Dalam khazanah literatur klasik Islam, nama Ibnu Bathutah berdiri sebagai salah satu penjelajah paling legendaris yang pernah tercatat dalam sejarah peradaban manusia. Perjalanannya yang membentang hampir tiga dekade melintasi daratan Afrika, Asia, hingga Tiongkok telah menghasilkan sebuah karya monumental berjudul “Tuhfat an-Nuzzar fi Ghara’ib al-Amsar wa Aja’ib al-Asfar”. Kitab ini bukan sekadar catatan perjalanan biasa, melainkan sebuah jendela yang membuka cakrawala pengetahuan tentang keberagaman budaya, tradisi, dan fenomena sosial yang jarang tersentuh oleh pena para sejarawan konvensional pada masanya.
Di antara sekian banyak kisah yang termaktub dalam kitab tersebut, terdapat sebuah riwayat yang menarik untuk ditelaah lebih dalam. Kisah ini bukan tentang kerajaan besar atau pertempuran epik, melainkan tentang seorang syaikh saleh dari kota Dimyath yang terletak di tepian Sungai Nil. Sosok ini dikenal sebagai pemimpin tarekat Qalandariyah, sebuah kelompok sufi yang memiliki ciri khas tersendiri dalam praktik spiritual mereka. Namun, yang membuat kisah ini istimewa bukanlah kedudukannya sebagai pemimpin tarekat, melainkan peristiwa luar biasa yang menimpa dirinya dan kemudian menjadi cikal bakal sebuah tradisi yang bertahan lintas generasi.
Kisah Syaikh Jamaluddin As-Sawi: Ketika Ketampanan Menjadi Ujian
Syaikh Jamaluddin As-Sawi adalah seorang yang dikaruniai paras rupawan. Wajahnya yang tampan dan penampilannya yang menawan membuatnya menjadi pusat perhatian, terutama di kalangan perempuan. Setiap kali beliau melangkahkan kaki keluar dari rumahnya, pandangan mata selalu tertuju padanya. Tidak jarang, perempuan-perempuan yang melihatnya berusaha mendekati dan mengajaknya berkomunikasi, bahkan ada yang berani mengundangnya untuk masuk ke kediaman mereka. Situasi semacam ini tentu bukan hal yang mudah dihadapi oleh seorang yang mengabdikan hidupnya untuk jalan spiritual.
Dalam kitab “Rihlah Ibnu Bathutah”, dikisahkan dengan detail bagaimana ujian tersebut akhirnya mencapai puncaknya. Suatu hari, ketika Syaikh Jamaluddin sedang dalam perjalanan menuju masjid, seorang perempuan tua menghadang langkahnya. Perempuan renta itu berdiri di depan sebuah rumah sambil menggenggam sepucuk surat yang telah tertutup rapat. Dengan suara yang lembut namun penuh harap, ia menyapa sang syaikh dan bertanya apakah beliau bisa membaca. Mendapat jawaban afirmatif, si nenek kemudian memohon agar Syaikh Jamaluddin berkenan membacakan isi surat tersebut untuk putranya yang sedang tidak berada di tempat.
Dalam teks Arabnya, kisah ini dinarasikan sebagai berikut:
حكاية
يذكر أن السبب الداعي للشيخ جمال الدين الساوي إلى حلق لحيته وحاجبيه أنه كان جميل الصورة حسن الوجه فعلقت به امرأة من أهل ساوة، وكانت تراسله وتعارضه في الطرق وتدعوه لنفسها، وهو يمتنع ويتهاون
Artinya: “Diceritakan bahwa sebab yang mendorong Syaikh Jamaluddin As-Sawi untuk mencukur jenggot dan alisnya adalah karena beliau memiliki paras yang rupawan dan wajah yang tampan, sehingga seorang perempuan dari penduduk Sawi terpikat kepadanya. Perempuan itu terus berkirim surat kepadanya, menghadangnya di jalan-jalan, dan mengajaknya untuk dirinya, namun beliau menolak dan mengabaikannya.”
Penggalan narasi di atas menggambarkan dengan jelas bagaimana ketampanan Syaikh Jamaluddin menjadi sumber cobaan yang terus-menerus mengganggu ketenangan batinnya. Perempuan yang disebutkan dalam kisah ini tidak hanya sekali atau dua kali menggoda sang syaikh, melainkan terus menerus mengirim pesan dan menghadang langkahnya. Meskipun demikian, Syaikh Jamaluddin tetap teguh pada pendiriannya untuk menolak godaan tersebut.
Namun, sebagaimana disebutkan dalam kelanjutan kisahnya, perempuan tersebut tidak kehabisan akal. Ia merancang sebuah tipu daya yang melibatkan seorang perempuan tua sebagai pelaksana rencananya. Perempuan tua itu diminta untuk duduk di depan sebuah rumah yang berada di jalur yang biasa dilalui Syaikh Jamaluddin menuju masjid. Dengan membawa surat tertutup, ia menunggu kedatangan sang syaikh.
فلما مر بها قالت له: يا سيدي أتحسن القراءة؟ قال: نعم قالت: له الكتاب وجهه إلى ولدي، وأحب أن تقرأه علي
Artinya: “Ketika beliau melewatinya, perempuan tua itu berkata: “Wahai tuanku, apakah engkau bisa membaca?” Beliau menjawab: “Ya.” Perempuan itu berkata: “Ada surat yang ditujukan kepada putraku, dan aku ingin engkau membacakannya kepadaku.”
Permintaan tersebut tampak tidak mencurigakan sama sekali. Seorang syaikh yang dikenal saleh tentu tidak akan menolak permohonan bantuan dari seorang perempuan tua yang buta huruf. Dengan niat baik, Syaikh Jamaluddin pun menyetujui permintaan tersebut. Namun, si nenek kemudian menambahkan permintaan lain yang tampak sepele namun justru menjadi kunci jebakannya.
فلما فتح الكتاب، قالت له: يا سيدي إن لولدي زوجة، وهي بأسطوان الدار، فلو تفضلت بقراءته بين بابي الدار بحيث تسمعها
Artinya: “Ketika beliau membuka surat itu, perempuan tua itu berkata: “Wahai tuanku, sesungguhnya putraku memiliki istri, dan dia berada di dalam rumah. Alangkah baiknya jika engkau berkenan membacakan surat itu di antara dua pintu rumah agar istrinya juga dapat mendengarnya.”
Tanpa curiga sedikit pun, Syaikh Jamaluddin mengikuti permintaan tersebut. Beliau melangkah masuk ke dalam rumah dan berdiri di antara dua pintu, tepat seperti yang diminta. Namun, apa yang terjadi selanjutnya sungguh di luar dugaan. Si nenek dengan cepat menutup pintu dan mengunci rapat-rapat akses satu-satunya untuk keluar dari rumah itu.
Jebakan yang Berujung pada Transformasi Diri
Perangkap telah terpasang sempurna. Syaikh Jamaluddin mendapati dirinya terjebak di dalam rumah bersama seorang perempuan yang selama ini telah berusaha mendekatinya. Perempuan tersebut kemudian keluar dari persembunyiannya dan mulai merayu sang syaikh dengan segala cara. Dalam keputusasaan, Syaikh Jamaluddin menyadari bahwa tidak ada jalan keluar dari situasi tersebut. Namun, sebagai seorang yang memiliki kecerdasan spiritual, beliau tidak kehilangan akal.
Dalam teks Arabnya, momen kritis ini digambarkan sebagai berikut:
فلما توسط بين البابين غلقت العجوز الباب، وأخرجت المرأة حواريها فتعلقن به، وأدخلنه إلى داخل الدار. وراودته المرأة عن نفسه، فلما رأى أن لا خلاص له، قال لها: إني حيث تريدين. فأريني بيت الخلاء. فأرته إياه. فأدخل معه الماء. وكانت عنده موسى جديدة، فحلق لحيته وحاجبيه، وخرج عليها، فاستقبحت هيئته واستنكرت فعله، وأمرت بإخراجه وعصمه الله بذلك، فبقى على هيئته فيما بعد
Artinya: “Ketika beliau berada di antara dua pintu, perempuan tua itu menutup pintu, dan perempuan (muda) itu mengeluarkan dayang-dayangnya yang kemudian menggantungkan diri pada beliau dan membawanya masuk ke dalam rumah. Perempuan itu mulai merayu beliau untuk memenuhi hasratnya. Ketika beliau melihat tidak ada jalan keluar, beliau berkata kepadanya: “Aku akan menuruti apa yang engkau inginkan. Tunjukkanlah kepadaku kamar mandi.” Perempuan itu pun menunjukkan kamar mandi kepadanya. Beliau membawa air ke dalamnya. Kebetulan beliau memiliki pisau cukur yang baru, lalu beliau mencukur jenggot dan alisnya. Kemudian beliau keluar menemui perempuan itu. Perempuan itu merasa jijik dengan penampilannya dan mengingkari perbuatannya, lalu memerintahkan agar beliau diusir. Dengan demikian, Allah menyelamatkannya, dan beliau tetap dengan penampilan barunya setelah itu.”
Kisah ini mengandung lapisan makna yang sangat dalam. Di satu sisi, ini adalah kisah tentang kecerdikan seorang hamba dalam menghadapi situasi yang mengancam kesucian dirinya. Syaikh Jamaluddin menyadari bahwa senjata utama yang dimiliki perempuan tersebut adalah ketertarikannya pada ketampanan sang syaikh. Dengan menghilangkan atribut ketampanannya, yaitu jenggot dan alis yang selama ini menjadi mahkota wajahnya, beliau berhasil mematahkan daya tarik tersebut.
Namun, di sisi lain, kisah ini juga menimbulkan pertanyaan-pertanyaan yang lebih mendalam tentang batas-batas antara usaha manusia dan perlindungan ilahi. Syaikh Jamaluddin memilih untuk melakukan sesuatu yang secara zahir tampak bertentangan dengan fitrah, yaitu mencukur jenggot yang dalam banyak tradisi Islam dianggap sebagai bagian dari sunnah. Namun, keputusan tersebut justru menjadi wasilah keselamatan bagi dirinya. Kalimat “wa ashamahu Allahu bidzalika” (dan Allah menyelamatkannya dengan cara itu) menegaskan bahwa apa yang tampak sebagai tindakan yang keliru justru menjadi jalan pertolongan dari Yang Maha Kuasa.
Tradisi yang Lahir dari Sebuah Peristiwa
Kisah Syaikh Jamaluddin As-Sawi tidak berhenti sebagai sebuah anekdot yang menarik untuk diceritakan dari generasi ke generasi. Peristiwa tersebut meninggalkan jejak yang jauh lebih dalam, yaitu lahirnya sebuah tradisi yang kemudian diadopsi oleh para pengikut tarekat Qalandariyah. Dalam teks Arabnya, Ibnu Bathutah menutup kisah ini dengan kalimat singkat namun penuh makna:
وصار كل من يسلك طريقته أن يحلق رأسه ولحيته وحاجبيه
Artinya: “Dan jadilah setiap orang yang mengikuti jalannya untuk mencukur rambut kepalanya, jenggotnya, dan alisnya.”
Kalimat ini menjadi semacam kesimpulan yang menjelaskan mengapa para pengikut tarekat Qalandariyah memiliki ciri khas berupa kepala gundul, wajah tanpa jenggot, dan alis yang tercukur habis. Tradisi ini bukan sekadar pilihan estetika atau gaya hidup semata, melainkan sebuah praktik spiritual yang berakar pada sebuah peristiwa nyata yang dialami oleh pendiri atau tokoh sentral tarekat tersebut.
Tentu saja, fenomena ini mengundang kita untuk merenungkan bagaimana sebuah tradisi keagamaan dapat lahir dari pengalaman personal yang sangat spesifik. Dalam banyak kasus, praktik-praktik keagamaan yang kita kenal saat ini seringkali bermula dari peristiwa yang terjadi pada masa lalu, kemudian diinterpretasikan ulang dan dijadikan pedoman oleh generasi berikutnya. Proses ini menunjukkan bahwa agama bukanlah sesuatu yang statis, melainkan hidup dan berkembang seiring dengan perjalanan waktu dan pengalaman umat manusia.
Tarekat Qalandariyah sendiri merupakan salah satu aliran sufi yang dikenal karena pendekatannya yang tidak konvensional terhadap praktik keagamaan. Mereka cenderung mengabaikan norma-norma sosial yang berlaku dan lebih mengutamakan kebebasan spiritual. Ciri khas mereka yang berupa penampilan tanpa jenggot dan alis, serta kepala yang gundul, mencerminkan upaya untuk melepaskan diri dari segala atribut keduniaan, termasuk atribut yang melekat pada tubuh manusia.
Namun, perlu dicatat bahwa praktik semacam ini tidak lepas dari kritik dan kontroversi. Dalam pandangan sebagian ulama, mencukur jenggot merupakan tindakan yang bertentangan dengan ajaran Islam yang menganjurkan umatnya untuk memelihara jenggot. Oleh karena itu, kemunculan tarekat Qalandariyah dengan praktik uniknya seringkali menjadi bahan perdebatan di kalangan masyarakat Muslim. Meskipun demikian, keberadaan mereka tetap menjadi bagian dari kekayaan khazanah spiritual Islam yang tidak dapat diabaikan.
Kisah yang termaktub dalam “Rihlah Ibnu Bathutah” ini juga mengingatkan kita pada pentingnya memahami konteks dalam menafsirkan sebuah tradisi. Apa yang tampak sebagai penyimpangan dari norma umum bisa jadi memiliki akar yang sangat dalam dalam pengalaman spiritual seseorang. Syaikh Jamaluddin As-Sawi tidak mencukur jenggot dan alisnya karena ingin melanggar aturan atau mencari perhatian, melainkan karena beliau berada dalam situasi darurat yang menuntut tindakan luar biasa. Dalam kaidah fikih dikenal prinsip “adh-dharuratu tubihu al-mahzhurat” (keadaan darurat membolehkan hal-hal yang dilarang), dan tampaknya prinsip inilah yang menjadi dasar tindakan beliau.
Lebih dari itu, kisah ini juga menjadi cermin bagi kita tentang bagaimana godaan dapat datang dalam berbagai bentuk dan dari arah yang tidak terduga. Syaikh Jamaluddin yang selama ini dikenal sebagai orang saleh dan menjadi panutan masyarakat, tetap tidak luput dari ujian berupa godaan syahwat. Namun, yang membedakan beliau dari orang kebanyakan adalah kecerdasan dan keteguhannya dalam mencari jalan keluar yang tidak melanggar batas-batas syariat.
Refleksi atas Kisah yang Melampaui Zamannya
Membaca kembali kisah Syaikh Jamaluddin As-Sawi dalam “Rihlah Ibnu Bathutah” membawa kita pada refleksi yang lebih luas tentang hakikat kehidupan spiritual dan tantangan-tantangan yang menyertainya. Kisah ini bukan sekadar catatan sejarah tentang seorang tokoh tarekat yang unik, melainkan sebuah pelajaran berharga tentang bagaimana manusia berinteraksi dengan godaan, bagaimana akal dan iman bekerja sama dalam menghadapi situasi sulit, serta bagaimana sebuah peristiwa personal dapat bertransformasi menjadi tradisi kolektif yang bertahan selama berabad-abad.
Dalam konteks kehidupan modern yang penuh dengan godaan dan distraksi, kisah ini memiliki relevansi yang kuat. Kita seringkali dihadapkan pada situasi-situasi yang tampak tidak berbahaya namun sebenarnya menyimpan jebakan. Seperti Syaikh Jamaluddin yang tidak menyangka bahwa permintaan seorang nenek untuk membacakan surat akan berujung pada perangkap, kita pun perlu selalu waspada terhadap segala kemungkinan yang ada di sekitar kita. Namun, kewaspadaan saja tidak cukup. Kita juga perlu memiliki kecerdasan untuk mencari jalan keluar ketika menghadapi situasi yang sulit, serta keteguhan hati untuk tidak melanggar batas-batas yang telah ditetapkan oleh syariat.
Tak hanya itu, kisah ini juga mengajarkan kepada kita tentang pentingnya memaknai setiap peristiwa dalam hidup sebagai bagian dari rencana yang lebih besar. Syaikh Jamaluddin mungkin tidak pernah membayangkan bahwa tindakannya mencukur jenggot dan alis dalam keadaan darurat akan menjadi cikal bakal sebuah tradisi yang diikuti oleh banyak orang. Namun, demikianlah cara kerja hikmah ilahi. Apa yang tampak sebagai kebetulan atau bahkan kesalahan, bisa jadi merupakan bagian dari skenario besar yang tidak sepenuhnya dapat kita pahami.
Syahdan. Bahwa di balik setiap tradisi dan praktik keagamaan, selalu ada cerita manusiawi yang melatarbelakanginya. Memahami cerita tersebut membantu kita untuk lebih menghargai keberagaman dan tidak terburu-buru menghakimi praktik-praktik yang tampak asing bagi kita. Sebagaimana Syaikh Jamaluddin yang tetap bertahan dengan penampilan barunya setelah peristiwa tersebut, demikian pula tarekat Qalandariyah tetap bertahan dengan identitas uniknya di tengah arus sejarah yang terus berubah. Dalam keberagaman inilah terletak kekayaan peradaban Islam yang telah terbentuk selama berabad-abad, sebuah warisan yang patut kita pelajari dan hargai dengan penuh kebijaksanaan. Wallahu a’lam bisshawab.

