Sudah jelas bahwa sifat kikir memiliki tingkatan. Tingkat yang paling tinggi menunjukkan ketidakmampuan seseorang untuk memenuhi kewajibannya, seperti mengeluarkan zakat, memberikan nafkah kepada keluarga, hingga memuliakan tamu.
Dalam sebuah riwayat, Rasulullah saw. bertanya kepada Bani Lihyan, “Siapakah pemimpin kalian?” Mereka menjawab, “Jad bin Qais.” Rasulullah bertanya lagi, “Manakah yang lebih pelit antara Amr ibn Al-Jamuh dan Jad bin Qais?”
Pada riwayat lain, Bani Lihyan menjelaskan bahwa mereka menjadikan Jad bin Qais sebagai pemimpin karena ia kaya, meski mereka mencurigai sifat pelitnya. Mendengar hal itu, Rasulullah saw. bersabda: “Penyakit apa yang lebih parah daripada sifat pelit? Karena itu, dia bukanlah pemimpin.” Rasulullah kemudian menunjuk sosok lain, “Ibn Al-Barok adalah pemimpin kalian.”
Sifat Kikir dalam Perspektif Hadis
Diriwayatkan oleh Sayyidina Ali ra., Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya orang yang pelit atau bakhil tidak disukai oleh Allah swt.”
Bahkan dalam riwayat Abu Hurairah ra., Rasulullah saw. menegaskan: “Orang yang bodoh tetapi dermawan lebih disukai oleh Allah swt. daripada ahli ibadah tetapi pelit.” Hal ini menunjukkan bahwa kedermawanan memiliki nilai sosial dan spiritual yang sangat tinggi di mata Allah.
Beberapa poin penting dari sabda Rasulullah saw. mengenai sifat ini antara lain:
- Iman dan sifat pelit tidak mungkin bersatu di dalam hati seorang mukmin.
- Dua akhlak yang tidak akan berkumpul pada diri mukmin adalah sifat pelit dan tabiat buruk.
- Seorang mukmin sejati tidak seyogianya menjadi penakut sekaligus pelit.
Bahkan, Rasulullah saw. menyanggah anggapan manusia dengan bersabda: “Ada di antara kalian yang berkata bahwa orang pelit lebih bisa dimaklumi daripada orang zalim. Tahukah kalian? Tidak ada yang lebih zalim daripada orang yang pelit, dan Allah swt. tidak akan memasukkan orang pelit ke dalam surga.”
Dialog Rasulullah dengan Pria di Tirai Kakbah
Dalam sebuah hadis panjang, dikisahkan seorang pria bergantungan di tirai Kakbah sambil berdoa, “Demi kehormatan Kakbah ini, ya Allah, ampunilah aku.”
Rasulullah saw. bertanya, “Apa dosamu? Ceritakanlah.” Pria itu menjawab bahwa dosanya terlalu besar hingga tak sanggup ia ceritakan. Rasulullah terus mengejar dengan perbandingan, “Apakah dosamu lebih besar dari bumi, gunung-gunung, atau lautan?” Pria itu tetap menjawab, “Dosaku lebih besar.”
Akhirnya pria itu mengaku, “Wahai Nabi! Sesungguhnya aku orang kaya, namun jika ada peminta-minta datang, aku melihatnya seolah membawa obor yang hendak membakarku.”
Mendengar hal itu, Rasulullah saw. bersabda: “Menjauhlah dariku! Jangan sampai api pelitmu mengenaku. Jika engkau berdiri di pojok rukun iman dan maqam Ibrahim, lalu salat selama sejuta tahun dan menangis hingga air matamu menjadi sungai, namun engkau wafat sebagai orang pelit, maka Allah swt. akan menyungkurkanmu ke dalam neraka.”
Kikir sebagai Bentuk Kekufuran
Gus Ulil menjelaskan bahwa kaitan antara pelit dan kekafiran di sini bukanlah soal akidah, melainkan kekufuran atas nikmat (tidak mau bersyukur). Hal ini sejalan dengan firman Allah swt. dalam Al-Qur’an:
“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.’” (QS. Ibrahim [14]: 7).
Rasulullah saw. juga bersabda bahwa sifat pelit muncul dari dalam hati. Barangsiapa yang jiwanya terlindungi dari sifat kikir, maka merekalah orang-orang yang beruntung.
Penutup: Larangan Kikir dalam Al-Qur’an
Sifat kikir adalah perilaku tercela yang dibenci Allah swt. Sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an:
“Dan jangan sekali-kali orang-orang yang kikir dengan apa yang diberikan Allah kepada mereka dari karunia-Nya, mengira bahwa (kikir) itu baik bagi mereka, padahal (kikir) itu buruk bagi mereka. Apa (harta) yang mereka kikirkan itu akan dikalungkan (di lehernya) pada hari Kiamat…” (QS. Ali Imran [3]: 180).
Serta dalam ayat lain: “(yaitu) orang yang kikir, dan menyuruh orang lain berbuat kikir, dan menyenyembunyikan karunia yang telah diberikan Allah kepadanya. Kami telah menyediakan untuk orang-orang kafir azab yang menghinakan.” (QS. An-Nisa’ [4]: 37).
Wallahu a’lam bisshawaab.

