Pendidikan

Pentingnya Pendidikan Akhlak Ibnu Miskawaih di Tengah Era Globalisasi

3 Mins read

Penulis: Faiz Moh. Rahman*

​Ibnu Miskawaih (932–1030 M), seorang filsuf dan cendekiawan Persia yang terkenal, dianggap sebagai salah satu tokoh penting dalam tradisi pemikiran Islam. Salah satu karya terkenalnya adalah Tahdhib al-Akhlaq atau Penyempurnaan Akhlak.

​Dalam karyanya, Ibnu Miskawaih menguraikan pentingnya pendidikan akhlak dalam kehidupan individu dan masyarakat. Akhlak menurut Ibnu Miskawaih adalah kondisi jiwa yang mendorong terjadinya suatu perilaku tanpa dipikirkan dan dipertimbangkan terlebih dahulu.

​Dari penjelasan tersebut, bisa dikatakan bahwa akhlak adalah segala tindakan atau perilaku yang keluar secara otomatis dari diri seseorang. Secara tidak langsung, kita dapat mengetahui akhlak seseorang dengan melihat bagaimana cara ia berperilaku.

​Di era globalisasi seperti sekarang ini, kita telah disuguhi arus informasi yang begitu banyak dan beragam. Arus informasi tersebut tidak hanya berupa pengetahuan, tetapi juga berbagai nilai yang sepintas lalu terasa baru dan asing.

​Apakah nilai-nilai itu bersifat positif atau negatif? Dengan berbagai macam fenomena tentang tingkah laku manusia—baik melalui media sosial maupun yang terjadi secara langsung di lingkungan kita—jika ditelaah lebih dalam, yang lebih banyak kita temukan ialah sesuatu yang bersifat negatif, terutama dalam lingkup perilaku manusia yang makin menjadi-jadi.

​Hal ini, menurut penulis, tidak terlepas dari rusaknya akhlak yang telah terjadi di dalam diri manusia itu sendiri. Oleh karena itu, di sinilah kita dapat melihat begitu pentingnya pendidikan akhlak dalam kehidupan kita, yang telah masuk dalam kategori suatu urgensi dalam kehidupan universal manusia.

​Dalam menjalani kehidupan, tentu kita sudah biasa menemukan berbagai perbedaan sifat atau akhlak pada setiap individu, terlebih lagi di era globalisasi ini.

​Ada yang baik, ada yang jahat, bahkan ada yang berada di tengah-tengah keduanya—kadang baik, kadang juga jahat. Namun, pernahkah kita berpikir dan mempertanyakan mengapa hal tersebut dapat terjadi?

Baca...  Serangan Bangsa Mongol Ke Tanah Jawa

​Menurut Ibnu Miskawaih sendiri, ada beberapa faktor yang menyebabkan manusia memiliki perbedaan tersebut. Pertama, karena watak alamiah, yaitu watak bawaan dari lahir yang disebabkan oleh keturunan, misalnya.

​Kedua, karena kebiasaan atau tradisi. Ketiga, karena tingkat pengetahuan atau ilmu. Dan keempat, karena tingkat kesungguhan. Keempat faktor inilah yang menurut Ibnu Miskawaih menyebabkan perbedaan sifat dan akhlak seseorang.

​Tetapi, ia juga mengatakan bahwa semua hal tersebut bukanlah sesuatu yang permanen; dengan kata lain, semuanya dapat diubah melalui jalan pendidikan akhlak.

​Seperti yang telah dibahas sebelumnya, pendidikan akhlak memiliki peranan penting bagi seluruh individu. Hal ini dapat menjadi bekal kita untuk tetap menjadi manusia yang memiliki budi pekerti dan akhlak mulia di tengah-tengah gempuran era globalisasi.

​Dalam konsep pendidikan akhlak Ibnu Miskawaih, diterangkan bahwa kita sebagai manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan yang istimewa di antara semua makhluk-Nya, di mana kita dianugerahi daya berpikir oleh Tuhan.

​Berdasarkan daya pikir inilah manusia dapat membedakan segala sesuatu, seperti hal yang baik dan buruk, benar dan salah, dan lain sebagainya.

​Manusia dikatakan sempurna apabila ia dapat berpikir secara benar serta paling mulia usaha dan perbuatannya. Maka dari itu, hal ini memerlukan usaha dalam mewujudkannya.

​Sebelum kita membahas lebih lanjut tentang usaha dalam mewujudkan akhlak mulia, mungkin ada baiknya kita tahu terlebih dahulu apa tujuan dari pendidikan akhlak itu.

​Tujuan dari pendidikan akhlak itu sendiri ialah melatih jiwa atau membiasakannya agar terlatih dalam kebaikan, di mana hal ini adalah salah satu jalan yang akan membawa kita kepada kebahagiaan yang paripurna.

​Kebahagiaan itu dapat tercapai apabila kita mampu melakukan kebaikan yang utuh, baik dari aspek lahir maupun batin. Perlu dicatat bahwa makna kebahagiaan tidaklah sama dengan kenikmatan; kebahagiaan memiliki makna yang lebih dalam dibandingkan sekadar kenikmatan semata.

Baca...  Pendidikan Quran dan Hadis di TPQ Nurul Hidayah Kayong Utara

​Bisa dikatakan bahwa apabila kita merasakan kebahagiaan, sudah tentu rasa kenikmatan telah ikut di dalamnya. Sebaliknya, apabila kita merasakan kenikmatan, belum tentu kita merasakan kebahagiaan.

​Nah, setelah kita mengetahui tujuan dari pendidikan akhlak, sampailah kita pada pembahasan mengenai usaha-usaha dalam mewujudkan akhlak mulia.

​Menurut Ibnu Miskawaih, untuk mencapai akhlak yang mulia, manusia dapat melakukan beberapa latihan.

​Pertama, yaitu dengan melakukan al-adat wal-jihad, yakni membiasakan diri dan bersungguh-sungguh dalam menaklukkan nafsu-nafsu rendah—seperti keserakahan yang tak terbatas, kesombongan, dan nafsu buruk lainnya.

​Kedua, menjadikan semua pengetahuan dan pengalaman orang lain sebagai cermin diri. Ketiga, introspeksi atau mawas diri, yaitu banyak-banyak mengoreksi diri sehingga jiwa ini terus-menerus berada dalam keadaan yang baik dan tidak keluar melampaui fitrahnya.

​Keempat, kalau meminjam bahasa Dr. Fahrudin Faiz, yaitu metode oposisi (metode muhasabah diri). Apabila kita menemukan kejelekan di dalam sifat kita, kita juga harus mengetahui sebabnya serta menghadirkan lawan atau obat dari kejelekan tersebut.

​Setelah kita melakukan upaya dalam mewujudkan dan mencapai akhlak mulia, tentu kita tidak bisa begitu saja berpuas diri. Hal ini karena kita juga perlu menjaga apa yang telah diusahakan agar akhlak atau sifat tersebut bisa terus-menerus hadir dan bersemayam dalam jiwa kita.

​Ibnu Miskawaih menambahkan dalam kitabnya, Tahdhib al-Akhlaq, kiat-kiat untuk menjaga atau menguatkan akhlak, yaitu:

  • ​Jangan bergaul dengan orang keji yang suka pada kenikmatan-kenikmatan keji serta suka dan bangga berbuat dosa.
  • ​Melakukan aktivitas yang berhubungan dengan pengetahuan dan praktiknya sehingga dapat melayani jiwa. (Sebab, bila jiwa tidak berpikir dan tidak lagi mencari makna, ia akan tumpul, bodoh, serta kehilangan substansi kebaikan).
  • ​Sejak kecil melatih diri dengan berpikir dan belajar ilmu.
  • ​Tidak hidup berlebihan, sebab kenikmatan eksternal tidak ada batasnya.
Baca...  Fikih Kecerdasan Artificial: Etika & Hukum AI Perspektif Islam

​Wallahu a’lam bish-shawab.

​*) Mahasiswa Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya, Prodi Akidah dan Filsafat Islam.

1 posts

About author
Mahasiswa Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya Prodi Akidah dan Filsafat Islam.
Articles
Related posts
Pendidikan

Krisis Identitas Moral di Era Digital

4 Mins read
A. Wajah Ganda Teknologi: Eksistensi Manusia di Antara Kemudahan dan Kedangkalan Jiwa ​Peradaban manusia hari ini sedang berada di pusaran arus digitalisasi…
KeislamanPendidikan

​Peran Sejarah Kebudayaan Islam dalam Menumbuhkan Toleransi Peserta Didik

10 Mins read
​A. Pendahuluan ​Pendidikan merupakan salah satu sarana penting dalam membentuk kepribadian dan karakter peserta didik. Melalui pendidikan, peserta didik tidak hanya memperoleh…
Pendidikan

Usulkan Stand Up Indo PMII, Habib Ja'far Ungkap Kekuatan Humor

1 Mins read
​KULIAHALISLAM.COM – Seorang pemimpin bisa tersinggung oleh kritik, tetapi mungkin tertawa ketika kritik itu dibungkus lelucon. Di situlah humor bekerja. Ia membuat…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *