Keislaman

Doktrin Al-Wa’du wa Al-Wa’id dalam Tafsir Al-Kasysyaf: Memahami Keadilan Tuhan

3 Mins read

Dalam kehidupan sehari-hari, kita selalu berhadapan dengan konsep janji dan peringatan. Ternyata, pola ini juga hadir dalam teologi Islam melalui doktrin al-wa‘du wa al-wa‘īd. Tujuannya bukan sekadar untuk menakut-nakuti, melainkan untuk membimbing manusia ke jalan yang benar.

​Imam Az-Zamakhsyari dalam kitabnya, Tafsir Al-Kasysyaf, menjelaskan konsep ini secara tegas dan rasional. Ia menegaskan bahwa janji dan ancaman Allah SWT adalah bagian tak terpisahkan dari keadilan-Nya. Oleh karena itu, memahami doktrin ini berarti memahami keseimbangan antara harapan (raja’) dan kehati-hatian (khauf).

Mengenal Sosok Imam Az-Zamakhsyari dan Tafsir Al-Kasysyaf

​Nama lengkapnya adalah Mahmud bin Amr al-Khawarizmi, namun ia lebih dikenal sebagai Imam Az-Zamakhsyari. Beliau lahir di Zamakhsyar pada 27 Rajab 467 H (18 Maret 1075 M). Ia memiliki julukan (kunyah) Abu al-Qasim dan bergelar “Jarullah” (Tetangga Allah) karena pernah bermukim cukup lama di dekat Ka’bah, Makkah.

​Imam Az-Zamakhsyari berasal dari keluarga sederhana namun taat agama. Ayahnya adalah seorang imam kampung yang dikenal zuhud dan wara’. Lingkungan religius inilah yang membentuk karakter spiritual dan kecintaannya pada ilmu sejak dini. Sejak kecil, ia telah menghafal Al-Qur’an dan menunjukkan minat yang kuat pada bahasa Arab serta kajian keislaman.

​Ketertarikannya yang mendalam pada ilmu mendorongnya merantau ke Khawarizm. Di sana, ia belajar kepada para masyayikh hingga menguasai berbagai disiplin ilmu, mulai dari Ushul Fiqh, Hadis, Tafsir, Kalam, Mantik, hingga Filsafat.

​Masa mudanya diuji dengan cobaan berat ketika satu kakinya harus diamputasi akibat penyakit. Namun, hal itu tidak menyurutkan semangat belajarnya. Ia melanjutkan perjalanan ilmiah ke Baghdad dan berbagai kota lain, berguru kepada ulama besar seperti Abu al-Khaththab ibn al-Bathi dan Abu Manshur al-Haritsi.

Baca...  Benarkah Tafsir Ibadiyah Eksklusif? Bedah Kitab Hamyan Al Zad

​Puncak reputasinya ditandai dengan lahirnya karya monumental, Tafsir Al-Kasysyaf. Kitab ini menjadi salah satu rujukan paling berpengaruh dalam sejarah Islam, khususnya karena keunggulan analisis linguistiknya. Sebagai pendukung mazhab Mu’tazilah di tengah gejolak politik dunia Islam kala itu, pemikirannya tetap relevan dan dikaji hingga hari ini.

Memahami Inti Doktrin Al-Wa‘du wa Al-Wa‘īd

​Dalam teologi Mu’tazilah, konsep al-wa‘du wa al-wa‘īd menempati posisi yang sangat vital. Secara bahasa, Al-wa’ad adalah janji Allah berupa pahala dan kebaikan bagi orang yang taat. Sebaliknya, al-wa’id adalah ancaman siksa bagi mereka yang berbuat maksiat.

​Menurut Az-Zamakhsyari dan para tokoh Mu’tazilah, Allah SWT pasti berpegang teguh pada janji dan ancaman-Nya. Hal ini merupakan konsekuensi logis dari keadilan-Nya. Mereka berpendapat bahwa mustahil bagi Allah melanggar ketetapan yang telah Dia buat sendiri, karena hal tersebut akan bertentangan dengan sifat Maha Adil-Nya.

​Sebagai analogi sederhana, bayangkan seorang guru yang sangat adil. Tentu guru tersebut tidak akan sembarangan membatalkan aturan atau nilai yang sudah ia tetapkan di awal semester. Begitu pula dengan Allah sebagai Dzat Yang Maha Adil; Dia pasti menepati janji surga dan ancaman neraka-Nya. Doktrin ini menegaskan kepastian hukum Tuhan bagi makhluk-Nya.

Penafsiran Az-Zamakhsyari Terhadap Q.S. Yunus Ayat 26

​Penerapan doktrin ini terlihat jelas saat Az-Zamakhsyari menafsirkan Surah Yunus ayat 26:

​۞ لِلَّذِيْنَ اَحْسَنُوا الْحُسْنٰى وَزِيَادَةٌ ۗوَلَا يَرْهَقُ وُجُوْهَهُمْ قَتَرٌ وَّلَا ذِلَّةٌ ۗاُولٰۤىِٕكَ اَصْحٰبُ الْجَنَّةِ هُمْ فِيْهَا خٰلِدُوْنَ

Artinya:

“Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (al-ḥusnā) dan tambahan (ziyādah). Wajah mereka tidak ditutupi debu hitam dan tidak pula kehinaan. Mereka itulah penghuni surga, mereka kekal di dalamnya.”

Baca...  Antara Kehendak Tuhan dan Pilihan Manusia: Pandangan Muhammad bin Yusuf al-Athfisy

​Dalam tafsirnya, Az-Zamakhsyari menjelaskan bahwa kata “al-ḥusnā” bermakna balasan yang paling baik, yaitu surga. Sementara itu, “ziyādah” dimaknai sebagai tambahan dari pahala tersebut, yakni karunia dan keutamaan lain yang Allah berikan melampaui ganjaran utama.

Perdebatan Makna “Al-Ḥusnā wa Ziyādah”

​Makna frasa “pahala terbaik dan tambahan” dalam ayat ini memicu ragam penafsiran di kalangan ulama:

  • Ali bin Abi Thalib: Menafsirkan ziyādah sebagai kamar di surga yang terbuat dari satu mutiara besar.
  • Ibnu Abbas: Mengartikan al-ḥusnā sebagai pahala standar, sedangkan ziyādah adalah pelipatgandaan pahala hingga sepuluh kali lipat.
  • Al-Hasan al-Bashri: Berpendapat bahwa tambahan tersebut berkisar antara sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat pahala.
  • Mujahid: Menyatakan bahwa ziyādah adalah ampunan dan keridhaan Allah.
  • Yazid bin Syajarah: Menggambarkan ziyādah sebagai awan yang melewati penghuni surga dan menurunkan apa pun yang mereka minta.

​Di sisi lain, kelompok Musyabbihah dan Jabariyah memiliki pandangan berbeda. Mereka menafsirkan ziyādah sebagai kenikmatan melihat wajah Allah. Pendapat ini didasarkan pada hadis masyhur riwayat Muslim, Tirmidzi, dan Ibnu Majah, yang berbunyi:

“Ketika penghuni surga telah masuk ke dalam surga, diseru: ‘Wahai para penghuni surga!’ Lalu hijab dibuka, dan mereka pun melihat Allah. Demi Allah, tidak ada anugerah yang lebih dicintai mereka melebihi itu.”

​Terlepas dari perbedaan tafsir mengenai bentuk ziyādah—apakah berupa pahala tambahan, ampunan, atau kedekatan spiritual (melihat Allah)—inti dari ayat ini selaras dengan doktrin al-wa‘du wa al-wa‘id. Az-Zamakhsyari ingin menekankan bahwa janji Allah pasti ditepati, dan rahmat-Nya akan hadir dengan kemurahan yang jauh melampaui bayangan manusia.

Daftar Pustaka

  • ​Al-Khawārizmī, Abu al-Qāsim Jārullāh Maḥmūd bin ‘Umar. Tafsir Al-Kasyyaf. (n.d.).
  • ​Tim Penulis. “Biografi Lengkap Imam Az-Zamakhsyari”. Jurnal Sejarah dan Pemikiran Islam. (n.d.): 1–20.
  • ​Mahmud, dkk. “Bab III: Biografi Imam Al-Zamakhsyari”. (n.d.): 42–63.
  • ​Tim Riset. “Mu’tazilah: Sejarah dan Perkembangannya”. (n.d.).
Related posts
Keislaman

Tuhan sebagai Sumber Pengetahuan Terpercaya: Perspektif Epistemologi Islam

4 Mins read
Sebagai makhluk theomorfis, manusia memiliki sesuatu yang agung di dalam dirinya, yaitu akal, kehendak bebas (free will), dan kemampuan berbicara. Akal membawa…
Keislaman

Di Balik Mukjizat Isra Mi'raj: Pesan Penghiburan Bagi Hati yang Luka

4 Mins read
Mari kita selami kisah agung Isra Mi’raj. Bukan sekadar perjalanan kilat, melainkan sebuah oase di tengah gurun kesedihan, sebuah pelukan Ilahi yang…
Keislaman

Berdirinya Dan Runtuhnya Kesultanan Riau

2 Mins read
Kuliahalislam.Kesultanan Riau merupakan Kesultanan yang terletak di Kepulauan Riau. Kesultanan ini adalah pecahan sekaligus lanjut dari Kesultanan Johor-Riau (Kesultanan Johor) yang berpusat…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

×
Keislaman

I’jaz Al-Qur’an: Mengapa Satu Surah Saja Tak Mampu Ditandingi?

Verified by MonsterInsights