KisahOpini

Cinta yang Merambat: Mencium Dinding Karena Rindu

5 Mins read

Kita tahu peristiwa dalam khazanah sastra Arab klasik yang, meski berumur lebih dari seribu tahun, masih terasa aneh sekaligus menyentuh setiap kali dibaca ulang: seorang lelaki yang berjalan menyusuri sebuah kampung, lalu berhenti di depan tembok-tembok rumah, dan menciuminya satu per satu. Bukan karena tembok itu indah, bukan pula karena ia pemuja arsitektur tanah liat khas Jazirah Arab.

Lelaki itu bernama Qais bin Mulawwah, yang lebih dikenal di dunia dengan julukan “Majnun” (si gila) karena cintanya kepada seorang perempuan bernama Laila telah membuatnya kehilangan akal sehat menurut ukuran orang-orang di sekitarnya.

Karena itu, tak heran jika Imam Al-Ghazali, dalam magnum opus-nya “Ihya’ Ulumuddin”, mengabadikan kisah ini bukan sebagai gosip cinta lama, melainkan sebagai pintu masuk untuk membedah salah satu misteri paling rumit dalam kehidupan batin manusia: bagaimana cara kerja cinta yang sesungguhnya, dan ke mana saja ia bisa merembes tanpa bisa dicegah.

Tembok Menjadi Saksi Rindu yang Tak Tertahan

Begini syair yang dilantunkan Majnun, sebagaimana dikutip oleh Al-Ghazali:

أَمُرُّ عَلَى الدِّيَارِ لَيْلَى # أُقَبِّلُ ذَا الجِدَارَ وَذَا الجِدَارَا

وَمَا حُبُّ الدِّيَارِ شَغَفْنَ قَلْبِي # وَلَكِنْ حُبُّ مَنْ سَكَنَ الدِّيَارَا

Artinya: “Aku melintasi negeri tempat Laila tinggal, lalu kucium dinding ini dan dinding itu. Bukan kerinduan pada tempat itu sendiri yang membakar hatiku, melainkan kerinduan kepada orang yang pernah mendiaminya.”

Kalau dibaca sepintas, adegan ini bisa dianggap berlebihan, bahkan lucu. Untuk apa mencium tembok yang tidak bisa membalas, yang tidak punya kehangatan tubuh, yang bahkan mungkin sudah lama ditinggalkan penghuninya? Tetapi justru di titik “berlebihan” itulah letak kejujuran emosional yang jarang berani diakui manusia modern.

Majnun tidak sedang mencintai batu bata dan lumpur kering. Ia sedang melakukan sesuatu yang jauh lebih rumit: memindahkan seluruh muatan rasa yang tak tertampung kepada Laila, ke benda-benda yang pernah bersentuhan dengannya. Tembok itu menjadi semacam medium, jembatan simbolik antara rindu yang tak berbatas dengan kekasih yang tak terjangkau.

Tentu, fenomena ini sebenarnya bukan hal asing dalam psikologi manusia mana pun, lepas dari zaman dan budayanya. Seseorang yang kehilangan orang tercinta sering kali tidak rela membuang baju lama atau misalnya tulisan tangan surat yang tertinggal, bukan karena benda itu berharga secara materi, tetapi karena benda itu menjadi wadah bagi kenangan yang tidak punya tempat lain untuk singgah.

Baca...  Kezaliman di Era Kontemporer dalam Konteks Keindonesiaan: Sebuah Tinjauan Ma’na Cum Maghza

Rupanya, Al-Ghazali menempatkan kisah Majnun di bagian awal pembahasannya tentang mahabbah (cinta) justru untuk menunjukkan satu hukum psikologis sekaligus spiritual yang berlaku universal: cinta sejati tidak pernah berhenti pada objek utamanya saja; ia selalu mencari jalan untuk melimpah ke segala sesuatu yang terhubung dengannya, betapapun kecil dan tak berartinya keterhubungan itu di mata orang lain.

Namun, di sinilah pembacaan kritis perlu masuk. Apakah setiap “pelimpahan” cinta semacam ini otomatis mulia? Sejarah mencatat Majnun bukan sebagai tokoh yang dipuji karena kewarasannya, melainkan justru karena ia kehilangan kewarasan itu. Ia mengabaikan kewajiban sosialnya, meninggalkan keluarganya, dan hidup mengembara di padang pasir hanya untuk mengulang-ulang nama Laila.

Ada garis tipis antara cinta yang menyucikan dan cinta yang justru melumpuhkan fungsi akal serta tanggung jawab seseorang sebagai manusia. Al-Ghazali sendiri, dengan kecermatan seorang filsuf sekaligus sufi, tidak menjadikan kisah ini sebagai teladan perilaku, melainkan sebagai ilustrasi tentang daya cinta; sesuatu yang netral secara kekuatan, tetapi sangat bergantung pada ke mana ia diarahkan agar tidak berubah menjadi obsesi yang destruktif.

Ajaran Al-Ghazali: Hukum Rembesan Cinta kepada Segala yang Terkait dengan Sang Kekasih

Dari kisah Majnun, Al-Ghazali menarik sebuah kaidah yang lebih besar. Ia menjelaskan bahwa apabila cinta benar-benar telah menguasai hati seseorang, cinta itu tidak akan pernah berhenti hanya pada sosok yang dicintai.

Ia akan merembes, seperti air yang meresap ke celah-celah tanah, kepada segala hal yang memiliki keterkaitan dengannya: kepada keluarganya, kerabatnya, sahabat dekatnya, bahkan kepada orang-orang yang mengabdi dan melayaninya. Semua itu ikut mendapat percikan cinta, bukan karena mereka istimewa secara pribadi, melainkan karena mereka membawa “jejak” dari sosok yang dicintai.

Tak berhenti di sini, untuk memperkuat penjelasan ini, Al-Ghazali mengutip kisah dari Baqiyyah bin al-Walid, seorang tabi’in yang dikenal luas dalam periwayatan hadis. Dikatakan bahwa jika seorang kekasih memiliki seekor anjing peliharaan, maka orang yang mencintainya pun akan ikut menyukai anjing tersebut.

Dalam hal ini, bukan karena anjing itu sendiri memiliki daya tarik, melainkan semata karena ia adalah milik sang kekasih. Anjing di sini bisa diganti dengan objek apa pun: barang usang, kebiasaan aneh, bahkan kekurangan sang kekasih sekalipun. Cinta yang tulus, menurut logika ini, punya kemampuan untuk “mewarnai ulang” cara pandang seseorang terhadap segala sesuatu yang bersinggungan dengan objek cintanya.

Baca...  Waktu, Takdir, dan Kebebasan Manusia

Titik ini menarik untuk dibedah lebih jauh, sebab ia sebenarnya menyingkap satu prinsip psikologis yang jauh mendahului istilah-istilah modern semacam association atau attachment transfer dalam ilmu jiwa kontemporer. Manusia memang cenderung memindahkan afeksi dari satu objek utama ke objek-objek periferal yang terasosiasi dengannya.

Bedanya, Al-Ghazali tidak berhenti pada level deskripsi psikologis semata. Ia menaikkan level pembahasan ini menjadi persoalan teologis: jika cinta kepada manusia saja mampu melimpah sedemikian luas kepada segala hal yang terkait dengannya, bagaimana seharusnya cinta seorang hamba kepada Allah bekerja? Bukankah semestinya cinta itu ikut melimpah kepada seluruh ciptaan-Nya, kepada para nabi dan orang-orang saleh yang dicintai-Nya, bahkan kepada takdir dan ketentuan yang datang dari-Nya, betapapun pahit rasanya di permukaan?

Namun, seorang pembaca yang jeli tentu tidak boleh berhenti hanya mengangguk setuju. Perlu dipertanyakan: apakah logika “cinta yang merembes” ini bisa dijadikan pembenaran tanpa syarat? Bukankah dalam realitas sosial, alasan “aku menyukainya karena dia milik orang yang kucintai” juga bisa disalahgunakan, misalnya untuk memaklumi perilaku buruk seseorang hanya karena ia dekat dengan figur yang dihormati atau dicintai secara berlebihan (fanatisme buta terhadap tokoh, misalnya)? Di sinilah pentingnya membedakan antara cinta yang melimpah karena kedalaman spiritual dan cinta yang melimpah karena kurangnya daya kritis.

Al-Ghazali tampaknya menyadari benar risiko ini, sebab seluruh pembahasan mahabbah dalam “Ihya’ Ulumuddin” selalu ia kaitkan dengan makrifat: pengenalan yang benar terhadap objek yang dicintai. Cinta tanpa makrifat, dalam kerangka berpikirnya, gampang tergelincir menjadi ilusi emosional belaka, persis seperti Majnun yang mencintai tembok bukan karena mengenalnya, melainkan karena proyeksi rindu yang membutakan.

Merenungi Langit dan Segala Cuacanya: Ujian Keaslian Cinta Kepada Yang Maha Dicintai

Ungkapan penutup yang menyertai pembahasan ini terasa sederhana namun menohok: jika seseorang benar-benar mencintai langit, ia semestinya akan senang dengan segala jenis cuaca yang datang darinya; baik cerah maupun mendung, baik gerimis lembut maupun badai yang mengguncang. Metafora ini, meski singkat, sebenarnya menyimpan salah satu ujian paling telak untuk menakar keaslian cinta seseorang, baik cinta kepada sesama manusia maupun cinta kepada Tuhan.

Banyak orang mengaku mencintai seseorang, tetapi cintanya hanya bertahan selama orang itu menyenangkan, menguntungkan, atau sesuai dengan yang diharapkan. Begitu keadaan berubah (kekasih jatuh sakit, kehilangan status sosial, atau menunjukkan sisi yang tidak ideal), cinta yang tadinya menggebu itu perlahan menguap. Itulah cinta musiman, cinta yang hanya menyukai langit ketika cerah, tetapi mengeluh dan menjauh saat mendung datang.

Baca...  Jejak Suci di Balik Setia: Keistimewaan Anjing Ashabul Kahfi Dalam Kitab Kasyifatus Saja fi Syarhi Safinatinnaja

Sementara cinta sejati, sebagaimana digambarkan lewat metafora Majnun yang mencium tembok kosong, justru diuji ketika objek yang dicintai sudah tidak lagi hadir secara fisik, tidak lagi bisa memberi manfaat langsung, bahkan ketika yang tersisa hanyalah jejak-jejak kecil yang nyaris tak berarti bagi orang lain.

Dalam konteks spiritualitas, metafora ini menjadi jauh lebih tajam. Jika seorang hamba mengaku mencintai Allah, ujian sesungguhnya tidak terletak pada saat nikmat berlimpah dan doa-doa terkabul dengan mudah. Ujian itu justru hadir ketika takdir terasa pahit: ketika musibah datang, ketika doa belum juga dijawab sesuai keinginan, ketika hidup terasa seperti mendung yang tak kunjung reda.

Lalu, apakah cinta kepada Allah masih tersisa dalam kondisi semacam itu, ataukah ia hanya cinta bersyarat yang menuntut cuaca selalu cerah? Pertanyaan inilah yang sesungguhnya ingin diselipkan Al-Ghazali lewat kisah Majnun bukan untuk mengajarkan umatnya mencintai tembok atau anjing secara harfiah, melainkan untuk menunjukkan bahwa cinta yang otentik selalu punya daya tahan terhadap perubahan bentuk objek yang dicintainya.

Tentu saja, penting untuk tidak jatuh pada romantisasi berlebihan terhadap penderitaan sebagai bukti cinta sejati: sebuah jebakan yang justru sering muncul dalam wacana populer tentang mahabbah. Mencintai “segala cuaca” bukan berarti seseorang harus pasif menerima keburukan atau membiarkan diri tersakiti tanpa batas atas nama cinta.

Yang dimaksud lebih kepada konsistensi sikap batin: kesediaan untuk tetap menaruh hormat, kepercayaan, dan pengharapan yang baik kepada Yang Dicintai, meski keadaan luar tidak selalu sesuai keinginan pribadi. Dalam bahasa yang lebih membumi, ini adalah soal kedewasaan emosional dan spiritual, bukan soal kepasrahan buta.

Syahdan. Kisah Majnun yang mencium dinding, ajaran Al-Ghazali tentang cinta yang merembes kepada segala yang terkait dengan kekasih, hingga metafora langit dan cuacanya, sebenarnya sedang mengajak setiap pembaca untuk berhenti sejenak dan bertanya jujur pada diri sendiri: cinta seperti apa yang selama ini kupraktikkan: cinta yang hanya betah di musim cerah, atau cinta yang tetap setia menembus dinding sunyi sekalipun kekasihnya sudah lama tiada di hadapan mata? Wallahu a’lam bisshawab.

379 posts

About author
Penulis Lepas dan Pemerhati Isu Sosial Politik.
Articles
Related posts
Opini

Sound Horeg dan Krisis Ruang Publik: Menanti Ketegasan di Tengah Gemuruh Zaman

4 Mins read
Ada sesuatu yang ironis ketika sebuah bangsa yang mengklaim menjunjung tinggi gotong royong dan tenggang rasa justru kerap gagap menghadapi persoalan sederhana:…
Opini

Karhutla dan Kemanusiaan: Ketika Asap Menuntut Pertanggungjawaban Etis

4 Mins read
Setiap tahun, ketika musim kemarau tiba, Indonesia seolah berhadapan dengan hantu lama yang tak pernah benar-benar pergi: kebakaran hutan dan lahan. Karhutla…
Opini

Ketika Ingatan Ekologis Mudah Padam: Belajar dari Api yang Kembali Membakar Bromo

3 Mins read
Kabar kebakaran di Savana Bukit Teletubbies, Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), datang dengan nada yang terasa akrab. Bukan karena peristiwanya biasa-biasa…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *