Keislaman

Menggapai Tawajjuh Dalam Islam

3 Mins read

TAWAJUH (tawajjuh = menghadap, mengarahkan, atau memperuntukkan) adalah menghadapkan diri dan membulatkan hati kepada Allah SWT. Seluruh jiwa, raga, dan aktivitas seorang mukmin yang sedang bertawajuh haruslah tertuju kepada Allah SWT semata sebagai konsekuensi dari pengakuan imannya atau syahadatnya (“Tiada Tuhan selain Allah”).

​Dengan ungkapan lain, pengakuan ini mengharuskan aspek ulūhiyyah (ketuhanan) dan ‘ubūdiyyah (peribadatan)-nya hanya tertuju kepada Allah SWT semata.

​Dalam setiap kali salat ia berikrar: “Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.” Tawajuh menghendaki sikap ikhlas dalam setiap pengabdian. Di dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Muslim dari Abdullah bin Umar, diceritakan bahwa ketika seorang laki-laki (yang kemudian ternyata Malaikat Jibril) menanyakan tentang arti ihsan, Rasulullah SAW menjawab: “Ihsan itu ialah engkau menyembah Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, tetapi jika engkau tidak mampu melihat-Nya, maka yakinlah bahwa Allah selalu melihat engkau.”

​Imam Nawawi ketika menjelaskan arti hadis ini mengatakan, hendaklah manusia selalu merasa diawasi oleh Allah dan berlaku ikhlas dalam segala pengabdian.

​Dr. Abdul Halim Mahmud (ulama terkemuka Mesir dan mantan Rektor Universitas al-Azhar) mengatakan, sesungguhnya tak diragukan lagi bahwa manusia tidak dapat memasuki pintu Allah atau berjalan di jalan yang menuju kepada-Nya, kecuali dengan mengikhlaskan pengabdiannya semata-mata hanya untuk Allah yang tiada sekutu bagi-Nya.

​Kalau manusia sudah mampu mengikhlaskan pengabdiannya semata-mata hanya untuk Allah dan menjadikan dirinya benar-benar sebagai hamba Allah yang mukhliṣīn (ikhlas) dan dapat mewujudkan firman Allah yang artinya: “Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan” (QS. 1:5), maka Allah tidak akan menjadikan jalan bagi setan untuk sampai kepadanya.

​Dalam Surah al-Isrā’ ayat 65, Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya hamba-hamba-Ku, kamu tidak dapat berkuasa atas mereka. Dan cukuplah Tuhanmu sebagai Penjaga.” Selain itu, dalam Surah Ṣād ayat 82–83, Allah berfirman: Iblis menjawab, “Demi kekuasaan-Mu aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba-Mu yang ikhlas di antara mereka.”

​Kalau seorang mukmin benar-benar telah dapat mewujudkan pengabdiannya semata-mata hanya untuk Allah SWT, maka Allah akan memberikannya anugerah ilmu makrifat.

​Dalam hal ini, Allah berfirman tentang Nabi Musa dan kawannya sebagai berikut: “Lalu mereka (Musa dan muridnya) bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami” (QS. 18:65).

​Rasulullah sebagai teladan bagi seluruh umatnya telah berhasil mewujudkan pengabdiannya secara sempurna. Salatnya, semua ibadahnya, dan seluruh hidup dan matinya benar-benar hanya diperuntukkan (tawajuh) bagi Allah Sang Pencipta Alam Semesta yang tiada sekutu bagi-Nya.

​Apa yang dilakukan Rasulullah itu dijelaskan Allah dalam firman-Nya yang artinya: “Katakanlah: Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah Tuhan semesta alam, tiada sekutu bagi-Nya dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan akulah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)” (QS. 6:162–163).

​Mengikuti dan meneladani jejak Rasulullah SAW dalam bertawajuh kepada Allah adalah langkah yang ditempuh oleh kaum sufi, seperti yang diutarakan oleh Syihabuddin Abu Hafs Umar bin Abdullah as-Suhrawardi (w. 1191), pendiri Tarekat Suhrawardiah di Persia, dalam kitabnya ‘Awārif al-Ma‘ārif (Ahli Ilmu Pengetahuan) sebagai berikut: “Seorang sufi ialah orang yang senantiasa melakukan penyucian. Ia senantiasa menyucikan waktu-waktunya dari berbagai macam kekejian, menyucikan hatinya dari berbagai polusi jiwa.

Yang dapat membantunya untuk mengadakan penyucian itu hanyalah dawām al-iftiqār (dengan selalu memohon kepada Allah), dan dengan demikian ia benar-benar bersih dari kotoran. Dan setiap kali jiwa itu bergerak dan menampakkan salah satu sifatnya, maka ia dapat menjangkaunya dengan mata hatinya dan ia segera meninggalkannya untuk mendapatkan jalan menuju Allah.”

​Agar jiwa dan raganya hanya diperuntukkan bagi-Nya, orang-orang sufi selalu berusaha mengadakan kontak langsung dengan Allah. Ia memperbanyak ibadah kepada-Nya (seperti memperbanyak salat sunah, membaca Al-Qur’an, mengamalkan wirid, dan mengurangi makan dengan memperbanyak puasa), sehingga mampu melepaskan ketergantungannya kepada selain Allah SWT.

​Bahkan Imam al-Ghazali mengajarkan: “Engkau mengasingkan diri di tempat yang sepi, mengkhususkan diri untuk beribadah, baik yang wajib maupun yang sunah, duduk mengosongkan hati, menyatukan keinginan, menghadap Allah dengan selalu ingat kepada-Nya. Dan hal ini, pertama-tama engkau tekuni dengan lidah mengingat Allah dengan senantiasa menyebut: ‘Allah, Allah,’ disertai hadirnya hati dan kesadaran hingga sampai kepada suatu keadaan di mana jika engkau tidak lagi menggerakkan lisan, engkau akan merasakan seakan-akan kata tersebut bergetar di lidahmu karena seringnya mengulang-ulang. Kemudian jadikanlah kebiasaan hingga tidak ada lagi yang melekat di hatimu kecuali makna lafal tersebut, tidak ada yang terlintas di hatimu kecuali huruf-huruf dan bentuk-bentuk lafal tersebut; bahkan makna itu sajalah yang selalu dan senantiasa hadir dalam hatimu.

Usahamu sampai di batas ini saja, tidak ada usaha lebih dari itu kecuali permohonan agar selalu terhindar dari gangguan yang menyesatkan. Habislah usahamu, tidak ada lagi yang dapat kamu lakukan kecuali terbukanya sesuatu sebagaimana tampak bagi para wali dan sebagian para nabi.”

249 posts

About author
Redaktur Kuliah Al Islam
Articles
Related posts
Keislaman

Sunah Menurut Para Ulama

4 Mins read
SUNAH (SUNNAT) ​Secara etimologis as-sunnah (sunah) berarti: ​at-tarīqah: jalan, cara, metode, baik jalan yang terpuji maupun yang tercela; ​as-sīrah: perikehidupan, perilaku; ​lawan…
Keislaman

Mengenal Imam As-Suyuti Ulama Islam

3 Mins read
AS-SUYUTI (Kairo, 1 Rajab 849/3 Oktober 1445 – 18 Jumadilawal 911/17 Oktober 1505). Seorang ulama besar dan penulis kitab yang produktif dalam…
KeislamanKisahOpini

Cermin Jiwa: Hermeneutika Tasawuf Karakter Anjing dalam Kitab An-Nawadir

7 Mins read
Dalam khazanah intelektualisme dan mistisisme Islam (tasawuf), penyampaian kebenaran etis serta pemetaan tahap-tahap pendakian spiritual (maqamat) sering kali menggunakan instrumen pedagogis yang…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

×
Berita

Milad ke-24 Lazismu: Dorong Integrasi dan Dampak Pemberdayaan Masyarakat