Ada salah satu pembahasan spesifik dan menarik yang dikupas tuntas oleh Ustadz Ginanjar mengenai pentingnya kejujuran dalam setiap perkataan maupun perbuatan. Pasalnya, ketika kita menemui orang-orang jujur, sangat jarang kita melihat perkembangan pola pikir yang merosot. Di sisi lain, pengaruh digitalisasi kerap membuat anak-anak semakin jauh dari nilai-nilai kejujuran. Hal inilah yang mendorong Ustadz Ginanjar menyoroti orang-orang yang selalu berbohong, padahal sebenarnya bisa saja berkata jujur.
Menurut Ustadz Ginanjar, ada tiga hal yang menyebabkan seseorang memiliki sifat pembohong:
- Rasa Takut (Khauf) Ustadz Ginanjar memahami betul bahwa seseorang bisa dengan mudah berbohong karena rasa takut. Beliau menceritakan pengalaman masa kecilnya, “Saya sewaktu kecil dinasihati Ibu bahwa tidak boleh bermain air di kali. Kalau orang kota mungkin tidak ada ya, tapi karena saya masih bocah, ya ikut-ikutan saja sama teman-teman. Bermain air sampai larut malam. Ketika itu Ibu menanyakan, ‘Dari mana, Le?’ Saya menjawab, ‘Anu Bu, dari air sumur,’” ujarnya. Rasa takut pada situasi dan kondisi tertentu inilah yang memaksa seseorang untuk berbohong.
- Mencari Pencitraan atau Validasi Ustadz Ginanjar menggarisbawahi bahwa seseorang tidak perlu berbohong hanya demi pencitraan. “Nggak perlu kita pencitraan atau bahasa anak sekarang validasi, seakan-akan kita berpotensi padahal perkataannya bohong,” imbuhnya.
- Kebiasaan Poin ketiga ini sangat berbahaya karena bisa mengubah kebiasaan buruk menjadi lebih buruk lagi. Dalam hal ini, Ustadz Ginanjar menyampaikan dengan tegas, “Kebohongan jangan dijadikan kebiasaan terus-menerus, Bapak-Bapak. Kalau kita ingin membiasakan sesuatu, salah satunya adalah berbuat jujur walaupun rasanya pahit,” tegasnya pada Rabu (29/07/26).
Jangan Memanjakan Anak
Ustadz Ginanjar juga mengingatkan para jamaah untuk tidak memanjakan anak dalam hal apa pun. Beliau menjelaskan bahwa perbuatan manja akan membuat anak tidak bersikap mandiri.
“Tolong Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu, jangan biasakan putra-putrinya bersikap manja dalam hal apa pun. Sifat ini akan menjadikan anak tidak memiliki sikap mandiri atau dewasa,” ungkapnya. Hal inilah yang dikhawatirkan Ustadz Ginanjar jika anak terbiasa dimanja, sebuah pesan yang beliau sampaikan dengan merefleksikan kehidupan masyarakat Jawa.
Ajak Anak untuk Terbiasa Berpikir
Selain membicarakan sifat manja, Ustadz Ginanjar juga menyoroti pentingnya mengajak anak berpikir untuk melatih logika mereka. Beliau menegaskan, “Putra-putri njenengan jangan diajak manja, tetapi diajak untuk berpikir, karena ini melatih logika dalam situasi apa pun.”
Hal ini sangat relevan dengan situasi zaman sekarang, di mana anak-anak mudah mengakses media digital tanpa menyaring kebenaran informasinya. Di sinilah Ustadz Ginanjar mengajak kita untuk terus menanamkan nilai kejujuran, mulai dari hal kecil hingga hal besar, terlebih di era saat pola pikir setiap generasi terus berubah.
Ustadz Ginanjar hadir untuk mengingatkan kembali rentannya nilai-nilai kejujuran saat ini. Beliau tidak hanya berpaku pada teori, tetapi ingin menunjukkan bahwa prinsip kejujuran, pendidikan kemandirian anak, serta kebiasaan berpikir adalah cerminan manusia seutuhnya dalam beragama.
Kita perlu mengambil pelajaran penting dari Ustadz Ginanjar bahwa kejujuran tidak bisa dibeli dengan harta atau kemewahan. Kejujuran memang sulit diterapkan dan sering kali terasa pahit, tetapi harus tetap kita jalankan.
Sumber Tulisan: Tausiah Pengajian Ustadz Ginanjar di Masjid Nurul Iman, Gabusan, Kelurahan Jombor, Kecamatan Bendosari, Kabupaten Sukoharjo, Rabu (29/07/26).

