KeislamanPendidikan

Menanam Iman Lewat Keteladanan: Mengapa Anak Lebih Meniru Orang Tua

8 Mins read

​Pendahuluan

​Seorang ibu menegur putranya yang berumur tujuh tahun karena belum menunaikan shalat Asar. “Shalat itu wajib, Nak, ayo segera berwudhu,” ujarnya. Dengan polos sang anak membalas, “Tapi Ayah juga tidak shalat, Bu.” Sang ibu pun terdiam. Cerita semacam ini terdengar sepele, namun hampir setiap keluarga pernah mengalami versinya sendiri. Anak ternyata tidak sekadar menerima perintah; ia turut memperhatikan siapa yang memerintah dan apakah orang tersebut mengamalkan apa yang diucapkannya.

​Peristiwa tersebut menyodorkan pertanyaan mendasar dalam pendidikan akidah akhlak: apa cara paling efektif untuk menumbuhkan iman pada anak? Ceramah, nasihat berulang, dan hafalan memang bermanfaat, tetapi penelitian tentang pendidikan Islam anak usia dini menunjukkan bahwa nilai keimanan paling kuat tertanam ketika anak menyaksikan nilai itu diwujudkan oleh orang-orang di sekitarnya (Fahmi et al., 2025).

​Dalam pandangan Islam, setiap anak lahir dalam keadaan fitrah, yaitu bekal kesucian jiwa dan kecenderungan bertauhid, yang kemudian perlu diarahkan melalui pendidikan yang tepat (Fahmi et al., 2025). Arah pendidikan tersebut kini semakin teruji, sebab arus konten digital membuat kendali sosial tradisional bergeser, sehingga anak yang tidak didampingi menjadi lebih mudah terpapar oleh nilai-nilai yang merusak (Ayanti et al., 2026; Komalasari, 2026).

​Tulisan ini berargumen bahwa keteladanan merupakan fondasi utama dalam penanaman iman pada anak usia sekolah dasar dan madrasah ibtidaiyah (SD/MI). Pembahasan diawali dengan landasan psikologis dan keislaman, dilanjutkan dengan wujud keteladanan di rumah dan sekolah, sinergi antara keduanya, serta ditutup dengan tantangan era digital beserta solusinya.

​Mengapa Anak Belajar dari yang Dilihat

​Anak usia SD/MI (kira-kira 6–12 tahun) masih berada pada tahap berpikir konkret. Mereka lebih mudah memahami sesuatu yang dapat diamati dan dialami secara langsung dibandingkan konsep-konsep abstrak. Beriman kepada Allah, malaikat, dan hari akhir berarti meyakini hal gaib, sehingga penjelasan lisan saja belum cukup. Anak memerlukan “wajah nyata” dari nilai-nilai tersebut, yang diwujudkan melalui perilaku orang dewasa di sekelilingnya: cara ayah berbicara, cara ibu bersyukur, hingga cara guru bereaksi saat marah.

​Gejala ini sejalan dengan teori belajar sosial (social learning theory) yang dikembangkan oleh Albert Bandura (1977), yang menyatakan bahwa manusia—khususnya anak-anak—memperoleh perilaku baru melalui pengamatan dan peniruan terhadap sosok model. Anak tidak menunggu diperintah untuk meniru; ia menyerap apa pun yang tampak, baik maupun buruk.

​Pandangan ini selaras dengan tradisi pendidikan Islam. Hadis sahih riwayat Bukhari dan Muslim menyebutkan bahwa setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah dan orang tuanyalah yang membentuk arah keyakinannya. Al-Ghazali (2016) pun menggambarkan anak sebagai amanah dengan hati yang bersih bagaikan permata yang belum diukir: ia akan tumbuh dalam kebaikan bila dibiasakan pada kebaikan, dan terbiasa pada keburukan bila dibiarkan.

​Al-Qur’an menempatkan Rasulullah saw. sebagai teladan utama:

​“Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu…” (QS. Al-Ahzab: 21).

​Dakwah beliau tidak berhenti pada ucapan, melainkan diperlihatkan lewat kejujuran, kasih sayang, dan ibadah sehari-hari. Dalam istilah pendidikan Islam, inilah yang disebut sebagai uswah hasanah. Abdullah Nashih Ulwan menegaskan bahwa keteladanan merupakan metode yang paling berpengaruh dalam membentuk akidah, akhlak, dan kepribadian sosial anak (Setiawan et al., 2025; Ulwan, 2007). An-Nahlawi (1995) menambahkan bahwa anak cenderung meneladani sosok yang ia hormati dan cintai. Pendidik yang jujur melahirkan anak yang jujur, sedangkan pendidik yang terbiasa berdusta mengajarkan bahwa dusta adalah hal yang biasa, sebanyak apa pun nasihat kejujuran yang pernah disampaikan.

Baca...  Kepemimpinan Perempuan Dalam Tafsir Tematik (Studi Kasus Khadijah Al Kubra)

​Kisah para nabi mempertegas hal tersebut. Nasihat Luqman agar tidak menyekutukan Allah (QS. Luqman: 13), yang disusul pesan tentang shalat, sabar, dan akhlak, terasa hidup karena disampaikan oleh seorang ayah yang benar-benar menjalani pesannya. Metode bercerita berbasis nilai karakter ini sangat efektif bila dituturkan kepada anak karena mampu menanamkan nilai moral dan keagamaan secara menyenangkan (Rahmah & Muthmainnah, 2024). Singkatnya, nasihat memberi tahu anak tentang apa yang benar, sedangkan keteladanan membuktikan bahwa hal benar tersebut dapat dilakukan.

​Wujud Keteladanan di Rumah dan Sekolah

​Keteladanan dalam Keluarga

​Keluarga adalah madrasah pertama tempat dasar keimanan diletakkan (Komalasari, 2026). Keteladanan di rumah tidak menuntut hal-hal besar; kebiasaan kecil yang konsisten justru paling membekas. Orang tua yang segera menuju masjid ketika azan berkumandang, mengajak anak shalat berjamaah, dan membaca Al-Qur’an selepas Maghrib sedang mengajarkan bahwa Allah adalah prioritas utama. Rasulullah saw. memang memerintahkan agar anak mulai diperintahkan shalat pada usia tujuh tahun (HR. Abu Dawud), tetapi perintah itu jauh lebih mudah diterima bila anak lebih dahulu melihat orang tuanya shalat dengan tenang dan khusyuk.

​Pada ranah akhlak, anak belajar jujur dari ayah yang berkata jujur meski sedikit merugikan, belajar santun dari ibu yang terbiasa mengucap “tolong”, “maaf”, dan “terima kasih”, serta belajar sabar dari orang dewasa yang mampu menahan amarah. Pembiasaan ucapan seperti “bismillah” sebelum makan, “alhamdulillah” saat menerima nikmat, dan “innalillahi” ketika tertimpa musibah secara tulus dan konsisten menanamkan kesadaran bahwa Allah hadir dalam setiap peristiwa. Rutinitas harian ini mengubah ajaran abstrak menjadi kebiasaan yang refleksif dalam diri anak (Komalasari, 2026).

​Keteladanan di Sekolah dan Madrasah

​Guru memikul peran yang tidak kalah penting. Guru berfungsi sebagai model dan teladan utama dalam membentuk moralitas serta karakter Islami peserta didik (Arif et al., 2024; Kandiri & Arfandi, 2021; Muliana & Syamzaimar, 2026). Penelitian di MIN 1 Kota Mataram menemukan bahwa keteladanan guru Akidah Akhlak bekerja sebagai mekanisme pendidikan terpadu, mencakup pembelajaran di kelas, pembiasaan religius, budaya madrasah, hingga interaksi sosial sehari-hari (Asriadi & Marudin, 2026).

​Oleh karena itu, guru Akidah Akhlak tidak cukup hanya menjelaskan sifat-sifat Allah di papan tulis. Guru perlu hadir tepat waktu, menepati janji, menyapa dengan salam ramah, memperlakukan murid secara adil, serta memimpin doa dan shalat berjamaah dengan sungguh-sungguh. Pembiasaan kegiatan keagamaan di madrasah ibtidaiyah terbukti menjadi sarana penting untuk membentuk karakter peserta didik (Malahati et al., 2023), dan pembiasaan tersebut paling kuat dampaknya ketika dicontohkan secara langsung oleh guru.

​Dialog dan Penyesuaian Usia

​Keteladanan akan menjadi lebih bermakna apabila disertai dengan dialog yang hangat. Anak yang melihat ayahnya shalat Subuh berjamaah mungkin bertanya, “Kenapa Ayah bangun pagi sekali?” Pertanyaan tersebut adalah pintu masuk yang berharga. Ayah dapat menjawab secara sederhana bahwa ia ingin berterima kasih kepada Allah atas tidur yang nyenyak dan hari yang baru. Jawaban tulus tanpa kesan menggurui membuat anak merasa dihargai sekaligus memahami makna di balik perbuatan yang disaksikannya.

​Zakiah Daradjat (1996) menjelaskan bahwa pembinaan agama pada anak bertumpu pada pengalaman dan kebiasaan yang diperoleh sejak kecil di lingkungan keluarga. Ajakan lembut seperti “Yuk, kita shalat bareng” biasanya lebih berhasil daripada perintah bernada tinggi, dan apresiasi kecil ketika anak berwudhu sendiri akan menumbuhkan rasa bangga.

​Pendampingan juga perlu menyesuaikan dengan tahap perkembangan anak. Anak kelas satu mungkin baru tertarik meniru gerakan shalat, sedangkan anak kelas lima mulai menanyakan alasan di balik ibadah. Untuk anak yang lebih kecil, teladan disampaikan lewat tindakan dan ajakan langsung; untuk yang lebih besar, teladan perlu disertai diskusi, kesempatan memilih, dan tanggung jawab, seperti memimpin doa di rumah atau di kelas. Penyampaian berbentuk media menyenangkan, seperti lagu keagamaan dan permainan edukatif, juga membantu nilai akidah akhlak terhubung erat dengan dunia anak (Fahmi et al., 2025).

Baca...  Mengatasi Egosentrisme dan Merayakan Kemanusiaan: Refleksi Altruisme dalam Khazanah Ihya’ Ulumuddin Bersama Gus Ulil

​Sinergi Rumah dan Sekolah

​Keteladanan memberi hasil terbaik bila rumah dan sekolah berjalan seiring. Anak yang di madrasah diajari jujur, tetapi di rumah menyaksikan kebohongan kecil dianggap lumrah, akan mengalami kebingungan nilai. Sebaliknya, anak yang belajar tentang kasih sayang Allah di sekolah dan mendapati orang tuanya penuh kasih akan merasakan bahwa pelajaran tersebut nyata. Konsistensi nilai keagamaan antara rumah dan sekolah inilah yang disebut Komalasari (2026) sebagai moral coherence.

​Kerja sama antara guru dan orang tua merupakan faktor kunci dalam keberhasilan pendidikan karakter anak (Feranina & Komala, 2022; Hasibuan, 2023). Temuan di MIN 1 Mataram juga menempatkan komitmen seluruh warga madrasah serta kolaborasi erat dengan orang tua sebagai faktor pendukung utama keteladanan (Asriadi & Marudin, 2026). Komunikasi yang baik melalui pertemuan wali murid atau grup pesan singkat dapat menjadi jembatan agar pembiasaan berdoa, bersalam, dan menjaga kebersihan diterapkan secara konsisten di kedua lingkungan.

​Dengan demikian, keteladanan bukan metode yang berdiri sendiri: ia memberi ruh bagi kisah, pembiasaan, dan nasihat sehingga iman tumbuh atas dasar cinta dan keyakinan, bukan karena rasa takut atau paksaan.

​Tantangan Era Digital dan Solusinya

​Keteladanan hari ini menghadapi tantangan yang tidak dialami oleh generasi terdahulu. Sumber teladan anak tidak lagi terbatas pada orang tua dan guru; layar gawai kini menghadirkan figur-figur baru seperti influencer, tokoh kartun, dan pemain game. Sebagian membawa nilai yang sejalan dengan Islam, tetapi tidak sedikit yang bertentangan. Pengaruh media sosial dan teknologi digital terbukti menjadi salah satu tantangan utama keteladanan di lingkungan madrasah (Asriadi & Marudin, 2026). Paparan konten negatif tanpa pendampingan dapat memicu kemerosotan moral, penurunan empati dan kedisiplinan, hingga krisis spiritual pada anak (Ayanti et al., 2026).

​Di sisi lain, orang tua sendiri sering kali tampak lebih lekat dengan ponsel daripada dengan anaknya. Ketika anak melihat orang dewasa tidak lepas dari layar saat azan berkumandang, pesan yang sampai bukanlah “ayo shalat”, melainkan “ponsel lebih penting”. Jarak antara ucapan dan perbuatan juga merusak wibawa nasihat—misalnya ketika anak dilarang berbohong, tetapi diminta mengatakan “Ayah tidak di rumah” kepada tamu yang tidak ingin ditemui.

​Solusinya bukan menuntut kesempurnaan, sebab tidak ada orang tua atau guru yang bebas dari kekurangan. Yang diperlukan adalah kesungguhan memperbagus diri dan kejujuran dalam mengakui kesalahan; orang tua yang berani meminta maaf kepada anaknya sedang mengajarkan kerendahan hati di hadapan Allah.

​Keluarga dapat menyepakati waktu bebas gawai (gadget-free time) saat shalat berjamaah dan makan bersama yang berlaku bagi seluruh anggota keluarga. Pengawasan yang bijak terhadap gawai, pendampingan dalam memilih tontonan (Komalasari, 2026), serta pengenalan tokoh teladan seperti para nabi, sahabat, dan ulama akan membantu anak memiliki idola yang tepat. Sekolah, keluarga, dan masyarakat perlu membentuk lingkungan penopang bersama agar anak terlindungi dari dampak negatif disrupsi teknologi (Fahmi et al., 2025).

​Kesimpulan

​Menanam iman pada anak adalah proses panjang yang tidak cukup ditempuh hanya dengan kata-kata. Anak adalah pengamat yang jeli dan peniru yang tekun; mereka mengikuti apa yang dilihat lebih dari apa yang didengar. Oleh karena itu, keteladanan bukan sekadar salah satu metode, melainkan fondasi utama yang menjadikan metode lain—seperti kisah, pembiasaan, dan nasihat—menjadi bermakna. Keberhasilannya menuntut konsistensi nilai antara keluarga, sekolah, dan masyarakat (Ayanti et al., 2026).

Baca...  Membangun Generasi Berakhlak Mulia

​Allah swt. mengingatkan orang-orang beriman untuk menjaga diri dan keluarganya dari api neraka (QS. At-Tahrim: 6), dan menjaga keluarga dimulai dari membenahi diri sendiri. Sebelum berharap anak mencintai shalat, kejujuran, dan Al-Qur’an, ada baiknya kita bertanya: sudahkah anak melihat kita mencintainya terlebih dahulu? Jika belum, tidak ada kata terlambat untuk memulai. Satu teladan kecil yang konsisten hari ini dapat menjadi benih iman yang tumbuh dan berbuah sepanjang hidup anak.

​Daftar Pustaka

​An-Nahlawi, A. (1995). Prinsip-prinsip dan metoda pendidikan Islam: Dalam keluarga, di sekolah dan di masyarakat (S. Shihabuddin, Penerj.). Jakarta: Gema Insani Press.

​Arif, M. F. F., Harahap, M. A. S., & Kesuma, P. (2024). Membangun karakter siswa melalui keteladanan guru. GURUKU: Jurnal Pendidikan dan Sosial Humaniora, 2(3), 254–260. https://doi.org/10.59061/guruku.v2i3.722

​Asriadi, L., & Marudin. (2026). Strengthening students’ virtuous character through the exemplary practices of Akidah Akhlak teachers at MIN 1 Mataram City. MUBTADI: Jurnal Pendidikan Ibtidaiyah, 8(1), 38–56. https://doi.org/10.19105/mubtadi.v8i1.25431

​Ayanti, N., Kurniawati, N., & Maulida, A. (2026). Integrasi nilai akidah dan akhlak dalam pembinaan kepribadian Muslim. Jurnal El-Hamra: Kependidikan dan Kemasyarakatan, 11(1), 1–12.

​Bandura, A. (1977). Social learning theory. Englewood Cliffs, NJ: Prentice Hall.

​Daradjat, Z. (1996). Ilmu pendidikan Islam. Jakarta: Bumi Aksara.

​Fahmi, F. A., Romadhon, W. R., & Sulistyo, A. (2025). Penanaman nilai-nilai pendidikan agama Islam pada anak usia dini. Anakta: Jurnal Pendidikan Islam Anak Usia Dini, 4(1), 35–44. https://doi.org/10.35905/anakta.v4i1.12801

​Feranina, T. M., & Komala, C. (2022). Sinergitas peran orang tua dan guru dalam pendidikan karakter anak. Jurnal Perspektif, 6(1), 1–12. https://doi.org/10.15575/jp.v6i1.163

​Al-Ghazali, I. (2016). Ihya’ ‘Ulumuddin: Menghidupkan ilmu-ilmu agama (Set Jilid 1–4; I. Kurniawan, Ed.; Purwanto, Penerj.). Bandung: Penerbit Marja.

​Hasibuan, S. B. (2023). Kerjasama guru dan orangtua dalam pembinaan karakter siswa sekolah dasar. Edukatif: Jurnal Ilmu Pendidikan, 5(2), 1353–1362. https://doi.org/10.31004/edukatif.v5i2.5202

​Kandiri, & Arfandi. (2021). Guru sebagai model dan teladan dalam meningkatkan moralitas siswa. Edupedia: Jurnal Studi Pendidikan dan Pedagogi Islam, 6(1), 1–8. https://doi.org/10.35316/edupedia.v6i1.1258

​Komalasari, E. (2026). Model internalisasi nilai-nilai keislaman dalam pengembangan karakter moral anak usia dini. Rising Star: Journal of Early Childhood Education, 1(2), 111–120. https://doi.org/10.67755/risingstar.v1i2.149

​Malahati, F., Hidayat, N., Huda, N., Jannati, P., Oktavia, L., & Rizki, A. (2023). Pembentukan karakter peserta didik madrasah ibtidaiyah: Pembiasaan kegiatan keagamaan. IJEETI (Indonesian Journal of Elementary Education and Teaching Innovation), 2(2), 119–130. https://doi.org/10.21927/ijeeti.2023.2(2).119-130

​Muliana, D., & Syamzaimar. (2026). Peran guru madrasah ibtidaiyah dalam membentuk karakter Islami pada peserta didik. Karakter: Jurnal Riset Ilmu Pendidikan Islam, 3(2), 76–87. https://doi.org/10.61132/karakter.v3i2.2116

​Rahmah, J., & Muthmainnah, M. (2024). Implementasi metode bercerita berbasis nilai-nilai karakter anak usia dini. Murhum: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 5(2), 912–925. https://doi.org/10.37985/murhum.v5i2.998

​Setiawan, E., Munip, A., Hidayah, S. N., & Jannati, P. (2025). Metode pendidikan anak berdasarkan pemikiran Abdullah Nashih Ulwan. Mubtadi: Jurnal Pendidikan Dasar, 7(2), 156–168. https://doi.org/10.19105/mubtadi.v7i2.23744

​Ulwan, A. N. (2007). Pendidikan anak dalam Islam (J. Miri, Penerj.). Jakarta: Pustaka Amani.

1 posts

About author
Mahasiswi di Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang Program Studi Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan.
Articles
Related posts
KeislamanPendidikan

Menghidupkan Nilai Keimanan Lewat Refleksi Diri Anak SD

3 Mins read
​Masa sekolah dasar adalah fase ketika anak mulai menyusun penilaian tentang dirinya sendiri. Di kelas-kelas awal, anak biasanya tumbuh percaya diri dan…
KeislamanPendidikan

Peran Guru Akidah Akhlak dalam Menumbuhkan Iman Anak di Era Digital

8 Mins read
Pendahuluan ​Perkembangan teknologi digital telah membawa banyak perubahan dalam kehidupan anak-anak. Saat ini, anak dapat dengan mudah mengakses berbagai informasi melalui internet,…
KeislamanPendidikan

Pembelajaran Kisah Nabi: Strategi Efektif Penguatan Iman Anak SD

7 Mins read
​Pendahuluan ​Banyak siswa sekolah dasar mampu menghafal doa sehari-hari, seperti doa sebelum makan dan sebelum tidur, serta menyebutkan rukun iman secara berurutan….

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *