Tokoh

KH. Hasan Mimbar: Menelisik Sejarah Islam di Kota Marmer

3 Mins read

​Penulis: Rifki Adam Ramadhani*

​KULIAHALISLAM.COM – Terkenal sebagai penghasil marmer terbesar di Indonesia, Tulungagung atau yang dulunya dikenal dengan nama Ngrowo menjadi salah satu kota di Jawa Timur yang terkenal akan keindahan alamnya. Letaknya yang berbatasan langsung dengan Samudra Hindia membuat Tulungagung memiliki berbagai jenis pantai yang indah.

​Namun, selain keindahan alam pantainya, Tulungagung juga memiliki banyak tempat bersejarah. Salah satunya adalah Masjid Al-Mimbar yang ada di Desa Majan, Kecamatan Kedungwaru, Kabupaten Tulungagung. Masjid ini menjadi salah satu bukti awal masuknya Islam di Ngrowo pada masa itu.

​Masjid Al-Mimbar dibangun pada tahun 1790 oleh K.H. Hasan Mimbar. Beliau merupakan salah satu penyebar Islam di Tulungagung sekaligus bagian dari keluarga Kesultanan Mataram Islam.

​Masjid ini merupakan masjid tertua di Tulungagung dengan arsitektur khas Kesultanan Mataram. Pada awalnya, bentuk masjid ini masih berupa serambi tanpa dinding. Keunikan masjid yang bertahan sampai sekarang adalah pintu gerbangnya yang tersusun dari batu bata merah dengan bentuk khas gerbang Kesultanan Mataram.

​Nasab K.H. Hasan Mimbar dengan pemimpin Kesultanan Mataram Islam masih sangat kuat. Jika ditarik silsilah keturunannya, Raden K.H. Hasan Mimbar merupakan putra Kiai Ageng Wiroyudo bin Raden Tumenggung Sontoyudo II bin Raden Tumenggung Sontoyudo I bin Raden Mas Ayu Sigit bin Kanjeng Ratu Mas Sekar bin Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Sri Susuhunan Adi Prabu Hanyakrawati Senopati ing Ngalaga Mataram (Sultan kedua Kesultanan Mataram Islam) bin Panembahan Senopati alias Danang Sutawijoyo alias Raden Ngabehi Loring Pasar yang merupakan Sultan pertama Kesultanan Mataram Islam. Banyak juga yang mempercayai bahwa K.H. Hasan Mimbar masih keturunan Nabi Muhammad SAW dari garis keturunan Husain.

Baca...  Paulo Freire: Tiga Proyek Penyadaran Pendidikan Bagi Kaum Yang Tertindas

​Penyebaran agama Islam di Tulungagung oleh K.H. Hasan Mimbar diawali pada abad ke-18 M. Saat itu, Tulungagung masih bernama Ngrowo atau Bonorowo. Beliau diutus oleh Bupati Ngrowo kala itu, Raden Ngabei Mangundirono, atas perintah langsung dari Raja Mataram, Sinuhun Pakubuwono II. Atas jasanya menyiarkan Islam di Ngrowo, K.H. Hasan Mimbar dihadiahi sebidang tanah yang sampai saat ini dikenal sebagai Desa Majan di Tulungagung.

​Selain itu, K.H. Hasan Mimbar juga dihadiahi sebuah pusaka berupa golok oleh Sinuhun Pakubuwono II. Sampai saat ini, pusaka tersebut masih disimpan dan diberi nama Kiai Golok. Dari situlah K.H. Hasan Mimbar kemudian memulai dakwahnya di tanah Ngrowo.

​Penduduk Kadipaten Ngrowo kala itu sebenarnya sudah banyak yang memeluk Islam. Namun, tata cara ibadah mereka masih terpengaruh oleh tradisi dan adat Hindu, bahkan mereka masih melaksanakan upacara-upacara adat Hindu—yang jika pada zaman sekarang mungkin diistilahkan sebagai “Islam KTP”.

​Hal tersebut menjadi tantangan bagi K.H. Hasan Mimbar. Peran beliau di sini adalah memasukkan ajaran-ajaran Islam ke dalam keseharian masyarakat Ngrowo sebagai upaya memisahkan tradisi dengan ajaran yang sesuai syariat Islam. Pada saat yang sama, K.H. Hasan Mimbar melakukan syiar Islam melalui metode kajian kitab dan Al-Qur’an.

​K.H. Hasan Mimbar juga mengajarkan ajaran tauhid dengan berzikir la ilaha illallah, serta mengedukasi masyarakat setempat mengenai sikap seorang hamba kepada Tuhannya, bahwa Allah SWT adalah Tuhan Yang Maha Esa. Penyebaran Islam oleh K.H. Hasan Mimbar di Kadipaten Ngrowo terus berkembang hingga berdirilah sebuah tempat ibadah yang masih berdiri kokoh sampai sekarang dengan nama Masjid Al-Mimbar.

​Tempat ibadah ini menjadi salah satu bukti keberhasilan dakwah K.H. Hasan Mimbar. Keunikannya terlihat pada atap yang berbentuk limas dengan gerbang masuk berupa gapura tersusun dari batu bata merah khas bangunan Kesultanan Mataram Islam.

Baca...  Mengenal Al-Biruni Ilmuwan Muslim

​Sepeninggal K.H. Hasan Mimbar, dakwah diteruskan oleh keturunannya hingga saat ini. K.H. Hasan Mimbar dimakamkan di area Masjid Al-Mimbar di Desa Majan, Kecamatan Kedungwaru, Kabupaten Tulungagung. Pengaruh dakwah Islam beliau di Tulungagung dapat dilihat dari tradisi Grebeg Agung Maulud yang dilaksanakan setiap tanggal 12 Maulud atau bertepatan dengan hari lahir Nabi Muhammad SAW.

​Grebeg berasal dari bahasa Jawa “gambrebeg” yang berarti bunyi keras. Secara sejarah, istilah grebeg ini tercipta ketika K.H. Hasan Mimbar keluar dari pendopo untuk berdakwah bersama masyarakat Tulungagung di Masjid Al-Mimbar. Momen tersebut ditandai dengan dikeluarkannya Kiai Golok pemberian Sri Susuhunan Pakubuwono II sebagai simbol dakwahnya di Kadipaten Ngrowo kala itu.

​Menurut penuturan salah satu warga sekitar bernama Juretno, acara Grebeg Agung Maulud selalu dilaksanakan setiap tahunnya sebagai wujud syukur kepada Allah SWT dan sebagai pengingat perjalanan dakwah K.H. Hasan Mimbar di Kota Tulungagung.

​“Grebeg Agung Maulud dilaksanakan setiap tanggal 12 Maulud bersamaan dengan peringatan Maulid Nabi. Acaranya adalah kirab pusaka Kiai Golok oleh anggota dalem, diawali dengan dipikulnya bedug, kemudian arak-arakan dimulai dari gapura Sentono Dalem menuju Masjid Mimbar diiringi seni bela diri dan rombongan hadrah,” tutur Juretno.

​Masih dari penuturan Juretno, pusaka Kiai Golok dikirab menuju Masjid Mimbar diiringi selawat Nabi untuk dimandikan atau disucikan. “Pemandian yang dimaksud di sini bukan dimandikan dengan air, melainkan pusaka tersebut dikeluarkan dari peti kemudian dibacakan selawat Nabi untuk disucikan,” tambahnya.

​Jejak dakwah K.H. Hasan Mimbar di Tulungagung sampai saat ini masih dilestarikan menjadi sebuah cerita sejarah turun-temurun. Peninggalan berupa Masjid Al-Mimbar serta makam beliau menjadi bukti kuat sejarah dakwahnya.

Baca...  Mengenal Kisah Sulaiman bin Yasar : Tabi’in Tampan Rupawan Serupa Nabi Yusuf AS

​Meskipun catatan sejarah mengenai sosok K.H. Hasan Mimbar belum dipublikasikan secara rinci hingga sekarang, cerita sejarah ini diperkuat dengan adanya keturunan-keturunan beliau yang sampai saat ini masih berdakwah dan melestarikan ajaran Islam di Masjid Al-Mimbar.

​*) Mahasiswa UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung.

2 posts

About author
Mahasiswa
Articles
Related posts
EsaiHukumTokoh

Andaikan Natsir dan Burhanudin Harahap Masih Ada di Antara Kita

4 Mins read
Bayangkan seorang mantan perdana menteri pulang ke rumah kontrakan sederhana selepas turun dari kursi kekuasaan, tanpa iring-iringan, tanpa fasilitas berlebih, dan tanpa…
FilsafatOpiniTokoh

Nalar Kritis Freirean di Tengah Algoritma AI

8 Mins read
Dalam karya monumental “Pedagogy of the Oppressed” (1970), Paulo Freire melontarkan kritik menohok terhadap model pendidikan konvensional yang ia sebut sebagai banking…
EsaiFilsafatTokoh

Paulo Freire dan Humanisasi Pendidikan: Menyingkap Mitos Netralitas, Merawat Kesadaran Kritis

6 Mins read
Pendidikan sering kali didengungkan dalam wacana umum sebagai benteng netral: sebuah institusi luhur yang berdiri bebas dari kepentingan politik, transaksi ekonomi, maupun…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *