KULIAHALISLAM.COM – Seorang pemimpin bisa tersinggung oleh kritik, tetapi mungkin tertawa ketika kritik itu dibungkus lelucon. Di situlah humor bekerja. Ia membuat orang tertawa, lalu diam-diam mengajak mereka memikirkan hal yang selama ini luput dari perhatian.
Gagasan itu disampaikan Habib Husein Ja’far Al Hadar dalam peringatan haul Mahbub Djunaidi yang digelar Ikatan Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (IKA PMII) Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (UNUSIA), Jakarta, Jumat (30/10/2026). Dalam forum tersebut, ia mengusulkan pelatihan komedi sebagai bagian dari kaderisasi PMII melalui gagasan “Stand Up Indo PMII”.
“Humor itu pertama adalah bahasa paling universal. Kemudian, humor juga instrumen yang sangat powerful untuk menjadi pukulan ke atas, kritik terhadap pemimpin-pemimpin yang tidak becus,” kata Habib Ja’far.
Menurutnya, humor dapat menyampaikan kritik tanpa membuat sasaran merasa direndahkan. Orang yang tidak menjadi objek kritik bisa menikmati kelucuannya, sementara pihak yang dituju menangkap pesan di baliknya.
Ia mengingatkan bahwa tradisi kritik melalui humor bukan hal baru. Para kiai dan habib, misalnya, menggunakan syair untuk menyampaikan teguran secara tidak langsung. Mahbub Djunaidi juga memanfaatkan humor dalam tulisan-tulisannya, terutama setelah majalah Duta Masyarakat dibredel pada 1971.
Dalam situasi ketika kritik terbuka berisiko, humor menjadi cara untuk tetap menyampaikan gagasan. Mahbub mengolah kelucuan menjadi kritik terhadap kekuasaan tanpa kehilangan daya tarik tulisannya.
Habib Ja’far mengusulkan agar PMII memberi ruang bagi kader untuk belajar mengolah humor. Ia menegaskan, pelatihan itu bukan semata-mata untuk mencetak komedian.
“Bukan untuk melahirkan stand-up comedian saja, tapi utamanya sebagai lembaga kaderisasi,” ujarnya.
Menurut Habib Ja’far, kemampuan komedi dapat membantu kader berbicara di depan publik, membangun komunikasi, dan menyampaikan keresahan dengan cara yang lebih mudah diterima. Ia juga menekankan pentingnya tulisan dan sastra dalam perjuangan. Menulis, katanya, membantu seseorang menata pikiran dan mengurai gagasan, sekaligus memungkinkan pesan menjangkau pembaca tanpa kehadiran penulis.
Peringatan haul Mahbub Djunaidi mengangkat tema “Merawat Tradisi, Menyalakan Nalar, dan Membangkitkan Gerakan Pemuda”. Acara tersebut juga diisi peluncuran buku Mahbub Djunaidi dan Seni Menggugat Zaman serta pertunjukan seni.
Di hadapan kader muda, Habib Ja’far melempar gagasan tentang humor sebagai bekal perjuangan—bukan hanya untuk membuat orang tertawa, tetapi untuk membuat kritik terdengar, bahkan oleh mereka yang biasanya enggan mendengarnya.

