Coba kalau kita tanyakan kepada anak SD: “Rukun iman ada berapa?” Kemungkinan besar mereka akan menjawab dengan cepat dan lantang, “Enam!”—mulai dari iman kepada Allah sampai iman kepada qada dan qadar, urut tanpa terputus. Kemudian gurunya tersenyum dan orang tuanya merasa bangga. Namun, ketika kita mencoba menanyakan hal lain: “Apa yang kamu lakukan ketika uang kembalian dari warung kelebihan seribu rupiah dan tidak ada yang tahu?” Di sinilah jawabannya sering kali tidak semulus hafalannya.
Jarak antara mengetahui dan menghayati itu bukan sekadar kesan. Temuan Nurmayani dkk. (2025) mencatat bahwa ketika pelajaran akidah di sekolah dasar hanya berhenti pada teori semata, siswa memang mengingat dan menghafal rukun iman serta doa, tetapi pemahamannya tidak sampai mendalam. Akibatnya, akidah hanya dikenal sebagai pengetahuan dan belum menjadi pegangan hidup. Temuan lain oleh Baresy dan Anam (2025) di sebuah SDIT menunjukkan hal yang senada. Sebagian siswa kelas V masih belum konsisten beribadah dan belum menunjukkan penghayatan tauhid yang kuat, padahal materi iman dan tauhid sudah mereka terima di kelas.
Pada anak yang lebih kecil pun demikian. Yuliani dan Yeni (2026) menemukan di sebuah Raudhatul Athfal (RA) bahwa anak-anak bisa menghafal doa dan ayat pendek, tetapi belum memahami maknanya—mereka tetap berebut mainan meskipun sudah diajari untuk saling berbagi.
Anak SD Berpikir Lewat Hal-Hal yang Bisa Mereka Lihat
Menurut teori Piaget, anak usia sekitar tujuh sampai sebelas tahun berada pada tahap operasional konkret (Asdah, 2025). Mereka sudah bisa berpikir logis, tetapi logika tersebut masih menempel pada benda dan peristiwa nyata. Asdah (2025) juga menjelaskan bahwa batas antartahap perkembangan kognitif tidak sekaku yang tertulis di buku teks; seorang anak bisa menunjukkan kemampuan berpikir yang lebih maju dalam situasi tertentu tergantung pada pengalaman dan rangsangan dari lingkungannya.
Terkadang, anak cenderung berpikir konkret dan belum sanggup mencerna konsep abstrak secara mendalam. Jalan keluarnya bukanlah menunda pengenalan iman, melainkan menjembatani konsep abstrak tersebut dengan pengalaman yang konkret. Langit setelah hujan, nasi yang tersaji di meja makan, atau doa sebelum tidur bisa menjadi pintu masuk yang jauh lebih ramah daripada definisi di papan tulis.
Teladan Dulu, Baru Nasihat
Abdullah Nashih Ulwan dalam Tarbiyatul Aulad fil Islam merumuskan lima metode mendidik anak: keteladanan, pembiasaan, nasihat, pengawasan, dan hukuman yang mendidik (Rahmah, 2023). Rahmah (2023) yang menelaah kitab tersebut menilai keteladanan sebagai metode yang paling mendasar, dengan satu syarat penting: yakni konsistensi antara nilai yang diajarkan dan perilaku si pendidik. Tanpa konsistensi itu, kekuatan teladan akan melemah.
Nurmayani dkk. (2025) mengungkapkan bahwa di suatu sekolah dasar, siswa mengaku senang melihat guru ikut shalat berjamaah dan merasa malu jika tidak ikut. Hal ini terjadi karena guru menjadi contoh langsung, bukan sekadar pemberi nasihat. Perhatikan kata yang dipakai anak-anak itu: malu, bukan takut. Rasa malu menandakan bahwa nilai agama sudah mulai berpindah dari perintah di luar diri menjadi perasaan di dalam diri.
Kita juga memiliki teladan terbaik, yaitu Rasulullah SAW. Anak yang terbiasa meneladani sifat Nabi akan tumbuh menjadi pribadi yang taat, jujur dalam ucapan, menepati janji, dan terbiasa berbagi (Nurjanah dkk., 2024). Di rumah, giliran orang tua yang diuji. Anak usia sekolah dasar cenderung meniru apa yang mereka lihat sehari-hari, sehingga sikap dan kebiasaan orang tua akan diserap sepenuhnya oleh anak.
Membiasakan, Tetapi Jangan Sekadar Menyuruh
Pembiasaan sering dianggap sebagai metode yang paling membosankan karena berisikan pengulangan. Padahal, hasilnya sangat terasa. Di SDIT Ihya Assunnah Singkut, kegiatan seperti shalat berjamaah, shalat dhuha, tilawah, dan doa harian dijalankan secara terstruktur. Hasil observasi dan wawancara menunjukkan adanya peningkatan kedisiplinan ibadah, munculnya rasa malu ketika melanggar aturan agama, serta kesadaran bahwa Allah selalu mengawasi (Baresy & Anam, 2025).
Pembiasaan tidak harus selalu berskala besar. Nurmayani dkk. (2025) mencatat bahwa di SD Pelangi, guru Pendidikan Agama Islam (PAI) membiasakan siswa kelas rendah untuk mengucap bismillah sebelum memulai kegiatan dan alhamdulillah setelah selesai. Kebiasaan sekecil itu dinilai efektif dalam menumbuhkan kesadaran anak akan kehadiran Allah dalam aktivitas sehari-hari.
Hanya saja, kebiasaan yang tidak disertai pemaknaan bisa melahirkan kepatuhan yang mekanis. Anak melakukan sesuatu hanya karena rutinitas atau perintah, bukan karena mengerti maksudnya. Oleh karena itu, sesekali kita perlu berhenti dan bertanya, “Kenapa ya kita membaca bismillah dulu?” Jawaban anak mungkin lucu dan jauh dari isi buku. Tidak apa-apa; justru dari situlah pemaknaan mulai tumbuh.
Cerita dan Pertanyaan yang Membuat Anak Berpikir
Anak-anak sangat menyukai cerita, dan cerita bekerja pada sisi yang tidak dapat dijangkau oleh ceramah. Maghfira dan Basuki (2025) mewawancarai guru akidah kelas rendah di SD Al-Alif Cikarang dan menemukan tahapan pengajaran yang rapi: memilih cerita yang relevan, menyampaikannya secara interaktif, mengajak berdiskusi dan merenung, lalu menutupnya dengan evaluasi dan penguatan. Cerita yang dipilih diambil dari kisah nabi, kisah sahabat, serta kejadian sehari-hari yang dekat dengan kehidupan anak. Diskusi dibuka dengan pertanyaan terbuka, misalnya: “Apa yang akan kamu lakukan kalau berada di posisi tokoh tersebut?” Menurut guru yang diwawancarai, siswa menjadi antusias dan aktif, serta perilaku tidak jujur seperti berbohong atau mencontek mengalami penurunan (Maghfira & Basuki, 2025).
Satu hal kecil dari penelitian Maghfira dan Basuki (2025) menarik perhatian saya: ada siswa yang bertanya mengapa tokoh dalam cerita tetap jujur padahal ia dihukum. Pertanyaan seperti itu bukanlah gangguan di tengah pelajaran. Itu adalah tanda bahwa nilai kejujuran sedang dicerna dan akidah mulai bersentuhan dengan pertimbangan nyata. Ketika guru dengan sabar menampung pertanyaan semacam itu, ia sedang mengajarkan iman dengan cara yang tidak bisa sekadar dihafal.
Bagaimana dengan pertanyaan yang abstrak? Yuliani dan Yeni (2026) menunjukkan penggunaan media proyektor dan boneka tangan agar pesan abstrak lebih mudah ditangkap oleh anak. Salah satu cerita yang digunakan gurunya sangat sederhana: seorang anak takjub melihat pelangi dan bertanya siapa yang mewarnai langit, lalu ibunya mengalihkan perhatiannya untuk melihat bunga dan kucing sambil mengenalkan bahwa semua itu adalah ciptaan Allah. Itulah pengenalan kepada Sang Pencipta tanpa satu pun istilah yang rumit. Penelitian ini memang dilakukan di jenjang RA, tetapi gagasannya sangat relevan dan mudah diterapkan pada kelas rendah SD/MI.
Rumah dan Sekolah Harus Satu Irama
Sebaik apa pun metode yang digunakan guru di dalam kelas, hasilnya akan goyah jika berhenti di pagar sekolah. Keluarga harus memegang peran utama dalam membentuk akidah anak, di mana ketidakselarasan antara rumah dan sekolah sering kali menjadi salah satu tantangan terbesar (Baresy & Anam, 2025). Selain itu, dampak pembiasaan belum merata disebabkan oleh perbedaan latar belakang keluarga, lingkungan pergaulan, serta konsistensi pembinaan di luar sekolah. Pengaruh gawai dan media sosial juga menjadi hambatan tersendiri, di mana guru PAI menemukan bahwa tidak semua orang tua melanjutkan pembiasaan ibadah di rumah (Baresy & Anam, 2025).
Beberapa langkah praktis ditawarkan oleh para peneliti. Baresy dan Anam (2025) menyarankan sekolah untuk menyusun panduan sederhana pembiasaan iman dan tauhid yang dapat dipraktikkan orang tua di rumah. Langkah lainnya adalah menjalin komunikasi melalui buku penghubung serta memberikan tugas rumah yang melibatkan orang tua—misalnya meminta anak menceritakan pengalaman jujurnya di rumah (Maghfira & Basuki, 2025). Pemilihan tema cerita yang dekat dengan lingkungan anak juga membantu agar nilainya bisa langsung dipraktikkan di rumah (Yuliani & Yeni, 2026).
Di rumah sendiri, kebiasaan kecil seperti berdoa sebelum makan, mengucap basmalah sebelum memulai sesuatu, dan hamdalah setelah selesai sudah merupakan awal yang sangat baik. Jika boleh menambahkan, obrolan santai selama lima menit sebelum tidur tentang hal-hal yang patut disyukuri hari ini bisa menjadi pelengkap yang berharga.
Iman Tumbuh, Bukan Dijejalkan
Hafalan tetaplah penting. Anak perlu mengetahui rukun iman dan menghafal doa-doa harian, sebagaimana sebuah bangunan membutuhkan fondasi. Namun, bangunan iman tidak berhenti pada fondasi saja. Pembentukan karakter adalah investasi jangka panjang yang tidak instan, dengan kesabaran dan keteladanan guru yang konsisten sebagai kuncinya (Nurmayani dkk., 2025).
Perlu diakui secara jujur bahwa sebagian besar penelitian yang saya rujuk merupakan studi kualitatif pada satu atau beberapa sekolah saja, sehingga hasilnya tidak bisa digeneralisasikan begitu saja ke semua kelas. Namun, benang merahnya sangat jelas: anak-anak lebih mudah menghayati iman ketika mereka melihat contohnya, mengalaminya dalam kebiasaan sehari-hari, memahaminya lewat cerita, serta didukung oleh lingkungan rumah yang searah dengan sekolah.
Pada akhirnya, anak yang hafal enam rukun iman adalah awal yang baik. Namun, anak yang tetap jujur ketika tidak ada seorang pun yang melihat—karena ia yakin Allah Maha Melihat—itulah tujuan utama kita.
Daftar Pustaka
Asdah, A. N. (2025). Analisis perkembangan kognitif anak pada tiga rentang usia berdasarkan teori Piaget. Manifestasi: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran, 5(3), 53–60.
Baresy, F. A., & Anam, S. (2025). Penerapan metode pembiasaan dan keteladanan dalam membentuk iman dan tauhid siswa kelas V di SDIT Ihya Assunnah Singkut. Pendas: Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar, 10(4), 381–392.
Maghfira, A., & Basuki, D. D. (2025). Strategi guru mengajar aqidah (nilai kejujuran) dengan metode storytelling di SD Al-Alif Cikarang. MIDA: Jurnal Pendidikan Dasar Islam, 8(2), 145–164.
Nurjanah, S. S., Oktaviani, P., Rahman, D. S., & Nurseha, A. (2024). Konsep keteladanan Nabi dalam pembentukan akidah akhlak anak tingkat dasar. Jurnal Pendidikan Tambusai, 8(1), 13319. https://doi.org/10.31004/jptam.v8i1.13319
Nurmayani, Olii, A. F. Z., Aulia, D., Damanik, B. A. B., Irma, A., & Amanda, A. (2025). Peran guru dalam penanaman akidah Islam pada siswa sekolah dasar. Jurnal Merah Putih Sekolah Dasar, 3(5), 438–443.
Rahmah, F. N. (2023). Pedagogical analysis of child education methods in Tarbiyatul Aulad and their relevance to contemporary Islamic education. JIEP: Journal of Islamic Education and Pesantren, 3(1), 35–43.
Yuliani, M., & Yeni, I. (2026). Metode bercerita dalam penanaman nilai keagamaan anak di Raudhatul Athfal Sentuhan Qalbu. Jurnal Ilmiah PESONA PAUD, 13(1), 78–92.

