1. Tata Kelola RA yang Berorientasi pada Kognisi Anak
Tata kelola Raudhatul Athfal (RA) sering dipahami sebatas urusan administratif: perizinan, pengelolaan yayasan, dan pembinaan nilai keagamaan. Dimensi kognitif, seperti penalaran logis dan matematika awal, pun kerap terabaikan atau diajarkan lewat latihan membaca, menulis, dan berhitung yang kaku.
Padahal, pedoman kurikulum madrasah memberi ruang yang luas bagi pengelola. Kementerian Agama menetapkan KMA Nomor 792 Tahun 2018 sebagai pedoman implementasi kurikulum RA (Kementerian Agama RI, 2018), kemudian KMA Nomor 450 Tahun 2024 (Kementerian Agama RI, 2024) yang diubah dengan KMA Nomor 1503 Tahun 2025 (Kementerian Agama RI, 2025). Dengan ketentuan terbaru ini, struktur kurikulum RA disusun oleh kepala RA dengan muatan minimal tertentu. Artinya, kualitas pembelajaran sangat bergantung pada kapasitas manajerial kepala RA dan pendidiknya.
Tulisan ini berargumen bahwa fungsi-fungsi manajemen pendidikan Islam dapat dimanfaatkan untuk menjadikan RA sebagai ekosistem yang menumbuhkan nalar anak secara menyenangkan, mulai dari ornamen masjid hingga hitungan di halaman sekolah.
2. Mengapa Matematika Awal Penting?
NAEYC dan NCTM (2010) menegaskan bahwa pendidikan matematika yang bermutu bagi anak usia 3–6 tahun merupakan fondasi penting bagi pembelajaran matematika berikutnya. Keduanya merekomendasikan agar matematika diintegrasikan dengan kegiatan lain dan agar anak diberi waktu, bahan, serta dukungan guru untuk bermain.
Dukungan empiris datang dari analisis enam studi longitudinal: kemampuan matematika saat masuk sekolah menjadi salah satu prediktor terkuat capaian akademik di kemudian hari (Duncan et al., 2007). Komite National Research Council juga menyimpulkan bahwa pembelajaran matematika awal yang berkualitas perlu diperluas dan diperkuat (Cross et al., 2009). Matematika awal di sini bukanlah menghafal angka, melainkan mengenali pola, membandingkan, mengelompokkan, dan memecahkan masalah sederhana (Clements & Sarama, 2014).
Tiga landasan teoretis menopang pendekatan ini:
- Piaget. Anak usia prasekolah berada pada tahap praoperasional (kira-kira usia 2–7 tahun) dan membangun pemahaman melalui tindakan pada benda konkret (Piaget & Inhelder, 1969). Karena itu, media manipulatif lebih tepat daripada lembar kerja abstrak.
- Vygotsky. Konsep zone of proximal development menekankan bahwa pemahaman anak berkembang melalui interaksi dengan orang yang lebih mampu (Vygotsky, 1978). Praktik bantuan bertahap yang kemudian dikenal sebagai scaffolding dirumuskan oleh Wood et al. (1976) dan sering dipakai untuk menerapkan gagasan ini di kelas.
- Perspektif Islam. Al-Qur’an menyatakan bahwa segala sesuatu diciptakan menurut ukuran (Q.S. Al-Qamar [54]: 49; Kementerian Agama RI, 2019). Ayat ini dapat menjadi landasan nilai bagi pengenalan bilangan, pola, dan bentuk sebagai sarana anak mengenal keteraturan ciptaan Allah. Ini adalah interpretasi pedagogis, bukan tafsir ilmiah atas ayat tersebut.
3. Fungsi Manajemen dalam Pembelajaran Matematika di RA
Dengan kerangka perencanaan, pengorganisasian, penggerakan, dan pengendalian (POAC; Terry & Rue, 2020), peran manajerial kepala RA dapat dirinci sebagai berikut:
- Perencanaan. Kepala RA dan tim pendidik menyusun perangkat perencanaan pembelajaran yang memadukan konsep bilangan, geometri, dan pengukuran dengan tema keislaman, misalnya menghitung ciptaan Allah atau mengamati simetri ornamen masjid. Perencanaan semacam ini sejalan dengan rekomendasi untuk mengintegrasikan matematika dengan kegiatan lain (NAEYC & NCTM, 2010).
- Pengorganisasian. Kepala RA membagi peran pendidik, membentuk tim perencana tematik, dan menjadwalkan pelatihan internal tentang alat permainan edukatif serta pembelajaran berbasis bermain. NAEYC dan NCTM (2010) sendiri menempatkan pengembangan profesional dan struktur kelembagaan yang mendukung guru sebagai bagian dari rekomendasinya.
- Penggerakan. Fungsi ini mencakup pembinaan dan motivasi pendidik serta penyediaan lingkungan belajar. Penelitian pada guru sekolah dasar menunjukkan bahwa kecemasan matematis guru dapat memengaruhi capaian matematika siswa (Beilock et al., 2010). Temuan ini belum tentu identik untuk guru RA, tetapi menjadi alasan bagi kepala RA untuk membangun rasa percaya diri guru lewat pendampingan rutin. Dalam pendekatan Reggio Emilia, lingkungan dipandang sebagai “guru ketiga” (Edwards et al., 2012). Kepala RA dapat mewujudkannya dengan menyediakan balok susun berbagai ukuran, biji-bijian untuk berhitung, dan alat ukur yang aman di dalam maupun luar kelas.
- Pengendalian. Pemantauan mutu bertumpu pada penilaian perkembangan anak, seperti observasi dan portofolio, sesuai pedoman kurikulum RA yang memuat penilaian perkembangan peserta didik (Kementerian Agama RI, 2018). Yang dipantau adalah apakah anak antusias bernalar tanpa tekanan, bukan skor tes tertulis.
4. Ilustrasi Praktik
- Pembelajaran luar kelas. Pada manasik haji mini, anak dapat menghitung putaran tawaf (urutan bilangan), membentuk kelompok kecil (klasifikasi), dan membandingkan jarak antartenda (panjang-pendek). Pada kegiatan berkebun, anak menghitung biji yang ditanam, mengukur tinggi tanaman dengan bilah kayu setiap hari, dan mengamati pola pertumbuhan daun.
- Keterlibatan orang tua. Sekolah dapat menyelenggarakan kelas parenting bertema matematika di rumah. Orang tua dilatih memanfaatkan aktivitas harian: menghitung piring dan gelas untuk anggota keluarga (korespondensi satu-satu), merapikan mainan menurut ukuran atau warna (klasifikasi), dan menakar bahan saat memasak (takaran tak baku). Praktik ini sejalan dengan gagasan mengintegrasikan matematika dalam aktivitas keseharian dan permainan (NAEYC & NCTM, 2010).
5. Simpulan
Pengelolaan RA yang memberi tempat bagi matematika awal tidak berarti menjadikan anak “lebih cepat bisa berhitung”. Yang dibangun adalah cara berpikir yang runtut, tumbuh dari pengalaman konkret, bermain, dan nilai-nilai keislaman. Tulisan ini bersifat konseptual. Efektivitas model integrasi ini masih perlu diuji lewat penelitian empiris di RA dengan konteks sumber daya yang beragam. Jika kepala RA, guru, dan orang tua bergerak bersama, RA dapat menjadi tempat anak mengenal angka sekaligus keteraturan ciptaan Tuhan.
Oleh: Fauziah Astuti, M.Pd. Institut Agama Islam Nusantara Bekasi
Daftar Pustaka
Beilock, S. L., Gunderson, E. A., Ramirez, G., & Levine, S. C. (2010). Female teachers’ math anxiety affects girls’ math achievement. Proceedings of the National Academy of Sciences, 107(5), 1860–1863. https://doi.org/10.1073/pnas.0910967107
Clements, D. H., & Sarama, J. (2014). Learning and teaching early math: The learning trajectories approach (2nd ed.). Routledge.
Cross, C. T., Woods, T. A., & Schweingruber, H. (Eds.). (2009). Mathematics learning in early childhood: Paths toward excellence and equity. National Academies Press.
Duncan, G. J., Dowsett, C. J., Claessens, A., Magnuson, K., Huston, A. C., Klebanov, P., Pagani, L. S., Feinstein, L., Engel, M., Brooks-Gunn, J., Sexton, H., Duckworth, K., & Japel, C. (2007). School readiness and later achievement. Developmental Psychology, 43(6), 1428–1446. https://doi.org/10.1037/0012-1649.43.6.1428
Edwards, C., Gandini, L., & Forman, G. (Eds.). (2012). The hundred languages of children: The Reggio Emilia experience in transformation (3rd ed.). Praeger.
Kementerian Agama Republik Indonesia. (2018). Keputusan Menteri Agama Nomor 792 Tahun 2018 tentang Pedoman Implementasi Kurikulum Raudhatul Athfal.
Kementerian Agama Republik Indonesia. (2024). Keputusan Menteri Agama Nomor 450 Tahun 2024 tentang Pedoman Implementasi Kurikulum pada Raudhatul Athfal, Madrasah Ibtidaiyah, Madrasah Tsanawiyah, Madrasah Aliyah, dan Madrasah Aliyah Kejuruan.
Kementerian Agama Republik Indonesia. (2025). Keputusan Menteri Agama Nomor 1503 Tahun 2025 tentang Perubahan atas Keputusan Menteri Agama Nomor 450 Tahun 2024.
Kementerian Agama Republik Indonesia. (2019). Al-Qur’an dan terjemahnya.
National Association for the Education of Young Children, & National Council of Teachers of Mathematics. (2010). Early childhood mathematics: Promoting good beginnings [Position statement]. https://naeyc.org/positionstatements/mathematics
Piaget, J., & Inhelder, B. (1969). The psychology of the child. Basic Books.
Terry, G. R., & Rue, L. W. (2020). Dasar-dasar manajemen (G. A. Ticoalu, Penerj.). Bumi Aksara.
Vygotsky, L. S. (1978). Mind in society: The development of higher psychological processes. Harvard University Press.
Wood, D., Bruner, J. S., & Ross, G. (1976). The role of tutoring in problem solving. Journal of Child Psychology and Psychiatry, 17(2), 89–100.

