FilsafatKeislaman

Humanisme Islam & The Metamorphosis Franz Kafka

4 Mins read

Modernitas membawa manusia pada berbagai kemajuan, tetapi sekaligus melahirkan paradoks: manusia semakin dihargai berdasarkan apa yang dapat ia hasilkan. Nilai seseorang kerap diukur melalui pekerjaan, produktivitas, status sosial, dan kemampuan ekonomi. Dalam situasi semacam ini, manusia berpotensi tidak lagi dipandang sebagai subjek yang memiliki martabat, melainkan sebagai alat yang memiliki fungsi. Ketika fungsi itu hilang, penghargaan terhadap manusia pun dapat ikut menghilang.

​Persoalan tersebut tergambar secara tajam dalam The Metamorphosis karya Franz Kafka. Novel ini menceritakan Gregor Samsa, seorang pekerja yang suatu pagi terbangun dan mendapati dirinya telah berubah menjadi makhluk menyerupai serangga. Perubahan fisik Gregor memang absurd, tetapi justru melalui absurditas tersebut Kafka memperlihatkan persoalan yang sangat manusiawi: bagaimana seseorang diperlakukan ketika ia tidak lagi mampu memenuhi fungsi sosial dan ekonominya.

​Karena itu, pertanyaan penting yang dapat diajukan bukan semata-mata mengapa Gregor berubah menjadi serangga, melainkan: apakah manusia bernilai karena dirinya sendiri atau karena fungsi yang dapat ia berikan kepada orang lain? Pertanyaan ini kemudian dapat dibaca melalui perspektif humanisme Islam, khususnya konsep karāmah insāniyyah atau martabat manusia.

​Gregor Samsa dan Manusia yang Dinilai dari Fungsinya

​Sebelum metamorfosis, Gregor merupakan tulang punggung keluarganya. Ia bekerja keras sebagai pegawai untuk membayar utang keluarganya dan memenuhi kebutuhan orang tua serta adiknya. Kehidupannya telah direduksi menjadi rutinitas kerja. Bahkan sebelum perubahan fisiknya, Gregor sebenarnya telah mengalami keterasingan dari dirinya sendiri. Ia tidak bekerja karena menemukan makna dalam pekerjaannya, tetapi karena tuntutan ekonomi dan tanggung jawab keluarga.

​Transformasi Gregor menjadi serangga kemudian menghancurkan fungsi tersebut. Ia tidak lagi dapat bekerja, menghasilkan uang, atau menjalankan perannya sebagai pencari nafkah. Respons orang-orang di sekitarnya memperlihatkan perubahan yang tragis. Ketika Gregor tidak lagi berguna secara ekonomi, keberadaannya mulai dianggap sebagai beban.

Baca...  Meminang dan Hukum Melihat Yang Akan di Pinang

​Di sinilah Kafka menghadirkan kritik terhadap dehumanisasi. Gregor memang berubah secara fisik, tetapi yang lebih tragis adalah perubahan cara manusia lain memandangnya. Ia perlahan kehilangan status sebagai anggota keluarga dan akhirnya diperlakukan seperti sesuatu yang harus disingkirkan.

​Metamorfosis Gregor dengan demikian dapat dibaca sebagai metafora tentang manusia yang identitasnya ditentukan oleh fungsi. Selama ia bekerja, ia memiliki nilai. Ketika ia tidak mampu bekerja, nilai tersebut runtuh. Kafka seakan mengajukan pertanyaan: apakah seseorang tetap layak dicintai ketika ia tidak lagi produktif?

​Pertanyaan ini sangat relevan dengan kehidupan modern. Manusia sering kali dinilai berdasarkan pencapaian, jabatan, pendapatan, dan produktivitas. Bahkan dalam relasi sosial, pertanyaan “apa pekerjaanmu?” terkadang menjadi cara pertama untuk menentukan posisi seseorang. Akibatnya, manusia dapat terjebak dalam logika bahwa being harus tunduk kepada having dan doing: seseorang dianggap berharga karena apa yang ia miliki dan apa yang dapat ia lakukan.

​Dehumanisasi dan Krisis Martabat

​Dalam konteks tersebut, pengalaman Gregor dapat dipahami sebagai bentuk dehumanisasi. Dehumanisasi terjadi ketika manusia tidak lagi diperlakukan sebagai pribadi yang memiliki kehendak, perasaan, dan martabat, tetapi direduksi menjadi objek, alat, atau fungsi tertentu.

​Gregor tidak kehilangan kemanusiaannya hanya karena tubuhnya berubah. Justru ia kehilangan pengakuan atas kemanusiaannya ketika lingkungan di sekitarnya berhenti melihatnya sebagai manusia.

​Ironisnya, Kafka memperlihatkan bahwa manusia dapat berubah menjadi “serangga” secara sosial bahkan sebelum berubah secara biologis. Seseorang dapat tetap memiliki tubuh manusia, tetapi kehilangan kemanusiaannya ketika masyarakat hanya melihatnya sebagai tenaga kerja, sumber keuntungan, konsumen, atau alat untuk mencapai kepentingan tertentu.

​Dengan demikian, The Metamorphosis dapat dibaca bukan hanya sebagai kisah tentang alienasi individu, tetapi juga sebagai kritik terhadap masyarakat yang menjadikan kegunaan sebagai ukuran nilai manusia.

Baca...  Mengenal Al-Biruni Ilmuwan Muslim

​Humanisme Islam: Martabat yang Tidak Bergantung pada Fungsi

​Perspektif Islam menawarkan dasar yang berbeda dalam memahami nilai manusia. Al-Qur’an menyatakan:

​وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ

“Sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam” (Q.S. Al-Isra’ [17]: 70)

​Ayat tersebut memberikan fondasi penting bagi konsep karāmah insāniyyah. Kemuliaan manusia tidak pertama-tama didasarkan pada produktivitas, kekayaan, status, ataupun kemampuan ekonominya. Manusia dimuliakan sebagai manusia.

​Dalam perspektif ini, seseorang yang sakit, miskin, tidak produktif, lanjut usia, mengalami keterbatasan, atau kehilangan pekerjaan tetap memiliki martabat yang harus dihormati. Nilai kemanusiaan tidak gugur hanya karena fungsi sosial seseorang berubah.

​Hal ini memberikan kritik fundamental terhadap dunia Gregor Samsa. Jika masyarakat menilai manusia berdasarkan kegunaannya, Islam mengingatkan bahwa manusia memiliki nilai yang lebih mendasar daripada kegunaannya. Fungsi sosial dapat berubah, tetapi martabat manusia tidak semestinya ikut berubah.

​Humanisme Islam juga tidak berhenti pada pengakuan abstrak terhadap martabat. Ia menuntut konsekuensi etis: raḥmah (kasih sayang), keadilan, penghormatan terhadap sesama, dan perlindungan terhadap manusia yang berada dalam kondisi lemah. Dalam kerangka ini, persoalan Gregor bukan sekadar bahwa ia mengalami perubahan fisik, tetapi bahwa lingkungan sosialnya gagal mempertahankan penghormatan terhadap martabatnya.

​Kafka dan Islam: Sebuah Dialog, Bukan Penyamaan

​Membaca Kafka melalui Islam tentu tidak berarti menyatakan bahwa Kafka adalah seorang pemikir Islam atau bahwa The Metamorphosis merupakan karya yang secara langsung berbicara tentang karāmah insāniyyah. Keduanya lahir dari konteks intelektual yang berbeda.

​Kafka menghadirkan problem melalui sastra: manusia dapat kehilangan kemanusiaannya ketika ia direduksi menjadi fungsi. Islam memberikan kerangka normatif untuk merespons problem tersebut: manusia memiliki martabat yang tidak boleh direduksi oleh kepentingan ekonomi maupun fungsi sosial.

Baca...  Gerakan Dan Pemikiran Muhammad Ali Pasya

​Dengan demikian, keduanya dapat ditempatkan dalam sebuah dialog. Kafka membantu kita melihat problem dehumanisasi, sedangkan Islam memberikan landasan etis untuk mengkritik dehumanisasi tersebut.

​Pada titik ini, humanisme Islam tidak sekadar berarti “mencintai manusia”. Ia mengandung gagasan bahwa manusia harus diperlakukan sebagai tujuan moral, bukan sekadar sarana. Prinsip tersebut menjadi sangat relevan ketika dunia modern semakin menilai manusia melalui produktivitas dan performa.

​Kesimpulan

The Metamorphosis karya Franz Kafka menyajikan sebuah ironi besar tentang kehidupan manusia: seseorang dapat kehilangan pengakuan sebagai manusia ketika ia kehilangan kemampuan untuk menjalankan fungsi yang diharapkan masyarakat. Gregor Samsa berubah menjadi serangga, tetapi tragedi sesungguhnya bukan hanya perubahan tubuhnya. Tragedi terbesar adalah ketika orang-orang yang sebelumnya bergantung kepadanya tidak lagi mampu melihatnya sebagai manusia yang memiliki martabat.

​Dari sini muncul pertanyaan yang tetap relevan: apakah manusia bernilai karena dirinya atau karena fungsinya?

​Perspektif humanisme Islam memberikan jawaban yang tegas: manusia memiliki karāmah yang melekat pada dirinya sebagai manusia. Produktivitas, pekerjaan, status, dan manfaat sosial bukan sumber utama martabat manusia. Semua itu dapat berubah dan hilang, tetapi kemanusiaan tidak seharusnya kehilangan nilainya.

​Karena itu, membaca The Metamorphosis melalui perspektif Islam bukan sekadar mempertemukan sastra Barat dengan ajaran Islam. Lebih jauh, pembacaan ini membuka kritik terhadap cara masyarakat modern memperlakukan manusia. Gregor Samsa menjadi cermin bahwa ketika manusia hanya dihargai karena apa yang dapat ia berikan, maka masyarakat sedang berada di ambang dehumanisasi. Sebaliknya, ketika manusia dihargai karena martabat kemanusiaannya, maka kehidupan sosial bergerak menuju bentuk humanisme yang lebih berkeadilan dan berbelas kasih.

3 posts

About author
Mahasiswa Jurusan Dirasat (Studi) Islam UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Articles
Related posts
KeislamanKesehatan

Konsep Toleransi Surah Al-Kafirun dan Pelayanan Bidan Multiagama

5 Mins read
I. Pendahuluan ​Indonesia merupakan negara majemuk yang dihuni oleh masyarakat dengan latar belakang suku, budaya, dan agama yang sangat beragam. Kemajemukan ini…
KeislamanKesehatan

Sinergi Bidan dan Tokoh Agama: Kampanye Cegah Penyakit Jantung Ibu Hamil

6 Mins read
​PENDAHULUAN ​Kehamilan merupakan proses fisiologis yang menyebabkan berbagai perubahan pada tubuh perempuan, termasuk perubahan pada sistem kardiovaskular. Perubahan tersebut diperlukan untuk memenuhi…
KeislamanTafsir

Tafsir Kosmologis Syekh Ibrahim Al-Bajuri tentang Dosa, Alam, dan Tanggung Jawab Moral Manusia

6 Mins read
Di antara lembaran-lembaran kitab “Hasyiah al-Bajuri”, sebuah karya monumental yang selama berabad-abad menjadi rujukan utama dalam kajian fikih mazhab Syafi’i di pesantren-pesantren…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *