EsaiKeislaman

Karakter Perawat: Metode Mujahadah & Riyadhah Al-Ghazali

6 Mins read

​I. Pendahuluan

​Profesi keperawatan merupakan profesi yang menuntut keterpaduan antara kompetensi teknis dan kematangan karakter. Perawat tidak hanya membutuhkan pengetahuan dan keterampilan dalam memberikan asuhan keperawatan, tetapi juga harus memiliki empati, kesabaran, kejujuran, tanggung jawab, dan kepedulian terhadap pasien. Nilai care, compassion, dan kemanusiaan merupakan bagian fundamental dalam praktik keperawatan karena perawat berinteraksi secara langsung dan intensif dengan pasien yang berada dalam kondisi rentan secara fisik maupun psikologis (Sellman, 2011; Watson, 2008). Nilai-nilai profesional ini menjadi fondasi moral yang mengarahkan perawat dalam mengambil keputusan klinis yang etis dan manusiawi (Schmidt & McArthur, 2018).

​Dalam pelaksanaannya, beban kerja yang tinggi, kelelahan, dan tekanan emosional yang intens dapat memicu terjadinya sindrom kelelahan kerja (burnout) yang mengancam nilai-nilai kemanusiaan perawat (Maslach & Leiter, 2016). Oleh karena itu, pembentukan karakter perawat tidak cukup hanya melalui transfer pengetahuan teoritis dan pelatihan klinis di laboratorium, melainkan memerlukan pembinaan moral dan spiritual secara berkesinambungan agar perawat mampu memberikan asuhan yang profesional sekaligus berlandaskan empati mendalam (Hui et al., 2020; Mariyanti et al., 2025).

​Dalam khazanah pemikiran Islam, Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali menawarkan konsep mujahadah dan riyadhah sebagai metode transformatif dalam membentuk serta menyempurnakan budi pekerti (akhlak). Mujahadah merupakan kesungguhan jiwa dalam melawan dan mengendalikan hawa nafsu serta sifat-sifat tercela (madzmumah), sedangkan riyadhah merupakan latihan spiritual dan pembiasaan diri secara berulang untuk menginternalisasi perilaku terpuji (mahmudah) ke dalam integritas diri (Al-Ghazali, 2018; Harits, 2022; Siregar, 2026; Zulfahmi et al., 2026).

​Konsep ini memiliki relevansi kuat dengan profesi keperawatan modern. Melalui mujahadah dan riyadhah, pembentukan karakter perawat dapat dilakukan secara sadar, sistematis, dan bertahap, sehingga nilai-nilai luhur seperti kejujuran, kesabaran, dan caring tidak hanya dipahami sebagai norma kode etik, tetapi teraktualisasi dalam interaksi klinis sehari-hari. Berdasarkan latar belakang tersebut, artikel ini bertujuan untuk mengkaji konsep mujahadah dan riyadhah menurut Al-Ghazali serta menganalisis relevansinya dalam membentuk karakter perawat yang kompeten secara profesional, matang secara emosional, dan berorientasi pada kemanusiaan.

​II. Pembahasan

​Hakikat Karakter dan Akhlak Menurut Al-Ghazali

​Pembentukan karakter dalam pemikiran Imam Al-Ghazali berkaitan erat dengan upaya manusia untuk menyucikan batin (tazkiyat al-nafs) agar melahirkan perilaku lahiriah yang baik secara spontan dan konsisten. Dalam mahakaryanya, Ihya’ ‘Ulum al-Din, Al-Ghazali (2018) mendefinisikan akhlak sebagai suatu kondisi atau keadaan jiwa yang tertanam kuat (hai’ah rasikhah fi al-nafs), yang melahirkan perbuatan-perbuatan dengan mudah tanpa memerlukan pertimbangan yang rumit atau paksaan.

​Dengan demikian, karakter perawat tidak dapat terbentuk secara instan, melainkan melalui proses pendidikan budi pekerti, pengendalian diri, latihan bertahap, dan pembiasaan yang ajek. Al-Ghazali menegaskan bahwa akhlak bukanlah sesuatu yang bersifat kaku atau tidak dapat diubah; akhlak dapat disempurnakan melalui metode pembinaan yang terarah (Harits, 2022; Siregar, 2026). Dua pilar utama metode ini adalah mujahadah—perjuangan menundukkan kecondongan negatif dalam diri—dan riyadhah—latihan pembiasaan kebajikan hingga menjadi sifat yang menetap (Zulfahmi et al., 2026). Kajian kontemporer juga menegaskan bahwa metode Al-Ghazali beroperasi melalui sinergi antara mujahadah, riyadhah, muhasabah (introspeksi), istiqamah (konsistensi), serta keteladanan (Harits, 2022).

Baca...  Membantah Kesimpulan Bahwa Demokrasi Itu Syirik Akbar

​Landasan Normatif Penyucian Jiwa

​Prinsip penyucian jiwa dan pembinaan batin memiliki dasar normatif yang kokoh dalam Al-Qur’an, sebagaimana firman Allah Swt. dalam QS. Asy-Syams (91): 9–10:

​قَدْ أَفْلَحَ مَن زَكَّىٰهَا ۝ وَقَدْ خَابَ مَن دَسَّىٰهَا

“Sungguh beruntung orang yang menyucikannya (jiwa itu), dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.”

​Ayat ini menegaskan bahwa keberhasilan manusia bergantung pada ikhtiar aktif membersihkan jiwanya dari kecenderungan yang merusak. Dalam konteks pemikiran Al-Ghazali, penyucian jiwa menuntut tindakan praktis: mujahadah bertindak sebagai mekanisme kuratif untuk membuang penyakit hati, sementara riyadhah bertindak sebagai sarana preventif dan konstruktif untuk memupuk kebajikan.

​Kesungguhan dalam proses perbaikan diri juga ditegaskan dalam firman Allah Swt. dalam QS. Al-‘Ankabut (29): 69:

​وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۚ وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ

“Dan orang-orang yang berjihad (bersungguh-sungguh) untuk (mencari keridaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.”

​Bagi seorang perawat, ayat ini menjadi pengingat spiritual bahwa kesungguhan menjaga etika profesi, mengendalikan amarah saat menghadapi pasien yang agresif, dan mengabaikan kenyamanan pribadi demi keselamatan pasien adalah bentuk perjuangan (jihad/mujahadah) yang bermakna luhur.

​Keutamaan budi pekerti ini juga ditegaskan oleh Rasulullah saw. dalam sabdanya:

​أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا

“Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya.” (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi).

​Hadis ini menempatkan kematangan akhlak sebagai indikator utama integritas seorang muslim. Di ranah keperawatan, hal ini menunjukkan bahwa keunggulan klinis perawat kehilangan esensi kemanusiaannya apabila tidak diimbangi dengan kelembutan tutur kata, rasa hormat, dan kesantunan dalam melayani sesama manusia.

​Integrasi Mujahadah dan Riyadhah dalam Praktik Keperawatan

  1. Penerapan Mujahadah (Pengendalian Respons Emosional): Praktik klinis menghadapkan perawat pada beban kerja tinggi, jam kerja bergantian (shift), tuntutan keluarga pasien, serta risiko burnout yang nyata (Maslach & Leiter, 2016). Mujahadah bukan bertujuan menafikan emosi alamiah perawat seperti rasa lelah, jengkel, atau cemas, melainkan kemampuan menahan diri agar dorongan emosional tersebut tidak diterjemahkan ke dalam tindakan kasar, pengabaian pasien, atau kelalaian klinis. Kesungguhan mengelola ego dan respons batin ini menjadi perisai bagi terpeliharanya keselamatan dan kenyamanan pasien.
  2. Penerapan Riyadhah (Pembiasaan Perilaku Positif): Konsep riyadhah menitikberatkan pada proses repetitif hingga perilaku kebajikan menjadi tabiat alamiah (Zulfahmi et al., 2026). Bagi calon perawat dan perawat klinis, riyadhah diterapkan melalui pembiasaan disiplin waktu, kerapian rekam medis, keramahan saat menyapa pasien, menjaga kerahasiaan (confidentiality), dan kepatuhan terhadap prosedur operasi standar (SOP). Pada mulanya, tindakan tersebut mungkin dirasakan sebagai beban regulasi, namun melalui pengulangan yang konsisten (riyadhah), hal tersebut bertransformasi menjadi refleks moral yang spontan.
  3. Peran Muhasabah sebagai Penghubung: Al-Ghazali menekankan pentingnya muhasabah (refleksi diri secara jujur) untuk mengevaluasi apakah perbuatan seseorang sudah selaras dengan nilai kebajikan (Harits, 2022). Dalam keperawatan, muhasabah termanifestasi dalam reflective practice setelah giliran dinas berakhir. Perawat mengevaluasi: apakah asuhan yang diberikan telah menghormati martabat pasien? Apakah ada nada ketus saat menjawab keluhan keluarga pasien? Refleksi kritis ini memungkinkan perawat mengenali kelemahan dirinya dan memperbaikinya pada kesempatan berikutnya.
  4. Tahapan Takhalli, Tahalli, dan Tajalli: Proses pembinaan karakter Al-Ghazali mencakup tiga tahapan bertahap (Harits, 2022):
    • Takhalli: Membersihkan diri dari sikap apati, sinisme, kelalaian, dan egoisme.
    • Tahalli: Menghiasi diri dengan nilai profesional seperti empati, ketelitian, kelembutan, dan kejujuran.
    • Tajalli: Terinternalisasinya nilai-nilai luhur tersebut hingga tercermin secara autentik dalam perilaku caring yang berlandaskan spiritualitas dan altruisme.
Baca...  Menunaikan Kewajiban Dalam Kehidupan Beragama

​Relevansi dengan Nilai Profesional dan Perilaku Caring

​Penerapan kerangka Al-Ghazali ini sejalan dengan temuan-temuan dalam riset keperawatan kontemporer. Nilai profesional keperawatan (nursing professional values) merupakan fondasi identitas perawat yang memandu tindakan moral (Schmidt & McArthur, 2018; Sellman, 2011). Riset empiris oleh Işık, Dönmez, dan Özdemir (2022) terhadap 215 perawat membuktikan adanya korelasi signifikan dan positif antara nilai-nilai profesional perawat dengan tingkat empati dan kesabaran mereka. Hal ini mempertegas bahwa kesabaran dan empati—dua pilar utama akhlak Islam—bukanlah sekadar respons intuitif, melainkan kompetensi karakter yang perlu dibina.

​Lebih lanjut, Hui, Dai, dan Wang (2020) menemukan bahwa empati berfungsi sebagai mediator penting yang menghubungkan nilai-nilai profesional dengan kepuasan serta kualitas hidup profesional perawat (professional quality of life), sekaligus mereduksi kelelahan akibat empati (compassion fatigue).

​Dalam konteks persepsi mahasiswa perawat, Mariyanti et al. (2025) mengungkapkan bahwa pemahaman mahasiswa tentang perilaku caring di lingkungan klinis sangat dipengaruhi oleh bagaimana mereka dilatih untuk hadir secara utuh (authentic presence), mendengarkan secara aktif, dan menghormati pasien. Filosofi caring yang dikembangkan Watson (2008) pun memandang interaksi perawat-pasien sebagai pertemuan transpersonal yang menyentuh dimensi spiritualitas manusia.

​Dengan demikian, metode mujahadah dan riyadhah memberikan landasan praktis bagi institusi pendidikan keperawatan. Pendidikan karakter tidak cukup sebatas ceramah etika keperawatan di ruang kuliah, melainkan harus diintegrasikan melalui keteladanan para dosen dan pembimbing klinik (clinical instructor), latihan bertahap dalam simulasi laboratorium, serta pembiasaan reflektif selama praktik klinik di rumah sakit (Harits, 2022; Mariyanti et al., 2025; Zulfahmi et al., 2026).

​III. Penutup

​Metode Imam Al-Ghazali dalam pembentukan karakter berbasis mujahadah (kesungguhan mengendalikan hawa nafsu dan emosi negatif) dan riyadhah (latihan pembiasaan kebajikan secara bertahap dan konsisten) memiliki relevansi konseptual dan praktis yang sangat kuat bagi profesi keperawatan. Melalui tahapan takhalli, tahalli, dan tajalli, yang diperkuat dengan muhasabah dan keteladanan lingkungan akademik, nilai-nilai moral seperti kesabaran, empati, kejujuran, dan caring dapat terinternalisasi secara organik ke dalam pribadi perawat.

Baca...  I’jaz Al-Qur’an: Mengapa Satu Surah Saja Tak Mampu Ditandingi?

​Pendekatan ini menjembatani kompetensi teknis-klinis dengan kematangan moral-spiritual, sehingga perawat mampu melihat pasien bukan sekadar sebagai objek medis, melainkan sebagai manusia bermartabat yang memerlukan asuhan holistik. Kendati demikian, integrasi metode klasik ini dalam kurikulum keperawatan modern memerlukan kajian lebih lanjut, khususnya riset empiris mengenai efektivitas modul pembinaan karakter berbasis mujahadah-riyadhah terhadap penurunan tingkat stres dan peningkatan perilaku caring mahasiswa maupun perawat di tatanan layanan kesehatan.

​DAFTAR PUSTAKA

​Al-Ghazali, A. H. (2018). Ihya’ ‘Ulum al-Din (Jilid 3). Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah.

​Harits, A. (2022). Metode pendidikan akhlak Imam Al-Ghazali (Studi analisis Kitab Ihya Ulum ad-Din) [Tesis, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta].

​Hui, Z., Dai, X., & Wang, X. (2020). Mediating effects of empathy on the association between nursing professional values and professional quality of life in Chinese female nurses: A cross-sectional survey. Nursing Open, 7(1), 411–418. https://doi.org/10.1002/nop2.404

​Işık, M. T., Dönmez, Ç. Ç., & Özdemir, R. C. (2022). Relationship between nurses’ professional values, empathy, and patience: A descriptive cross-sectional study. Perspectives in Psychiatric Care, 58(4), 2433–2441. https://doi.org/10.1111/ppc.13078

​Mariyanti, H., Yeo, K. J., Klankhajhon, S., & Arifin, H. (2025). Indonesian nursing students’ perceptions of caring in clinical setting: A descriptive qualitative study. SAGE Open Nursing, 11, 23779608241312485. https://doi.org/10.1177/23779608241312485

​Maslach, C., & Leiter, M. P. (2016). Understanding the burnout experience: Recent research and its implications for psychiatry. World Psychiatry, 15(2), 103–111. https://doi.org/10.1002/wps.20311

​Schmidt, B. J., & McArthur, E. C. (2018). Professional nursing values: A concept analysis. Nursing Forum, 53(1), 69–75. https://doi.org/10.1111/nuf.12211

​Sellman, D. (2011). Professional values and nursing. Medicine, Health Care and Philosophy, 14(2), 203–208. https://doi.org/10.1007/s11019-010-9295-7

​Siregar, N. A. (2026). Metode pendidikan akhlak Imam Al-Ghazali (Studi analisis Kitab Ihya Ulum Ad-Din). Jurnal Pendidikan Tambusai, 10(1), 382–390. https://doi.org/10.31004/jptam.v10i1.35879

​Watson, J. (2008). Nursing: The philosophy and science of caring (Rev. ed.). University Press of Colorado.

​Zulfahmi, Agustianda, An Nu’man, & Noorhayati, S. M. (2026). Konsep pembiasaan (riyadhah) dalam pendidikan karakter menurut Al Ghazali. AT-TAKLIM: Jurnal Pendidikan Multidisiplin, 3(5), 84–95. https://doi.org/10.71282/at-taklim.v3i5.1905

1 posts

About author
Mahasiswa Poltekkes Kemenkes Riau
Articles
Related posts
KeislamanOpini

Jejak yang Ditinggalkan dan Cakrawala yang Dituju: Merenungi Ajakan Imam Syafi’i untuk Merantau

8 Mins read
Ada satu bait yang berulang kali digumamkan santri-santri di pesantren-pesantren tua, dibisikkan orang tua kepada anaknya yang hendak berangkat ke kota, dan…
KeislamanOpini

Ketika Yang Luar Biasa Menuntut Yang Tak Biasa: Membaca Ulang Hikmah Ibnu Atha’illah tentang Mujahadah dan Karamah

4 Mins read
Ada satu kerinduan purba dalam jiwa manusia: kerinduan untuk menyaksikan atau bahkan mengalami sesuatu yang melampaui hukum kebiasaan alam. Kita menyebutnya mukjizat…
KeislamanOpini

Menolak Klaim Atas Sifat Ilahi: Tafakur atas Hikmah Ibnu Atha’illah tentang Batas Diri Manusia

5 Mins read
Ada satu titik dalam kehidupan spiritual manusia di mana ia lupa bahwa dirinya hanyalah peminjam, bukan pemilik. Ia lupa bahwa napas yang…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *