Tokoh

Mengenal KH. Baha’uddin Nursalim serta Pemikirannya tentang NU dan Muhammadiyah

2 Mins read

​KULIAHALISLAM.COM – KH. Ahmad Baha’uddin Nursalim atau biasa disapa Gus Baha, lahir pada 15 Maret 1970 di Sarang, Rembang, Jawa Tengah. Gus Baha merupakan putra dari seorang ulama pakar Al-Qur’an dan juga pengasuh Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an LP3IA yang bernama KH. Nursalim al-Hafizh dari Narukan, Kecamatan Kragan, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah.

​Sejak usia dini, Gus Baha mendapatkan pendidikan Al-Qur’an secara langsung oleh ayahnya dengan menggunakan metode tajwid dan makharijul huruf secara disiplin. Hal ini sesuai dengan karakteristik yang diajarkan oleh guru ayahnya, yaitu KH. Arwani Kudus. Kedisiplinan tersebut membuat Gus Baha di usianya yang masih muda mampu menghafalkan Al-Qur’an 30 juz beserta qira’ah-nya.

​Menginjak usia remaja, ayahnya menitipkan Gus Baha untuk mondok dan berkhidmat kepada Syaikhina KH. Maimoen Zubair di Pondok Pesantren Al-Anwar Karangmangu, Sarang, Rembang. Di Pondok Pesantren Al-Anwar inilah keilmuan Gus Baha mulai menonjol, seperti ilmu hadis, fikih, dan tafsir. Dalam ilmu hadis, Gus Baha mampu mengkhatamkan hafalan Sahih Muslim lengkap dengan matan, rawi, dan sanadnya.

​Selain Sahih Muslim, beliau juga mengkhatamkan dan hafal isi kitab Fathul Mu’in serta kitab-kitab gramatika bahasa Arab seperti ‘Imrithi dan Alfiyah Ibnu Malik. Maka, atas dasar kedalaman keilmuan yang dimiliki Gus Baha, hal ini yang kemudian membuat Gus Baha diberi kepercayaan untuk menjadi Rais Fathul Mu’in dan Ketua Ma’arif di jajaran kepengurusan Pesantren Al-Anwar. (Biografi Gus Baha, Bangkitmedia.com)

​Jika kita mencermati dengan saksama tayangan-tayangan kajian Gus Baha via YouTube ataupun Facebook, di banyak kesempatan sering sekali beliau menyebut dua nama ormas terbesar di negeri ini, yaitu Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah.

Baca...  Abu Ja'far al-Mansur Pendiri Daulah Abbasiyah

​Bahkan dalam satu kesempatan, Gus Baha menyatakan dengan sangat terang benderang bahwa dalam konteks Indonesia, jika beliau diminta bergabung kepada suatu ormas, ia hanya akan memilih dua organisasi itu.

​Logika sederhananya, kalau tidak setuju keduanya maka akan lahir ormas ketiga, keempat, kelima, dan seterusnya. Ini bukan semakin mempersatukan, tetapi semakin memperlebar perbedaan dan perpecahan. Banyak ormas baru muncul dengan jargon ingin mempersatukan umat.

​Memang niatnya ingin mempersatukan umat Islam, tetapi pada tataran kaifiyah atau praktiknya, kata Gus Baha, tak lebih hanya sebagai ormas yang mempertajam perbedaan. Apalagi jika tidak ditopang dengan ilmu yang kuat dan hanya lahir dari kekecewaan.

​Ketika kecewa dengan satu ormas lalu mendirikan ormas baru, akhirnya menurut catatan Kemenag, kata Gus Baha, di Indonesia aliran Islam yang terdaftar sudah ada 215 aliran, kan pusing. “Bukankah lebih mudah mempersatukan dua ormas daripada ratusan ormas?” tanya Gus Baha.

​Di samping itu, kita tahu bahwa Rais Syuriah PBNU ini terkenal sangat berpegang pada sanad (mata rantai) keilmuan. Maka memang sepatutnya dua organisasi besar ini yang lebih utama dipilih dan diikuti, karena dua tokoh sentral pendiri NU dan Muhammadiyah, yaitu KH. Ahmad Dahlan dan KH. Hasyim Asy’ari, lahir dari guru yang sama, baik di Indonesia maupun di Makkah al-Mukarramah. (Senayanpost.com)

​Meskipun demikian, Gus Baha tidak pernah melarang siapa pun dari kita memasuki ormas selain dari dua ormas tersebut. Bahkan, beliau juga tidak melarang mendirikan ormas baru jika memang ada di antara kita yang mau melakukan hal tersebut.

​Namun kembali lagi kepada permasalahan persatuan di atas, jika memang tujuannya untuk mempersatukan umat Islam dan menginginkan Islam lebih kuat, maka logikanya adalah lebih mudah mempersatukan dua ormas daripada ratusan ormas.

Baca...  Tsabit bin Qurrah Penerjemah Besar Al-Mutarjim Al-Kabir

​Penulis adalah alumni Pondok Modern Darul Arqam Patean, Kendal.

15 posts

About author
Redaktur Kuliah Al Islam
Articles
Related posts
EsaiFilsafatTokoh

Teo-Humanisme Pluralistik dalam Diskursus Filsafat Gus Dur

6 Mins read
Diskursus mengenai pemikiran Islam modern di Indonesia sering kali terjebak dalam dikotomi rigid antara tradisi teks klasik (turats) dan modernitas Barat. Namun,…
ArtikelSejarahTokoh

Memoar Singkat, Ancaman, dan Misteri Gugurnya Baharuddin Lopa

7 Mins read
“Terlalu banyak orang yang ketakutan jika saya diangkat menjadi Jaksa Agung, sehingga logis jika orang ramai-ramai memotongi saya agar tidak menjadi Jaksa…
KisahOpiniSejarahTokoh

Lentera di Ujung Pulau: Refleksi Teologis dan Sosiologis KH. Syarfuddin Abdus Shomad

7 Mins read
Narasi besar tentang penyebaran Islam di Nusantara sering kali berpusat pada kota-kota besar, pesisir utara Jawa, atau pusat-pusat kesultanan yang megah. Kita…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *