KeislamanPendidikan

Peran Guru Akidah Akhlak dalam Menumbuhkan Iman Anak di Era Digital

8 Mins read

Pendahuluan

​Perkembangan teknologi digital telah membawa banyak perubahan dalam kehidupan anak-anak. Saat ini, anak dapat dengan mudah mengakses berbagai informasi melalui internet, media sosial, YouTube, dan permainan digital. Teknologi tersebut memberikan manfaat bagi proses belajar karena anak bisa memperoleh pengetahuan baru dengan lebih cepat. Namun, di sisi lain, kemudahan akses teknologi juga menghadirkan tantangan dalam pendidikan agama, terutama ketika anak belum mampu membedakan informasi yang baik dan buruk. Oleh karena itu, pendidikan agama memiliki peran penting dalam membantu anak memahami nilai-nilai keimanan dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari (Wahyuni et al., 2024).

​Kualitas iman anak tidak hanya dapat dilihat dari pengetahuan mereka tentang agama, tetapi juga dari sikap dan perilaku yang ditunjukkan dalam kehidupan sehari-hari. Anak yang memiliki pemahaman iman yang baik diharapkan mampu bersikap jujur, menghormati orang lain, menjalankan ibadah, serta menghindari perbuatan yang bertentangan dengan ajaran Islam. Dalam era digital, nilai-nilai tersebut juga perlu diterapkan ketika anak menggunakan teknologi, misalnya dengan tidak menyebarkan berita bohong, tidak melakukan perundungan di media sosial, dan tidak menggunakan internet untuk hal-hal yang merugikan diri sendiri maupun orang lain (Karisma, 2026).

​Dalam hal ini, guru Akidah Akhlak mempunyai peran penting dalam menumbuhkan kualitas iman anak. Guru tidak hanya bertugas menyampaikan materi tentang keimanan dan akhlak, tetapi juga membimbing peserta didik agar mampu memahami dan mengamalkan ajaran Islam. Guru perlu memberikan contoh nyata, membiasakan perilaku terpuji, serta mengarahkan anak supaya dapat menggunakan teknologi secara bijak. Pembelajaran Akidah Akhlak yang sesuai dengan kehidupan anak di era digital diharapkan dapat membantu mereka memiliki dasar keimanan yang kuat sekaligus perilaku yang baik (Amruladun et al., 2026).

​Berdasarkan uraian tersebut, artikel ini membahas peran guru Akidah Akhlak dalam menumbuhkan kualitas iman anak di era digital, tantangan yang dihadapi dalam proses pembelajaran, serta upaya yang dapat dilakukan untuk membantu anak menerapkan nilai-nilai keislaman dalam kehidupan sehari-hari.

​Pembahasan

​1. Pengertian Kualitas Iman Anak

​Iman merupakan keyakinan dalam hati terhadap Allah Swt. dan seluruh hal yang wajib diimani dalam ajaran Islam. Iman tidak cukup hanya diketahui atau diucapkan, tetapi juga perlu tercermin dalam perilaku sehari-hari. Pada anak-anak, penumbuhan kualitas iman dilakukan secara bertahap melalui pengenalan ajaran agama, pembiasaan ibadah, pemberian contoh yang baik, serta bimbingan dari guru dan orang tua (Qiyam et al., 2025). Dengan cara tersebut, anak diharapkan tidak hanya memahami ajaran Islam secara teori, tetapi juga mulai terbiasa menjalankannya dalam kehidupan sehari-hari.

​Kualitas iman anak dapat ditumbuhkan melalui beberapa hal, seperti mengenal Allah Swt., memahami dasar-dasar keimanan, membiasakan ibadah, serta menerapkan akhlak terpuji. Contohnya, anak dibiasakan berdoa sebelum belajar, berkata jujur, menghormati guru dan orang tua, serta bertanggung jawab atas tindakannya (Rohani & Kurniawati, 2024). Kebiasaan tersebut perlu dilakukan secara konsisten agar nilai-nilai agama tidak hanya menjadi materi yang dipelajari di sekolah, tetapi juga menjadi pedoman dalam bersikap dan mengambil keputusan.

​2. Peran Guru Akidah Akhlak dalam Menumbuhkan Kualitas Iman Anak

​Guru Akidah Akhlak memiliki tanggung jawab untuk membantu anak memahami ajaran Islam dan menerapkannya dalam kehidupan. Peran tersebut tidak terbatas pada penyampaian materi di dalam kelas, tetapi juga mencakup pembinaan sikap, pembiasaan perilaku terpuji, dan pendampingan ketika anak menghadapi persoalan. Penelitian mengenai pembelajaran Akidah Akhlak di era digital menunjukkan pentingnya guru sebagai pendidik nilai, pembimbing moral, dan teladan bagi peserta didik (Maulana et al., 2024).

  • ​Pertama, guru berperan sebagai pendidik yang memberikan pemahaman tentang keimanan. Guru perlu menjelaskan materi akidah dengan bahasa yang sederhana dan sesuai dengan usia anak (Rohani & Kurniawati, 2024). Misalnya, ketika membahas iman kepada Allah Swt., guru dapat menjelaskan pentingnya bersyukur, berdoa, dan meyakini bahwa setiap perbuatan manusia harus dipertanggungjawabkan. Materi juga dapat dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari agar anak lebih mudah memahami hubungan antara keyakinan dan perilaku.
  • ​Kedua, guru berperan sebagai teladan dalam menerapkan nilai-nilai Islam. Anak tidak hanya belajar melalui penjelasan guru, tetapi juga melalui perilaku yang mereka lihat secara langsung. Guru yang jujur, sabar, adil, disiplin, dan menghargai peserta didik dapat memberikan contoh nyata tentang penerapan akhlak yang baik (Balqis, 2026). Keteladanan ini penting karena penumbuhan iman tidak cukup dilakukan melalui nasihat, tetapi juga perlu diperkuat dengan tindakan yang dapat ditiru oleh anak.
  • ​Ketiga, guru berperan sebagai pembimbing yang membantu anak menghadapi pengaruh lingkungan digital. Ketika anak menemukan konten yang tidak sesuai dengan ajaran Islam atau mengalami konflik dengan teman di media sosial, guru dapat memberikan arahan secara bijaksana (Afdialudin, 2023). Guru perlu membantu anak memahami alasan suatu tindakan dianggap baik atau buruk, bukan sekadar memberikan larangan. Dengan begitu, anak diharapkan mampu belajar mempertimbangkan tindakannya berdasarkan nilai agama dan tanggung jawab moral.
  • ​Keempat, guru berperan dalam membangun kebiasaan religius di sekolah. Pembiasaan seperti berdoa sebelum belajar, membaca Al-Qur’an, melaksanakan salat sesuai jadwal, mengucapkan salam, dan menjaga kebersihan dapat menjadi bagian dari pendidikan keimanan (Amruladun et al., 2026). Kegiatan tersebut perlu dilaksanakan dengan pendampingan dan penjelasan mengenai maknanya agar anak tidak sekadar mengikuti rutinitas, tetapi juga mulai memahami nilai yang terkandung di dalamnya.
Baca...  Psikologi Goblok di Media Sosial

​3. Tantangan Menumbuhkan Kualitas Iman Anak di Era Digital

​Salah satu tantangan yang dihadapi guru Akidah Akhlak adalah banyaknya informasi yang dapat diakses anak melalui internet. Tidak semua informasi yang ditemukan di media digital sesuai dengan nilai-nilai agama dan pendidikan (Wahyuni et al., 2024). Anak yang belum memiliki pemahaman agama yang cukup dapat mengalami kesulitan dalam membedakan informasi yang benar, konten yang bermanfaat, dan konten yang dapat memberikan pengaruh buruk. Oleh karena itu, guru perlu memberikan pemahaman agama yang kuat sekaligus mengajarkan kemampuan memilih informasi secara bijak.

​Tantangan lainnya adalah penggunaan gawai secara berlebihan yang dapat mengganggu waktu belajar, ibadah, istirahat, dan interaksi anak dengan keluarga (Hidup et al., 2025). Ketika anak terlalu banyak menghabiskan waktu untuk bermain gim atau menonton video, kegiatan yang mendukung perkembangan spiritualnya bisa menjadi kurang diperhatikan. Meskipun demikian, teknologi tidak selalu memberikan dampak negatif. Pengaruhnya bergantung pada cara penggunaan, jenis konten yang diakses, serta pendampingan yang diberikan oleh orang dewasa. Oleh sebab itu, guru dan orang tua perlu membantu anak mengatur penggunaan teknologi secara seimbang.

​Selain itu, perkembangan teknologi juga dapat memengaruhi cara anak berinteraksi dengan orang lain. Sebagian anak mungkin menganggap ejekan di media sosial sebagai candaan biasa, padahal perkataan tersebut dapat menyakiti orang lain. Kondisi ini menunjukkan bahwa pendidikan akhlak perlu disesuaikan dengan persoalan yang benar-benar dihadapi anak. Guru harus menjelaskan bahwa nilai kejujuran, kesopanan, tanggung jawab, dan penghormatan terhadap sesama tetap berlaku, baik ketika berinteraksi secara langsung maupun melalui internet (Anjani & Abdullah, 2026).

​4. Upaya Guru Akidah Akhlak dalam Menumbuhkan Kualitas Iman Anak

  • ​Upaya pertama yang dapat dilakukan guru adalah menggunakan metode pembelajaran yang menarik dan sesuai dengan perkembangan anak. Guru dapat memanfaatkan video edukasi, cerita islami, kuis, gambar, dan contoh kejadian yang dekat dengan kehidupan sehari-hari (Amruladun et al., 2026). Sebagai contoh, ketika membahas sifat jujur, guru dapat mengajak anak mendiskusikan tindakan menyebarkan berita yang belum diketahui kebenarannya. Melalui kegiatan tersebut, anak dapat memahami bahwa ajaran agama berkaitan langsung dengan perilaku mereka di dunia digital.
  • ​Upaya kedua adalah membiasakan anak melakukan perbuatan baik secara konsisten. Guru dapat mengajak peserta didik berdoa sebelum belajar, melaksanakan ibadah, menjaga kebersihan kelas, membantu teman, dan berkata jujur (Balqis, 2026). Pembiasaan tersebut sebaiknya dilakukan dengan pendekatan yang positif, disertai penjelasan mengenai manfaat dan nilai keagamaannya. Guru juga perlu memberikan penghargaan yang wajar terhadap usaha anak agar mereka semakin termotivasi untuk memperbaiki perilakunya.
  • ​Upaya ketiga adalah mengajarkan etika dalam menggunakan media digital. Anak perlu memahami bahwa menggunakan media sosial juga membutuhkan tanggung jawab. Guru dapat memberikan contoh tentang pentingnya menjaga perkataan, menghormati privasi orang lain, tidak menyebarkan fitnah, serta memeriksa kebenaran informasi sebelum membagikannya (Anjani & Abdullah, 2026). Guru juga dapat mengajak anak berdiskusi mengenai hubungan antara perilaku digital dan akhlak Islam sehingga anak memahami bahwa keimanan perlu tercermin dalam seluruh aktivitasnya.
  • ​Upaya keempat adalah membangun kerja sama antara guru dan orang tua. Pendidikan keimanan tidak cukup dilakukan di sekolah karena anak juga menghabiskan banyak waktu di lingkungan keluarga dan masyarakat (Rohani & Kurniawati, 2024). Orang tua dapat melanjutkan pembiasaan yang diajarkan guru, memberikan pendampingan ketika anak menggunakan gawai, serta menyediakan waktu untuk beribadah dan berdiskusi bersama. Kerja sama tersebut membantu menciptakan lingkungan yang mendukung perkembangan iman dan akhlak anak secara berkelanjutan.
  • ​Upaya kelima adalah memberikan bimbingan dengan pendekatan yang sesuai dengan kebutuhan anak. Ketika anak melakukan kesalahan, guru sebaiknya tidak hanya memarahi atau memberikan hukuman, tetapi juga mengajak anak memahami akibat perbuatannya dan cara memperbaikinya (Afdialudin, 2023). Pendekatan yang komunikatif dapat membuat anak lebih nyaman menyampaikan masalah yang dihadapi. Dengan demikian, guru dapat membantu anak mengembangkan kesadaran beragama yang berasal dari pemahaman dan kemauan untuk berbuat baik, bukan hanya karena takut terhadap hukuman.
Baca...  Gus Ulil Ngaji Ihya’ Ulumuddin: Hasad Adalah Keegoisan dan Kebodohan Diri

​5. Pentingnya Menumbuhkan Kualitas Iman Anak di Era Digital

​Penumbuhan kualitas iman anak menjadi penting karena perkembangan teknologi akan terus memengaruhi kehidupan mereka. Anak yang memperoleh pendidikan agama secara baik diharapkan mampu menjadikan nilai-nilai Islam sebagai pedoman dalam memilih tindakan, menggunakan teknologi, dan berinteraksi dengan orang lain. Keimanan yang ditumbuhkan sejak dini juga perlu didukung oleh pemahaman agama, kebiasaan beribadah, akhlak terpuji, serta kemampuan menghadapi pengaruh lingkungan secara bijaksana (Sholeh & Abdullah, 2026).

​Dalam hal ini, keberhasilan guru Akidah Akhlak tidak seharusnya hanya dinilai dari kemampuan anak menjawab pertanyaan atau memperoleh nilai tinggi dalam pelajaran. Perkembangan tersebut juga dapat dilihat melalui perubahan perilaku, seperti meningkatnya kejujuran, kedisiplinan, tanggung jawab, kepedulian, dan kesadaran dalam beribadah (Karisma, 2026). Penilaian perlu dilakukan secara bertahap dengan memperhatikan proses perkembangan setiap anak, karena pembentukan keimanan dan akhlak membutuhkan waktu serta pendampingan yang berkelanjutan.

​Dengan demikian, guru Akidah Akhlak perlu menggabungkan pemahaman agama, keteladanan, pembiasaan, pemanfaatan teknologi secara positif, dan kerja sama dengan orang tua. Pendekatan tersebut dapat membantu anak menghadapi tantangan era digital tanpa meninggalkan nilai-nilai Islam. Teknologi dapat dimanfaatkan sebagai sarana pembelajaran, sedangkan ajaran agama menjadi pedoman dalam menentukan cara penggunaannya.

​Kesimpulan

​Guru Akidah Akhlak memiliki peran penting dalam menumbuhkan kualitas iman anak di era digital. Peran tersebut diwujudkan melalui pemberian pemahaman tentang keimanan, keteladanan dalam berperilaku, pembimbingan moral, dan pembiasaan kegiatan religius. Guru juga perlu membantu anak memahami etika dalam menggunakan teknologi agar mereka mampu membedakan perilaku yang baik dan buruk serta menerapkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari.

​Perkembangan teknologi digital menghadirkan tantangan berupa paparan informasi yang tidak sesuai, penggunaan gawai secara berlebihan, dan perilaku yang kurang baik di media sosial. Namun, teknologi juga dapat dimanfaatkan untuk mendukung pembelajaran agama melalui video edukasi, cerita islami, dan berbagai media interaktif. Oleh karena itu, guru perlu mengembangkan metode pembelajaran yang menarik dan sesuai dengan kebutuhan anak.

Baca...  Bahaya Mengkafirkan Kelompok: Ngaji Al-Iqtishad fi Al-I’tiqad Gus Ulil

​Penumbuhan kualitas iman tidak dapat dilakukan oleh guru seorang diri, tetapi membutuhkan kerja sama dengan orang tua dan lingkungan sekitar. Melalui pendidikan yang konsisten, keteladanan, pembiasaan ibadah, dan pendampingan penggunaan teknologi, anak diharapkan mampu tumbuh menjadi pribadi yang memiliki keimanan kuat, berakhlak baik, bertanggung jawab, dan bijak dalam menghadapi perkembangan zaman.

​DAFTAR PUSTAKA

​Afdialudin, Z. (2023). Peran Guru Pendidikan Agama Islam Dalam Menumbuhkan Jiwa Wirausaha Siswa. Perwira Journal of Economics & Business, 3(01), 23–38. https://doi.org/10.54199/pjeb.v3i01.162

​Amruladun, A. I., Nasirudin, & Astuti, N. Y. (2026). Strategi Pedagogis Dan Transformasi Peran Guru Akidah Akhlaq Dalam Internalisasi Nilai Akhlak Siswa Di Era Digital: Studi Kasus Di Mi Roudlotut Tholibin Manyar Gresik. Geneologi PAI: Jurnal Pendidikan Agama Islam, 13(1), 103–124. https://doi.org/10.32678/geneologipai.v13i1.12996

​Anjani, L. A., & Abdullah, M. (2026). Peran Guru Akidah Akhlak dalam Pembinaan Akhlak Siswi di Era Digital: Studi Kualitatif di SMA Majlis Tafsir Al-Qur’an Surakarta. Paedagogie, 21(1), 1805–1814. https://doi.org/10.31603/paedagogie.v21i1.16222

​Balqis, A. F. (2026). Peran Guru Pendidikan Agama Islam dalam Membentuk Karakter Religius Peserta Didik. Educatoria: Jurnal Ilmiah Ilmu Pendidikan, 6(2), 429–440. https://doi.org/10.36312/educatoria.v6i2.1251

​Hidup, G., Pada, R., & Alfityah, S. (2025). Darmawati, 2025 Sosial Media TikTok. Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan, 4(1), 1543–1553.

​Karisma, N. (2026). Peran Penting Pembelajaran Akidah Akhlak dalam Menghadapi Era Digital. Pena Merdeka: Jurnal Pendidikan, 2(1), 62–68. https://doi.org/10.32832/jpm.v2i1.2380

​Maulana, M. I., Islam, U., Maulana, N., & Ibrahim, M. (2024). Peran Pendidik dalam Membina Karakter Peserta Didik di Era Digital. Jurnal Pendidikan Islam, 3(2), 241–258.

​Qiyam, J. Al, Jamil, M., & Setiawan, D. (2025). Penumbuhan Kualitas Keimanan dan Ketaqwaan Peserta Didik. Jurnal Al – Qiyam, 6(1), 208–217.

​Rohani, R., & Kurniawati, E. (2024). Peran Guru Pendidikan Agama Islam Di Era Digital (Studi Kasus Di SDN 1 Tanjung Raja Giham). Jurnal Tahsinia, 5(5), 696–710. https://jurnal.rakeyansantang.ac.id/tahsinia/article/view/563

​Sholeh, M. M., & Abdullah, M. (2026). Peran Guru Akidah Akhlak dalam Pembinaan Akhlak Siswi di Era Digital: Studi Kualitatif di SMA Majlis Tafsir Al-Qur’an Surakarta. Paedagogie, 21(1), 1797–1804. https://doi.org/10.31603/paedagogie.v21i1.16221

​Wahyuni, H., Barizi, A., Kawakip, A. N., Al Aluf, W., & Ardiansyah, I. (2024). Tantangan Dan Peluang Pendidikan Islam Di Era Digitalisasi Dalam Sudut Pandang Filsafat Pendidikan Islam. Jurnal Tarbiyah Islamiyah, 9(1), 206–217.

1 posts

About author
Program Studi Pendidikan Agama Islam, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang, Indonesia
Articles
Related posts
KeislamanPendidikan

Pembelajaran Kisah Nabi: Strategi Efektif Penguatan Iman Anak SD

7 Mins read
​Pendahuluan ​Banyak siswa sekolah dasar mampu menghafal doa sehari-hari, seperti doa sebelum makan dan sebelum tidur, serta menyebutkan rukun iman secara berurutan….
KeislamanPendidikan

​Penguatan Keimanan & Akhlak Anak SD: Strategi dan Teladan

4 Mins read
​Pernahkah Anda melihat anak yang hafal doa makan, tetapi lupa mengucapkan terima kasih kepada ibunya yang menyiapkan makanan tersebut? Hal kecil seperti…
KeislamanPendidikan

Strategi Menanamkan Nilai Keimanan Anak di Era Digital

4 Mins read
Pendahuluan ​Pendidikan Islam bagi peserta didik tingkat Sekolah Dasar atau Madrasah Ibtidaiyah (SD/MI) dewasa ini menghadapi tantangan yang sangat kompleks seiring dengan…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *