta sejarah, pendapat, dan dugaan.

​Misalnya, pernyataan “Kaum Muslimin tidak melaksanakan umrah pada tahun Perjanjian Hudaibiyah” menjelaskan keadaan yang terjadi. Sementara itu, pernyataan “Nabi Muhammad saw. kalah karena menerima perjanjian tersebut” merupakan penilaian yang membutuhkan penjelasan lebih lanjut.

​Melalui contoh tersebut, siswa dapat belajar bahwa suatu kesimpulan tidak otomatis menjadi fakta hanya karena terdengar meyakinkan. Mereka perlu memeriksa informasi dan memahami konteks sebelum menyampaikan pendapat.

​Buku Sejarah Kebudayaan Islam MI Kelas V (Kementerian Agama Republik Indonesia, t.t.) dapat digunakan sebagai pijakan untuk mengenalkan kronologi dan isi perjanjian. Setelah memahami materi dasarnya, siswa dapat diajak menghubungkan peristiwa dengan alasan dan akibatnya. Dengan demikian, pengembangan nalar kritis tidak menjauhkan pembelajaran dari sumber sejarah, tetapi justru membantu siswa memahaminya secara lebih bermakna.

​Kebiasaan ini juga dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Ketika berbeda pendapat dengan teman, siswa dapat belajar mendengarkan alasan orang lain sebelum mengambil kesimpulan. Ketika mengerjakan tugas kelompok, mereka dapat mempertimbangkan beberapa pilihan sebelum menentukan solusi.

Baca...  Seberapa Pentingkah Menguasai Ilmu Nahwu Bagi Seorang Muslim?

​Tentu, kemampuan tersebut tidak terbentuk hanya melalui satu kali pembelajaran. Guru perlu memberikan kesempatan secara konsistent agar siswa terbiasa bertanya, memeriksa informasi, dan menjelaskan alasan di balik pendapatnya.

​SKI sebagai Ruang Tumbuh Nalar Kritis

​Perjanjian Hudaibiyah memberikan pelajaran yang lebih luas daripada sekadar rangkaian tanggal dan peristiwa. Di balik kesepakatan yang sempat terasa berat, terdapat konteks, pertimbangan, dan perkembangan yang perlu dipahami secara utuh.

​Karena itu, pembelajaran SKI di SD/MI perlu memberi ruang bagi siswa untuk berani bertanya, mengurai alasan, dan menyusun kesimpulan berdasarkan fakta. Hafalan tetap penting sebagai fondasi belajar sejarah, tetapi tidak seharusnya menjadi batas akhir pembelajaran.

​Pada akhirnya, pertanyaan yang perlu diajukan bukan hanya apakah siswa mampu mengingat apa yang terjadi dalam Perjanjian Hudaibiyah, melainkan juga apakah mereka mulai memahami mengapa peristiwa itu terjadi dan bagaimana mengambil pelajaran darinya.

​Jika pembelajaran SKI mampu menumbuhkan kebiasaan berpikir yang mendalam, sejarah Islam tidak lagi sekadar menjadi kisah masa lalu yang harus dihafal. Ia dapat menjadi ruang tumbuh bagi generasi muda untuk belajar memahami persoalan, mempertimbangkan alasan, dan mengambil kesimpulan secara lebih bijaksana.

​Daftar Sumber

1 posts

About author
Mahasiswa UIN Maulana Malik Ibrahim Malang Prodi Pendidikan Agama Islam Minat/kajian: Sejarah Islam, Sejarah Kebudayaan Islam, dan pendidikan Islam
Articles
Related posts
KeislamanPendidikan

Peran Sejarah Kebudayaan Islam dalam Pendidikan Karakter Anak

5 Mins read
​Ada sebuah pertanyaan besar yang diam-diam menghantui para orang tua dan pendidik di era digital ini: siapa yang menjadi pahlawan atau panutan…
Keislaman

Perbedaan Tafsir Syiah: Perbandingan Al-Qumi dan Al-Tabarsi

4 Mins read
​Berasal dari satu rahim bukan berarti harus menghasilkan sesuatu yang sama, begitu pun dalam ranah penafsiran Al-Qur’an. Penafsiran yang dilakukan oleh Al-Qumi…
KeislamanPendidikan

​Fathu Makkah ke Ruang Kelas MI: Menanamkan Antiperundungan

5 Mins read
​Baru-baru ini, masyarakat Indonesia kembali terkejut oleh maraknya kasus perundungan (bullying) yang melibatkan siswa sekolah. Ada siswa yang dipukul hanya karena dianggap…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *