EsaiTokoh

Implementasi Makna Jihad dari Perjalanan Ahmad Al-Shara: Dari Medan Tempur ke Kepemimpinan Ummat

2 Mins read

KULIAHALISLAM.COM- Ahmad Al-Shara, nama yang mungkin masih asing di telinga kebanyakan orang Indonesia, ternyata adalah figur yang dikenal dalam peredaran aktivis muslim dunia. Ia kini menjadi presiden Suriah dalam pemerintahan transisi yang hadir pasca runtuhnya rezim Assad. Sebelum naik ke panggung politik global, Al-Shara adalah mantan komandan tempur pasukan anti Assad dan pernah diberi status red notice oleh negara-negara Barat. Dengan keberhasilannya menduduki posisi puncak, ia tampil sebagai wajah baru Suriah, yang sekaligus bertindak sebagai penghulu negara wilayah Syam — yang secara historis dan geopolitik memiliki arti penting.

 

Wilayah Syam sendiri telah lama diramalkan akan terlibat dalam gejolak besar. Rasulullah SAW pernah bersabda:

Tidak akan terjadi kiamat hingga kaum Muslimin di Syam mengalami kekacauan dan peperangan besar.”(HR:Muslim)

Syam kini mencakup Palestina, Lebanon, Yordania, dan Suriah, meski Suriah-lah yang menjadi aktor utama geopolitik di kawasan ini.

 

Suriah memiliki keunikan tersendiri dengan komposisi etnis, budaya, dan kepercayaan yang kompleks. Berdasarkan data terbaru, mayoritas penduduk Suriah menganut Islam Sunni (sekitar 74%), sedangkan sisanya terdiri dari Alawiyyah, Kristen, Druze, dan berbagai kelompok minoritas etnis serta agama lain. Kondisi ini semakin menambah dinamika dan ketegangan sosial yang kerap muncul. Sejarah militernya juga mencatat keberpihakan Suriah bersama Mesir dalam perang Arab-Israel, di mana mereka mengalami kekalahan meskipun perjuangan tersebut menunjukkan soliditas regional yang tidak bisa diremehkan.

 

Kehadiran Ahmad Al-Shara di panggung global sebagai pemimpin Suriah tidak bisa dilepaskan dari bayang-bayang masa lalunya sebagai komandan militan. Sosok yang jauh dari bayang-bayang kemapanan ini membawa kekhawatiran dari berbagai kalangan, terutama terkait ideologi “jihad” yang selama ini kerap dikaitkan dengan kekerasan dan perang suci. Namun, di sinilah letak transformasi mendalam yang patut kita cermati.

Baca...  Jum'atan dan Nasi Bungkus

 

Sebagai seorang muslim yang mengakar pada syariat Islam, sangat mungkin Al-Shara memiliki pemahaman yang lebih dalam dan faqih mengenai hukum dan kaidah jihad. Paradigma jihadnya kini tampaknya telah bergeser, dari sekadar medan tempur menjadi jihad yang lebih substansial yakni untuk kemashlahatan umat secara luas. Seperti dikatakan oleh cendekiawan Islam Indonesia, Prof. Dr. Azyumardi Azra, “Jihad bukan sekadar berperang fisik, tapi bagaimana perjuangan itu diarahkan untuk membangun masyarakat yang adil, damai, dan sejahtera”.

 

Para cendekiawan kontemporer seperti Imam Wahyudi juga menegaskan relevansi jihad dalam konteks sosial modern: “Jihad hari ini lebih tepat dipahami sebagai upaya membela dan memperjuangkan kemaslahatan umat melalui cara-cara konstitusional, damai, dan penguatan ukhuwah” (Fiqh Jihad Modern, 2022). Pemimpin yang bisa mentransformasikan strategi jihadnya dari peperangan fisik ke upaya diplomasi dan konsolidasi sosial sekaligus menjadi rujukan moral, adalah figur yang sangat dibutuhkan di dunia Islam kontemporer.

 

Sebagai muslim modern, kita diajak berhusnudzon bahwa Ahmad Al-Shara telah melaksanakan perubahan paradigma jihad ini dengan matang. Dari prinsip tradisional “menang atau syahid“, kini jihad menjadi sarana untuk kemashlahatan umat, menjembatani konflik internal dan memperbaiki kondisi sosial-politik di kawasan Syam. Ini selaras dengan pandangan ulama seperti Yusuf Qaradawi yang menegaskan bahwa: “Jihad yang utama adalah jihad dengan pena, pikiran, dan perjuangan hukum demi keadilan dan kesejahteraan umat” (Fiqh Al-Jihad, 2004).

 

Dengan adanya pemimpin berkapasitas global yang mengintegrasikan jihad dalam kerangka kemaslahatan politik dan sosial, dunia Muslim menemukan harapan baru. Selain Suriah dengan Ahmad Al-Shara, Turki dengan Recep Tayyip Erdoğan serta Indonesia dengan tokoh seperti Prabowo Subianto menjadi contoh pemimpin yang mengangkat nilai Islam ke ranah global tanpa harus terjebak pada konflik destruktif. Paradigma ini tentu membutuhkan dukungan penuh dari umat agar Indonesia sebagai negara Muslim terbesar bisa turut memberi kontribusi positif.

Baca...  Membumikan Kasih Sayang

 

Wallahu alam bishawab.

 

Achmad Puariesthaufani N

46 posts

About author
Penggemar Buku, Teh, Kopi, Coklat dan senja. Bekerja paruh lepas menjadi Redaktur Kuliahalislam.com .Lekat dengan dunia aktivisme, Saat ini diamanahkan sebagai Bendahara Umum PCM Cilandak,Jakarta Selatan periode 2022-2027
Articles
Related posts
Tokoh

Perjuangan Syafruddin Prawinegara Untuk Indonesia

4 Mins read
Kuliahalislam.Syafruddin Prawinegara (Anyer Kidul, Serang, 28 Februari 1911-Jakarta, 15 Februari 1989). Ia seorang pejuang, politikus, dan negarawan Muslim yang banyak memainkan peranan…
ArtikelEsaiFilsafatKeislaman

Hikmah dari Jule, Inara dan Ridwan Kamil

6 Mins read
KULIAHALISLAM.COM- Keluarga merupakan unit terkecil dalam masyarakat yang menjadi cermin kekuatan peradaban. Dalam perspektif Islam, keluarga bukan sekadar lembaga sosial, melainkan amanah…
Esai

Pacaran dan Zina: Kritik Fenomena Hamil di Luar Nikah

5 Mins read
Pendahuluan ​Artikel yang ditulis oleh Amelia Febrianti berjudul “Ketika Pacaran Berujung pada Hamil di Luar Nikah: Memahami Dampak dan Cara Mencegahnya” menarik…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Verified by MonsterInsights