Esai

Antara Kemanusiaan dan Doktrin Keagamaan Perihal Perdamaian

3 Mins read

​Penulis: Muhammad Althof Aminuddin (Anggota PK IPNU IPPNU UIN Sunan Ampel Surabaya)

​Sifat kemanusiaanlah yang menjadikan kita damai antarumat beragama, bukan semata-mata dari doktrin agama. Lebih tepatnya, faktor perdamaian lebih dominan berasal dari kemanusiaan daripada doktrin keagamaan. Dalam berbagai konflik dan perbedaan antaragama, sering kali kita lupa bahwa kemanusiaanlah yang seharusnya menjadi dasar persatuan dan keselamatan.

​Doktrin agama, walaupun penting, tidak dapat menjadi alasan untuk membeda-bedakan sesama manusia. Dalam artikel ini, kita akan membahas bagaimana kemanusiaan dapat menjadi landasan persatuan dan perdamaian, serta bagaimana doktrin agama dapat menjadi sumber konflik jika tidak dipahami dengan tepat.

​Kemanusiaan sebagai Landasan Persatuan

​Johan Galtung, seorang ahli perdamaian dan konflik, berpendapat bahwa kemanusiaan adalah dasar dari persatuan dan keselamatan. Menurutnya, kemanusiaan adalah sesuatu yang universal dan tidak terbatas oleh agama, budaya, atau etnisitas.

​Kemanusiaan adalah hal yang memungkinkan kita untuk berinteraksi, berkomunikasi, dan berbagi nilai-nilai yang sama. Galtung juga berpendapat bahwa kemanusiaan dapat menjadi landasan persatuan karena memiliki beberapa ciri khas, seperti:

  • ​Manusia sebagai makhluk sosial: Kita adalah makhluk sosial yang memerlukan interaksi dan interdependensi dengan orang lain.
  • ​Manusia sebagai makhluk berpikir: Kita memiliki kemampuan berpikir dan berkomunikasi yang memungkinkan kita untuk berbagi nilai-nilai serta tujuan.
  • ​Manusia sebagai makhluk berperasaan: Kita memiliki perasaan dan emosi yang dapat memengaruhi perilaku kita.

​Dengan demikian, kemanusiaan dapat menjadi landasan persatuan karena memiliki ciri khas yang universal dan tidak terbatas oleh agama, budaya, atau etnisitas.

​Tidak hanya itu saja, dikisahkan pada saat Nabi dan para sahabatnya ingin melaksanakan umrah di Makkah, mereka dicegat oleh orang-orang musyrik Makkah di Hudaibiyah. Kaum musyrik Makkah bahkan meminta Nabi menghapus gelar “Rasulullah” di depan nama Muhammad dalam surat perjanjian tersebut.

Baca...  Hadapi Keragaman dengan Sikap Persatuan dan Kesatuan

​Padahal, Allah dalam Surah An-Nur [24] ayat 63 melarang umat Islam memanggil Nabi tanpa gelar terhormatnya:

​لَا تَجْعَلُوْا دُعَاۤءَ الرَّسُوْلِ بَيْنَكُمْ كَدُعَاۤءِ بَعْضِكُمْ بَعْضًاۗ قَدْ يَعْلَمُ اللّٰهُ الَّذِيْنَ يَتَسَلَّلُوْنَ مِنْكُمْ لِوَاذًاۚ فَلْيَحْذَرِ الَّذِيْنَ يُخَالِفُوْنَ عَنْ اَمْرِهٖٓ اَنْ تُصِيْبَهُمْ فِتْنَةٌ اَوْ يُصِيْبَهُمْ عَذَابٌ اَلِيْمٌ ٦٣

​Artinya: “Janganlah kamu menjadikan panggilan Rasul (Nabi Muhammad) di antara kamu seperti panggilan sebagian kamu kepada sebagian (yang lain). Sungguh, Allah mengetahui orang-orang yang keluar (secara) sembunyi-sembunyi di antara kamu dengan berlindung (kepada kawannya). Maka, hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul-Nya takut akan mendapat cobaan atau ditimpa azab yang pedih.”

​Tetapi, Nabi tetap rela menerima perjanjian tersebut dengan menghapus gelarnya agar tidak terjadi pertumpahan darah pada saat itu. Dari sisi inilah kita bisa mengambil pelajaran bahwa Nabi rela menghapus gelarnya yang sudah ditetapkan Allah di dalam Al-Qur’an demi terwujudnya perdamaian, keamanan dari pertumpahan darah, dan ketenteraman antara para sahabat dan orang musyrik Makkah.

​Dikutip dari buku Tuhan Ada di Hatimu karya Habib Husein Ja’far Al-Hadar, Islam mengajarkan untuk meletakkan kemanusiaan di atas segalanya. “Siapa yang bukan saudaramu dalam agama adalah saudaramu dalam kemanusiaan,” kata Sayyidina Ali. Begitulah Islam mengajarkan kepada kita.

​Doktrin Agama sebagai Sumber Perdamaian dan Konflik

​Perdamaian adalah tema sentral dalam ajaran Islam, dan doktrin keagamaan tentang perdamaian memainkan peran penting dalam menjaga harmoni serta stabilitas dalam masyarakat.

​Dalam Al-Qur’an, Allah SWT berulang kali memerintahkan umat Islam untuk mengedepankan perdamaian dan menjauhi perselisihan serta peperangan. Salah satu ayat yang menekankan pentingnya perdamaian adalah Surah Al-Baqarah ayat 224:

​وَلَا تَجْعَلُوا اللّٰهَ عُرْضَةً لِّاَيْمَانِكُمْ اَنْ تَبَرُّوْا وَتَتَّقُوْا وَتُصْلِحُوْا بَيْنَ النَّاسِۗ وَاللّٰهُ سَمِيْعٌ عَلِيْمٌ ٢٢٤

Baca...  Memaknai Hari Raya Idul Fitri Era Kontemporer

​Artinya: “Janganlah kamu jadikan (nama) Allah dalam sumpahmu sebagai penghalang dari berbuat baik, bertakwa, dan menciptakan kedamaian di antara manusia. Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahuan.”

​Ayat ini menekankan bahwa Allah SWT harus dijadikan sebagai sumber inspirasi dan motivasi untuk berbuat baik serta menciptakan perdamaian di antara manusia. Dalam ayat ini, Allah juga menekankan pentingnya berbuat baik, bertakwa, serta menciptakan harmoni di tengah masyarakat.

​Namun, doktrin keagamaan juga bisa menjadi sumber konflik. Sayyid Hossein Nasr, seorang ahli teologi dan filsafat, berpendapat bahwa doktrin agama dapat menjadi sumber konflik jika tidak dipahami dan diterapkan dengan benar.

​Menurutnya, doktrin agama dapat menjadi sumber konflik apabila:

  1. ​Dipahami secara sempit: Jika doktrin agama dipahami secara sempit dan tidak memperhatikan nilai-nilai universal, hal itu dapat memicu konflik antarumat beragama.
  2. ​Diterapkan secara keras: Jika doktrin agama diterapkan secara kaku/keras tanpa mengindahkan rasa kemanusiaan, hal itu dapat menimbulkan keretakan sosial.
  3. ​Poin pembeda manusia: Jika doktrin agama dipakai sekadar untuk membeda-bedakan harkat antarmanusia, hal itu dapat memicu perpecahan.

​Dengan demikian, doktrin agama layaknya pisau bermata dua: dapat menjadi sumber konflik jika tidak dipahami dan diterapkan secara bijak, tetapi juga dapat menjadi sumber perdamaian jika dipahami secara mendalam melalui penafsiran para ulama salaf dan kontemporer.

​Kesimpulan

​Dalam berbagai konflik dan perbedaan antarumat beragama, kemanusiaanlah yang seharusnya menjadi dasar persatuan dan keselamatan. Doktrin agama, walaupun sangat penting, memiliki dua kemungkinan: menjadi pendukung perdamaian atau justru memicu konflik jika terjadi kesalahan dalam penerapannya.

​Kemanusiaan adalah faktor yang paling dominan dalam mewujudkan perdamaian karena sifatnya yang universal dan tidak terbatas oleh agama, budaya, maupun etnisitas. Oleh karena itu, kita harus memahami dan menerapkan nilai kemanusiaan sebagai landasan persatuan, serta memahami dan mengamalkan doktrin agama dengan benar agar tidak memicu perpecahan.

Baca...  Menerapkan Etika Dalam Ibadah Sholat
2 posts

About author
Mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya Jurusan Studi Agama-agama
Articles
Related posts
Esai

Statistika dan Tabayyun: Seni Memeriksa Data Sebelum Percaya

3 Mins read
Kita sudah terbiasa mendengar iklan yang berbunyi “9 dari 10 dokter merekomendasikan”. Hampir tidak ada yang bertanya dokter yang mana, jumlah seluruhnya…
EsaiKesehatanPolitik

Politik Berkeadilan dan Demokrasi: Dari Piagam Madinah ke Kesehatan Jantung

6 Mins read
PENDAHULUAN ​Politik sering kali dianggap hanya berkaitan dengan kekuasaan, pemimpin, dan pemilihan umum. Padahal, politik sebenarnya memiliki pengaruh yang cukup besar dalam…
Esai

Dakwah Kampus dan Ormawa: Menghadirkan Inklusivitas & Keteladanan

4 Mins read
​“Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *