Memahami konsep kepemimpinan tidak terlepas dari mempelajari perilaku, karakteristik, dan gaya dari individu yang diserahi tanggung jawab untuk memimpin. Meski dalam penerapannya berbeda antara individu satu dengan lainnya, akan tetapi secara esensi adalah sama, tergantung di mana organisasi itu hidup.
Selain itu, organisasi dalam bentuk apa pun tentunya membutuhkan posisi seseorang untuk memimpin organisasi tersebut. Kepemimpinan sendiri merupakan kemampuan atau kecerdasan seseorang untuk mendorong sejumlah orang agar bekerja sama dalam melaksanakan kegiatan-kegiatan yang terarah pada tujuan bersama.
Untuk dapat melihat konsepsi kepemimpinan, ada beberapa terminologi yang dapat Anda pergunakan. Dilihat dari luasnya substansi kita memandang, maka kepemimpinan itu dapat dilihat dalam arti yang luas dan arti yang sempit.
Dalam pengertian luas, kepemimpinan dapat didefinisikan sebagai berikut:
- Seseorang yang memengaruhi anggota kelompok untuk ikut dengan permintaannya dengan rela atau tidak rela.
- Kemampuan seni (art)/teknik untuk membuat sekelompok orang dengan segala aktivitasnya mengikuti dan menaati segala keinginannya dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Dari pengertian luas ini, kita dapat melihat bahwa pengaruh adalah komponen utama yang harus dimiliki seseorang yang dikatakan sebagai pemimpin. Komponen selanjutnya adalah kepatuhan orang-orang yang dikenai pengaruh tersebut, baik kepatuhan itu karena mengakui atas kepemimpinannya atau tidak rela terhadap apa yang mengenainya.
Seseorang dengan komitmen yang penuh terhadap anggota kelompok dalam mencapai sebuah tujuan. Memimpin bukanlah hak yang dimiliki untuk berbuat semaunya dan mengeruk untung sebanyak-banyaknya. Berikut merupakan pengertian kepemimpinan berdasarkan penuturan para ahli:
Kepemimpinan Perspektif Ahli
Hoyt (dalam Kartono, 1998) memaparkan kepemimpinan adalah kegiatan atau seni memengaruhi orang lain agar mau bekerja sama yang didasarkan pada kemampuan orang lain dalam mencapai tujuan-tujuan yang diinginkan kelompok.
Selanjutnya, lebih mendalam kepemimpinan menurut Young (dalam Kartono, 1998) berpendapat bahwa kepemimpinan adalah bentuk dominasi yang didasari atas kemampuan pribadi yang sanggup mendorong atau mengajak orang lain untuk berbuat sesuatu yang berdasarkan penerimaan oleh kelompoknya dan memiliki keahlian khusus yang tepat bagi situasi yang khusus.
Moejiono (2002) menganggap bahwa kepemimpinan tersebut sebenarnya sebagai akibat pengaruh satu arah karena pemimpin mungkin memiliki kualitas-kualitas tertentu yang membedakan dirinya dan pengikutnya. Para ahli teori sukarela (dalam Moejiono, 2002) menganggap bahwa kepemimpinan sebagai pemaksaan atau pendesakan pengaruh secara tidak langsung dan sebagai sarana untuk membentuk kelompok sesuai dengan keinginan pemimpin.
Menurut Atmosudirdjo (dalam Purwanto, 1990), kepemimpinan dapat dirumuskan sebagai suatu kepribadian seseorang yang mendatangkan keinginan pada kelompok orang-orang untuk mencontohnya atau mengikutinya, atau yang memancarkan suatu pengaruh yang tertentu, suatu kekuatan yang sedemikian rupa sehingga membuat sekelompok orang mau melakukan apa yang dikehendakinya.
Selanjutnya, Haiman (1989) berpendapat bahwa kepemimpinan adalah suatu proses di mana seseorang memimpin, membimbing, direfleksikan dengan jiwa seni. Seni di sini berarti yaitu indah dalam memengaruhi, indah dalam membimbing, dan indah dalam mengarahkan.
Selanjutnya, menurut Atmosudirdjo (1982) dalam bukunya yang berjudul Beberapa Pandangan Umum Tentang Pengambilan Keputusan, menulis kepemimpinan sebagai berikut: “Kepemimpinan adalah kepribadian seseorang yang menyebabkan sekelompok orang lain mencontoh atau mengikutinya. Kepemimpinan adalah kepribadian yang memancarkan pengaruh wibawa, sedemikian rupa sehingga sekelompok orang mau melakukan apa yang dikehendakinya.”
Dari definisi-definisi di atas, kepemimpinan (leadership) memiliki pengertian sebagai kemampuan yang harus dimiliki seseorang pemimpin (leader) tentang bagaimana menjalankan kepemimpinannya sehingga bawahan dapat bergerak sesuai dengan yang diinginkan dalam mencapai tujuan yang ditetapkan sebelumnya. Bergeraknya orang-orang ini harus mengikuti jalur tujuan organisasi yang hendak dicapai dan bukan merupakan hal yang semu dari kepemimpinannya itu. Adapun penggerakan dalam pencapaian tujuan adalah legitimasi dari sebuah kekuasaan yang dimiliki oleh pemimpin, karena bukan merupakan simbol atau kedudukan semata.
Sebagai penggerak suatu kelompok, pimpinan harus melaksanakan kesepakatan-kesepakatan yang dijalin dengan kelompok itu sendiri. Hal-hal yang harus diperhatikan yaitu:
- Memperhatikan secara jelas dan logis posisi, akan membantu orang dalam memahami cara pandang;
- Mendengarkan setiap reaksi orang lain;
- Melibatkan semua dalam diskusi dan menemukan alternatif tentang cara pandang kita;
- Memecahkan perbedaan-perbedaan yang ada dengan argumen-argumen yang benar;
- Tidak mengubah pikiran hanya untuk menghindari konflik;
- Tidak terpaku dengan pilihan situasi win-lose.
Kepemimpinan pada diri seseorang mengandung unsur spesifik di mana seseorang memberikan pengaruh tersebut kepada orang lain, yaitu ikatan dalam bentuk komitmen atas pengaruh yang diberikannya bisa berupa kesamaan dalam menjalankan tanggung jawab, disiplin, dan perilaku lainnya sebagai bagian dari organisasi.
Makna Kepemimpinan
Kepemimpinan adalah kegiatan untuk memengaruhi perilaku orang lain, atau seni memengaruhi perilaku manusia baik perorangan maupun kelompok. Sedangkan menurut Abi Sujak, kepemimpinan adalah kemampuan untuk memengaruhi, menggerakkan, dan mengarahkan suatu tindakan pada diri seseorang atau sekelompok orang, untuk mencapai tujuan tertentu pada situasi tertentu.
Schneider, Donaghy, dan Newman mengemukakan bahwa, “leadership refers to those behavior performed by one or more individuals in the group which helps the group accomplish its goals.” Menurutnya, kepemimpinan mengacu kepada perilaku yang ditunjukkan seseorang atau lebih individu dalam kelompok yang membantu kelompok mencapai tujuannya.
Pengertian lain dikemukakan oleh G.R. Terry dan L.W. Rue yang memandang kepemimpinan sebagai kemampuan seseorang atau pemimpin untuk memengaruhi perilaku orang lain menurut keinginan-keinginannya dalam suatu keadaan tertentu.
Dari beberapa definisi yang dikemukakan di atas, mengandung arti adanya kemampuan memengaruhi orang lain dalam melakukan suatu pekerjaan tertentu. Sedangkan kepemimpinan dakwah oleh H. Zaini Muchtarom memberikan pengertian sebagai suatu sifat atau sikap kepemimpinan yang dimiliki oleh seorang yang menyampaikan dakwah (dai) yang mendukung fungsinya untuk menghadapi publik dalam berbagai situasi.
Ciri-Ciri Pemimpin yang Baik
Dengan demikian, kepemimpinan dakwah merupakan suatu kemampuan khusus yang dimiliki oleh pelaksana dakwah untuk memengaruhi perilaku orang lain sesuai yang diinginkan oleh pelaksana dakwah.
W.A. Gerungan telah mengetengahkan ciri-ciri yang dimiliki oleh kebanyakan pemimpin yang baik. Setiap pemimpin sekurang-kurangnya memiliki tiga ciri, yaitu persepsi sosial, kemampuan berpikir abstrak, dan keseimbangan emosional.
a. Social Perception (Persepsi Sosial)
Social perception adalah kecakapan dalam melihat dan memahami perasaan, sikap, dan kebutuhan untuk memenuhi tugas kepemimpinan. Kecakapan merupakan ciri utama bagi setiap pemimpin, tak terkecuali pemimpin dakwah. Oleh karena itu, kepemimpinan dakwah adalah kemampuan memahami sikap, perasaan, dan kebutuhan orang-orang yang terkait dengan tugas-tugas kepemimpinannya.
b. Ability in Abstract Thinking (Kemampuan Berpikir Abstrak)
Kemampuan berpikir abstrak berarti mempunyai kecerdasan yang tinggi. Seorang pemimpin harus cakap dalam berabstraksi dari segi struktur inteligensia. Hal ini dibutuhkan agar seorang pemimpin mampu menafsirkan kecenderungan-kecenderungan kegiatan di dalam kelompok dan di luar kelompok; kemampuan tersebut memerlukan taraf inteligensia yang tinggi. Para pelaksana dakwah dituntut memiliki kemampuan berpikir abstrak agar segala kecenderungan intern dan ekstern agama Islam mampu ditafsirkan untuk diarahkan pada proporsi sebenarnya.
c. Emotional Stability (Keseimbangan Emosional)
Pada diri seorang pemimpin harus terdapat suatu kematangan emosional yang berdasarkan kesadaran yang mendalam akan kebutuhan-kebutuhan, keinginan-keinginan, cita-cita, dan alam perasaan, serta pengintegrasian kesemuanya itu ke dalam suatu kepribadian yang harmonis. Sebagai pemimpin dakwah, keseimbangan emosi merupakan kepribadian mendasar yang perlu dimiliki.
Sementara itu, Alex S. Nitisemito mengemukakan bahwa seorang pemimpin mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
- Dicintai dan disegani oleh bawahannya. Seorang pemimpin harus mampu memengaruhi anak buahnya, hal ini berarti pemimpin tersebut harus dicintai dan disegani oleh bawahannya. Agar pemimpin dapat dicintai dan disegani, pimpinan harus mempunyai sifat-sifat antara lain: tidak egois, adil (dalam arti memberikan sesuai dengan haknya), jujur (dalam arti tidak menyalahgunakan jabatannya), mempunyai perhatian terhadap bawahannya, serta keteladanan (memberikan contoh yang baik).
- Kemampuannya rata-rata lebih menonjol. Seorang pimpinan agar lebih mampu menjalankan tugas menjadi pimpinan dengan baik, maka dia harus mempunyai sifat-sifat rata-rata lebih menonjol daripada bawahannya. Hal ini berarti pimpinan tersebut harus mempunyai sifat antara lain: penuh tanggung jawab, berpengalaman cukup dalam bidangnya, cerdas (kecerdasan tidak mesti identik dengan pendidikan), penuh inisiatif dan kreatif, serta sehat jasmani dan rohani.
- Mampu mengarahkan dan menggerakkan bawahan. Seorang pimpinan harus mampu mengarahkan dan menggerakkan bawahannya. Hal ini berarti pimpinan tersebut harus mempunyai sifat-sifat tertentu antara lain: mampu memotivasi bawahannya, mampu memilih pembantu-pembantu yang tepat dan menempatkan pada tempat-tempat yang tepat, mampu menciptakan komunikasi dua arah, pengetahuan tentang hubungan manusia cukup luas, berwibawa, serta mempunyai kestabilan dalam emosi.
Sedangkan Sondang P. Siagian (sebagaimana dikutip oleh Susilo Martoyo) mengemukakan sejumlah persyaratan yang pada dasarnya sekaligus merupakan ciri-ciri kepemimpinan sebagai berikut:
Pendidikan umum yang luas, kemampuan berkembang secara mental, ingin tahu, kemampuan analitis, memiliki daya ingat yang kuat, kapabilitas integratif, kemampuan berkomunikasi, keterampilan mendidik, rasionalitas dan objektivitas, pragmatis, sense of urgency, sense of timing, sense of cohesiveness, sense of relevance, kesederhanaan, keberanian, kemampuan mendengar, serta adaptabilitas dan fleksibilitas dan ketegasan.
Ciri kepemimpinan dakwah tersebut merupakan ciri minimal yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin, termasuk pemimpin dakwah.
Fungsi Pokok Kepemimpinan Dakwah
Terdapat banyak teori tentang fungsi kepemimpinan yang telah ditampilkan oleh para pakar. Dari teori-teori tersebut, akan diramu dengan menyesuaikan pada fungsi pokok kepemimpinan dakwah. Fungsi pokok kepemimpinan dakwah yang dimaksudkan adalah:
1. Sebagai Teladan yang Baik
Sebagai pemimpin, ia harus mampu menjadi figur terdepan di dalam cara hidup, sifat, sikap, dan tindak-tanduknya sehari-hari kepada masyarakat, terutama kepada orang yang dipimpinnya. Pemimpin dakwah merupakan pemimpin dari segala tindak-tanduk dan penyuluh di tengah-tengah masyarakat. Oleh karena itu, pemimpin dakwah harus mampu menjadi teladan yang baik dalam pola aturan terhadap anggotanya atau masyarakatnya.
2. Sebagai Pemersatu atau Penengah
Pemimpin sebagai penengah atau pelerai sudah dikenal sejak dahulu kala. Dalam masyarakat modern, tanggung jawab keadilan terletak di tangan pemimpin dengan keahliannya yang khas dan ditunjuk secara khusus, misalnya pengadilan. Di dalam Al-Qur’an, manusia diperingatkan oleh Allah untuk tidak bersikap bermusuh-musuhan karena mereka egois dan serakah. Oleh karena itu, tugas pemimpin dakwah adalah mempersatukan mereka sebagaimana petunjuk Allah dalam QS. Al-Hujurat (49): 9:
“Dan jika ada dua golongan dari orang-orang mukmin berperang, maka damaikanlah antara keduanya. Jika salah satu dari kedua golongan itu berbuat aniaya terhadap golongan yang lain, maka perangilah golongan yang berbuat aniaya itu sehingga golongan itu kembali kepada perintah Allah; jika golongan itu telah kembali (kepada perintah Allah), maka damaikanlah antara keduanya dengan adil dan berlaku adillah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.”
Keterangan di atas menegaskan bahwa Allah membenci orang-orang yang memutuskan silaturahmi. Oleh karena itu, tugas pemimpin dakwah adalah mendamaikannya, karena ia berfungsi sebagai penengah atau pemersatu.
3. Sebagai Penganjur
Pemimpin dakwah sebagai pengarah opini menjadi orang penting di masyarakatnya. Penganjur adalah sejenis pemimpin yang memberi inspirasi kepada orang lain, di mana ia mampu bergaul dan fasih berbicara.
4. Sebagai Penasihat
Setiap orang muslim adalah penasihat bagi orang lainnya. Sebagai pemimpin, dia harus memberi nasihat kepada pengikutnya agar mereka selalu berbuat baik dan meninggalkan kemungkaran.
Keempat fungsi pokok kepemimpinan dakwah tersebut kiranya dapat mewakili fungsi kepemimpinan yang lain, tanpa mengurangi keberadaan fungsinya sebagai fungsi kepemimpinan dakwah.
Syarat-Syarat Kepemimpinan Dakwah
Untuk mengemukakan syarat minimal yang harus dipunyai oleh seorang pemimpin dakwah, kita harus kembali melihat pengertian kepemimpinan dakwah, yaitu suatu sifat atau sikap kepemimpinan yang dimiliki oleh seorang yang menyampaikan dakwah (dai) yang mendukung fungsinya untuk menghadapi publik dalam berbagai situasi.
Kesimpulan
Dari pengertian di atas, dapat dicatat tentang kemampuan seorang pemimpin. Pemimpin tersebut harus dapat meyakinkan orang lain mengenai gagasan, konsep, atau rencana yang dibuatnya, sehingga orang lain akan secara sukarela mengikuti gagasannya.
Berdasarkan pengertian tersebut, maka ia pun tidak terlepas dari syarat-syarat yang diperlukannya. Syarat minimal yang harus dimiliki adalah:
- Watak yang baik atau kesiapan mental;
- Inteligensia yang tinggi atau kemampuan intelektual;
- Kesiapan lahir batin atau kemampuan fisik.
Ketiga syarat minimal bagi pemimpin dakwah ini sesuai dengan firman Allah dalam QS. Al-Baqarah (2): 247:
“Nabi mereka mengatakan kepada mereka: ‘Sesungguhnya Allah telah mengangkat Thalut menjadi rajamu.’ Mereka menjawab: ‘Bagaimana Thalut memerintah kami, padahal kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan daripadanya, sedangkan dia pun tidak diberi kekayaan yang banyak?’ (Nabi mereka) berkata: ‘Sesungguhnya Allah telah memilihnya menjadi rajamu dan menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa.’ Allah memberikan pemerintahan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Luas pemberian-Nya lagi Maha Mengetahui.”
Inti dari tugas pemimpin pada umumnya ialah memengaruhi orang-orang yang di sekitarnya atau di sekelilingnya, agar orang-orang itu mau dan suka diantar/mengikuti jejak pemimpin ke suatu tujuan tertentu. Tugas mengantar atau menyepuhi (sesepuh/tetua) bermakna agar orang-orang yang ada di sekelilingnya atau para pengikut/bawahannya suka dan mau mengikuti saran-saran, petunjuk-petunjuk, dan menerima pendapat atau pemikiran yang diberikan oleh pimpinannya.
Oleh karena itu, tugas seorang pemimpin dalam arti kepemimpinan dakwah betul-betul merupakan tugas yang sangat besar dan mulia. Tugas ini tidak dapat dipikul oleh semua orang, karena selain tugasnya yang berat, ada juga tanggung jawab besar untuk menggerakkan dan memengaruhi orang lain secara sukarela—sebuah tanggung jawab dunia dan akhirat. Itulah salah satu hal yang tidak semua orang mampu melakukannya.

