Opini

Adab Tanpa Guru: Belajar dari Kebodohan Orang Lain

4 Mins read

Suatu ketika ada seseorang bertanya kepada Nabi Isa As:

مَنْ أَدَّبَكَ؟

“Siapa yang mendidikmu?”

Beliau menjawab:

مَا أَدَّبَنِي أَحَدٌ، رَأَيْتُ جَهْلَ الْجَاهِلِ فَجَانَبْتُهُ

“Tidak ada yang mendidikku. Aku melihat kebodohan orang yang bodoh, lalu aku menjauhinya.”

Riwayat ini dikutip oleh Al-Imam Al-Habib Ali bin Hasan Al-Attas, Shohibul Masyhad, dalam kitab “Al-Athiyyah Al-Haniyyah”. Kalimatnya pendek, tetapi memuat pelajaran besar tentang cara manusia memperoleh akhlak.

Pendidikan yang Tidak Selalu Datang dari Guru

Kita terbiasa membayangkan pendidikan sebagai urusan ruang kelas. Ada guru yang berbicara, ada murid yang mencatat, ada nilai yang menentukan lulus atau tidaknya seseorang. Dalam bayangan itu, akhlak lahir dari nasihat yang diulang-ulang.

Jawaban Nabi Isa membuka kemungkinan lain. Pendidikan juga berlangsung di jalan, pasar, kantor, dan rumah tangga, lewat perilaku orang yang kebetulan kita temui. Setiap kali melihat orang berkata kasar, kita sedang diberi pelajaran tentang bagaimana tidak berbicara. Setiap kali melihat orang menyombongkan diri, kita sedang diajari betapa tidak sedapnya kesombongan di mata orang lain.

Tentu ini tidak meniadakan peran guru. Syariat menempatkan ilmu dan para pengajarnya pada kedudukan mulia. Nabi Muhammad SAW sendiri bersabda:

إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ

Artinya: “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak.”

Ucapan Nabi Isa menunjukkan sisi lain dari proses yang sama: bahwa hati yang jernih bisa menjadikan apa saja sebagai pelajaran. Kecerdasan moral bukan hanya soal seberapa banyak nasihat yang kita dengar, tetapi seberapa peka kita membaca keadaan di sekitar.

Cermin yang Tidak Pernah Berniat Mengajar

Orang yang bodoh dalam arti akhlak, yakni yang gegabah, kasar, dan gemar menyakiti, jelas tidak berniat menjadi guru. Meski begitu, perilakunya menyuguhkan gambaran jujur tentang akibat dari sikap buruk. Ia kehilangan kepercayaan, merusak hubungan, dan menyisakan rasa tidak nyaman di sekelilingnya.

Baca...  Hakikat Kepemimpinan Khalifah Umar bin Abdul Aziz Dalam Kitab Irsyad al-Ibad ila Sabilir Rasyad

Orang bijak membaca gambaran itu sebagai peringatan. Ia bertanya pada dirinya sendiri: apakah aku pernah bersikap demikian? Apakah tutur kataku pernah melukai orang lain seperti itu? Pertanyaan semacam ini mengubah pengamatan menjadi perbaikan diri.

Sebaliknya, orang yang lalai memakai kebodohan orang lain hanya untuk bahan celaan. Ia sibuk menunjuk kesalahan sesamanya, tetapi tidak pernah menengok ke dalam. Padahal kata janabtuhu (aku menjauhinya) dalam riwayat tadi tidak berhenti pada penilaian terhadap orang lain. Kata itu menuntut tindakan: menjaga jarak dari perilaku tersebut dan memastikan ia tidak menular ke dalam diri.

Di sinilah letak perbedaan antara menghakimi dan belajar. Menghakimi menempatkan diri di atas orang lain. Belajar menempatkan diri sebagai murid yang rendah hati, bahkan di hadapan orang yang tidak patut ditiru.

Menjauh Bukan Berarti Kalah

Sebagian orang mengira bahwa membalas kebodohan dengan kebodohan adalah tanda keberanian. Orang yang diam dianggap lemah; yang mengalah dianggap kalah. Padahal sering kali yang terjadi justru sebaliknya.

Al-Qur’an mengajarkan sikap yang lebih matang. Dikatakan:

خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ

Artinya: “Jadilah pemaaf, suruhlah orang berbuat yang makruf, dan berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.” (QS. Al-A’raf [7]: 199).

Perintah berpaling di ayat ini tidak berdiri sendiri. Ia didahului anjuran memaafkan dan mengajak kepada kebaikan. Artinya, menjauh dari kebodohan bukan sikap apatis, melainkan pilihan sadar untuk tidak ikut terseret. Kita tetap berbuat baik, tetapi tidak menyerahkan kendali suasana hati kepada orang yang tidak bisa mengendalikan dirinya.

Gambaran yang lebih lembut hadir dalam sifat hamba-hamba Allah yang penuh kasih. Dikatakan:

وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا

Artinya: “Apabila orang-orang bodoh menyapa mereka, mereka mengucapkan salam.” (QS. Al-Furqan [25]: 63).

Mereka tidak membalas dengan makian. Mereka juga tidak berlama-lama melayani perdebatan yang hanya menguras tenaga. Salam adalah cara anggun untuk menutup pintu pertengkaran tanpa menutup pintu kemanusiaan.

Baca...  Jangan Takut Miskin dari Pemilik Arsy: Refleksi Filosofis atas Kemurahan Hati Nabi

Menjauh seperti ini membutuhkan kekuatan yang tidak sedikit. Mudah sekali menjawab hinaan dengan hinaan. Jauh lebih sulit menahan diri ketika harga diri terasa diinjak. Karena itu, orang yang mampu menjauh sesungguhnya sedang memenangkan pertarungan yang lebih berat, yaitu pertarungan melawan dirinya sendiri.

Adab di Tengah Riuh Dunia Digital

Pelajaran dari Nabi Isa terasa makin relevan hari ini. Ruang digital menyediakan panggung bagi siapa saja untuk berbicara tanpa jeda berpikir. Komentar pedas, ujaran kebencian, tuduhan tanpa bukti, dan perundungan mengalir setiap hari, sering kali dari orang yang tidak saling mengenal.

Di ruang seperti ini, godaan untuk membalas sangat besar. Satu komentar kasar dibalas dengan dua komentar yang lebih kasar. Satu tuduhan dibantah dengan tuduhan lain. Pada akhirnya, yang tersisa hanyalah kegaduhan dan semua pihak pulang dengan hati yang lebih keruh dari sebelumnya.

Padahal setiap unggahan yang kasar adalah pelajaran gratis. Kita bisa melihat dengan jelas bagaimana kemarahan merendahkan wibawa seseorang, bagaimana kata-kata tajam membuat pembicaranya tampak kecil, dan bagaimana argumen yang baik runtuh begitu dibungkus dengan umpatan. Siapa pun yang mau memperhatikan akan mendapat pelajaran lebih banyak daripada seratus ceramah tentang etika bermedia.

Menahan jari sebelum mengetik balasan adalah bentuk modern dari kata janabtuhu. Kita tidak perlu memenangkan setiap perdebatan. Tidak semua pancingan layak dijawab. Sering kali jawaban terbaik adalah diam atau satu kalimat singkat yang menutup percakapan dengan tenang.

Menjaga Diri Tanpa Menutup Diri

Satu hal perlu digarisbawahi agar pelajaran ini tidak disalahpahami. Menjauhi kebodohan bukan berarti menjauhi orang yang bodoh dalam segala hal, apalagi menganggap diri paling benar. Para nabi diutus kepada kaum yang jahil, dan mereka tidak meninggalkannya. Mereka menasihati, bersabar, dan terus mengajak, sambil menjaga agar perilaku buruk kaumnya tidak memengaruhi diri mereka.

Baca...  Oknum Guru di Pulau Kangean Diduga Cabuli Siswinya di Ruang Guru, PC IPNU IPPNU Kangean Kecam Keras

Garis pembedanya jelas. Yang dijauhi adalah perilaku, bukan manusianya. Kita boleh dan perlu tetap berinteraksi, membantu, bahkan menasihati orang yang keliru, selama kita tidak ikut larut dalam caranya bersikap. Orang tua tetap mendampingi anak yang nakal tanpa ikut berteriak. Guru tetap mengajar murid yang sulit tanpa membalas dengan kekerasan. Seorang teman tetap menggandeng sahabatnya yang tersesat tanpa ikut tersesat.

Ada pula kewaspadaan yang tidak kalah penting. Ketika kita merasa sudah belajar dari kebodohan orang lain, saat itulah kita paling rentan jatuh pada kebodohan yang sama, yakni merasa diri lebih baik. Kesombongan karena merasa telah menghindari kesalahan orang lain adalah kebodohan versi halus. Maka pembelajaran ini harus selalu disertai kerendahan hati. Siapa tahu pada urusan lain, kitalah yang menjadi bahan pelajaran bagi orang di sekitar kita.

Yang tidak kalah pentingnya untuk dicatat adalah bahwa jawaban Nabi Isa mengajarkan bahwa akhlak tidak melulu lahir dari bangku pendidikan. Ia tumbuh dari kepekaan membaca kehidupan: melihat kesalahan orang lain lalu menjaga diri dari kesalahan yang sama, melihat kebodohan lalu memilih jalan yang lebih bijak.

Di tengah zaman yang gaduh, pelajaran ini menjadi bekal yang sangat berharga. Tidak setiap hinaan harus dibalas, tidak setiap provokasi perlu dilayani, dan tidak setiap perdebatan layak dimenangkan. Kadang kemenangan terbesar adalah ketika kita pulang tanpa membawa amarah.

Mungkin kita tidak punya guru akhlak yang selalu mendampingi. Namun, selama mata masih terbuka dan hati masih mau belajar, setiap kebodohan yang kita saksikan bisa menjadi guru yang mengajari kita satu hal: bagaimana tidak menjadi seperti itu. Wallahu a’lam bisshawab.

413 posts

About author
Penulis Lepas dan Pemerhati Isu Sosial Politik.
Articles
Related posts
OpiniPolitik

Dari Auman ke Dengkuran: Metamorfosis Sang Penjaga Kritik

4 Mins read
Rocky Gerung telah lama dipuja sebagai ikon kritik di negeri ini. Setiap kalimatnya yang tajam dianggap sebagai oase di tengah gurun politik…
Opini

Dari Kartini hingga UU TPKS: Perjuangan yang Belum Usai

4 Mins read
Lebih dari satu abad sejak Raden Adjeng Kartini menuliskan keresahannya tentang nasib perempuan, sejarah masih terasa: perlindungan terhadap perempuan di Indonesia berjalan…
KisahOpini

Air Mata Nabi untuk Para Pendosa

4 Mins read
Dalam sebuah riwayat, Abu Bakar ash-Shiddiq bermimpi melihat Nabi SAW menahan pintu neraka dengan tangan kirinya. Beliau memohon dengan suara lirih, mengulang…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *