Filsafat

Eksistensi dan Otentisitas Filsafat Islam: Antara Warisan dan Ciptaan

2 Mins read

Dalam panggung sejarah peradaban manusia, filsafat Islam menempati posisi unik ia lahir dari rahim wahyu namun tumbuh dalam pelukan akal. Ia dibentuk oleh dinamika keilmuan Islam, sekaligus berdialog aktif dengan tradisi intelektual dunia.

Namun, keberadaannya tak luput dari perdebatan, bahkan penolakan. Sebagian orientalis Barat memandang filsafat Islam tak lebih dari bayang-bayang filsafat Yunani, semacam repetisi ide Aristoteles yang diterjemahkan ke dalam bahasa Arab.

Pandangan ini, meskipun populer di abad ke-19, kini mulai dikoreksi oleh banyak pemikir, baik dari kalangan Timur maupun Barat. Pada hakikatnya, filsafat Islam bukanlah salinan, melainkan sintesis. Ia bukan tiruan, tetapi tafsir.

Para filosof Muslim seperti Al-Kindi, Al-Farabi, Ibn Sina, hingga Mulla Shadra, tidak sekadar menyalin pemikiran Yunani, tetapi menimbangnya dengan timbangan wahyu, lalu menyusunnya kembali menjadi sistem pemikiran yang khas Islami.

Mereka tidak menelan mentah-mentah warisan logika dan metafisika Yunani, melainkan mengolahnya, menguji kesesuaiannya dengan nilai-nilai tauhid, dan menjadikannya alat untuk memahami hakikat alam semesta, manusia, dan Tuhan.

Keunikan filsafat Islam terletak pada karakter ganda yang dimilikinya rasional sekaligus spiritual. Jika filsafat Barat modern sering menekankan pada pemisahan antara akal dan iman, filsafat Islam justru menyatukannya.

Dalam pandangan Islam, akal adalah anugerah Tuhan untuk memahami kebenaran; bukan sebagai pengganti wahyu, tetapi sebagai jembatan untuk menafsirinya. Oleh karena itu, pemikiran filosofis Islam senantiasa berjalan di antara dua poros: wahyu sebagai fondasi, dan rasio sebagai alat penggalian makna.

Dalam sejarahnya, filsafat Islam berkembang dalam berbagai aliran, masing-masing menawarkan pendekatan yang khas terhadap realitas. Aliran Peripatetik (Masya’i) mengambil pendekatan logis dan sistematis, sebagaimana terlihat dalam karya-karya Ibn Sina.

Sementara aliran Isyraqi atau iluminatif, yang dipelopori oleh Suhrawardi, lebih mengedepankan intuisi dan pengalaman batin sebagai jalan pengetahuan. Aliran Irfani atau filsafat mistik menyatu dalam praktik tasawuf, menjadikan pengalaman langsung dengan Tuhan sebagai inti pencarian hakikat.

Dan akhirnya, Hikmah Muta‘aliyah, yang dikembangkan oleh Mulla Shadra, menjadi puncak sintesis dari semua pendekatan tersebut menggabungkan nalar logis, intuisi spiritual, dan pengalaman mistik dalam satu kesatuan pemikiran yang elegan.

Meski filsafat Islam mengalami masa keemasan terutama pada abad ke-9 hingga ke-12 Masehi, di bawah kekuasaan Abbasiyah ia tak pernah benar-benar lepas dari tantangan.

Selain kritik internal dari kalangan ulama yang mencurigai akal sebagai pintu bid‘ah, ia juga mendapat tekanan dari luar, terutama dari para orientalis yang memandang inferioritas bangsa Semit dalam berpikir filosofis.

G.T. Tennemann dan Ernest Renan, misalnya, menyebut bahwa bangsa Arab tak memiliki kapasitas untuk menciptakan filsafat murni, melainkan hanya menjadi perantara antara Yunani dan Barat.

Namun, anggapan ini ditolak oleh orientalis abad ke-20 seperti L. Gauthier dan Max Horten. Mereka mengakui bahwa filsuf Muslim bukan hanya menyalurkan, tetapi juga menciptakan pemikiran baru yang bernilai universal. Bahkan, Max Horten menyebut bahwa filsafat Islam memiliki keaslian karena ia lahir dari keimanan yang mendalam terhadap kebenaran wahyu (Nasser, 2003).

Hari ini, tantangan yang dihadapi filsafat Islam bukan lagi tuduhan imitasi, tetapi justru alienasi di tengah umat Islam sendiri. Filsafat dianggap asing, sulit, dan tidak praktis. Ia dituduh tidak membawa manfaat ekonomi, bahkan dianggap bertentangan dengan ajaran agama.

Namun kenyataannya, sejarah membuktikan bahwa puncak peradaban Islam tidak pernah lepas dari puncak kejayaan filsafat. Al-Qur’an sendiri memerintahkan umatnya untuk berpikir, merenung, dan bertanya. Maka, mustahil membangun peradaban tanpa membuka kembali ruang filsafat sebagai jalan berpikir kritis dan reflektif.

Dalam kesimpulannya, filsafat Islam adalah cerminan dari usaha umat Islam dalam menyatukan wahyu dan akal, iman dan logika, dunia dan akhirat. Ia bukanlah warisan Yunani yang di Arabisasi, tetapi merupakan jalan pencarian yang otentik dan dinamis, yang terus berkembang sesuai dengan zamannya. Filsafat Islam bukan saja ada, tetapi juga hidup sepanjang masih ada umat Islam yang bertanya, mencari, dan berpikir demi meraih hikmah.

Referensi

  1. Adib, M. (2010). Filsafat Ilmu. Pustaka Pelajar.
  2. Ahmadi, A. (1982). Filsafat Islam. Toha Putra.
  3. Gholib, A. (2009). Filsafat Islam . Faza Media.
  4. Mufid. (2019). “Sumber-Sumber Filsafat Islam”, Jurnal Yaqzhan, Vol. 5 No. 2.
  5. Nasser, S.H. (2003). Ensiklopedi Tematik Filsafat Islam. Mizan.
  6. Raziq, M. (1955). Kompilasi Tiyarikhi Falsafati Islam .
  7. Syafrinal, dkk. (2022). El-Fikr: Jurnal Aqidah dan Filsafat Islam, Vol. 3 No. 2.
  8. Wulf, M. de. Sejarah Filsafat .
Summary
5 posts

About author
Mahasiswa STAI Syubbanul Wathon Magelang
Articles
Related posts
EsaiFilsafatKeislaman

Menjadi Pribadi Muslim Modern: Berpikir Irfani, Bertindak Burhani, Beramal Bayani

2 Mins read
KULIAHALISLAM.COM- Kita hidup sebagai manusia yang bersosialisasi dalam berbagai generasi dengan karakteristik dan cara berpikir yang berbeda-beda. Dari generasi Baby Boomers hingga…
EsaiFilsafatKeislaman

Muslim dan Politik, Antara Hitam dan Putih?

2 Mins read
KULIAHALISLAM.COM-Dahulu, ketika SMA, saya pernah menemukan kawan yang berpandangan bahwa politik itu kotor. Politik menurutnya adalah tempat para munafik bersatu hanya untuk…
EsaiFilsafatOpini

Sengkarut Hedonisme, Akar dari Kriminalitas?

2 Mins read
KULIAHALISLAM.COM- Hedonisme, secara etimologi berasal dari kata Yunani “hedone” yang berarti kesenangan. Menurut Epicurus (yang menjadi sumber pencerahan Karl Marx dan John…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

×
Berita

23 Tahun Perjalanan Lazismu Mengabdi, Merajut Asa untuk Kesejahteraan Semua

Verified by MonsterInsights