Tanggapan Gereja Presbiterian dalam Menghadapi Tantangan Sosial
Tulisan ini merupakan intisari dari artikelnya Warner M. Bailey berjudul “I was Hungry…..”- The Bible and Poverty yang dipublikasikan oleh Journal of Presbyterian History (1962-1985), edisi Summer 1981, Vol. 59, No. 2. Dimana Warner M. Bailey sendiri adalah seorang Pastor pertama di Gereja First United Presbyterian Church, Columbus, Indiana. Tidak hanya seorang pastor dia pun memegang tanggung jawab sebagai Direktur Studi Presbiterian dan staf pengajar tambahan di Brite Divinity School. Sekaligus sarjana/ cendekiawan yang fokus pada ranah interpretasi Bible.
Menurutnya kemiskinan adalah masalah yang telah lama menjadi perhatian gereja, dan gereja-gereja di seluruh dunia telah berusaha keras untuk menanggulanginya dengan berbagai cara. Gereja Presbiterian, dalam tradisi ajaran Kristen, memiliki komitmen yang kuat terhadap perjuangan melawan kemiskinan, sebuah misi yang telah tercatat dalam sejarahnya sejak zaman awal gereja. Salah satu contoh penting adalah misi gereja yang tercantum dalam Kisah Para Rasul 2:45, yang menyebutkan bahwa orang-orang Kristen pertama kali hidup dalam komunitas yang saling berbagi harta dan kebutuhan mereka.
Peran Gereja Presbiterian dalam Menanggulangi Kemiskinan
Gereja Presbiterian, terutama dalam tradisi yang dipengaruhi oleh Reformasi Abad ke-16, menjadikan perhatian terhadap kemiskinan sebagai bagian integral dari misi sosial mereka. Seiring waktu, gereja ini terus memperjuangkan kesejahteraan sosial, termasuk menyikapi kelaparan dan kemiskinan yang meningkat akibat dampak Perang Dunia II.
Pada tahun 1967, Gereja Presbiterian mengeluarkan pengakuan penting mengenai kemiskinan dalam Rekonsiliasi dalam Masyarakat, yang menegaskan bahwa gereja tidak boleh menghindar dari tanggung jawab terhadap masalah ekonomi dan harus terbuka untuk melayani semua kalangan, tanpa memandang kelas sosial.
Bahkan, pada tahun 1974, gereja-gereja Presbiterian di Amerika Serikat mengeluarkan pernyataan yang lebih rinci mengenai kebijakan pangan dan kelaparan dunia, menunjukkan betapa seriusnya mereka dalam menangani kemiskinan global. Fokus gereja dalam hal ini adalah pada pembebasan umat manusia dari krisis sosial dan kelaparan, serta pentingnya kebijakan pangan yang adil dan merata.
Etika Alkitab dan Kewajiban Sosial Gereja
Sebagai landasan moral, Alkitab memiliki banyak ajaran yang mendorong umat Kristen untuk mengatasi kemiskinan. Dalam banyak bagian Alkitab, terutama dalam ajaran Yesus Kristus, kita menemukan seruan untuk mencintai sesama dan menolong mereka yang membutuhkan. Ajaran ini tak hanya terbatas pada belas kasih, tetapi juga menuntut tindakan nyata untuk memperbaiki ketidakadilan sosial.
Brevard S. Childs, James M. Gustafson, dan David H. Kelsey, beberapa sarjana terkemuka dalam teologi Reformed, menjelaskan bahwa Alkitab memberikan panduan etis yang dapat membantu umat Kristen merespons kemiskinan dan ketidakadilan. Ada empat kelas materi etik dalam Alkitab yang bisa dijadikan acuan untuk menjalani kehidupan sosial yang lebih adil.
Dalam Injil, Yesus memberikan ajaran tentang kasih dan pelayanan yang harus dilakukan oleh umat-Nya sebagai respons terhadap kasih Tuhan yang tak terhingga. Moralitas Kristen berakar pada rasa syukur kepada Tuhan dan kewajiban untuk berbuat baik kepada sesama.
Alkitab juga penuh dengan perintah dan prinsip hidup yang jelas, seperti dalam Sepuluh Perintah Allah (Keluaran 20:3-17) dan Hukum Kasih dalam Matius 22:37-40, yang mengajarkan untuk mengasihi Tuhan dan sesama.
Kisah hidup tokoh-tokoh seperti Abraham, Yusuf, dan Paulus memberi contoh konkret tentang bagaimana menjalani kehidupan yang berbasis moralitas Alkitab.
Alkitab juga memberikan gambaran tentang dunia yang akan datang (eskatologis), di mana kedamaian dan keadilan akan tercipta. Penglihatan ini memberikan harapan bagi umat untuk berjuang menuju masa depan yang lebih baik.
Tanggapan Gereja terhadap Kemiskinan: Dari Alkitab ke Aksi Sosial
Gereja Presbiterian sangat menekankan pentingnya meneladani Yesus Kristus dalam merespons kemiskinan. Ajaran Yesus tentang pentingnya memberikan kepada yang membutuhkan dan melayani orang miskin diwartakan dalam banyak bagian Injil. Gereja Presbiterian kemudian menerjemahkan ajaran ini menjadi aksi sosial yang nyata, seperti yang terlihat dalam pernyataan-pernyataan gereja tentang kemiskinan dan kebijakan pangan yang adil.
Namun, meskipun Gerakan Teologi Biblika pernah menjadi kekuatan besar dalam pendidikan seminari dan penulisan kurikulum gereja, dalam beberapa tahun terakhir, ada kritik bahwa gerakan ini gagal memberikan pendekatan teologis yang memadai untuk menangani masalah sosial seperti kemiskinan. Pendekatan yang lebih mengandalkan intuisi dan hati nurani manusia pun mulai muncul, namun itu belum cukup menggantikan peran Alkitab sebagai sumber utama untuk menentukan respons terhadap kemiskinan.
Alkitab sebagai Pedoman dalam Mengatasi Kemiskinan
Gereja Presbiterian dan gereja-gereja lainnya telah berjuang melawan kemiskinan dengan mengacu pada ajaran Alkitab sebagai pedoman moral mereka. Melalui berbagai gerakan sosial dan pernyataan teologis, gereja-gereja ini berupaya untuk memperbaiki kondisi sosial yang semakin buruk di dunia modern ini. Seperti yang diajarkan Alkitab, tugas umat Kristen adalah tidak hanya berbelas kasih, tetapi juga bertindak untuk menciptakan dunia yang lebih adil dan sejahtera bagi semua.