Esai

Membangun Kesadaran Beribadah Anak dengan Penguatan Positif

14 Mins read

​PENDAHULUAN

​Pendidikan Islam memiliki tujuan yang lebih luas daripada sekadar memberikan pengetahuan tentang ajaran agama. Pendidikan ini juga diarahkan untuk mengembangkan keimanan, membentuk akhlak yang baik, dan menanamkan kebiasaan beribadah dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, anak perlu diperkenalkan dengan berbagai bentuk ibadah, seperti salat, membaca Al-Qur’an, berdoa, serta membiasakan perilaku terpuji. Pengenalan tersebut perlu disesuaikan dengan usia, kemampuan, dan perkembangan psikologis anak agar proses pembelajaran dapat berlangsung secara efektif.

​Keluarga menjadi lingkungan pendidikan pertama yang berpengaruh terhadap perkembangan keagamaan anak. Melalui interaksi sehari-hari, orang tua dapat mengenalkan ajaran Islam melalui contoh perilaku, nasihat, latihan, cerita, permainan, dan pembiasaan. Ruswandi (2021) menegaskan bahwa model pendidikan keluarga yang efektif memegang peranan penting dalam meningkatkan kedisiplinan dan pembiasaan beribadah anak sejak usia dini. Sejalan dengan hal tersebut, Sari dan Hakim (2023) menjelaskan bahwa pendidikan agama Islam dalam keluarga mencakup pengenalan keimanan, ibadah, dan akhlak melalui metode yang sesuai dengan karakteristik anak. Selain itu, Rahiem dan Marhamah (2025) membahas pandangan orang tua Muslim Indonesia mengenai pendidikan agama anak usia dini, termasuk pengenalan doa, praktik ibadah, pembelajaran Al-Qur’an, kisah nabi, dan pembentukan karakter melalui pendekatan yang sesuai dengan tahap perkembangan anak.

​Namun, membangun kebiasaan beribadah pada anak membutuhkan proses yang berkelanjutan. Sebagian anak masih memerlukan bantuan untuk memahami tujuan ibadah, mengatur waktu, dan menjalankan rutinitas secara mandiri. Safitri dan Fitri (2022), dalam penelitian mengenai pola asuh orang tua dalam mengenalkan salat dan kesantunan berbicara kepada anak usia 5–6 tahun, menunjukkan bahwa penerapan pola asuh memiliki karakteristik yang beragam. Penelitian tersebut juga mengidentifikasi beberapa hambatan dalam proses pengasuhan, termasuk penggunaan gawai dan lingkungan yang kurang mendukung.

​Keadaan tersebut memperlihatkan bahwa pendidikan ibadah perlu dilakukan melalui pendekatan yang tidak hanya menekankan perintah, tetapi juga memberikan pendampingan dan pengalaman belajar yang positif. Apabila anak terus-menerus menghadapi tuntutan tanpa penjelasan yang sesuai dengan pemahamannya, kegiatan ibadah berisiko dipandang sebagai beban. Oleh sebab itu, suasana belajar yang nyaman, penuh kasih sayang, dan didukung oleh keteladanan perlu menjadi perhatian orang tua maupun pendidik.

​Salah satu pendekatan yang dapat dipertimbangkan adalah pemberian reward atau penghargaan yang disertai penguatan positif (positive reinforcement). Penguatan positif dilakukan dengan memberikan respons yang menyenangkan setelah anak menunjukkan perilaku yang diharapkan. Respons tersebut dapat berupa pujian, perhatian, senyuman, atau penghargaan lain yang sesuai dengan kebutuhan anak. Dengan demikian, penguatan positif tidak selalu harus diwujudkan dalam bentuk benda atau uang. Weeland et al. (2022) mengkaji penggunaan pujian oleh pengasuh dan kaitannya dengan perilaku anak dalam konteks program pengasuhan. Kajian tersebut memperlihatkan bahwa hubungan antara pujian dan perubahan perilaku perlu dipahami secara cermat. Artinya, tidak semua bentuk pujian otomatis menghasilkan dampak yang sama. Dalam pendidikan ibadah, orang tua sebaiknya memberikan apresiasi secara tulus dan menjelaskan perilaku yang dihargai, bukan sekadar memberikan pujian secara berlebihan.

​Dalam perspektif Islam, pendekatan tersebut dapat dikaitkan dengan metode targhib, yaitu pemberian motivasi melalui harapan terhadap kebaikan dan dorongan untuk melakukan perbuatan terpuji. Nurhamzah dan Amarullah (2021) membahas penerapan metode targhib dan tarhib dalam pembelajaran akidah akhlak di madrasah. Kajian tersebut menyoroti pentingnya perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi dalam penerapan metode pendidikan tersebut. Berdasarkan uraian tersebut, penggunaan reward dalam pendidikan ibadah perlu dikaji sebagai salah satu cara mendukung proses belajar anak, bukan sebagai tujuan akhir. Penghargaan hendaknya dipadukan dengan keteladanan, pembiasaan, dan penjelasan mengenai makna ibadah agar anak tidak hanya terbiasa melakukan suatu tindakan, tetapi juga mulai memahami nilai yang terkandung di dalamnya.

​Tujuan Artikel

​Artikel ini disusun untuk menjelaskan peran penguatan positif dalam membantu membentuk kebiasaan beribadah anak. Selain itu, artikel ini bertujuan menguraikan berbagai bentuk reward yang dapat digunakan secara sederhana, tepat, dan tidak berlebihan. Pembahasan juga diarahkan untuk menghubungkan prinsip psikologi perkembangan anak dengan nilai-nilai pengasuhan Islam sehingga pembiasaan ibadah dapat dilakukan secara konsisten, penuh kasih sayang, dan sesuai dengan kemampuan anak.

​PEMBAHASAN

​A. Konsep Penguatan Positif dan Reward dalam Perspektif Pendidikan Islam

​Pengertian penguatan positif dan reward

​Penguatan positif merupakan cara memperkuat perilaku yang diharapkan dengan menghadirkan konsekuensi yang menyenangkan setelah perilaku tersebut muncul. Pendekatan ini dapat diterapkan dalam kegiatan pendidikan sehari-hari untuk membantu anak mengenali perilaku yang baik dan mendorongnya mengulangi perilaku tersebut. Sementara itu, reward dapat dipahami sebagai penghargaan yang diberikan atas usaha atau perilaku tertentu. Dalam pembiasaan ibadah, penghargaan dapat diberikan ketika anak berusaha mengikuti salat, belajar membaca Al-Qur’an, menghafal doa, atau berpartisipasi dalam kegiatan keagamaan. Pemberian penghargaan sebaiknya ditujukan untuk mendukung proses belajar anak, bukan untuk menentukan tingkat keimanan atau kesalehannya.

​Kedua konsep tersebut saling berkaitan, tetapi mempunyai penekanan yang berbeda. Reward merupakan salah satu bentuk penghargaan, sedangkan penguatan positif menitikberatkan pada fungsi penghargaan dalam meningkatkan kemungkinan munculnya kembali perilaku tertentu. Oleh karena itu, hadiah tidak selalu menjadi penguatan yang efektif apabila tidak sesuai dengan kebutuhan anak atau justru menimbulkan tekanan. Weeland et al. (2022) mengkaji peran pujian pengasuh dalam konteks program pengasuhan anak. Kajian tersebut menjadi pengingat bahwa pemberian pujian perlu memperhatikan bentuk, tujuan, dan perilaku yang ingin didukung. Dalam kegiatan ibadah, misalnya, orang tua dapat mengatakan, “Alhamdulillah, kamu sudah berusaha mengikuti salat bersama keluarga. Besok kita belajar lagi supaya gerakannya semakin baik.” Kalimat tersebut memberikan apresiasi sekaligus membuka kesempatan bagi anak untuk terus belajar.

​Penguatan positif dalam pendidikan Islam: targhib, bimbingan, dan keteladanan

​Pendidikan Islam menekankan pentingnya membimbing anak melalui cara yang sesuai dengan tingkat perkembangan dan pemahamannya. Penanaman kebiasaan ibadah tidak cukup dilakukan melalui perintah, tetapi juga membutuhkan penjelasan, latihan, contoh perilaku, dan dukungan yang berkelanjutan. Salah satu metode yang relevan adalah targhib, yaitu pemberian dorongan melalui harapan terhadap kebaikan dan motivasi untuk melakukan perilaku yang terpuji. Nurhamzah dan Amarullah (2021) mengkaji penerapan metode targhib dan tarhib dalam pembelajaran akidah akhlak. Kajian tersebut menunjukkan bahwa penerapan metode pendidikan memerlukan perencanaan dan evaluasi yang sesuai dengan tujuan pembelajaran.

​Dalam membiasakan ibadah, pendekatan targhib dapat diwujudkan melalui penjelasan mengenai kebaikan salat, keutamaan membaca Al-Qur’an, dan pentingnya berdoa. Penjelasan tersebut perlu disampaikan menggunakan bahasa yang mudah dipahami anak. Sebagai contoh, orang tua dapat menerangkan bahwa salat merupakan bentuk ketaatan kepada Allah Swt. dan bahwa berdoa menjadi salah satu cara seorang Muslim memohon pertolongan serta mengungkapkan rasa syukur. Selain bimbingan, keteladanan orang tua juga memiliki peran penting. Anak dapat memperoleh gambaran nyata mengenai pelaksanaan ajaran Islam dengan mengamati kebiasaan orang-orang terdekatnya. Orang tua yang membiasakan salat tepat waktu, membaca Al-Qur’an, dan berdoa bersama memberikan contoh yang dapat diikuti anak dalam kehidupan sehari-hari.

Baca...  Membangun Kedekatan Dengan Anak: Langkah Sederhana Untuk Hubungan Lebih Kuat

​Junaidi et al. (2022) membahas peran orang tua dalam menanamkan nilai keislaman kepada anak, termasuk nilai ibadah dan akhlak. Sementara itu, Sari dan Hakim (2023) menguraikan berbagai metode pendidikan agama anak usia dini, seperti keteladanan, pembiasaan, latihan, permainan, cerita, pujian, dan targhib. Berdasarkan hal tersebut, penghargaan dalam pendidikan Islam sebaiknya menjadi bagian dari proses pendidikan yang menyeluruh. Pemberian reward dapat membantu memberikan motivasi, tetapi perlu disertai dengan contoh perilaku, pendampingan, dan pengenalan nilai-nilai agama.

​Penguatan positif dalam pembentukan kebiasaan

​Kebiasaan dapat dikembangkan melalui kegiatan yang dilakukan secara berulang dalam situasi yang relatif teratur. Proses tersebut dapat dipahami melalui hubungan antara pemicu, tindakan, dan konsekuensi. Pemicu merupakan keadaan yang mengingatkan anak untuk melakukan kegiatan tertentu, tindakan adalah perilaku yang dilakukan, sedangkan konsekuensi merupakan pengalaman yang muncul setelah tindakan tersebut. Dalam pembiasaan salat, azan atau ajakan orang tua dapat menjadi pengingat bagi anak. Anak kemudian bersiap dan mengikuti salat sesuai dengan kemampuannya. Setelah kegiatan selesai, orang tua dapat memberikan apresiasi atas usaha anak. Apabila proses tersebut dilakukan secara konsisten dalam suasana yang nyaman, anak berkesempatan mengenali rutinitas ibadah dan mempelajarinya secara bertahap.

​Meskipun demikian, pembentukan kebiasaan tidak hanya ditentukan oleh penghargaan. Pengulangan, keteraturan waktu, lingkungan yang mendukung, kesiapan anak, dan keteladanan keluarga juga perlu diperhatikan. Khulusinniyah dan Zamili (2021) membahas program pembiasaan praktik ibadah pada anak yang memerlukan perencanaan, praktik langsung, dan evaluasi.

​Dalam penerapannya, orang tua dapat mengembangkan rutinitas sederhana, seperti mengajak anak berwudu sebelum salat, berdoa sebelum tidur, atau menyediakan waktu untuk membaca Al-Qur’an. Apresiasi diberikan ketika anak menunjukkan usaha, sedangkan kesalahan atau kekurangan diperbaiki melalui bimbingan yang tenang. Pola pemicu, tindakan, dan penghargaan dapat digunakan sebagai gambaran praktis dalam membantu orang tua membentuk rutinitas. Namun, proses pendidikan ibadah tidak dapat disederhanakan hanya menjadi hubungan antara tindakan dan hadiah karena pemahaman agama, hubungan keluarga, dan perkembangan anak juga berperan penting.

​B. Jenis-Jenis Reward dan Penguatan Positif yang Efektif untuk Anak

​Penghargaan bagi anak dapat diberikan dalam berbagai bentuk sesuai dengan usia, kebutuhan, dan karakteristiknya. Orang tua tidak harus selalu menggunakan hadiah berupa barang karena pujian, perhatian, dan kegiatan bersama juga dapat menjadi bentuk apresiasi yang bermakna.

​1. Pujian dan pengakuan secara verbal

​Pujian merupakan bentuk penghargaan yang mudah diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Orang tua dapat memberikan pujian ketika anak berusaha mengikuti salat, belajar membaca Al-Qur’an, menghafal doa, atau mulai mandiri dalam mempersiapkan perlengkapan ibadah. Pujian sebaiknya disampaikan secara spesifik agar anak memahami perilaku yang mendapatkan apresiasi. Misalnya, orang tua dapat mengatakan, “Masya Allah, kamu sudah berusaha menyiapkan perlengkapan salat sendiri,” atau “Alhamdulillah, kamu belajar membaca Al-Qur’an dengan tekun hari ini.”

​Pujian yang berfokus pada usaha dan perkembangan memberikan kesempatan bagi anak untuk memahami bahwa belajar merupakan proses yang membutuhkan latihan. Sebaliknya, pujian yang berlebihan atau disertai perbandingan dengan anak lain dapat menimbulkan tekanan. Weeland et al. (2022) menunjukkan pentingnya mengkaji penggunaan pujian secara cermat dalam konteks pengasuhan. Oleh karena itu, orang tua hendaknya menyampaikan apresiasi dengan tulus, menghindari perbandingan antaranak, dan tetap memberikan kesempatan kepada anak untuk memperbaiki kesalahannya.

​2. Perhatian dan kasih sayang

​Perhatian dan kasih sayang dapat diwujudkan melalui senyuman, tos, pelukan apabila anak merasa nyaman, atau kesediaan orang tua mendengarkan pengalaman anak setelah mengikuti kegiatan keagamaan. Respons tersebut dapat membantu menciptakan suasana yang mendukung proses belajar. Sebagai contoh, setelah anak mengikuti kegiatan mengaji, orang tua dapat mengucapkan terima kasih atas usahanya, kemudian menanyakan bagian yang paling disukai atau bagian yang masih sulit dipahami. Interaksi tersebut bukan hanya memberikan penghargaan, tetapi juga membuka kesempatan bagi orang tua untuk mengetahui perkembangan anak.

​Kasih sayang sebaiknya tidak dijadikan alat untuk mengendalikan perilaku anak. Anak tetap perlu memperoleh perhatian dan merasa dihargai meskipun belum mampu menjalankan suatu kegiatan sesuai harapan. Dengan demikian, hubungan emosional yang positif menjadi dasar pendampingan, bukan hadiah yang hanya diberikan ketika anak berhasil. Pendekatan ini sejalan dengan pembahasan Rahiem dan Marhamah (2025) mengenai pendidikan agama anak dalam keluarga yang dapat dilakukan melalui keteladanan, latihan, cerita, permainan, dan pengulangan secara sabar.

​3. Activity reward atau penghargaan berupa kegiatan

​Penghargaan tidak harus berbentuk benda karena kegiatan yang menyenangkan bersama keluarga juga dapat menjadi bentuk apresiasi. Contohnya adalah membaca kisah nabi sebelum tidur, bermain bersama setelah rutinitas selesai, memilih buku cerita Islami untuk dibacakan, atau mengikuti kegiatan keluarga yang telah direncanakan. Kegiatan tersebut dapat dimanfaatkan untuk mempererat hubungan orang tua dan anak sekaligus mengenalkan nilai agama melalui pengalaman yang menyenangkan. Misalnya, orang tua dapat membacakan kisah Nabi Ibrahim a.s. untuk memperkenalkan nilai ketaatan atau kisah Nabi Muhammad saw. untuk menanamkan akhlak terpuji. Namun, kegiatan yang berkaitan dengan kebutuhan emosional anak, seperti perhatian dan waktu bersama keluarga, tidak seharusnya hanya diberikan apabila anak berhasil melakukan ibadah. Aktivitas tambahan dapat digunakan sebagai bentuk penghargaan, tetapi kebutuhan dasar anak terhadap kasih sayang tetap perlu dipenuhi secara konsisten.

​4. Material reward atau penghargaan berupa benda

​Hadiah berupa benda dapat digunakan sebagai pelengkap dalam pembiasaan ibadah. Bentuknya dapat berupa stiker, buku cerita Islami, alat tulis, atau perlengkapan ibadah yang sesuai dengan kebutuhan anak. Pemberian hadiah sebaiknya direncanakan, tidak berlebihan, dan tidak harus mengeluarkan biaya besar. Sebagai contoh, orang tua dapat memberikan stiker ketika anak menyelesaikan kegiatan belajar ibadah yang telah disepakati. Setelah memperoleh sejumlah stiker, anak dapat memilih buku cerita untuk dibaca bersama keluarga. Cara tersebut membantu anak melihat perkembangan kebiasaannya secara sederhana.

Baca...  Papua dan Keadilan yang Tertunda

​Meskipun demikian, hadiah material perlu diberikan secara bijaksana agar anak tidak menjadikan barang sebagai satu-satunya alasan untuk beribadah. Penghargaan berbentuk benda sebaiknya dikombinasikan dengan pujian, perhatian, keteladanan, dan penjelasan tentang makna kegiatan yang dilakukan. Pembahasan Sari dan Hakim (2023) mengenai metode pendidikan agama anak dalam keluarga mendukung penggunaan pendekatan yang beragam, sehingga penghargaan tidak harus selalu berbentuk hadiah material.

​C. Strategi Penerapan Metode Reward dalam Ibadah Harian Anak

​Menyusun chart atau jurnal ibadah

​Orang tua dapat membuat jurnal sederhana untuk membantu anak mengenali dan mengikuti rutinitas ibadah. Kegiatan yang dicantumkan perlu disesuaikan dengan usia dan kemampuan anak, misalnya belajar gerakan salat, membaca atau mendengarkan Al-Qur’an, dan menghafal doa sehari-hari.

​Jurnal ibadah dapat menjadi bahan percakapan antara orang tua dan anak. Orang tua dapat mengajak anak menceritakan kegiatan yang telah dilakukan, kesulitan yang dialami, serta bantuan yang dibutuhkan. Dengan cara tersebut, jurnal tidak hanya berfungsi sebagai alat penghargaan, tetapi juga sebagai sarana komunikasi dan refleksi. Khulusinniyah dan Zamili (2021) menekankan pentingnya perencanaan dan evaluasi dalam pembiasaan praktik ibadah. Oleh karena itu, jurnal sebaiknya digunakan untuk mengamati perkembangan anak secara bertahap, bukan sebagai sarana mempermalukan atau membandingkan anak dengan orang lain.

​Memberikan penghargaan secara konsisten dan tepat waktu

​Apresiasi akan lebih mudah dipahami anak apabila diberikan tidak lama setelah perilaku yang diharapkan dilakukan. Ketika anak berusaha mengikuti salat atau menyelesaikan kegiatan mengaji, orang tua dapat segera memberikan pujian atau perhatian yang sesuai. Pemberian penghargaan juga perlu mempertimbangkan usia dan kemampuan anak. Anak usia dini biasanya memerlukan arahan sederhana dan respons yang langsung, sedangkan anak usia sekolah dasar dapat mulai diajak berdiskusi mengenai pentingnya menjaga rutinitas ibadah.

​Konsistensi tidak berarti bahwa orang tua harus memberikan hadiah setiap kali anak beribadah. Konsistensi lebih berkaitan dengan keteraturan pendampingan, pemberian arahan, dan keteladanan. Hadiah material dapat diberikan sesekali berdasarkan kesepakatan, sementara perhatian dan bimbingan tetap menjadi bagian dari interaksi sehari-hari. Safitri dan Fitri (2022) membahas pentingnya pola asuh orang tua dalam mengenalkan salat kepada anak usia 5–6 tahun. Oleh sebab itu, penerapan penghargaan perlu mempertimbangkan situasi keluarga, rutinitas harian, dan kesiapan anak agar tidak berubah menjadi aturan yang kaku.

​Menjelaskan makna ibadah kepada anak

​Pembiasaan ibadah perlu disertai pengenalan terhadap tujuan dan nilai yang terkandung di dalamnya. Orang tua dapat menjelaskan dengan bahasa sederhana bahwa salat merupakan bentuk ketaatan kepada Allah Swt., membaca Al-Qur’an merupakan kegiatan mempelajari firman Allah, dan berdoa merupakan cara seorang Muslim memohon pertolongan serta menyampaikan rasa syukur. Penjelasan tersebut sebaiknya diberikan dalam percakapan sehari-hari, bukan hanya ketika anak melakukan kesalahan atau menolak beribadah. Setelah salat bersama, misalnya, orang tua dapat mengajak anak menyebutkan hal yang disyukuri pada hari itu.

​Rahiem dan Marhamah (2025) membahas pendidikan agama anak dalam keluarga melalui berbagai kegiatan, seperti praktik ibadah, pengenalan doa, pembelajaran Al-Qur’an, cerita nabi, dan pembentukan akhlak. Pendekatan yang beragam tersebut dapat membantu anak mengenal agama melalui pengalaman yang bermakna.

​Dengan demikian, penghargaan perlu dipadukan dengan pemahaman tentang nilai ibadah. Anak tidak hanya diarahkan untuk melakukan suatu tindakan, tetapi juga dibimbing untuk mengenali alasan dan kebaikan yang terkandung di dalamnya.

​Mengembangkan motivasi internal secara bertahap

​Pada tahap awal pembiasaan, anak mungkin melakukan suatu kegiatan karena mendapat dorongan atau penghargaan dari orang tua. Bentuk dorongan tersebut termasuk motivasi eksternal. Seiring bertambahnya usia dan pemahaman, pendidikan perlu diarahkan agar anak mulai menjalankan kebiasaan ibadah karena memahami nilai dan tujuan kegiatan tersebut.

​Perubahan tersebut tidak harus dilakukan secara mendadak. Orang tua dapat mengurangi pemberian hadiah material secara perlahan dan menggantinya dengan apresiasi verbal, diskusi mengenai makna ibadah, serta kesempatan bagi anak untuk menjalankan rutinitas dengan lebih mandiri.

​Li et al. (2021) dan Nogueira et al. (2022) mengkaji program pengasuhan positif serta hubungannya dengan perkembangan anak dan keluarga. Kedua kajian tersebut dapat digunakan sebagai landasan umum untuk membahas pengasuhan yang terencana dan sesuai kebutuhan anak. Namun, hasil penelitian mengenai pengasuhan positif secara umum tidak secara langsung membuktikan bahwa pengurangan hadiah material pasti meningkatkan motivasi beribadah.

​Oleh karena itu, pengembangan motivasi internal perlu dipahami sebagai tujuan pendidikan yang diupayakan melalui pembiasaan, keteladanan, dialog, dan pemahaman agama. Prosesnya dapat berbeda pada setiap anak sehingga orang tua perlu menyesuaikan pendekatan dengan kesiapan masing-masing.

​D. Tantangan dan Hal yang Perlu Dihindari

​Mencegah kebiasaan ibadah yang bergantung pada hadiah

​Salah satu tantangan penggunaan reward adalah kemungkinan anak menganggap bahwa ibadah hanya perlu dilakukan apabila ada imbalan. Hal ini dapat terjadi ketika setiap kegiatan keagamaan selalu diikuti dengan janji pemberian uang atau barang tanpa disertai penjelasan tentang tujuan ibadah. Untuk mengurangi risiko tersebut, orang tua perlu menggabungkan penghargaan dengan penjelasan agama, pembiasaan, dan keteladanan. Sebagai contoh, orang tua dapat menyampaikan, “Kita belajar salat karena salat merupakan kewajiban seorang Muslim. Ibu senang melihat kamu mau belajar dan berusaha melakukannya.”

​Kalimat tersebut menghargai usaha anak tanpa menjadikan hadiah sebagai alasan utama beribadah. Orang tua juga perlu menjelaskan bahwa belajar agama merupakan proses yang berlangsung secara bertahap dan setiap anak memerlukan waktu untuk memahami serta mempraktikkannya. Junaidi et al. (2022) menekankan peran keluarga dalam menanamkan nilai-nilai keislaman kepada anak. Dengan demikian, pembiasaan ibadah sebaiknya menjadi bagian dari pendidikan keluarga secara menyeluruh, bukan hanya kegiatan yang dilakukan demi mendapatkan hadiah.

​Menghindari perbandingan antara anak

​Setiap anak mempunyai karakter, kemampuan, dan perkembangan yang berbeda. Apabila orang tua membandingkan anak dengan saudara atau teman, anak dapat merasa kurang dihargai atau menganggap kegiatan ibadah sebagai ajang persaingan. Oleh karena itu, penghargaan sebaiknya diberikan berdasarkan usaha dan perkembangan masing-masing anak. Daripada mengatakan, “Kakak lebih rajin daripada adik,” orang tua dapat menyampaikan, “Hari ini kamu sudah berusaha menyiapkan perlengkapan salat sendiri. Besok kita coba lagi, ya.” Pendekatan tersebut membantu anak melihat perkembangan dirinya tanpa harus mengalahkan orang lain. Hal ini juga sejalan dengan pentingnya memperhatikan perbedaan karakteristik anak dalam penerapan pola asuh, sebagaimana dibahas oleh Safitri dan Fitri (2022).

Baca...  Apa yang Tersisa untuk Nurani, jika AI meretas Dunia?

​Mengurangi ketergantungan pada hadiah material

​Pemberian hadiah material yang terlalu sering dapat membuat anak terbiasa menunggu imbalan sebelum melakukan kegiatan. Karena itu, penghargaan perlu diatur agar tidak menjadi satu-satunya sumber dorongan dalam pembiasaan ibadah. Orang tua dapat memulai dengan pujian dan perhatian yang tulus, menggunakan hadiah material secara terbatas, lalu mengurangi frekuensinya secara bertahap ketika anak mulai mengenali rutinitas. Pada saat yang sama, orang tua dapat memperbanyak percakapan mengenai nilai ibadah, memberikan teladan, dan melibatkan anak dalam kegiatan keagamaan keluarga.

​Pengurangan hadiah tidak perlu dilakukan secara tiba-tiba. Orang tua perlu memperhatikan kesiapan anak dan memastikan bahwa proses tersebut tetap disertai pendampingan. Tujuannya bukan menghilangkan penghargaan, melainkan membantu anak mengembangkan alasan yang lebih bermakna untuk menjalankan kebiasaan baik.

​Menyeimbangkan penghargaan, bimbingan, dan keteladanan

​Penguatan positif bukan satu-satunya metode yang diperlukan dalam pendidikan ibadah. Anak tetap membutuhkan penjelasan, latihan, arahan, dan contoh nyata dari orang tua maupun pendidik. Tuntutan yang diberikan juga perlu disesuaikan dengan usia dan kemampuan anak. Nogueira et al. (2022) mengkaji hasil program Group Triple P terhadap anak dan orang tua melalui tinjauan sistematis dan meta-analisis. Li et al. (2021) juga menelaah dampak program Triple P terhadap persoalan sosial, emosional, dan perilaku anak. Kedua penelitian tersebut memberikan gambaran mengenai pengasuhan positif secara umum, tetapi penerapannya dalam pendidikan ibadah tetap perlu disesuaikan dengan konteks keluarga Muslim dan tujuan pendidikan agama.

​Dengan demikian, orang tua dan pendidik hendaknya menerapkan reward secara proporsional, menghindari tekanan yang berlebihan, dan menjaga hubungan yang hangat dengan anak. Perkembangan pendidikan ibadah tidak hanya dilihat dari jumlah kegiatan yang dilakukan, tetapi juga dari meningkatnya pemahaman, kemandirian, dan kesediaan anak untuk terus belajar menjalankan ajaran agama.

​PENUTUP

​Kesimpulan

​Metode reward dan penguatan positif dapat menjadi salah satu pendekatan untuk mendukung pembentukan kebiasaan beribadah pada anak. Pujian, perhatian, aktivitas bersama keluarga, dan hadiah material yang sederhana dapat membantu anak menjalani proses belajar apabila diberikan secara tepat, konsisten, dan sesuai dengan tahap perkembangannya. Pendekatan tersebut juga berpeluang menciptakan pengalaman belajar yang lebih menyenangkan ketika anak mulai mengenal rutinitas ibadah. Dalam pendidikan Islam, penerapan reward perlu berjalan bersama keteladanan, pembiasaan, bimbingan, dan pengenalan makna ibadah.

​Orang tua tidak cukup hanya memberikan penghargaan, tetapi juga perlu menunjukkan contoh yang baik serta menjelaskan alasan ibadah dilakukan. Dengan demikian, hadiah tidak menjadi tujuan utama, melainkan alat bantu untuk mendukung perkembangan pemahaman dan kebiasaan beragama. Keberhasilan pendidikan ibadah tidak semata-mata ditentukan oleh banyaknya kegiatan yang dilakukan atau penghargaan yang diberikan. Proses tersebut perlu dilihat melalui perkembangan pemahaman, konsistensi, kemandirian, dan tumbuhnya kecintaan anak terhadap ibadah. Oleh sebab itu, tujuan akhirnya adalah mendampingi anak agar mampu mengenal dan menjalankan ajaran Islam secara bertahap dengan pemahaman yang semakin baik.

​Saran

​Orang tua disarankan membangun kebiasaan ibadah melalui kegiatan sederhana, seperti salat bersama, berdoa dalam aktivitas sehari-hari, dan menyediakan waktu untuk membaca Al-Qur’an. Apresiasi sebaiknya diberikan secara tulus dan spesifik terhadap usaha anak, sedangkan hadiah material digunakan secara terbatas agar tidak menjadi motivasi utama. Selain itu, orang tua perlu menjaga konsistensi keteladanan, menghindari kebiasaan membandingkan anak, dan memberikan arahan dengan bahasa yang sesuai dengan usianya. Ketika anak mengalami kesulitan, orang tua sebaiknya membantu dan memberikan kesempatan untuk berlatih kembali.

​Lembaga pendidikan, termasuk sekolah dan Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA), dapat menggunakan jurnal ibadah, kartu apresiasi, atau sistem poin positif sebagai pendukung kegiatan belajar. Penerapannya perlu menekankan perkembangan setiap anak dan tidak diarahkan untuk menciptakan persaingan dalam memperoleh penghargaan. Guru juga perlu menggabungkan kegiatan tersebut dengan keteladanan, penjelasan nilai agama, dan pembiasaan yang berkelanjutan.

​Penelitian selanjutnya dapat mengkaji penerapan reward secara langsung dalam pembiasaan salat, membaca Al-Qur’an, dan berdoa pada kelompok usia tertentu. Kajian empiris tersebut diperlukan untuk mengetahui bentuk penghargaan yang sesuai, tantangan dalam pelaksanaannya, dan hubungannya dengan perkembangan motivasi beribadah anak.

​DAFTAR PUSTAKA

​Junaidi, J., Munir, M., & Elhefni, E. (2022). Peran orang tua dalam menanamkan nilai-nilai keislaman kepada anak di era teknologi digital. Muaddib: Islamic Education Journal, 4(2), 116–122. https://doi.org/10.19109/muaddib.v4i2.14667

​Khulusinniyah, K., & Zamili, M. (2021). Literasi agama pada anak melalui program pembiasaan praktik ibadah. Edupedia: Jurnal Studi Pendidikan dan Pedagogi Islam, 5(2), 133–142. https://doi.org/10.35316/edupedia.v5i2.1186

​Li, N., Peng, J., & Li, Y. (2021). Effects and moderators of Triple P on the social, emotional, and behavioral problems of children: Systematic review and meta-analysis. Frontiers in Psychology, 12, Article 709851. https://doi.org/10.3389/fpsyg.2021.709851

​Nogueira, S., Canário, A. C., Abreu-Lima, I., Teixeira, P., & Cruz, O. (2022). Group Triple P intervention effects on children and parents: A systematic review and meta-analysis. International Journal of Environmental Research and Public Health, 19(4), Article 2113. https://doi.org/10.3390/ijerph19042113

​Nurhamzah, N., & Amarullah, R. Q. (2021). Implementation of Targhib and Tarhib Methods to Teach Aqidah and Akhlaq Subject in Madrasah. Jurnal Pendidikan Islam, 7(2), 217–228. https://doi.org/10.15575/jpi.v7i2.15480

​Rahiem, M. D. H., & Marhamah, L. (2025). Parents’ conceptions of Islamic religious education for Indonesian early childhood. TARBIYA: Journal of Education in Muslim Society, 12(2), 213–230. https://doi.org/10.15408/tjems.v12i2.51595

​Ruswandi. (2021). Model pendidikan keluarga yang efektif untuk meningkatkan kedisiplinan beribadah anak usia sekolah dasar. Tarbawy: Indonesian Journal of Islamic Education, 8(2), 115–128. https://doi.org/10.17509/t.v8i2.39480

​Safitri, V. S., & Fitri, R. (2022). Implementasi pola asuh orang tua dalam pengenalan ibadah sholat dan kesantunan berbicara anak usia 5–6 tahun. JIEEC (Journal of Islamic Education for Early Childhood), 4(2), 74–97. https://doi.org/10.30587/jieec.v4i2.4275

​Sari, N., & Hakim, A. (2023). Pendidikan Agama Islam bagi anak usia dini di lingkungan keluarga. Zuriah: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 4(1), 33–52. https://doi.org/10.29240/zuriah.v4i1.6645

​Weeland, J., Brummelman, E., Jaffee, S. R., Chhangur, R. R., van der Giessen, D., Matthys, W., Orobio de Castro, B., & Overbeek, G. (2022). Does caregivers’ use of praise reduce children’s externalizing behavior? A longitudinal observational test in the context of a parenting program. Developmental Psychology, 58(7), 1371–1385. https://doi.org/10.1037/dev0001357

1 posts

About author
Kontributor Kuliah Al Islam
Articles
Related posts
Esai

Hijrah Mindset: Mengapa Rasulullah Memilih Proses daripada Jalan Pintas?

6 Mins read
Bayangkan sebuah pohon raksasa diperintahkan tumbuh dalam satu malam. Akarnya belum sempat mencari air, batangnya belum mengeras, tetapi ia harus langsung menopang…
Esai

Statistika dan Tabayyun: Seni Memeriksa Data Sebelum Percaya

3 Mins read
Kita sudah terbiasa mendengar iklan yang berbunyi “9 dari 10 dokter merekomendasikan”. Hampir tidak ada yang bertanya dokter yang mana, jumlah seluruhnya…
EsaiKesehatanPolitik

Politik Berkeadilan dan Demokrasi: Dari Piagam Madinah ke Kesehatan Jantung

6 Mins read
PENDAHULUAN ​Politik sering kali dianggap hanya berkaitan dengan kekuasaan, pemimpin, dan pemilihan umum. Padahal, politik sebenarnya memiliki pengaruh yang cukup besar dalam…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *