EsaiFilsafat

Amar Ma’ruf Nahi Munkar: Dapatkah dibungkus Hikmah?

2 Mins read

KULIAHALISLAM.COM-Pada dasarnya amar ma’ruf nahi munkar bukan sekadar ajakan moral yang hipokrit, melainkan kewajiban mutlak setiap muslim yang tidak bisa ditawar. Ia adalah denyut nadi misi dakwah, sekaligus tugas menjaga keutuhan umat manusia agar tidak tercerai berai oleh arus zaman penuh tantangan. Tugas ini sebelumnya diemban oleh para Nabi dan Rasul,bahkan jauh dari kehadiran Rasulullah Muhammad SAW.

Abdurrahman Al Baghdadi dalam Dakwah Islam dan Masa Depan Umat menegaskan, Dakwah amar ma’ruf nahi munkar adalah tonggak transformasi sosial dan spiritual; kewajiban yang membangun keadaban sekaligus memperkokoh iman dalam masyarakat. Pesan ini menyelaraskan dengan Muhammad Imaduddin Abdurrahim dalam Islam Sistem Nilai Terpadu yang memandang Islam sebagai sistem nilai terintegrasi, di mana amar ma’ruf (mengajak kebaikan) dan nahi munkar (mencegah kemungkaran) bertindak sebagai tulang punggung penegakan nilai secara menyeluruh.

Namun, amat penting untuk dipahami bahwa amar ma’ruf nahi munkar bukan sekadar ‘seruan keras’ halal-haram dan juga stempel bid’ah ibadah yang bikin suasana jadi tegang. Syaikh Ibnu Qayyim, dalam bukunya Mencapai Kesempurnaan, menyingkap sisi esensial dari amar ma’ruf sebagai ekspresi iman, dan nahi munkar sebagai panggilan tanggung jawab sosial yang harus dipenuhi dengan alasan dan hikmah. Menurutnya Orang beriman wajib mencegah kemaksiatan dengan ilmu dan hikmah agar tatanan hidup tetap terjaga. Pendekatan ini bukan cuma penting, tapi krusial; bila tak berdasar ilmu dan hikmah, dakwah bisa berubah jadi senjata pemecah belah, bukan pengikat ukhuwah.

Prof Dr Tisna Amidjaya dalam Iman Ilmu dan Amal turut menguatkan hal ini, dengan prokemnya bahwa Amal tanpa ilmu bisa membahayakan, ilmu tanpa amal bisa membekukan, dan iman tanpa keduanya menjadi hampa. Ini menjadikan dakwah yang efektif adalah dakwah yang dibangun di atas pondasi ilmu, lanjut dengan kepedulian amal dan iman yang menyatu — semacam trinitas spiritual seorang muslim yang tidak bisa dipisah-pisah.

Baca...  Memento Mori: Menjadi Stoik yang Islami

Praktik demi praktik dari konteks lokal hingga global, dakwah amar ma’ruf nahi munkar berperan sebagai alat perubahan sosial dari jiwa ke jiwa, lalu merambat ke masyarakat luas. Ayahanda Buya Haedar Nasir dalam Ibrah Kehidupan menjelaskan bahwa amal kebaikan yang dilakukan bersama-sama bukan hanya berbagi kebaikan tetapi memupuk solidaritas dan peradaban yang beradab. Sementara itu,Imam Alqurthubi dalam kitab monumentalnya At-Tadzkirah mengingatkan bahwa gerakan amar ma’ruf nahi munkar perlu dibingkai dalam konteks hikmah dan kasih sayang. Tanpa hal ini, bisa jadi dakwah berubah menjadi alat kekerasan dan fanatisme yang malah merusak tujuan mulia.

Lalu mengapa dakwah harus dengan hikmah? Karena, hikmah adalah bentuk cinta yang berwujud kata dan tindakan yang mampu menerobos kerasnya dinding penolakan. Rasulullah SAW sendiri adalah contoh sempurna bagaimana amar ma’ruf nahi munkar dibawakan dengan penuh kelembutan dan kecerdikan, menyeimbangkan antara ketegasan dan kasih sayang. Bahkan secara sosiologis, pendekatan hikmah teruji lebih efektif ketimbang cara kasar. Menurut Prof. Komaruddin Hidayat, dialog dakwah yang mengedepankan hikmah bisa membangun jembatan pemahaman di tengah perbedaan dan konflik. Ini tidak hanya meminimalkan penolakan, tapi juga memupuk penerimaan dan perubahan yang tulus dari hati, bukan karena tekanan semata.

Maka dari itu, amar ma’ruf nahi munkar bukan cuma kewajiban normatif yang dicamkan sebagai slogan. Ia adalah kode etik sosial dan spiritual—pijakan utama agar umat Islam berlalu-lalang dalam nilai-nilai yang Allah gariskan, membangun peradaban abadi yang kokoh dan bermartabat. Dengan berpedoman pada ilmu, iman, amal, dan hikmah, dakwah amar ma’ruf nahi munkar menjadi tameng sekaligus pilar, yang menolak keruntuhan moral dan menjaga kesucian ajaran dari segala aral yang membentang di era penuh godaan dan perubahan ini.

Baca...  Gugum Ridho Putra, Wajah Baru Politik Muslim Modern di Persimpangan Zaman

Nasrun Minallahi wa fathun Qarib

56 posts

About author
Penggemar Buku, Teh, Kopi, Coklat dan senja. Bekerja paruh lepas menjadi Redaktur Kuliahalislam.com .Lekat dengan dunia aktivisme,
Articles
Related posts
Esai

Tafsir Al-Qur’an Digital di Indonesia: Inovasi atau Masalah?

3 Mins read
Transformasi digital yang berlangsung secara masif dalam dua dekade terakhir telah mengubah hampir seluruh aspek kehidupan manusia, tidak terkecuali praktik keagamaan. Di…
Filsafat

Perspektif Orang Jenius & Akal Nadhori

3 Mins read
Orang jenius pun berasal dari berpikirnya sendiri tanpa intervensi orang lain. Apakah orang jenius punya gaya hidup serba mewah? Terkadang orang jenius…
Esai

Kuliah, Organisasi, atau Kerja? Cara Bijak Menentukan Prioritas

2 Mins read
Menjadi mahasiswa di era sekarang bukan hanya soal datang ke kelas dan mengerjakan tugas. Banyak mahasiswa dihadapkan pada pilihan yang cukup sulit:…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

×
EsaiOpini

Sound Horeg, Ujian Kepekaan Sosial Seorang Muslim