EsaiPendidikan

Imajinasi Tanpa Sains

2 Mins read
Ilustrasi Sains 
KULIAHALISLAM.COM – Sejarawan Arnold J. Toynbee, seperti dikutip Yudi Latif dalam beberapa ceramahnya di YouTube, melakukan survei terhadap 20 peradaban di dunia. 

Hasilnya, hanya peradaban yang memiliki akar spiritualitas yang bisa bertahan lama. Toynbee mengemukakan semacam teori radiasi bahwa sebuah peradaban terdiri atas 4 lapisan.  

Lapisan paling luar adalah sains-teknologi, lalu berturut-turut estetika (seni), etika (moral) dan spiritualitas. 

Sebuah bangsa yang terbelakang di bidang sains,  seni nya mati atau merosot moralnya asalkan akar spiritualitas nya masih kuat maka bangsa itu akan masih eksis. 

Sebaliknya setinggi apapun pencapaian pada 3 bidang pertama di atas sebuah peradaban akan kolaps jika tidak memiliki topangan spiritualitas. Spiritualitas ini bisa bersumber dari ajaran agama atau berbagai kearifan yang hidup dalam masyarakat. 

Ini tentu saja kabar yang menggembirakan sekaligus mengonfirmasi realitas kehidupan masyarakat timur termasuk Islam. 

Tetapi Toynbee juga mengingatkan bahwa meski memiliki akar spiritualitas dan sains hanya lapisan terluar,  namun sebuah bangsa yang  tidak punya keunggulan di bidang sains tidak akan mampu mempengaruhi bangsa-bangsa lain. 

Hanya mereka yang menguasai sains lah yang mampu membangun kewibawaan di mata bangsa-bangsa lain. 

Secara politik, para elit bisa saja menggunakan sentimen anti Cina dan isu komunisme untuk mengaduk-aduk emosi publik, tapi hal itu tidak otomatis menghentikan masyarakat membeli produk-produk Cina yang menyerbu pasar Indonesia. 

Dengan demikian, berbagai narasi dan imajinasi untuk membangun kekuatan imperium—katakanlah kekhalifahan internasional sebagai politik penataan masyarakat muslim sedunia—nyaris tidak berarti. 

Semua itu hanya akan menjadi sekadar kegaduhan sesaat selama sains hanya berada di halaman belakang rumah umat Islam, terlebih jika cenderung bersikap memusuhi atau antisains. 

Semangat kaum muslim untuk memasukkan anak-anak mereka ke sekolah Qur’an dalam beberapa tahun terakhir ini sangat tinggi. Hal itu dibuktikan dengan tumbuhnya berbagai sekolah Qur’an. Begitu pun sekolah-sekolah yang memasukkan program tahfidz cukup diminati. 

Menarik untuk melihat implikasi tren ini terhadap proyeksi dan masa depan perkembangan sains. Saya tidak tahu apakah sudah ada riset ilmiah soal hal ini. 

Yang saya dengar peringkat kemampuan IPA dan Matematika siswa di Tanah Air turun tahun lalu. Begitu pun di Turki beban kurikulum pendidikan agama yang terlalu berat mengakibatkan merosotnya  mutu pendidikan di sana. 

Hal yang sama terjadi di Pakistan. Negara terakhir ini malah tengah melakukan sejumlah pembaruan sekolah yang didominasi madrasah. 

Keberadaan sekolah-sekolah agama tentu tidak buruk. Yang mesti kita ingatkan adalah jangan sampai sains tidak mendapatkan tempat. 

Kita perlu menyeimbangkan kebutuhan lembaga-lembaga pendidikan agama—sebagai basis spiritualitas peradaban kita—dengan kebutuhan pengembangan sains sebagai etalase terluar sebuah peradaban. 

Tanpa keunggulan di bidang sains kita sulit membangun kewibawaan apalagi mempengaruhi bangsa lain. Sains adalah kunci.

Oleh: Ilyas Yasin 
Baca...  Kesatuan Manusia dan Tuhan: Konsep "Manunggaling Kawula Gusti" dalam Kejawen
2556 posts

About author
Kuliah Al Islam - Mencerdaskan dan Mencerahkan
Articles
Related posts
Esai

Memahami Perbedaan Tafsir Al-Qur'an Melalui 3 Teori Kebenaran

6 Mins read
Tulisan ini merupakan kelanjutan dan memiliki keterkaitan dengan karya penulis sebelumnya yang berjudul “Al-Qur’an Itu Up to Date: Memahami Keajaiban Kitab Suci…
OpiniPendidikan

Mengapa Guru yang Menjaga Pendidikan, Hidup dalam Sistem Ketidakadilan?

4 Mins read
Sebelum kita berdebat panjang lebar mengenai gaji para pejabat, mari sejenak kita fokuskan perhatian pada nasib guru honorer. Belakangan ini, muncul sebuah…
ArtikelEsaiFilsafatKeislaman

Hikmah dari Jule, Inara dan Ridwan Kamil

6 Mins read
KULIAHALISLAM.COM- Keluarga merupakan unit terkecil dalam masyarakat yang menjadi cermin kekuatan peradaban. Dalam perspektif Islam, keluarga bukan sekadar lembaga sosial, melainkan amanah…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Verified by MonsterInsights