Oleh: Siti Khadijah dan Atikah Nafi’atun Lighoiri
Pendahuluan
Perkembangan globalisasi dan kemajuan teknologi pada abad ke-21 telah membawa perubahan besar dalam cara manusia memahami dan mengelola ilmu pengetahuan. Perkembangan tersebut juga menjadikan sains sebagai salah satu faktor penting yang membentuk dunia modern saat ini. Seiring berjalannya waktu, penemuan-penemuan baru dalam bidang sains melahirkan teknologi yang lebih canggih, yang akhirnya membawa perubahan besar dalam cara manusia hidup, bekerja, berpikir, dan berinteraksi.
Namun, kemajuan tersebut juga menghadirkan tantangan serius bagi kehidupan manusia modern, terutama ketika sains berkembang dalam kerangka berpikir yang cenderung materialistik, sekuler, serta tidak dihubungkan dengan nilai-nilai moral dan keislaman (Zazkia, 2025, hal. 1). Contohnya, teknologi modern yang berasal dari ilmu pengetahuan banyak dimanfaatkan untuk tujuan yang merugikan, menghilangkan rasa kemanusiaan, dan bahkan merusak kehidupan suatu negara (Risalatul, 2023, hal. 1).
Sementara itu, Islam menghendaki ajaran yang tidak hanya meninjau dari satu sudut pandang, melainkan mencakup seluruh aspek kehidupan manusiawi. Ilmu pengetahuan dalam Islam juga memiliki hubungan erat dengan tanggung jawab dan hakikat manusia sebagai khalīfah (pemimpin) di bumi. Meskipun sains modern menghasilkan kemajuan teknologi, Islam memberikan kritik mendasar terhadap sifat sains modern yang sekuler, materialistik, dan mengesampingkan dimensi spiritual dalam memahami realitas. Dengan demikian, kritik Islam terhadap sains modern memiliki signifikansi dalam membangun perkembangan ilmu yang lebih seimbang antara tanggung jawab moral, kemajuan ilmu pengetahuan, dan nilai-nilai spiritual.
Pengertian dan Karakteristik Sains Modern
Secara etimologis, kata bahasa Indonesia “sains” merupakan adaptasi dari bahasa Inggris “science“, yang berasal dari kata Latin “scientia” yang memiliki makna “to know” atau “knowledge” (mengetahui atau pengetahuan) dan kata Latin “scire” yang artinya belajar. Sains adalah metode pengetahuan yang sistematis dan empiris untuk mempelajari alam semesta (Risalatul, 2023, hal. 2).
Dalam pengertian yang lebih sederhana, pengetahuan seperti ini sudah lama dipraktikkan manusia secara tradisional, misalnya menanam padi di tanah yang subur dan menyiramnya secara rutin, atau pengobatan herbal tradisional yang memanfaatkan tanaman obat berdasarkan pengalaman empiris atau tradisi turun-temurun tanpa mengetahui kandungan senyawa kimianya secara pasti. Kedua contoh ini bersifat empiris, tetapi belum disusun secara sistematis dan teruji seperti sains modern.
Sementara itu, sains modern didefinisikan sebagai suatu cara memperoleh pengetahuan yang terorganisir, sistematis, dan disiplin berdasarkan percobaan serta empirisme yang memberikan hasil yang dapat diulang dan diterapkan secara universal lintas budaya—seperti menguji kandungan nutrisi tanah di laboratorium, lalu merekayasa bibit padi agar tahan hama dan dapat tumbuh dua kali lebih cepat tanpa bergantung pada musim. Sains modern lebih mengedepankan metode ilmiah yang ketat, bersifat objektif dan rasional, serta melalui penelitian yang berbasis teknologi canggih.
Pandangan Islam terhadap Sains
Dalam pandangan Islam, ilmu memiliki makna yang jauh lebih luas daripada sekadar hasil rasionalitas manusia. Islam menempatkan ilmu sebagai sarana untuk mengenal, memahami, dan mendekatkan diri kepada Allah SWT (Zazkia, 2025, hal. 2). Ilmu adalah sumber teknologi yang mampu memberikan peluang munculnya berbagai penemuan rekayasa dan ide-ide baru.
Islam merupakan agama yang mengatur seluruh aspek kehidupan manusia dan memberikan pedoman-pedoman pokok untuk mengembangkan kebudayaan setinggi-tingginya agar manusia berbahagia di dunia dan akhirat. Islam, sebagaimana tercantum dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah, sanggup berperan sebagai penuntun perkembangan kehidupan manusia, termasuk perkembangan sains dan teknologi (Fauzi dkk., 2019, hal. 3). Kemajuan ilmu pengetahuan sains dan teknologi telah memberikan berbagai kemudahan serta kesejahteraan bagi kehidupan manusia, terutama bila pengamalan dari ilmu tersebut disertai dengan pemahaman nilai moral dan keislaman.
Kritik Islam terhadap Sains Modern
Sains modern merupakan hasil perkembangan rasionalitas manusia yang tumbuh pesat, di mana paradigma ilmu pengetahuan mulai bergeser dari teosentris menuju antroposentris yang menempatkan manusia sebagai pusat kebenaran dan sumber pengetahuan (Zazkia, 2025, hal. 5). Sains modern menempatkan pengalaman indrawi sebagai satu-satunya sumber pengetahuan yang valid. Prinsip ini memang berhasil melahirkan kemajuan teknologi dan industrialisasi global, tetapi juga memicu kritik. Berikut adalah beberapa kritik terhadap cara kerja sains modern:
- Sekularisme Ilmu Sains modern menerapkan sistem sekuler, yakni memisahkan ilmu pengetahuan dari ajaran agama dan menganggap sesuatu itu nyata hanya apabila dapat dilihat, diukur, dan dibuktikan secara ilmiah. Padahal, dalam Islam umat dituntut juga untuk mengimani hal-hal yang gaib.
- Abaikan Dimensi Etika Sains modern sering kali tidak memikirkan etika dan hanya berfokus pada cara membuat sesuatu tanpa mempertimbangkan apakah hal tersebut aman serta baik bagi manusia. Akibatnya, teknologi yang diciptakan tidak memberikan manfaat, melainkan menimbulkan kerugian berupa kerusakan lingkungan atau merusak moral manusia (seperti situs judi online dan situs transaksi kesusilaan). Meskipun dampak tersebut dipengaruhi oleh moral penggunanya, sains yang dikembangkan tanpa pertimbangan etika ikut membuka celah terjadinya penyalahgunaan. Bagi Islam, ilmu harus dibatasi oleh etika dan aturan agama agar membawa kemaslahatan.
- Pandangan Mekanistik terhadap Alam Sains modern memandang segala sesuatu secara mekanistik (seperti mesin), sehingga cenderung memperlakukan alam sebagai objek yang bebas dieksploitasi demi kepuasan manusia. Padahal, Allah telah menetapkan manusia sebagai khalīfah (pemimpin) di bumi untuk merawat dan menjaganya.
Gagasan Solusi Integrasi Islam
Untuk menjawab tantangan tersebut, para cendekiawan Muslim mengusulkan rekonstruksi paradigma keilmuan Islam yang menempatkan agama dan sains dalam hubungan dialogis serta saling melengkapi (Inayati dkk., 2022, hal. 6). Integrasi antara Islam dan sains modern memiliki landasan filosofis dan teologis yang kuat dalam epistemologi Islam.
Dalam konteks epistemologi Islam, integrasi ilmu agama dan sains berpijak pada kesatuan antara wahyu dan akal. Wahyu memberikan arah moral dan spiritual bagi pengembangan ilmu, sementara akal berfungsi sebagai sarana untuk mendalami hukum-hukum alam ciptaan Allah. Sains modern dalam perspektif Islam tidak hanya menjadi alat kemajuan material, tetapi juga sarana untuk membentuk kesadaran spiritual dan tanggung jawab moral manusia terhadap Allah SWT serta peranannya sebagai khalīfah di bumi.
Penutup
Sains modern dan kemajuan teknologi pada dasarnya telah memberikan banyak kemudahan serta membawa perubahan besar dalam kehidupan manusia. Namun, ketika sains berkembang secara sekuler, tanpa etika, dan memandang alam sekadar sebagai objek mekanistik serta materialistik, hal tersebut dapat memicu dampak negatif seperti kerusakan lingkungan, penurunan moral, dan hilangnya tanggung jawab manusia sebagai khalīfah di bumi.
Kritik Islam terhadap sains modern bukanlah bentuk penolakan terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi, melainkan sebuah koreksi agar pengembangan ilmu tidak kehilangan arah moral dan nilai-nilai keislaman. Melalui integrasi antara wahyu dan akal, sains tidak lagi hanya berfungsi sebagai alat kemajuan material semata, melainkan menjadi sarana untuk mendalami hukum-hukum alam ciptaan Allah SWT, membentuk kesadaran spiritual, serta membimbing manusia menuju kebahagiaan di dunia dan akhirat.
Daftar Pustaka
- Anas, M. (2012). Kritik Hossein Nasr atas problem sains dan modernitas. Kalam, 6(1).
- Awaludin, A., & Habib, H. (2026). Kritik Islam terhadap sekularisasi ilmu pengetahuan modern: Analisis pemikiran tokoh Muslim. Journal of Islamic Studies and Thought, 1(1).
- Nasrul, & Khuzaifah. (2019). Pandangan dan kontribusi Islam terhadap perkembangan sains. Jurnal Pendidikan Islam, 5(1), 1–8.
- Putri, D., & Lubis, Z. (2026). Renaissance dan pergeseran epistemologi Barat: Analisis kritis terhadap paradigma sains bebas nilai dan krisis etika teknologi modern. Tasfiyah, 10(1).
- Risalatul, W. (2023). Sains modern dalam perspektif Islam. Maliki Interdisciplinary Journal, 1(6), 498–507.
- Zazkia, R. (2025). Sains modern dalam perspektif Islam: Rekonstruksi paradigma keilmuan di tengah isu globalisasi dan teknologi. Prosiding Kolokium Pendidikan Islam dan Pesantren, 1(1).

