Selepas nongkrong dengan teman-teman, kami sempat membicarakan topik yang hangat, yakni kemajuan teknologi. Saya sempat berpikir: apakah like dan komentar di media sosial benar-benar mengubah kehidupan kita? Pada realitasnya, di dunia baru atau dunia maya ini, setiap orang bebas menilai kehidupan orang lain. Hal tersebut tentu berpengaruh langsung terhadap kesehatan mental kita. Hingga kemudian, muncul pertanyaan eksistensial dalam hidup ini: “Ke mana akhir dari diri sendiri?”
​Semenjak pertanyaan-pertanyaan itu menghampiri, saya mulai memahami mengapa kebanyakan manusia kerap kali mengalami overthinking atas dirinya sendiri. Menurut saya, itu adalah sesuatu yang lumrah sebagai manusia. Kegelisahan eksistensial akan dihadapi oleh siapa pun tanpa mengenal atribut atau pangkat.
​Aristoteles menyebut “Eudaimonia” sebagai tujuan akhir manusia. Hal ini berlainan dengan pandangan Stoik yang terlalu memfokuskan perhatian pada kontrol diri sendiri, hingga terkadang lupa bahwa penilaian orang lain juga tetap diperlukan bagi perkembangan kita. Kali ini, pertanyaan di atas mengenai apa itu kebaikan tertinggi dan bagaimana cara mencapainya akan dijawab melalui sudut pandang aliran Epikureanisme.
​Epicurus meletakkan dasar-dasar Epikureanisme sebagai sebuah sekolah filsafat di Athena sekitar tahun 300 SM, tepatnya pada awal periode Helenistik. Epicurus lahir sekitar tahun 342 SM di Samos dan meninggal pada tahun 271 SM. Ia hidup di masa gejolak intelektual yang hebat ketika kritisisme terhadap agama tradisional Yunani mulai bermunculan.
​Salah satu sumber utama ketidakbahagiaan manusia, menurut Epicurus, adalah ketakutan yang disebabkan oleh cerita-cerita takhayul mengenai fenomena alam. Menurut Epicurus, rasa takut tersebut harus dihilangkan. Kepercayaan akan campur tangan para dewa dalam agama populer harus dipatahkan dengan memberikan penjelasan yang rasional dan naturalistik sebagai pengganti penjelasan takhayul (Kodoati, 2023).
​Namun hari ini, “dewa-dewa” dan cerita takhayul bentuk baru telah berkembang luas. Maraknya disinformasi, hoaks, dan isu SARA telah menjadi konsumsi publik layaknya “agama digital”. Akibat menuruti arus laju perkembangan algoritma maupun For Your Page (FYP), banyak dari kita yang mengalami kelelahan mental yang sangat besar. Hal ini membawa kita pada pola pikir overthinking yang tidak jelas dan absurd.
​Tetapi pertanyaannya: apakah kita akan tetap berputar-putar dalam lingkaran overthinking tersebut? Mindset viral telah mengubah cara bernalar sekaligus sudut pandang kita tentang dunia. Dunia maya adalah sesuatu yang abstrak, sehingga kita harus pandai-pandai mengidentifikasi kebenaran serta menyadarkan diri kita yang terlalu “manja” akan teknologi.
​“Telos” atau tujuan akhir dari hidup manusia menurut Epikureanisme adalah “Hedone”, yaitu kenikmatan. Namun, dalam tanda kutip, kenikmatan yang dimaksud bukanlah kenikmatan sensual semata. Istilah hedonisme yang beredar saat ini telah mengalami pergeseran makna yang cukup jauh dari konsep aslinya (Ismail, 2019).
​Menurut Epicurus, manusia harus terbebas dari tiga ketakutan utama:
- ​Ketakutan akan dewa-dewa (atau takut akan siksaan dan hukuman yang selalu berorientasi semata pada surga dan neraka).
- ​Ketakutan akan kematian.
- ​Ketakutan akan masa depan atau nasib.
​Ajaran Epicurus mengenai hedon (kebahagiaan yang setara dengan kenikmatan) pada hakikatnya adalah hidup secara berkecukupan (Ismail, 2019).
​Ketakutan akan kematian adalah hal yang cukup membodohkan. Sebab pada hakikatnya, manusia diciptakan dan pasti akan mati; selama ia masih hidup, berarti ia belum mati. Sebagaimana yang pernah disampaikan oleh Gus Baha’, kematian tidak perlu ditakuti karena itu juga merupakan bagian dari nikmat-Nya untuk menghentikan potensi kejahatan kita. Kedua, masa depan adalah hal yang penuh dengan probabilitas (tebakan). Fokus kita bukanlah menebaknya, melainkan memainkan dan menjalani peran kita saat ini.
​Menurut saya, ketiga ketakutan tersebut juga dialami oleh seluruh Homo Digitalis: pertama, takut akan disrupsi teknologi; kedua, takut akan reputasi dan status di media sosial; serta ketiga, overthinking akibat melihat konten-konten pemewahan (flexing) yang bertebaran.
​Bagi saya, ketakutan itu berlebihan. Teknologi pada akhirnya hanyalah sebuah bingkai dalam kebudayaan manusia yang perlu dinikmati secukupnya. Kedua, status ataupun atribut di media sosial hanyalah delusi. Hal yang paling penting dari diri sendiri adalah karakter yang autentik. Status dan citra di media sosial ibarat istana pasir yang akan hilang seketika saat disapu ombak. Oleh karena itu, jangan terlalu meniru sesuatu yang tidak sesuai dengan fakta sosial yang kita alami. Biarkan konten-konten flexing atau sejenisnya dinikmati sebatas hiburan semata.
​Menurut saya, menulis adalah sarana terbaik untuk menyampaikan kegelisahan-kegelisahan tersebut. Tentunya harus dimulai dari titik perjalanan spiritual: mencari mana yang benar dan memetik hikmah dari Yang Mahakuasa. Melalui tulisan, kita dapat berbagi pesan bahwa overthinking seharusnya dilampiaskan pada hal-hal yang konstruktif.
​Kesepian Menuju Ketenangan
​Ketika kita merasa bersalah, berlebihan memikirkan diri sendiri, atau sedang tertimpa masalah, kerap kali agama menjadi tempat peraduan. Sebab di dalam agama terdapat dimensi spiritualitas dan religiusitas. Kedua aspek inilah yang mendorong manusia untuk memahami dirinya sendiri, sebagaimana jargon klasik: “Kenali dirimu, maka kamu akan mengenali Tuhanmu.”
​Dalam proses mengenali diri untuk tujuan penyembuhan (self-healing), ada satu patokan yang pernah saya alami. Dahulu, ketika kesepian, saya pernah berada di fase terpuruk tersebut. Namun saya lantas berpikir bahwa kelak saya akan tiada dan hidup ini adalah sebuah anugerah. Beristirahat itu boleh, asal jangan pernah terlintas pikiran untuk mengakhiri hidup.
​Memang hari ini kita dituntut lebih oleh kerasnya kehidupan. Namun di balik itu, kita bisa bertahan dengan menyadari bahwa ada orang lain yang mungkin lebih tertekan di bawah kita. Sebaiknya kita bersyukur atas kehidupan yang tampaknya “begini-begini saja”. Di era sekarang, menyendiri selama satu hari kosong untuk memahami diri sendiri adalah sebuah hadiah yang sangat penting. Sebagaimana Thomas Hobbes pernah menyatakan bahwa “Waktu luang adalah ibu dari filsafat”. Setelah itu, barulah kita kembali bekerja. Manusia bukanlah robot; ia adalah makhluk yang berpikir dan memiliki perasaan.
​Dengan demikian, kita dapat bermuhasabah atas tuntutan hidup yang keras melalui sikap pasrah (surrender) maupun penerimaan diri (self-acceptance). Menyadari bahwa kehidupan itu dinamis adalah hal yang sangat penting; kita tidak akan selalu berada di bawah. Pada akhirnya, objek-objek luar yang menuntut kita akan menjadi bimbingan dalam mendidik kita menjadi manusia yang merdeka—“Dari gelap terbitlah terang”. Pendidikan terbaik bermula dari diri sendiri, sebab kebijaksanaan hanya dapat dipahami jika kita telah memahami diri sendiri.
​Overthinking bukanlah sebuah penyakit; ia dapat dikelola dengan baik secara rasional dan jangan terlalu dilebih-lebihkan dengan hal-hal yang abstrak. Kita memang perlu berpikir mendalam (overthinking dalam porsi yang tepat); jika tidak, kita justru akan menghadapi hidup dengan sembrono yang malah memicu keletihan hebat akibat berusaha mengontrol apa yang di luar kendali kita. Objek luar akan mengikuti kita jika kita berhasil membangkitkan kesadaran diri (Self-Awakening).
​Di dunia yang saling terhubung ini, semua orang bebas berinteraksi. Hal-hal negatif yang menghampiri hendaknya dijadikan “tunggangan” bagi kita untuk berpikir dan bertindak lebih positif lagi. Terlepas dari doktrin agama, mari sesekali kita menjelajahi dunia yang luas ini. Jangan biarkan overthinking-mu menyempitkan cara pandang. Mari luaskan perpektif agar kita menjadi pribadi yang ulet dalam menghadapi dunia.
​Kata terbaik untuk menghadapi dunia ini adalah: sayangi tubuhmu dan sayangi jiwamu. Pepatah Latin kuno mengatakan, “Mens sana in corpore sano” (di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat). Maka, perhatikan pula sisi kejiwaanmu dan isilah dengan hal-hal yang mengantarkanmu pada penerimaan diri.
​Semangat menjalani hidup! Pikirkanlah apa yang ingin dikenang setelah kita meninggal kelak, dan tetaplah menyayangi jiwamu!
​Sekian, semoga bermanfaat.
​*) Mahasiswa UIN Sayyid Ali Rahmatullah (SATU) Tulungagung
​Referensi
- ​Ismail, Maryam. (2019). “Hedonisme dan Pola Hidup Islam”. Jurnal Ilmiah Islamic Resources FAI-UMI Makassar, Vol. 16, No. 2, hlm. 195.
- ​Kodoati, Charles Michael. (2023). “Epikureanisme dan Stoikisme: Etika Helenistik untuk Seni Hidup Modern”. MEDIA: Jurnal Filsafat dan Teologi, Vol. 4, No. 1, hlm. 93.

