KeislamanOpini

Menjaga Marwah Ilmu lewat Etika Penampilan dalam Kitab Maraqi al-Ubudiyyah

6 Mins read

Ilmu pengetahuan, khususnya ilmu syariat, dalam tradisi Islam tidak pernah dipandang sekadar sebagai tumpukan informasi kognitif atau komoditas intelektual semata. Ia adalah nur (cahaya) yang dipancarkan ke dalam hati manusia, sebuah amanah ilahiah yang membawa konsekuensi etis dan moral bagi siapa saja yang mengembannya.

Namun, karena ilmu itu dibawa oleh wujud manusia yang berpijak di alam material, terdapat ruang perjumpaan yang tidak terelakkan antara realitas batin (ilmu) dan manifestasi lahiriah (penampilan pengembannya).

Di sinilah muncul sebuah refleksi penting mengenai bagaimana seharusnya penuntut ilmu dan ulama mempresentasikan diri mereka di tengah masyarakat. Kitab “Maraqi al-Ubudiyyah” karangan Syekh Nawawi al-Bantani merupakan sebuah syarah mendalam atas kitab “Bidayat al-Hidayah” karya Imam al-Ghazali yang merekam sebuah pandangan menarik yang patut direnungkan secara kritis dan kontekstual. Bunyinya:

وقال بعضهم وينبغي أن يكون العلماء وطالب العلم في زماننا هذا أحسن ثيابا وأعظم عمامة وأوسع أكماما من الجهلاء أي ليكون العلم قويا عظيما

مراقي العبودية، ص: ۱۱

Artinya: “Sebagian ulama berkata: “Pada zaman kita ini, para ulama dan penuntut ilmu sepatutnya mengenakan pakaian yang lebih baik, memakai sorban yang lebih besar, dan memiliki lengan baju yang lebih lebar daripada orang-orang yang bodoh. Hal itu agar ilmu tampak memiliki kewibawaan, kemuliaan, dan keagungan.”

Kutipan di atas sekilas mungkin memantik perdebatan atau keraguan bagi sebagian orang. Bukankah ajaran Islam sangat menekankan kesederhanaan (zuhud) dan kerendahan hati (tawadhu’)? Mengapa seorang ulama atau penuntut ilmu justru disarankan tampil mencolok dengan pakaian terbaik, sorban besar, dan jubah berlengan lebar? Apakah narasi ini bertentangan dengan esensi kesucian batin, ataukah justru ada falsafah mendalam tentang pemuliaan ilmu (i’zaz al-ilm) yang sedang diperjuangkan?

Dialektika Pakaian: Antara Kesombongan Diri dan Kemuliaan Ilmu

Untuk memahami kedalaman teks ini secara menyeluruh, kita harus memisahkan antara ego personal dan kedudukan ilmu. Ketika seorang Muslim diperintahkan untuk bertawadu’, perintah itu ditujukan kepada egonya agar tidak merasa lebih tinggi daripada hamba Allah yang lain. Namun, ketika berhadapan dengan ilmu pengetahuan agama, Islam mengajarkan i’zaz, yakni mengagungkan dan memuliakan posisi ilmu di mata manusia.

Secara sosiologis, manusia adalah makhluk visual. Penilaian pertama terhadap suatu gagasan atau pranata sosial sering kali dipengaruhi oleh representasi fisik pembawanya. Jika ilmu pengetahuan dibawakan oleh sosok yang acuh tak acuh terhadap kebersihan, tampak kumuh, atau terkesan asal-asalan dalam berpakaian, ada risiko psikologis bahwa masyarakat awam akan meremehkan ilmu yang dibawanya. Dalam konteks inilah kutipan kitab “Maraqi al-Ubudiyyah” menemukan urgensinya.

Baca...  Musyawarah dan Demokrasi dalam Islam: Konsep, Implementasi, dan Relevansinya

Ungkapan “agar ilmu tampak memiliki kewibawaan, kemuliaan, dan keagungan” (li yakuna al-ilmu qawiyyan azhiman) menjadi kunci filosofis dari seluruh argumen ini. Niat utama dari kerapian busana ulama bukanlah untuk menyombongkan status sosial, melainkan untuk menjaga kehormatan ilmu itu sendiri agar tidak dipandang sebelah mata oleh orang-orang yang hanya melihat kulit luar (orang-orang awam/bodoh). Pakaian terbaik dan sorban yang anggun berfungsi sebagai bentuk penghormatan terhadap amanah keilmuan yang dipikul.

Tradisi memuliakan penampilan saat membawa ilmu sejatinya memiliki akar historis yang kuat dalam sejarah keislaman. Imam Malik bin Anas, penyusun kitab “Al-Muwatta’” dan pendiri Mazhab Maliki, dikenal sangat ketat dalam urusan ini. Apabila beliau hendak mengajarkan hadis Nabi Muhammad SAW, beliau akan mandi terlebih dahulu, memakai pakaian terbaiknya, mengenakan wewangian, dan merapikan sorbannya.

Ketika ditanya mengapa beliau melakukan hal tersebut, Imam Malik menjawab bahwa beliau ingin mengagungkan hadis Rasulullah SAW. Bagi Imam Malik, menghadap warisan keilmuan Nabi memerlukan kesiapan fisik dan estetika sebagai cerminan penghormatan batin.

Menelaah Bahasa Simbolik: Sorban, Pakaian, dan Lengan Baju

Pernyataan dalam “Maraqi al-Ubudiyyah” menyebutkan tiga simbol lahiriah utama: pakaian yang lebih baik (ahsana thiyab), sorban yang lebih besar (azhama imamah), dan lengan baju yang lebih lebar (awsa’a akmam). Secara tekstual, ketiga elemen ini merupakan artikulasi estetika busana ulama pada zaman klasik di kawasan Timur Tengah dan Nusantara.

Pertama, pakaian yang lebih baik (ahsana thiyab). Pakaian dalam Islam bukan sekadar penutup aurat, melainkan perhiasan yang mencerminkan rasa syukur atas nikmat Allah (tahadduts bi al-ni’mah). Pakaian yang bersih, rapi, dan pantas menunjukkan bahwa pemiliknya menghargai dirinya sendiri dan orang lain yang berinteraksi dengannya. Bagi seorang penuntut ilmu, pakaian yang rapi mencerminkan kerapian berpikir dan kebersihan jiwa.

Kedua, sorban yang lebih besar (azhama imamah). Sorban (imamah) sejak lama menjadi mahkota masyarakat Arab dan simbol kepemimpinan intelektual maupun spiritual dalam tradisi Islam. Ukuran atau kerapian sorban melambangkan kedewasaan berpikir, ketenangan, dan tanggung jawab moral yang diusung oleh pemakainya.

Ketiga, lengan baju yang lebih lebar (awsa’a akmam). Pada masa lalu, potong busana para sarjana atau ulama kerap memiliki ciri khas lengan yang longgar dan lebar. Ciri ini membedakan mereka dari para pekerja fisik atau buruh kasar yang membutuhkan pakaian serba ketat untuk kemudahan gerak manual. Lengan lebar adalah simbol kelonggaran, keagungan gaya hidup intelektual, serta wujud ketenangan (sakinah) yang tidak terburu-buru oleh urusan duniawi yang kasar.

Baca...  Perbedaan Dua Mazhab Besar, Sunni Syiah dalam Memahami Taqiyyah

Secara kontekstual, kita tidak boleh terjebak pada simbol-simbol fisik ini secara harfiah tanpa menangkap substansinya. Pada era modern hari ini, “sorban besar dan lengan lebar” mungkin tidak selalu diterjemahkan sebagai pakaian Arab klasik. Substansinya adalah pantas, rapi, bersih, berwibawa, dan memiliki estetika yang dihormati dalam budaya lokal setempat.

Seorang ilmuwan, dosen, ulama, atau santri masa kini yang berpakaian rapi, wangi, bersahaja, namun tampak anggun, pada hakikatnya telah menjalankan esensi pesan dari “Maraqi al-Ubudiyyah”.

Jebakan Formalisme vs. Abai terhadap Penampilan

Dalam merealisasikan ajaran ini, kerap terjadi dua kutub ekstrem yang sama-sama membahayakan etika penuntut ilmu. Pertama, terjebak dalam formalisme dan kesombongan lahiriah. Risiko terbesar ketika seseorang berfokus pada penampilan adalah tergelincirnya niat untuk memuliakan ilmu (i’zaz al-ilm) menjadi memuliakan diri sendiri (i’zaz al-nafs).

Jika pakaian bagus, sorban rapi, dan aksesori mahal dipakai hanya untuk mencari pujian masyarakat, merasa lebih tinggi dari orang awam, atau memamerkan status sosial, maka tindakan tersebut telah berubah menjadi dosa riya’ dan kibir (sombong). Penampilan luar yang megah tanpa dibarengi kedalaman ilmu dan kerendahan hati hanya akan melahirkan kepalsuan.

Kedua, mengabaikan penampilan atas nama tawadhu’ palsu. Di sisi lain, ada sebagian penuntut ilmu yang membiarkan diri mereka tampil serampangan, lusuh, kotor, atau tidak rapi dengan dalih “menerapkan hidup zuhud” atau “bertawadhu’”. Ini adalah kekeliruan dalam memahami etika keilmuan.

Rasulullah SAW sendiri menyukai keindahan dan kebersihan, sebagaimana dalam hadis populer: “Sesungguhnya Allah itu Indah dan menyukai keindahan.” Mengabaikan penampilan hingga terkesan kumuh bukannya menunjukkan kerendahan hati, melainkan bisa menjadi bentuk ketidakmampuan menjaga amanah kebersihan (thaharah) dan kurangnya rasa hormat terhadap majelis ilmu.

Ulama dalam kitab “Maraqi al-Ubudiyyah” memberikan jalan tengah (tawassut). Penampilan yang agung dilakukan dengan niat menjaga citra agama dan keilmuan di tengah masyarakat yang cenderung menilai sesuatu dari bungkus luarnya. Penampilan luar berfungsi sebagai “pintu masuk” atau ikhtiar awal agar pesan-pesan kebaikan yang disampaikan oleh para ahli ilmu dapat diterima dengan penuh rasa hormat dan keseriusan.

Relevansi untuk Penuntut Ilmu dan Tokoh Agama di Era Digital

Pesan Syekh Nawawi al-Bantani ini terasa semakin relevan jika kita tarik ke dalam realitas abad ke-21. Kita hidup di era kebudayaan visual yang sangat masif. Informasi, ideologi, dan nilai-nilai hidup disebarkan melalui media sosial, layar kaca, dan panggung-panggung publik yang mengandalkan impresi visual dalam hitungan detik.

Baca...  Mengenal Konsep Ahlul Halli Wal Aqdi yang Jadi Usulan Majelis-Majelis di PPP

Dalam era perkembangan teknologi informasi saat ini, nilai keilmuan sering kali berhadapan dengan narasi-narasi instan yang dikemas secara menarik oleh pihak-pihak yang mungkin tidak memiliki kedalaman ilmu, tetapi pandai mengemas penampilan visual.

Jika para ilmuwan sejati, ulama yang mendalam ilmunya, dan para penuntut ilmu yang tekun justru tidak mempedulikan cara mereka mempresentasikan diri, maka ruang publik akan dengan mudah dikuasai oleh mereka yang hanya menang bungkusan tetapi kosong isinya.

Oleh karena itu, menjaga kerapian dan estetika penampilan bagi penuntut ilmu masa kini adalah sebuah strategi dakwah dan bentuk kehati-hatian intelektual. Beberapa langkah konkret yang dapat diambil antara lain:

Pertama, kebersihan dan kerapian otentik. Memastikan pakaian yang dikenakan saat menuntut ilmu atau mengajar selalu bersih, bebas dari bau tidak sedap, dan rapi. Kebersihan adalah manifestasi awal dari kesucian ilmu.

Kedua, kesesuaian konteks (mura’at al-maqam). Mengenakan pakaian yang menghormati majelis. Tampil elegan tidak harus mahal, melainkan tepat guna, santun, dan mencerminkan kedewasaan seorang akademisi atau rohaniwan.

Ketiga, menjaga penampilan digital dan realitas fisik. Di media sosial maupun di dunia nyata, penuntut ilmu hendaknya menampilkan gestur, gaya berbusana, dan bahasa tubuh yang mencerminkan ketenangan (sakinah), bukan keserampangan atau gaya hidup yang hedonistik.

Menyelaraskan Indahnya Batin dan Kerapian Lahir

Petikan kitab “Maraqi al-Ubudiyyah” memberikan pengajaran yang sangat bernilai tentang pentingnya keselarasan antara substansi dan artikulasi visual dalam tradisi keilmuan Islam. Imbauan agar para ulama dan penuntut ilmu mengenakan pakaian yang lebih baik, sorban yang agung, dan busana yang berwibawa dibandingkan dengan orang-orang jahil bukanlah ajakan menuju materialisme atau gaya hidup konsumtif.

Sebaliknya, itu adalah seruan etis untuk menegakkan kewibawaan ilmu (haibat al-ilm). Pakaian yang indah dan rapi adalah “syiar” yang memproklamasikan bahwa ilmu pengetahuan adalah sesuatu yang bernilai tinggi, mulia, dan patut dihormati. Ketika seorang penuntut ilmu merapikan pakaiannya sebelum masuk ke majelis, ia sedang menata hatinya untuk menyambut warisan para nabi.

Syahdan. Pada akhirnya, keindahan lahiriah harus senantiasa ditopang oleh kedalaman batin. Pakaian yang bersih dan anggun harus membungkus hati yang tawadhu’, pikiran yang kritis, dan keikhlasan yang murni.

Dengan memadukan keagungan ilmu di dalam dada dan kerapian penampilan di luar jasad, ilmu akan benar-benar tampil secara qawiyyan azhiman: kuat, berwibawa, dan membawa kemaslahatan yang luas bagi peradaban manusia. Wallahu a’lam bisshawab.

299 posts

About author
Penulis Lepas dan Pemerhati Isu Sosial Politik.
Articles
Related posts
OpiniPolitikSejarah

Andaikan Gus Dur Berhasil Membubarkan DPR: Sebuah Pembacaan Ulang Terhadap Titik Nadir Demokrasi Indonesia

6 Mins read
Sejarah kerap ditulis oleh para pemenang, namun imajinasi politik yang paling membakar kerap lahir dari kekalahan orang-orang besar. Pada dini hari yang…
OpiniSejarahTokoh

Muharram, Haul Hijriah, dan Metafora Kepemimpinan NU: Membaca Ulang Warisan Kiai As’ad dan Gus Dur

8 Mins read
Bulan Muharram dalam konstelasi tradisi Islam bukanlah sekadar penanda pergantian angka dalam kalender Hijriah. Ia adalah muara dari rangkaian memori historis, sebuah…
KeislamanOpini

Hakikat Pertolongan Allah Melalui Doa Nabi Dalam Kitab Al-Azkar Al-Nawawi

5 Mins read
Di panggung kehidupan yang dipenuhi ketidakpastian, manusia sering kali berhadapan dengan “musuh” dalam berbagai wujud. Bagi para sahabat pada masa awal Islam,…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *