PENDAHULUAN
Bayangkan seorang anak kelas dua SD yang setiap pagi mengucapkan salam kepada gurunya, membaca doa sebelum belajar, lalu merapikan sandal temannya di depan musala. Ia belum fasih menjelaskan apa itu akidah atau akhlak. Namun, tindakan-tindakan kecil yang ia ulang setiap hari sedang menanam sesuatu yang jauh lebih dalam: rasa dekat dengan Tuhan dan kepedulian terhadap sesama. Pertanyaannya, bagaimana kebiasaan sederhana itu pelan-pelan berubah menjadi keimanan yang hidup?
Pertanyaan ini penting bagi dunia pendidikan dasar kita. Di banyak sekolah dan madrasah, pelajaran agama sering berhenti pada hafalan: rukun iman, rukun Islam, dan daftar sifat Allah. Anak mungkin mampu menjawab ujian dengan benar, tetapi belum tentu jujur ketika tidak diawasi atau sabar ketika diganggu temannya. Iman yang hanya tinggal di kepala akan mudah rapuh. Iman yang kuat tumbuh ketika pengetahuan, perasaan, dan perbuatan berjalan bersama. Dua jalan yang paling dekat dengan dunia anak untuk mewujudkannya adalah pembiasaan dan keteladanan.
Tulisan ini membahas mengapa pembiasaan cocok bagi anak SD/MI, bagaimana keteladanan bekerja, apa saja tantangannya, dan strategi praktis yang dapat dijalankan oleh guru serta orang tua.
PEMBAHASAN
Iman Bukan Sekadar Hafalan
Dalam tradisi Islam, anak dipandang lahir dengan fitrah, yaitu kecenderungan alami untuk mengenal Tuhan. Orang tua dan lingkunganlah yang kemudian merawat atau justru menumpulkan fitrah tersebut. Artinya, tugas pendidik bukan memasukkan iman dari luar, melainkan menyiramnya agar tumbuh. Penyiraman itu tidak cukup dengan ceramah semata. Anak usia SD/MI berada pada tahap berpikir konkret. Mereka belajar dari apa yang dilihat, didengar, dan dilakukan berulang kali, bukan dari konsep abstrak yang disampaikan sekali.
Karena itu, strategi peningkatan kualitas iman anak perlu dimulai dari pengalaman nyata. Pembiasaan memberi anak pengalaman beribadah dan berakhlak secara teratur, sedangkan keteladanan memberi mereka gambaran hidup tentang seperti apa orang beriman itu. Keduanya saling melengkapi: pembiasaan tanpa teladan terasa seperti perintah kosong, sedangkan teladan tanpa pembiasaan hanya menjadi tontonan.
Mengapa Pembiasaan Cocok untuk Anak SD/MI
Pembiasaan pada dasarnya adalah pengulangan perbuatan baik hingga menjadi bagian dari diri seseorang. Berbagai penelitian di tingkat dasar menunjukkan bahwa metode ini banyak dipakai dan dinilai efektif untuk menumbuhkan karakter religius anak (Akhyar & Sutrawati, 2021; Ahsanulkhaq, 2019). Pembiasaan bahkan sudah dikaji sejak jenjang usia dini, misalnya untuk menanamkan disiplin dan tanggung jawab di taman kanak-kanak (Anggraeni dkk., 2021). Hal ini wajar, sebab pada usia sekolah dasar, rutinitas memberi anak rasa aman dan arah. Anak yang terbiasa berdoa sebelum makan tidak lagi perlu diingatkan setiap kali, dan lama-kelamaan doa itu terasa seperti bagian tak terpisahkan dari aktivitas makan itu sendiri.
Kajian di sebuah madrasah ibtidaiyah di Magetan menggambarkan bagaimana pembiasaan dijalankan secara sistematis. Kegiatan harian mencakup membaca Al-Qur’an, salat berjamaah, serta menghafal surah pendek dan Asmaul Husna. Kegiatan mingguan dan insidental mencakup istigasah, tahlil, dan peringatan hari besar Islam. Hasilnya, perilaku religius siswa tampak lebih konsisten (Prastyo dkk., 2025). Penelitian lain menunjukkan bahwa pembiasaan aktivitas keagamaan memang menjadi jalur yang lazim dan efektif dalam membentuk karakter religius siswa (Nurbaiti dkk., 2020; Sonia dkk., 2022).
Sekolah dasar lain menyusun pembiasaan dalam empat bentuk: kegiatan rutin, kegiatan terprogram, kegiatan spontan, dan keteladanan (Kharismatika & Yusuf, 2024). Pembagian ini bisa menjadi kerangka praktis bagi guru:
- Kegiatan Rutin: Hal yang dilakukan setiap hari, seperti berdoa dan bersalaman.
- Kegiatan Terprogram: Agenda terjadwal, seperti salat duha bersama atau pesantren kilat.
- Kegiatan Spontan: Respons guru terhadap momen yang muncul, misalnya menegur dengan lembut ketika anak berkata kasar.
- Keteladanan: Perilaku dan akhlak guru itu sendiri.
Keteladanan: Pelajaran yang Tidak Diucapkan
Al-Qur’an menyebut Rasulullah SAW sebagai teladan yang baik (uswatun hasanah) dalam Surah Al-Ahzab ayat 21. Pesan ini sangat relevan bagi pendidik. Anak adalah peniru yang ulung. Ketika guru meminta anak berkata jujur tetapi ia sendiri datang terlambat dan mencari alasan, pesan yang sampai kepada anak adalah pesan yang kedua. Sebaliknya, guru yang tersenyum, sabar, dan menepati janji sedang mengajarkan akhlak tanpa harus menyebut kata “akhlak”.
Teladan yang berpengaruh tidak harus selalu disengaja. Studi oleh Prastyo dkk. (2025) mencatat bahwa keteladanan guru muncul dalam dua bentuk:
- Disengaja: Seperti memimpin doa atau menjadi imam salat.
- Tidak Disengaja: Seperti cara guru berbicara, berpakaian, dan memperlakukan siswa.
Untuk menjaganya, sekolah/madrasah dapat memakai buku kontrol karakter dan pengawasan rutin (Prastyo dkk., 2025). Pentingnya keteladanan guru juga ditegaskan dalam kajian pendidikan karakter lainnya (Prasetyo dkk., 2019). Di tingkat sekolah dasar, pengaruh keteladanan dan pembiasaan terhadap karakter religius bahkan telah diuji secara kuantitatif pada puluhan siswa kelas V di sebuah SD di Surakarta (Astuti, 2020).
Penjelasan ilmiahnya sejalan dengan teori belajar sosial (social learning theory) yang dirujuk dalam kajian-kajian tersebut: manusia, terutama anak-anak, belajar dengan mengamati dan meniru model di sekitarnya. Artinya, kualitas iman anak sangat bergantung pada kualitas model yang mereka lihat setiap hari, baik di sekolah maupun di rumah.
Ketika Kebiasaan Berubah Menjadi Rutinitas Kosong
Pembiasaan memiliki risiko yang jarang dibicarakan: ia bisa berhenti sebagai rutinitas mekanis semata. Anak salat karena takut ditegur, bukan karena cinta; anak membaca doa dengan cepat tanpa tahu artinya. Jika dibiarkan, kebiasaan itu akan hilang begitu pengawasan hilang, misalnya saat libur sekolah atau ketika anak berpindah jenjang pendidikan.
Penelitian di sebuah SD di Balikpapan mengidentifikasi masalah serupa. Pembiasaan sering dijalankan dengan cara yang monoton, siswa tidak memahami tujuan dan manfaatnya, serta lingkungan keluarga maupun masyarakat kurang mendukung. Solusi yang ditempuh sekolah tersebut adalah memvariasikan metode, membantu siswa memahami manfaat pengamalan nilai religius, dan menggandeng orang tua (Kharismatika & Yusuf, 2024). Temuan lain menunjukkan kendala berupa latar belakang siswa yang beragam serta keterbatasan sarana dan sumber daya (Prastyo dkk., 2025).
Dari sini dapat ditarik satu gagasan penting: jembatan antara kebiasaan dan keimanan adalah makna. Anak perlu tahu mengapa ia melakukan sesuatu. Guru dapat menyisipkan cerita pendek tentang kisah para nabi sebelum salat duha, mengajak anak merenungkan nikmat Tuhan sebelum makan, atau meminta anak menceritakan perasaannya setelah membantu teman. Dengan cara itu, kebiasaan yang awalnya dijalankan karena diajak berubah menjadi kebiasaan yang dijalankan karena dimengerti dan dirasakan.
Rumah sebagai Madrasah Pertama
Sekolah hanya mendampingi anak beberapa jam sehari. Jika nilai yang diajarkan di sekolah tidak muncul di rumah, anak akan belajar bahwa agama hanya berlaku di ruang kelas. Kolaborasi dengan orang tua karenanya bukan sekadar tambahan, melainkan syarat utama. Kajian oleh Kharismatika & Yusuf (2024) menempatkan kerja sama dengan orang tua sebagai salah satu solusi utama untuk memperkuat pembiasaan nilai religius. Studi di Magetan juga mencatat bahwa dukungan lingkungan keluarga dan masyarakat menjadi faktor pendorong utama keberhasilan program (Prastyo dkk., 2025).
Bentuk kolaborasi ini bisa sangat sederhana:
- Sekolah membagikan lembar pemantauan ibadah yang diisi bersama orang tua.
- Guru menyampaikan kebiasaan yang sedang dilatihkan minggu itu melalui grup wali murid (misalnya: membiasakan salam dan senyum ketika masuk rumah).
- Orang tua mengajak anak salat berjamaah di rumah, meskipun hanya satu waktu.
Penelitian pada masa pembelajaran jarak jauh juga menunjukkan bahwa program pembiasaan dan keteladanan tetap dapat dijalankan di tengah keterbatasan, selama sekolah dan keluarga saling bekerja sama (Amin, 2022).
Perintah Nabi Muhammad SAW agar orang tua mengajak anak salat sejak usia tujuh tahun mencerminkan prinsip bertahap: dimulai dari ajakan dan latihan, bukan dari tuntutan yang berat. Prinsip ini menyiratkan bahwa orang tua dan guru perlu memiliki kesabaran. Kesalahan anak dalam beribadah adalah bagian dari proses belajar, bukan alasan untuk menghakimi atau mempermalukannya.
STRATEGI PRAKTIS BAGI GURU DAN ORANG TUA
Berdasarkan kajian-kajian literatur di atas, ada lima langkah praktis yang dapat dijalankan secara realistis di SD/MI:
- Mulai dari yang Kecil dan Konsisten Pilih satu atau dua kebiasaan utama (seperti salam, doa sebelum belajar, atau membuang sampah pada tempatnya), lalu jalankan setiap hari. Konsistensi jauh lebih berpengaruh daripada banyaknya program.
- Jelaskan Makna dengan Bahasa Anak Sebelum anak diminta berbuat, ceritakan alasannya lewat kisah, pertanyaan, atau percakapan singkat. Langkah ini menjaga agar kebiasaan tidak menjadi rutinitas mekanis yang kosong.
- Jadikan Orang Dewasa sebagai Teladan Nyata Guru dan orang tua perlu lebih dulu melakukan apa yang diminta. Sekolah dapat membuat kesepakatan sederhana antarguru tentang perilaku yang harus dicontohkan, seperti datang tepat waktu, bertutur santun, dan tidak membentak.
- Variasikan Cara dan Beri Apresiasi Gunakan cerita, lagu, permainan peran (role playing), dan proyek kebaikan agar pembiasaan tidak membosankan. Apresiasi yang tulus (pujian atau catatan positif) lebih mampu menumbuhkan motivasi intrinsik daripada hukuman.
- Pantau dan Libatkan Keluarga Buku kontrol karakter atau lembar kegiatan harian dapat membantu guru melihat perkembangan anak dan membuka ruang komunikasi aktif dengan orang tua, sebagaimana diterapkan dalam praktik madrasah yang dikaji Prastyo dkk. (2025).
PENUTUP
Iman anak tidak lahir dari satu pelajaran atau satu ceramah semata, melainkan dari ribuan pengalaman kecil yang berulang di bawah bimbingan orang dewasa yang dapat ditiru. Pembiasaan memberi anak pijakan kokoh untuk beribadah dan berakhlak, sedangkan keteladanan memberi mereka alasan untuk mencintainya. Agar kebiasaan benar-benar mentransformasi menjadi keimanan, keduanya perlu dilengkapi pemahaman yang bermakna dan dukungan keluarga yang konsisten.
Pada akhirnya, anak yang kita besarkan hari ini tidak hanya perlu tahu apa itu iman, tetapi juga merasakannya dalam cara ia berbicara, bersikap, dan memperlakukan orang lain. Tugas kita sebagai guru, calon guru, dan orang tua adalah memastikan bahwa apa yang kita ajarkan secara lisan juga terlihat nyata dalam apa yang kita lakukan sehari-hari.
DAFTAR PUSTAKA
Ahsanulkhaq, M. (2019). Membentuk karakter religius peserta didik melalui metode pembiasaan. Jurnal Prakarsa Paedagogia, 2(1), 21–33. https://doi.org/10.24176/jpp.v2i1.4312
Akhyar, Y., & Sutrawati, E. (2021). Implementasi metode pembiasaan dalam membentuk karakter religius anak. Al-Mutharahah: Jurnal Penelitian dan Kajian Sosial Keagamaan, 18(2), 132–146. https://doi.org/10.46781/al-mutharahah.v18i2.363
Amin, M. (2022). Implementasi program pembiasaan dan keteladanan pada era new normal dalam membentuk akhlak siswa MTs Miftahul Huda, Tayu, Pati. El-Tarbawi, 15(1), 127–154. https://doi.org/10.20885/tarbawi.vol15.iss1.art6
Anggraeni, C., Elan, E., & Mulyadi, S. (2021). Metode pembiasaan untuk menanamkan karakter disiplin dan tanggung jawab di RA Daarul Falaah Tasikmalaya. Journal PAUD Agapedia, 5(1), 100–109. https://doi.org/10.17509/jpa.v5i1.39692
Astuti, W. (2020). Pengaruh keteladanan dan pembiasaan terhadap pembentukan karakter religius siswa kelas V di SD Muhammadiyah 16 Surakarta tahun 2019/2020 [Skripsi, Universitas Muhammadiyah Surakarta]. https://eprints.ums.ac.id/86107
Kharismatika, A., & Yusuf, I. (2024). Implementasi metode pembiasaan nilai-nilai religius dalam pembentukan karakter siswa di SD Patra Dharma 3 Balikpapan. Jurnal Pendidikan Tambusai, 8(3), 50898–50904. https://jptam.org/index.php/jptam/article/view/23926
Nurbaiti, R., Alwy, S., & Taulabi, I. (2020). Pembentukan karakter religius siswa melalui pembiasaan aktivitas keagamaan. El Bidayah: Journal of Islamic Elementary Education, 2(1), 55–65. https://doi.org/10.33367/jiee.v2i1.995
Prasetyo, D., Marzuki, M., & Riyanti, D. (2019). Pentingnya pendidikan karakter melalui keteladanan guru. Harmony: Jurnal Pembelajaran IPS dan PKN, 4(1), 19–32.
Prastyo, Y., Budiwan, J., & Rohman, M. A. A. (2025). Implementasi metode pembiasaan dan keteladanan dalam pembentukan karakter religius anak. Absorbent Mind, 5(2). https://doi.org/10.37680/absorbent_mind.v5i2.10349
Sonia, S., Nur, T., & Herdiana, Y. (2022). Pembentukan karakter religius siswa melalui metode pembiasaan di MTs Al-Fathimiyah Karawang. Fondatia, 6(3), 702–713. https://doi.org/10.36088/fondatia.v6i3.2049

