Dalam imajinasi kolektif masyarakat, figur santri dan orang yang menekuni jalan keilmuan spiritual kerap dipenjarakan dalam roman kelabu asketisme yang keliru. Ada prasangka implisit yang menganggap bahwa semakin kumal pakaian seorang penuntut ilmu, semakin lusuh penampilannya, dan semakin nelangsa hidupnya, maka semakin dekat pulalah ia dengan kesucian jiwa. Kemelaratan kerap kali disalahartikan sebagai zuhud, dan penderitaan fisik diidentikkan secara gegabah dengan kedalaman spiritual.
Padahal, jika kita menyelami hakikat eksistensi ilmu, penafsiran semacam itu bukan saja sebuah ketersesatan ontologis, melainkan sebuah bentuk peremehan terhadap harkat keilmuan itu sendiri. Ilmu adalah pendar cahaya ilahi, sebuah amanah transendental yang memiliki martabat amat luhur. Bagaimana mungkin sesuatu yang begitu agung disajikan dalam wujud yang tampak “melas”, merana, tak berdaya, dan memancing belas kasihan manusia?
Ketika seorang penuntut ilmu berpenampilan melas dan menyerah pada sikap meminta-minta (baik secara eksplisit maupun implisit melalui gestur ketersingkiran) ia sesungguhnya sedang merendahkan ilmu yang dibawanya di hadapan kecongkangan dunia. Keharusan seorang santri untuk berpenampilan gagah dan berkecukupan bukanlah wujud kesombongan eksistensial, melainkan bentuk pertahanan diri (hifdzul marwah) agar ilmu tidak diposisikan sebagai peminta-minta di hadapan kekuasaan atau kekayaan materi.
Kedaulatan Diri dan Estetika Eksternal: Menemukan “Gagah” dalam Keberadaan
Makna “gagah” dalam konteks ini menembus batasan superfisial dari sekadar pakaian mahal atau perhiasan yang mencolok. Gagah adalah wujud konkret dari kedaulatan jiwa (izzatun nafs). Ia adalah artikulasi visual dari rasa hormat seseorang terhadap amanah keimanan dan keilmuan yang bersemayam dalam dirinya. Ketika seorang santri berjalan dengan dada tegap, pakaian yang bersih dan rapi, dan memancarkan wibawa, ia sedang memproklamirkan bahwa ilmu pengetahuan tidak berada di bawah ketiak siapa pun.
Lawan dari kekesatriaan ini adalah penampilan melas; sebuah kondisi visual dan mental yang memancarkan ketidakberdayaan dan ketergantungan. Penampilan melas mengundang kasihan, dan rasa kasihan dari manusia kerap kali berujung pada rasa superioritas dari sang pemberi. Ketika ilmu dipandang dengan rasa kasihan, hirarki kebenaran telah terbalik: sang pemegang modal merasa lebih tinggi daripada sang pemegang kebenaran.
Estetika eksternal seorang santri adalah benteng pertahanan pertama bagi ilmu yang dipelajarinya. Penampilan yang rapi, bersih, dan berwibawa memancarkan sinyal bahwa pemiliknya adalah pribadi yang selesai dengan dirinya sendiri, pribadi yang menghargai keindahan sebagaimana Tuhan menyukai keindahan. Pakaian yang gagah adalah selubung yang melindungi nilai kebenaran agar tidak diremehkan oleh mata duniawi yang sering kali hanya mampu menilai realitas dari kulit luar.
Membaca Matan Asy-Syatibi: Harta dan Kedudukan sebagai Benteng Independensi
Pernyataan monumental dari Imam Asy-Syatibi mengkristalkan dialektika ini secara sangat tajam:
قال الامام الشاطبي : لابد للعالم من المال والجاه حتى لا يظل لأحد ولا يحتاج لأحد
Artinya: “Seorang alim (orang berilmu) harus memiliki harta dan kedudukan (status sosial) agar tidak direndahkan oleh siapa pun dan tidak bergantung kepada siapa pun.”
Gagasan Imam Asy-Syatibi ini bukanlah bentuk glorifikasi terhadap materialisme atau pragmatisme sekuler. Sebaliknya, ini adalah kearifan sosiologis dan epistemologis yang sangat mendalam. Beliau memahami dengan sangat presisi bagaimana struktur sosial manusia bekerja. Di dunia realitas tempat manusia berpijak, hukum-hukum sosial sering kali berjalan di atas fondasi kekuasaan materi dan status.
Harta (al-mal) dan kedudukan (al-jah) dalam pandangan ini bukanlah tujuan akhir dari perjalanan spiritual, melainkan instrumen perlindungan (wisayagir). Tanpa kecukupan harta, seorang penuntut ilmu atau alim akan rentan terjerat dalam perangkap kebutuhan dasar yang memaksanya menggadaikan idealisme. Tanpa posisi sosial yang memadai, suara kebenaran yang dinyatakannya mudah dibungkam atau diabaikan oleh mereka yang memegang tampuk kekuasaan materi.
Kebutuhan akan harta dan kedudukan bagi seorang penuntut ilmu adalah kebutuhan akan kedaulatan. Ketika seorang alim memiliki kemandirian finansial dan pengaruh sosial, ia tidak lagi perlu membungkuk di hadapan para dermawan yang pongah. Ia tidak perlu mengubah fatwa atau melunakkan kebenaran hanya demi mencari simpati para pemegang modal. Harta menjadi perisai yang menjaga agar lisan sang alim tetap merdeka dan pikirannya tetap murni dari intervensi kepentingan profan.
Transformasi Ontologis: Dari Mentalitas Meminta ke Digdaya Memberi
Budaya ketergantungan atau mentalitas meminta-minta (ngemis-ngemis) adalah racun mematikan bagi integritas moral seorang santri. Meminta-minta bukan sekadar tindakan fisik menadahkan tangan, melainkan sebuah kondisi ontologis di mana seseorang memposisikan dirinya sebagai entitas yang lebih rendah di hadapan entitas lain.
Prinsip dasar keislaman mengenai “tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah” (al-yadul ulya khairun minal yadis sufla) harus dihayati secara radikal oleh setiap penuntut ilmu. Seorang santri yang bercita-cita menjadi pewaris para nabi tidak boleh menempatkan dirinya dalam posisi penerima pasif yang selalu berharap pada belas kasihan masyarakat. Sebaliknya, ia harus menempati posisi sebagai sumber kemanfaatan, pilar penyokong, dan pemberi solusi bagi problem krisis kemanusiaan.
Ketika seorang santri terbiasa hidup dari “pemberian” tanpa adanya usaha untuk mandiri secara ekonomi, lambat laun akan tumbuh rasa inferioritas dalam jiwanya. Rasa inferioritas ini melumpuhkan daya kritis dan keberanian moral. Ia akan merasa canggung untuk menegur kezaliman orang-orang yang memberinya makan, dan ia akan kehilangan objektivitas dalam memandang kebenaran. Transformasi dari mentalitas penerima menjadi pemberi adalah syarat mutlak bagi lahirnya pencerah peradaban yang sejati.
Menjaga Kesucian Ilmu dari Perbudakan Struktur Sosial
Sejarah kerap mencatat betapa banyak kebenaran yang terdistorsi akibat ketidakberdayaan ekonomi para pembawanya. Ketika lembaga keilmuan atau para tokohnya bergantung penuh pada belas kasihan penguasa atau konglomerat, ilmu pengetahuan terancam berubah fungsi dari alat pembebasan menjadi alat legitimasi kekuasaan (hegemoni).
Seorang santri yang gagah dan kaya secara finansial memiliki kebebasan berpikir (hurriyah al-fikr) yang tak ternilai harganya. Ia dapat meneliti, berpikir, dan menyuarakan kebenaran tanpa rasa takut kehilangan sumber mata pencaharian. Kemandirian ekonominya memberinya keberanian untuk berkata “tidak” pada kezaliman dan berkata “ya” pada keadilan, terlepas dari konsekuensi politik atau sosial yang mungkin dihadapi.
Inilah mengapa kedaulatan ekonomi seorang alim bukan hanya urusan pribadi, melainkan benteng pertahanan bagi kesucian agama dan kebenaran ilmu itu sendiri. Jika para pembawa ilmu hidup dalam kemiskinan yang memprihatinkan dan menggantungkan hidup pada belas kasihan orang lain, masyarakat akan memandang ilmu agama sebagai jalan menuju kelemahan, bukan jalan menuju kejayaan dan kemuliaan eksistensial.
Redefinisi Zuhud: Menguasai Dunia Tanpa Membiarkannya Masuk ke Dalam Hati
Sering kali muncul keberatan filosofis: Bukankah mengejar harta dan kedudukan bertentangan dengan prinsip zuhud yang menjadi pilar keilmuan spiritual? Keberatan ini bersumber dari pemahaman yang dangkal mengenai hakikat zuhud.
Para ulama besar dan pemikir sufistik sejati menyepakati bahwa zuhud bukanlah tentang tangan yang kosong dari harta, melainkan tentang hati yang bersih dari keterikatan terhadap harta. Zuhud adalah kondisi psikologis dan spiritual di mana genggaman tangan atas dunia tidak pernah berhasil meracuni kesadaran jiwa.
Sebagaimana yang dicontohkan oleh para sahabat Nabi dan ulama-ulama besar sepanjang sejarah (seperti Sayyidina Usman bin Affan, Imam Abu Hanifah yang merupakan seorang pedagang sutra kaya raya, hingga Imam Syadzili), kekayaan materi yang berada di tangan orang berilmu adalah alat perjuangan yang sangat ampuh. Kekayaan di tangan orang yang beriman dan berilmu akan mengalir menjadi sumber kemakmuran publik, benteng bagi kaum lemah, dan bahan bakar bagi syiar kebenaran.
Seorang santri harus menguasai dunia agar dunia tidak menguasainya. Ia harus menggenggam harta agar harta tidak menggenggam hatinya. Ketika harta berada di dalam genggaman, ia adalah alat yang fleksibel untuk menegakkan keadilan. Namun, jika harta tidak dimiliki sama sekali akibat kemalasan atau ketidakberdayaan yang dibungkus dengan alasan zuhud palsu, maka sang santri akan diperbudak oleh kebutuhan akan harta itu sendiri.
Manifestasi Santri Modern dan Kehormatan Peradaban
Pada era kontemporer yang ditandai oleh kompetisi global dan hiperkapitalisme, imperatif untuk tampil gagah, mandiri, dan berkecukupan menjadi semakin mendesak bagi para santri dan penuntut ilmu. Dunia modern tidak tersentuh oleh sekadar retorika moral yang diucapkan oleh mereka yang tidak memiliki kekuatan riil di lapangan sosial dan ekonomi.
Santri masa kini harus tampil sebagai figur yang holistik: memiliki kedalaman spiritual yang melangit, ketajaman intelektual yang menghunjam, serta kemandirian finansial dan wibawa sosial yang kokoh di bumi. Santri harus menjadi pimpinan di berbagai sektor strategis, menguasai ilmu pengetahuan, teknologi, dan simpul-simpul ekonomi, tanpa pernah kehilangan akar keilmuan dan ketakwaannya.
Penampilan gagah, pakaian yang elok, dan kecukupan materi yang dimiliki santri adalah pesan nonverbal kepada dunia bahwa agama dan ilmu pengetahuan tidak pernah melahirkan manusia-manusia yang lemah, kusam, dan inferior. Sebaliknya, ilmu pengetahuan memancarkan keagungan, melahirkan kemandirian, dan mengangkat derajat manusia setinggi-tingginya.
Dengan memegang teguh pesan Imam Asy-Syatibi, setiap santri dipanggil untuk meruntuhkan citra kemelaratan yang menempel pada figur penuntut ilmu. Saatnya santri melangkah dengan penuh percaya diri, berdiri tegak di atas kaki sendiri, memimpin peradaban dengan kekayaan harta, kedudukan yang terhormat, dan kesucian jiwa yang tak pernah tawar oleh gemerlapnya dunia. Wallahu a’lam bisshawab.

