Pesantren tradisional Indonesia menyimpan ribuan kisah mutiara hikmah yang sering kali tidak tercatat dalam buku-buku sejarah formal, tetapi hidup abadi di dalam memori kolektif para santri. Salah satu narasi yang paling menggugah kesadaran spiritual dan politik adalah kisah tentang Hadratussyekh Kiai Haji Hasyim Asy’ari.
Di tengah-tengah pengajaran kitab “Alfiyah Ibnu Malik” (sebuah kitab rujukan tata bahasa Arab yang monumental) beliau sampai pada satu bait syair tertentu. Bukan sekadar mengurai struktur gramatikal (nahwu dan shorof), Kiai Hasyim justru berhenti sejenak. Beliau menampakkan guratan kekhawatiran yang mendalam di wajahnya. Ketakutan itu bukan tertuju pada kerumitan kaidah tata bahasa, melainkan pada implikasi moral dari makna leksikal yang terkandung dalam bait tersebut. Bait yang dimaksud adalah:
واجرر أو انصب تابع الذي انخفض # كمبتغي جاه ومالا من نهض
Artinya: “Dan jer-kan atau nashob-kanlah (ikutkan) pada tabi’ (lafaz yang mengikuti) dari isim yang dijerkan, seperti orang yang mencari kedudukan dan harta, dari orang yang bangkit.”
Kekhawatiran Mbah Hasyim seketika menyeruak karena beliau takut jangan-jangan frasa man nahadl (orang-orang yang bangkit/berjuang) dalam konteks kekinian pengikutnya merujuk pada “orang-orang Nahdlatul Ulama” yang kemudian hari terjebak dalam pusaran syahwat kekuasaan, jabatan, serta materi duniawi.
Anatomi Linguistik dan Ketajaman Bashirah Mbah Hasyim
Secara gramatikal, bait di atas membahas bab At-Tabi’ (kata yang mengikuti hukum kata sebelumnya dalam hal kedudukan i’rab). Ibnu Malik, sang penyair sekaligus ulama besar ilmu nahwu, memberikan sebuah contoh (syawahid) yang tidak murni kering dari nilai, melainkan sering kali menyisipkan pesan moral atau kondisi sosial zamannya. Frasa kata mubtaghi jahin wa malan min nahadl merekam potret manusia yang ambisius: mereka yang bangkit bergerak demi memburu kedudukan (jah) dan harta kekayaan (mal).
Mbah Hasyim, dengan kecerdasan spiritual dan ketajaman bashirahnya, melihat ada titik taut yang berbahaya antara ambisi duniawi tersebut dengan masa depan organisasi yang beliau dirikan. Nahdlatul Ulama (yang secara harfiah berarti “Kebangkitan para Ulama” atau gerakan kebangkitan) menggunakan akar kata nahadla yang secara morfologis seakar dengan kata min nahadl dalam bait tersebut.
Bagi seorang mursyid dan ulama besar, kesamaan akar kata ini bukan sekadar kebetulan linguistik, melainkan sebuah peringatan profetik. Beliau khawatir kata “kebangkitan” (nahdlah) yang mulia, yang diniatkan semata-mata untuk meninggikan kalimat Allah dan membimbing umat, justru bergeser arah menjadi gerakan pragmatis demi kepentingan kekuasaan politik praktis dan akumulasi harta benda.
Spirit Keikhlasan Pendiri NU dan Jebakan Pragmatisme
Nahdlatul Ulama didirikan pada tahun 1926 M di Surabaya bukan sebagai kendaraan politik, melainkan sebagai benteng pertahanan akidah Ahlussunnah wal Jamaah, wadah pemersatu ulama pesantren, serta sarana pembinaan umat yang mandiri. Mbah Hasyim Asy’ari bersama para muassis (pendiri) lainnya membangun organisasi ini di atas fondasi ikhlas dan khidmah (pengabdian tanpa pamrih).
Namun, sejarah membuktikan bahwa sebuah gerakan besar yang tumbuh subur dan memiliki massa yang masif, lambat laun akan selalu menarik perhatian para pemburu rente kekuasaan. Kekhawatiran Mbah Hasyim di muka majelis taklim “Alfiyah” tersebut adalah sebuah bentuk muhasabah dini yang luar biasa. Beliau sudah mencium aroma potensi penyimpangan orientasi masa depan.
Ketika orientasi perjuangan bergeser dari li i’la’il kalimatillah (demi meninggikan kalimat Allah) menjadi li tholabil jah wal mal (demi mengejar jabatan dan harta), maka ruh keikhlasan akan mati. Organisasi yang dulunya menjadi tempat menimba rahmat dan berkah, bisa berubah menjadi arena pertarungan transaksional. Di sinilah letak relevansi tangis dan keresahan batin Mbah Hasyim: beliau takut umatnya, khususnya para kader NU, kehilangan integritas moral di hadapan gemerlapnya dunia.
Relevansi Kekhawatiran Mbah Hasyim di Era Modern
Dekade demi dekade berlalu, dan peringatan Mbah Hasyim Asy’ari terbukti menemukan relevansinya yang sangat kuat dalam dinamika sosial-politik kontemporer. Saat ini, organisasi keagamaan terbesar di Indonesia ini sering kali berada di garis terdepan percaturan kekuasaan nasional. Kader-kadernya menduduki berbagai posisi strategis, mulai dari struktur pemerintahan eksekutif, legislatif, hingga jejaring birokrasi ekonomi.
Di satu sisi, keterlibatan ini merupakan wujud nyata dari tanggung jawab kebangsaan (mas’uliyah wathaniyah) untuk membawa kemaslahatan publik. Namun di sisi lain, bayang-bayang peringatan Mbah Hasyim hadir sebagai alarm pengingat yang tajam. Gejala-gejala politisasi agama, pragmatisme jabatan, dan orientasi materialisme yang menjangkiti sebagian elite organisasi menunjukkan bahwa ketakutan Mbah Hasyim bukanlah paranoia yang berlebihan, melainkan sebuah bentuk kearifan profetik.
Ketika jabatan politik dan proyek-proyek material dijadikan sebagai tujuan utama dari sebuah “kebangkitan”, maka substansi kerakyatan dan pembinaan moral umat akan terabaikan. Manusia-manusia min nahadl (mereka yang bangkit) yang tadinya digerakkan oleh semangat jihad keulamaan, berubah menjadi politisi-politisi instan yang kering dari nilai-nilai ketulusan pesantren.
Merawat Khittah dan Mengembalikan Orientasi Perjuangan
Menghadapi tantangan zaman yang semakin kompleks, umat Islam secara umum dan warga Nahdliyin khususnya perlu kembali meresapi kedalaman makna di balik kisah Mbah Hasyim Asy’ari ini. Evaluasi total terhadap orientasi berorganisasi dan berjuang mutlak dilakukan agar ruh perjuangan tidak tereduksi menjadi sekadar perebutan pengaruh duniawi.
Langkah pertama yang harus diambil adalah revitalisasi nilai-nilai dasar kepesantrenan, seperti zuhud, wara’, dan itsar (mengutamakan kepentingan umat di atas kepentingan pribadi). Kekuasaan dan harta bukanlah sesuatu yang haram untuk diraih, tetapi keduanya harus diposisikan sebagai sarana (wasilah), bukan sebagai tujuan akhir (ghoyah). Jika sarana tersebut justru merusak integritas moral dan memecah belah persaudaraan umat, maka ia harus ditinggalkan.
Kedua, penguatan tradisi intelektual dan spiritual di dalam ekosistem organisasi. Pengajian kitab-kitab kuning seperti “Alfiyah Ibnu Malik” tidak boleh hanya berhenti pada tataran hafalan kaidah bahasa semata, melainkan harus mampu melahirkan kedalaman refleksi etis sebagaimana dicontohkan oleh Mbah Hasyim. Ulama masa lalu membaca teks suci dan teks kitab kuning dengan hati yang bergetar, menghubungkan setiap huruf dan makna dengan tanggung jawab akherat.
Dari Jihad Menjadi Rebutan Kursi: Sebuah Refleksi Kritis
Fenomena degradasi makna perjuangan sering kali terjadi ketika sebuah gerakan besar kehilangan arah kompas moralnya. Istilah-istilah suci yang diwariskan oleh para pendahulu mengalami pergeseran makna demi melegitimasi ambisi personal kelompok tertentu.
Mbah Hasyim Asy’ari sangat menyadari bahwa godaan kekuasaan adalah ujian terbesar bagi sebuah kaum yang sedang naik daun. Ketika sebuah gerakan berhasil mendapatkan pengakuan sosial dan politik yang luas, di situlah bibit-bibit kesombongan, kerakusan, dan perebutan pengaruh mulai tumbuh subur. Orang-orang yang dulunya dikenal tawadhu’ dan ikhlas berkhidmat di desa-desa terpencil, tiba-tiba berubah orientasi ketika mencium aroma kekuasaan di pusat ibu kota.
Kisah di majelis taklim “Alfiyah” tersebut mengajarkan kepada kita bahwa seorang pemimpin besar tidak pernah merasa aman dari godaan dunia. Kewaspadaan spiritual harus terus dipupuk agar hati tidak terbuai oleh fasilitas dan sanjungan semu.
Syahdan. Kisah Mbah Hasyim Asy’ari yang meneteskan kekhawatiran saat membaca bait “Alfiyah Ibnu Malik” tentang pencari kedudukan dan harta merupakan warisan moral yang amat berharga. Ia menjadi pengingat abadi bahwa perjuangan menegakkan kebenaran dan membangun peradaban umat tidak boleh dicemari oleh ambisi syahwat kekuasaan yang sempit.
Sebagai penutup, sebuah pertanyaan mendasar patut diajukan kepada setiap insan yang mengaku sebagai penerus estafet perjuangan para ulama: Sudahkah kita memastikan bahwa langkah kebangkitan kita hari ini diniatkan murni untuk mengabdi kepada umat dan mencari ridha Ilahi, alih-alih terjebak menjadi bagian dari golongan yang bangkit hanya demi memburu kedudukan dan harta duniawi? Wallahu a’lam bisshawab.

